Bab.22 Cantik

1068 Kata

  "Ran, kamu sudah pernah di ajak Damian bertemu orang tuanya?" tanya Adi saat mereka berdua sedang sarapan di ruang makan.   "Uhuk!" seketika Rani tersedak teh hangat yang hampir mencapai tenggorokannya.   Sepagi ini Ayahnya sudah membahas soal Damian. Beliau tidak tau kalau Rani masih terbayang hangatnya pelukan Damian semalam. Bahkan perasaan hangat itu membuat Rani akhirnya bisa tertidur nyenyak.   Ya Tuhan, perasaan apa ini? Rani jadi takut. Rani takut dengan perasaannya sendiri terhadap Damian.   "Pelan-pelan, Ran," Adi menyodorkan tissue ke arah putrinya yang masih terbatuk sampai mengeluarkan air mata.   "Sudah pernah sekali, Yah," jawab Rani setelah batuknya reda.   Seketika Adi mendongak. Merasa antusias dengan jawaban Rani. Berarti Damian memang sungguh-sungguh ingin mempe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN