Dengan berjalan perlahan Aris coba mendekati pintu. Model pintu tanpa kaca, berbeda dengan pintu di kamar Anjas membuat Aris harus membuka terlebih dahulu pintu jika ingin mengetahui siapa yang sebenarnya ada di luar. Suara ketukan terus saja terdengar dan Robi pun juga tampak masih uring-uringan. “Siapa di luar?”Aris mencoba bertanya terlebih dahulu guna memastikan yang mengetuk pintu itu memang benar-benar manusia atau bukan. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari luar, namun justru terdengar suara ketukan pintu menjadi lebih keras. Tentu saja itu membuat mental Aris menjadi ciut, perasaan bimbang tiba-tiba saja muncul, keberanian dia untuk membuka pintu semakin-lama semakin tidak ada. “Hallo, siapa itu di luar? Manusia atau tidak? Jika bukan manusia mohon maaf, kamu dilarang masuk

