[0.7] Status Baru

1111 Kata
Siapapun pasti tahu jika pertemanan anatara lakki-laki dan perempuan itu tidaklah murni, maka dari itu berhati-hatilah jika berteman dengan lawan jenis. -Anatasya Buditama- Ana pov. Sial. Harusnya aku gak minum waktu itu dan malah berakibat fatal seperti ini. Aku gak bisa menyalahkan Tuhan, waktu, dunia, takdir ataupun si b******n Gio. Dia adalah teman masa kecilku. Kami dekat dan akrab. Namun setelah beranjak dewasa, aku perlahan menyukainya. Sikapnya yang begitu perhatian padaku membuat perasaan ini semakin besar. Siapapun pasti akan bawa perasaaan jika di perhatikan lebih oleh teman lawan jenismu. Sekolah, kuliah dan tempat kerja, kita selalu bersama. Namun bedanya saat ini ia lah yang menjadi atasanku.Satu hal yang tak di duga. Sikapnya yang ramah dan penuh perhatian, ternyata itu bohong. Ku pikir, ia tak seperti laki-laki zaman sekarang . Tapi nyatanya iya, semua laki-laki tampan sama saja tak ada yang serius menghadapi hati. Aku melihat dengan kedua bola mataku sendiri. Ia tengah b******u dengan seorang wanita yang entah siapa. Hari itu adalah hari dimana yang ku tunggu, saat aku akan mengungkapkan perasaanku. Sungguh menyakitkan. Kesal, marah, kecewa menjadi padu. Aku menginjakkan kakiku pada tempat haram yang tak pernah sekalipun ku injak. Dan pada akhirnya aku salah memasuki rumah orang. Lalu sialnya hal itu menjadi sebuah gosip.Terpaksa kedua orang tuaku menikahkan aku dengan si aktor tampan. Ya, sudah kubilang semua laki-laki tampan sama saja. Dia player, dan suka main di club . Alvino Bagaskara. Yang beberapa menit lagi akan menjadi suamiku. Hari ini adalah hari yang ingin aku musnahkan saja. Aku meremas gaun pernikahanku mencoba menahan d**a yang berdetak tak karuan. Mengapa? Hatiku terus berharap saat ijab qobul ada badai atau apalah yang membuat pernikahan ini tidak jadi. Bundaku sedari tadi mengatakan 'Tenang, gak usah tegang gitu. Pasti lancar kok' 'SAH' Terdengar seruan beberapa orang dari luar kamarku mengatakan kata sakral tersebut. Pernikahanku di adakan di rumah kedua orang tuaku. Hanya keluarga dan sahabat dekat yang menjadi para saksi. Sisanya mungkin nanti saat acara resepsi di sebuah hotel ternama yang sudah di siapkan oleh kedua orang tuaku dan orang tua Alvino. Cklek Aku mendongakan kepalaku. Ku lihat, Alvino yang terlihat begitu menawan memasuki kamarku. Aku berjalan menghampirinya dengan hati yang dongkol. Ya statusku mulai detik ini telah berubah. ••• "Happy Wedding Anatasya and Alvino,I hope you guys build a harmonious household!" "Thanks Jhon!" Aku memutar bola mata malas ketika melihat Alvino bercengkrama dengan teman dari luar negrinya.Tamu undangan yang sedari tadi datang kebanyakan hanya sahabat Alvino. Ya namanya juga seorang aktor, pasti banyak temennya lah. Sedangkan aku? Aku hanyalah remahan renginang yang tersisihkan tak memiliki teman terkecuali ya Rena. Untuk teman kantor? Gak sudi aku undang mereka yang udah ngomongin aku di belakang. Saat aku masih bekerja di perusahaan Gio banyak karyawan yang menggosipkan bahwa aku adalah teman tidur Gio. Untung saja saat itu aku masih berada dalam batas sabar. "It turns out when i saw you firsthand is very beautiful Ana." Lelaki bule itu menatap padaku dengan genit. Rasanya aku ingin mengeluarkan isi perutku sekarang juga. Aku baru tahu tak semua orang barat pada cool . "Stop Jhon, she is my wife!" Alvino menatapnya begitu tajam. Aku bingung dan terkejut. Alvino mau mengakui bahwa aku istrinya? Aku kira ia bakalan kaya tokoh laki-laki yang berada di dunia Manga, Manhwa dan novel yang aku baca. "It's truns out you're so possessive !" Pria yang bernana Jhon itu menepuk pelan lengan Alvino sambil tertawa lalu setelahnya ia pergi. "Make up lo tebel banget sih kaya badut sumpah!" Cibir Alvino. What? Apa katanya? Aku kayak badut?Dia buta apa?! Aku yang cantik bak seorang putri raja gini di sebut badut?OMG!!! Dengan kesal aku mencubit otot perutnya. Enak aja tuh orang bicara, gak ada akhlak emang.  "Awss .. Sakit begok!" "Bacot!" Desisku. Usai acara resepsi. Kedua pengantin baru tersebut tak di izinkan pulang oleh orang tua mereka karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari,takut-takut jika nanti mereka kecelakaan. Jadi, disinilah mereka berada dalam satu kamar namun hidup bak dunia yang berbeda. Alvino dan Ana, mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tak ada malam pertama. Tak ada aksi rebutan kasur. Mereka begitu tenang dan santai.  Mereka begitu tenang dan santai Pictures @Anatsya.Buditama -Once in a lifetime❣ -@AlvinoBgskra_ Likes 34.123 Viwes 345 AxeliaSandira01 happy Wedding❤ Miorasamilala. Happy Wedding:) Vino.Fans happy wedding semoga menjadi keluarga yang SAMAWA Acara pernikahan Alvino dan Ana di selenggarakan besar-besaran dan super mewah. Hal itu membuat Ana takjub saat pertama melihat dekorasinya.Ana bahagia melihat acaranya yang super wah, namun ia tak suka dengan orang yang ia nikahi. Sekilas ia melirik Alvino yang duduk di sampingnya dengan mata yang terfokus pada ponselnya. "Ambilin minum!" Ana menautkan halisnya bingung. Alvino berbicara pada siapa? "Lo b***k ya?" Kini matanya beralih menatap Ana tajam. Kini gadis itu tahu pada siapa Alvino berbicara. Ya jelas dirinyalah. "Punya kaki, kenapa gak dipakek?" "Status lo sekarang istri gue, tugas istri itu menuruti perintah suaminya!" Oke Ana kalah dalam hal ini. Ia mengambil gelas yang berisi air putih di atas meja yang tak jauh dari tempat tidur lalu ia berikan pada Alvino. Ting Ia melirik ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Gio. Dengan cepat Ana membacanya. From: Gio Happy Wedding sahabatku tercinta❣ What? Ana gagal fokus dengan emoticon yang Gio kirim. Maksudnya apa coba? Saat Ana akan mengirim pesan melalui w******p, pesan keramat datang tiba-tiba membuat suasana hatinya kian memburuk. "Argh... kuotanya abis!!" "Mampus!" Gumam Alvino yang masih bisa di dengar oleh Ana. Dengan kesal ia menghampiri Alvino lalu menjambak rambutnya dengan kasar. "Aaa ... Sakit! Gila lo ya, belum juga dua puluh empat jam udah KDRT!!" "Bodo amat gak peduli!" "Aws... lepasin gak?" Bukannya menurut, Ana malah semakin kencang menarik rambut tebal Alvino membuat beberapa helai rambutnya rontok. "Gue pastiin lo udah gak perawan lagi besok !" Ancam Alvino, namun Ana tak menggubrisnya. "AH ... ANNNAA!" "ALVINOOO!" Kini keduanya malah saling menjambak. Padahal tadi mereka baik-baik saja. Dan sekarang? Bak kucing dan anjing. "Awsh ... Sakit Alvi lepasin!" Ana semakin kuat menarik rambut Alvino. Begitupun dengan pria tersebut. "Gak mau! Lo duluan!!" "AAA ..." keduanya menjerit bersemaan dan detik berikutnya secara bersamaan mereka melepaskan jambakannya. "Sinting!" "Gila!" Umpat keduanya dengan rambut yang sudah tak karuan tak lupa tatapan horor mereka. "Ah ... Gue capek pengen tidur!" Akhirnya Alvino lah yang menyeraah. Ia membaringkan tubuhnya asal di ikuti oleh Ana. Rasanya hari ini sangat melelahkan. ••• Drttt ... "Eugh ..." Dengan mata yang masih terpejam, Ana meraba sekitarnya mencari ponselnya yang berdering. Dapat. Namun rasanya ada yang aneh. Ponselnya seperti lebih panjang dan lebar. Tunggu, sejak kapan ponsel miliknya kenyal dan empuk terlebih ada jarinya? Itu bukan ponsel namun telapak kaki. Tapi punya siapa? Ana berfikir dalam kesadarannya yang belum sepenuhnya sadar. Ia baru ingat, bahwa dirinya tidur tak sendirian. Dengan cepat ia membuka matanya lebar. Betapa terkejutnya ia mendapati kaki Alvino yang berada dihadapannya.Mereka tidur saling berlawanan arah, karena mungkin terlalu lelah setelah aksi saling jambak-jambakan. "Ish ... Geli mah!" Racau Alvino. Duk Ana memejamkan matanya merasakan ngilu pada tulang hidungnya. Sialan, Alvino menendang hidunnya. Sedangkan pria tersebut malah asik di alam mimpinya.Dengan perlahan Ana menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya. "ALVINOOOOO" Hari ini adalah dimulainya hidup baru Ana. Menyandang status baru sebagai seorang istri Alvino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN