Dirimu datang memberikan sejuta kisah pada hidupku
-Alvino Bagaskara-
"Aku hamil gara-gara ... Dirga!"Sorot mata Alvino semakin menajam. Rahangnya mengeras mencoba menahan emosi.
Dirga Ferdo. Teman masa kuliahnya dan mantan Adinda. Lelaki itu kini beprofesi sebagai seorang aktor. Alvino sangat mengenal Dirga yang kelewat b******k. Padahal dulu ia pernah bilang pada Alvino akan selalu menjaga Adinda ketika dirinya tak ada.
"Hiks .. hiks ... Maafin aku Vin!" Bahu Adinda bergetar kedua telapak tangannya ia pakai untuk menutupi wajahnya. Alvino merengkuh tubuh Adinda lalu memeluknya mencoba menenangkan Adinda.
"Dia jahat Vin !!"
Alvino melepas pelukannya lalu menatap manik mata Adinda. Adinda Sabrina, alasan mengapa Alvino memacarinya karena Dirga si lelaki bengsek yang sudah menghancurkan masa depan Adinda. Karena Dirga sendiri pertemanan mereka jadi kacau.Salah satu sifat paling buruk dari Alvino itu, dia selalu memutuskan apa yang ada di benaknya tanpa berfikir panjang. Buktinya, kali ini Alvino mencium kening Adinda tanpa berfikir panjang. Tak lama setelah itu, ia teringat dengan Ana yang ia tinggalkan.
"Din, sorry ya gue ada urusan dulu!"
"Tapi kan ..." Sayangnya,Alvino telah pergi sebelum sempat Adinda melanjutkan kalimatnya.Pria tersebut menatap sekelilingnya mencari keberadaan Ana. Namun nihil, ia melihat kursi yang di duduki Ana sudah ditempati oleh seorang pria.
Tunggu ,dia ... Dirga?
Alvino segera berjalan cepat menghampiri Dirga lalu menarik kerah bajunya dengan kasar. "Lo sembunyiin dimana dia?!"
Yang awalnya terkejut, kini berubah. Dirga malah terkekeh melihat raut wajah Alvino. "Siapa? Calon istri lo?" Terlihat rahang Alvino mengeras. Matanya begitu menusuk pada mata Dirga. Laki-laki yang ia cap sebagai laki-laki b******k.
"Dia.ke.mana?!" Ulang Alvino penuh penekanan.
"Tadi ..."
oOo
"Yang bener kamu?"
"Iya Bunda, tadi aku denger dari temannya!" Adera nampak tak percaya dengan ucapan putrinya. Bisa jadi Ana hanya ingin mengelabui dirinya agar tak jadi menikah dengan Alvino dengan membuat cerita yang tidak-tidak tentang calon menantunya.
"Bunda ... Kok diem sih?!" Ana menghentakkan kakinya kesal karena ibunya yang nampak tak percaya pada dirinya. Ana itu bukn tipe gadis yang pemilih cogan, ia orang yang mementingkan sikap pasangannya kelak bukan wajahnya. Meski Alvino tampan, untuk apa jika kelakuannya b***t. Sama halnya dengan Gio. Ah, Ana jadi ingat dengan Gio saat membatinkan kata ‘b***t’.
"Kamu tanya dulu baik-baik sama Alvino sana." Tubuh mungil itu di dorong ke ruang tamu oleh Adera dengan paksa.
"Tapi Bun ..."
"Udah gak ada tapi-tapian, sana pulang!" Ana menautkan halisnya bingung. Pulang? Bukankah rumah yang ia pijak saat ini adalah rumahnya?
"Ke rumah Alvino ." Sambung Adera.
Ana memutar bola matanya malas. "Kenapa sih bun ... gak takut apa anaknya yang cantik imut gini di grepe sama penjahat kelamin?"
Adera mengibaskan tangannya di depan wajah Ana "Hush ... Dia calon suami kamu"
"Masih calon kali bun ..."
Tok ... tok ... tok
Kedua wanita yang asik berdebat itu kini saling menatap satu sama lain berbicara dalam hati ‘siapa yang datang?’ Adera mengangkat dagunya memberi kode pada putrinya. "Sana bukain pintunya!" Ana menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia berjalan menuju pintu utama.Saat melihat orang yang bertamu ia terkejut melihat Alvino dengan tatapan paniknya.
"Lo ... Kenapa malah pergi?"
"Apaan sih gak jelas!" Gumam Ana kesal.
Alvino berdecak. "Gue tanya kenapa lo malah balik duluan?"
"Ya aku gak mau nungguin orang yang sibuk pacaran."
"Ana siapa ... Eh nak Alvin, sini masuk!" Sela Adera.Alvino tersenyum ramah lalu tanpa persetujuan Ana, ia menerobos masuk ke dalam rumah kedua orang tua Ana.
"Jadi, ada apa?" Tanya Adera to the point.
"Sebenarnya ..."
"Tunggu, tunggu ... Mendingan kamu jelasin semuanya sama Ana langsung. Bunda tau kamu anaknya baik kok." Alvino mengangguk sedangkan Ana, gadis itu sudah berada di dalam kamarnya membersihkan diri.
∞∞
"Apaan sih gak mau!!"
Alvino menatap dingin Ana. Tatapannya beralih pada jalananan di hadapannya. Saat ini ia sedang membawa Ana dengan paksa ke rumahnya.Saat Ana selesai membersihkan diri, ia kira Alvino telah kembali ke rumahnya tapi sayang pria itu sedang berdiri manis di depan pintu kamarnya.Tepat saat dirinya membuka pintu, dengan paksa Alvino menggendong Ana layaknya karung beras. Dan sialnya bagi Ana, para penghuni rumah sedang tidak ada. Jadi leluasa bagi Alvino untuk membawa Ana pergi.
BLAMMM
Dengan kasar Alvino menutup pintu utamanya. Ia menurunkan Ana dengan kasar membuat gadis itu terlempar, untungnya Alvino menurunkannya tepat di sofa.
"Shhh... Gil--"
Mata Ana membulat seketika saat melihat Alvino yang sudah mengurung tubuhnya di atas. Laki-laki itu memajukan wajahnya membuat Ana kembali memundurkan tubuhnya.
"Dengerin penjelasannya atau lo gue habisin di sini sekarang juga?!"
"Ha--habisin apa?" Hanya tinggal satu senti lagi bibir mereka bertemu. Sekilas,Alvino melirik pada bibir Ana yang sedikit terbuka dan bergetar.
"Jawab!!" Tekannya, matanya kembali menatap Ana.
"De ... dengerin penjelasan!" Jawab Ana cepat.Alvino segera menjauhkan tubuhnya lalu duduk di samping Ana.
"Dinda hamil anak Dirga,bukan anak gue!" Tujuh kata mungkin cukup untuk memperjelas semuanya .
"Hah?"
"Pernikahan kita tiga hari lagi!" Ucap Alvino sebelum pergi melenggang ke kamarnya.
Ana yang baru tersadar akan ucapan Alvino langsung terbelalak kaget. "LOH KOK GITU SIHHHHHH"
Sedangkan Alvino sendiri, ia malah pergi memasuki kamarnya. Hal itu membuat Ana kesal dan geram.Menikah dalam waktu tiga hari. Secara terpaksa. Tanpa cinta. Tanpa perkenalan. Tanpa ucapan manis. Tanpa lamaran romantis.Demi apapun, rasanya ia ingin berlari ke masa lalu untuk mengubah masa kini.
"Arghhhhgh... Dia playboy, tukang mabok, galak, gak tahu diri, ngeselin, nyebelin, tukang ngehamilin anak orang iiii keselll Ana gak mau Bunda HUAAAA..." Racau Ana sambil mengacak rambutnya frustasi .
"BERISIK!"
"ALVI NYEBELINNYEBELIN NYEBLINNYEBELIN TITIK GAK PAKE SPASI!!"
Ana memang gadis cerewet dan manja di usianya yang kini menginjak dua puluh lima tahun. Karena wajar, dari kecil ia selalu dimanja oleh kedua orang tuanya terlebih lagi oleh Gio.Sedangkan Alvino sendiri sangat tidak menyukai cewek cerewet salah satunya Ana. Ia membuka pintu kamar dengan kasar lalu berjalan menghampiri Ana.Gadis itu malah menatap Alvino dengan tajam seolah mempunyau nyali besar untuk menghadapai Alvino. Namun itu hanya sesaat ketika tiba-tiba Alvino membawanya bak karung beras menuju kamar Ana. Ia meringis ketika p****t nya berbenturan dengan kasur dengan cukup keras.
"Lo boleh tinggal disini ..." Ada jeda disela Alvino berbicara. Tangan telunjuknya tepat mengenai hidung mancung Ana." Tapi lo gak usah banyak bacot. Sekali bacot gue cium juga lo!"
Tidak. Ana tidak takut dengan ancamannya." Ha ha ha, bodo amat tuh! Yang helas kamu itu nye.be.li-,hmpp"
Harusnya Ana takut. Harusnya ia tak teriak dan meracaukan Alvino yang tak jelas. Dan ini akibatnya first kiss telah di ambil oleh laki-laki itu.Namun, bukannya memberontak. Gilanya Ana malah ikut terbuai dalam permainan Alvino. Buaya darat emang beda. Tiba-tiba Alvino menggigit kuat bibir bawah Ana.
"Shhh ... Aww, sakit!" Ana meraba bibirnya.
"Ke enakan lo!" Ucap Alvino sambil tersenyum mengejek.
"Kenapa digigit? Sakit tauk!"
"Mau di lanjut?" Dengan cepat Ana menggelengkan kepalanya. Alvino tak habis fikir bahwa Ana begitu polos, padahal usianya sudah beranjak dewasa.
"Gak mau. Nanti digigit lagi."
"Makanya jangan banyak bacot jadi cewek, itu hukumannya!"
Tunggu ... Apa yang lo lakuin tadi Ana?!!
"TADI KAMU CIUM AKU?"
Alvino segera menutup kedua telinganya."KAMU ... NYEBELINNNNN!! First kiss aku." Ana menatapnya dengan tajam. Ia baru tersadar bahwa ciuman pertamanya sudah di rebut oleh laki-laki seperti Alvino. Sungguh tidak berkesan.
"Lah ... lo begok atau gimana, masa yang kaya gitu disebut berenang bersama?!" Alvino kembali memutar matanya. Ia tak terkejut ataupun takut dengan ucapan Ana. Yang ada, ia malah bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa.
"ALVI NYEBELIN TITIIKK!!"