Elysian meninggalkan kasir itu dan mencari tempat duduk sehingga memudahkan dia menunggu Zoe yang sedang bayar belanjaan nya. Setelah Zoe membayar belanjaan nya dia langsung duduk di dekat Elysian.
“Berapa total belanjaanmu Zoey, aku rugi nih pengeluaran dan pemasukan mulai tak sinkron,” keluh Elysian.
“Nih lihat di struk aku,” tangkas Zoe, Zoe pun membagi struk belanjaannya kepada Elysian.
“Ah murahnya komik sebanyak ini,” ujar Elysian yang sedang melihat struk belanja Zoe.
“Murah kan Elysian, diskon loh ada di sana,” ungkap Zoe.
“Diskon? kenapa di buku kesukaanku tidak ada diskon ya,” keluh Elysian.
“Mungkin karena banyak yang cari buku itu makanya tidak ada diskon,” jelas Zoe.
“Benar juga, eh di mana Jeno?” tanya Elysian.
“Aku tidak lihat sih tadi aku meninggalkan dia sendirian,” jawab Zoe.
“Yah kok kamu meninggalkan dia,” keluh Elysian.
“Maaf Elysian tadi aku terkesima dengan banyaknya komik, dan lagi bukannya dia juga suka buku jadi ku pikir dia bisa melihat-lihat juga buku-buku yang ada di sini,” terang Zoe.
“Oh kalau gitu kita telepon dia saja,” ucap Elysian sembari mencari kontak Jeno.
“Yah, ponsel dia di cas pakai powerbank di tas aku,” ungkap Zoe.
“Yah. Kalau gitu kita cari dia Zoey, aku cari dilantai 2 kamu cari di lantai utama paling dia lihat-lihat di sekitar sini.”
“Baiklah.”
Mereka berdua pun memisahkan diri untuk mencari Jeno untuk mengajak nya pulang. Elysian pun ke arah lantai 2 dan mencari di sekitar terdapat banyak pintu dan hanya sedikit buku di sekitar lantai 2 dan ada satu lift yang menuju ke arah lantai 3.
Di pintu itu tertulis banyak angka yang acak dan tidak dapat dibuka. Sedangkan Zoe ke arah lantai utama sembari sesekali berteriak memanggil namanya. Dan memang agak sedikit menyeramkan saat menelusuri lantai 2 dan sedikit merinding juga membuat Elysian sering menyilangkan tangannya dan mengusap tangannya sesekali merasakan hawa aneh.
Saat Elysian melihat ada dua lorong dengan arah yang berlawanan di depannya antara kiri dan kanan dan bingung pilih yang mana tetapi sesuai feeling dia maka Elysian mengikuti arah ke kiri, Elysian terkejut karena secara bersamaan muncul kelinci putih yang sewaktu itu Elysian cari dan Elysian pun menangkap dan memegang erat kelinci itu dan saat Elysian melanjutkan perjalanan ke arah kiri lurus ada seorang pria yang memegang vas bunga sembari membaca papan informasi yang berada di sampingnya ternyata itu Jeno.
Elysian pun berteriak nama pria itu dan langsung berlarian ke arah nya, Jeno pun melirik Elysian.
“Kamu sedang apa Jeno?” tanya Elysian dengan wajah keheranan.
“Sedang mencari wanita yang kemarin berada di sini,” jawab Jeno sembari celingak-celinguk di sekitarnya mencari wanita yang dia ingin temui.
“Mungkin itu staff yang ada di sini, kamu tidak waras ya mencari cewek itu ditempat sepi dan menyeramkan seperti ini.”
“Cewek itu tidak terlihat wajahnya pada saat itu namun penampilannya seperti orang ternama dan aneh saja seperti tidak ada penampilan seperti dia, tetapi cukup menarik dan bagus fashion yang digunakan makanya aku berkeinginan berpapasan lagi dengannya.”
“Mungkin dia temannya tuan Horesa jadi tanyakan saja pada tuan tentang cewek itu.”
“Oh iya benar juga, kamu temukan di mana Lacia?” tanya Jeno dan sedikit membuat Elysian kebingungan dengan nama yang terdengar asing baginya.
“Lacia, Siapa dia?” tanya Elysian, lalu Jeno menunjukk kelinci yang di pegang di tangan Elysian di mana kelinci ikut terdiam sembari menggerak-gerakan mulutnya dengan hidung berwarna merah muda yang sangat menggemaskan itu.
“Kata tuan Horesa kelinci ini namanya Lacia,” jelas Jeno.
“Oh nama yang bagus seperti nama manusia saja, tetapi cocok sih digunakan pada hewan yang menggemaskan ini,” ujar Elysian.
“Akan kau apakan kelinci ini, Bawa pulang?”
“Dia ini adalah aset berharga yang membuat aku menemukan tempat indah ini maka dari itu aku akan sering menemui nya tidak untuk dibawa pulang dan emang boleh aku pikir tuan Horesa akan melarang ku untuk membawanya.”
“Pasti dilarang sih, lagi pula kelinci ini sudah tinggal di sini dan lihat saja dia cukup baik tumbuh di sini seperti ada yang punya.”
“Aku yakin ini punya pemilik tempat ini.”
“Aku penasaran siapa nama pemilik tempat ini.”
“Sepertinya namanya tidak dicantumkan, lihat papan ini cuma ada nama tuan Horesa, Mika dan Lacia Inova."
“Mika pasti kasir tadi tetapi ternyata nama kelinci ini masuk juga ya.”
“Namanya bagus Lacia Inova pasti si pemilik mencintai kelinci ini tetapi tidak ada nama pemilik sesungguhnya cukup aneh juga, apa jangan-jangan tuan Horesa lah pemilik sesungguhnya?” Jeno menduga tuan Horesa pemilik toko buku ini.
“Bisa jadi.”
“Tetapi kenapa nama Kasia tidak ada ya?” tanya Jeno dengan tangan yang memegang dagu seakan kebingungan melihat papan nama tersebut.
“Siapa Kasia?”
“Cewek yang pernah aku ceritakan si cewek kasir penampilan seperti ke pesta dansa itu.”
“Oh nama dia Kasia ya cukup bagus juga aku yakin dia cantik.”
“Cantik banget sih, ayo Jeno kita pulang kamu aku carikan dari tadi Zoey ada di bawah nyari kamu juga.”
“Oh aku lupa ponselku di tas Zoey.”
“Aku tahu maka dari itu manual cari kamu, mana ya ponselku akan aku telepon Zoey.”
Ponsel diambil Elysian dan segera menghubungi Zoe yang tepat ada di bawah sembari Elysian dan Jeno berjalan beriringan turun ke bawah. Dan teleponnya mulai berdering beberapa menit telepon pun tersambung ke Zoe dan segera direspon oleh Zoe.
“Halo Zoey?”
“Di mana kamu?”
“Menuju ke bawah aku sudah menemukan Jeno, tunggu aku di aula ya!”
“Baiklah Elysian, oh iya tahu tidak tadi aku ngobrol sama cewek cantik banget namanya Kasia dia tadi bertanya mengenai kamu, apakah dia kenalan kamu?”
“Oh dia, iya aku kenal dia apa katanya?”
“Nanti saja aku ceritakan ya, bye Elysian aku tunggu di aula.”
“Baiklah!”
Telepon pun dimatikan dan Elysian menaruh ponselnya ditasnya, saat itu Elysian dan Jeno menemui Zoe ke aula bawah dan saat bertemu dengan Zoe mereka pun akan berjalan pulang. Saat dijalan pulang Elysian membuka percakapan.
“Zoey, bagaimana kamu bisa bertemu Kasia?” tanya Elysian penasaran.
“Oh, tadi aku sempat mencari Jeno ke ujung ruangan utama dan kau tahu apa itu? Aku tidak sengaja masuk ke ruangan seseorang ruangan nya sangat keren sih, desain yang sangat classic dan megah banget penuh coretan seni dan nama ruangan itu adalah ruangan nyonya Oretha, ya isinya seperti ruangan pribadi di mana ada tempat tidur isinya luas namun gelap pas aku menyalakan lampu tiba-tiba wanita itu muncul aku terkejut lalu dia bertanya, “Kamu siapa ? kenapa ada diruanganku?”, aku minta maaf ke dia dan aku bilang aku sedang cari temanku Jeno, dan dia bilang apakah aku temannya Elysian dan aku bilang iya, dia berpesan juga “Jangan biarkan rasa penasaran menyelimutimu maka kegelapan akan segera hadir,” kata dia begitu dan sudah itu aku langsung pergi dan kamu baru menghubungi ku.”
“Aneh enggak sih dengan tempat itu?” tanya Elysian dengan menurunkan intonasi.
“Aneh bagaimana Elysian?” tanya Zoe melihat mata Elysian dengan bersungguh-sungguh.
“Aku juga sempat berpikir begitu Zoey,” ucap Jeno meyakinkan ucapan Elysian.
“Seperti mencurigakan, dan seprofesionalnya para pekerja tidak mungkin berbenah ke tempat megah itu hanya seminggu menurutku itu tidak mungkin sih, lagi pula semua desain dan interior yang sama bisa dilakukan selama itu kek sepertinya tidak mungkin begitu, mereka menata letak detail sampai semuanya sama seperti lokasi yang kita temukan sebelumnya.”
“Iya juga ya, rentetan kurun waktu yang tidak pernah mungkin bisa ya kecuali mereka punya strategi yang bisa menghempaskan rasa kecurigaan kita dengan metode pembangunan dan pengelolaan tata ruang letak yang sama.”
“Kalau itu beneran seminggu aku akan senang para pekerja bisa membangun itu dengan cepat.”
“Tetapi tahu kah yang bikin aku heran lagi wanita yang namanya Kasia ini wanita kasir yang bajunya seperti mau ke pesta ini dipanggil nyonya oleh Mika.”
“Siapa Mika?” tanya Jeno.
“Cewe kasir baru tadi,” jawab Elysian.
“Ya mungkin atasannya,” terang Jeno.
“Ya sih aku juga berpikir seperti itu tadinya Jeno, tetapi aneh saja siapa Kasia ini.”
“Tetapi nama Kasia ini tidak ada di barisan organigram toko buku Trouvaille,” jelas Elysian.
“Benarkah, Mengejutkan sih atau mungkin saja itu organigram lama dan belum upgrade ke yang baru karena toko ini sudah berpindah ke sini.”
“Mana ada Jeno Claus, kau tahu Mika ini yang sempat aku tanya tadi dia katanya ke sini seminggu yang lalu, di mana masih ada Kasia di sana, tidak mungkin Kasia menghilangkan dirinya namun Mika tetap berada di sana.”
“Jangan dipikirkan Elysian mungkin feeling mu selalu benar tetapi kali ini mungkin kita lewatkan saja.”
“Kamu benar juga Jeno.”
Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing dan Elysian masih menganggap ada sedikit kejanggalan.