"Lhoh, Mbak Rani?" sapa Marni, asisten rumah tangga di rumah Rani yang membukakan pintu untuknya. "Sendirian?" "Iya, Mbak." Marni membuka pintu lebar-lebar dan bergeser ke samping, membiarkan Rani masuk ke dalam. "Ayah mana? Udah tidur?" tanya Rani. "Pak Adi hari ini nginep di rumah Mbak Melani. Suaminya lagi ada pekerjaan di luar kota, jadi Pak Adi nginep di sana nemenin cucunya. Ini saya baru mau pulang setelah beres-beres dapur." Seketika bibir Rani mengerucut. Jauh-jauh dia datang ke rumah ayahnya tapi ayahnya malah tidak ada. Pasti menyenangkan kalau dia juga punya seorang bayi. Ayahnya akan sangat bahagia. Tapi bagaimana dia bisa punya bayi kalau pernikahannya saja tidak normal. Meskipun Damian sudah berkali-kali menyatakan perasaan suka padanya, tapi sikap sua

