BAB 4 : PERPINDAHAN

1500 Kata
Cuaca hari ini mengantarkan hembusan angin kencang ke pori-pori wajah sehingga menyematkan kerinduan pada suasana di dalam toko buku Trouvaille, membuat Elysian rindu tempat itu dan berencana mengajak kedua sahabat nya untuk kembali mencari tempat yang dia inginkan itu, yang tidak sengaja pernah ke sana sekitar satu minggu yang lalu. Memang sudah lama mereka tidak datang berkunjung ke toko buku itu dikarenakan mempersiapkan ujian dan mencari waktu luang untuk kembali ke toko buku itu lagi, banyak buku yang mesti dibeli Elysian dan dinantikan juga oleh Jeno karena Zoe tidak begitu menyukai buku dia hanya menemani mereka. “Ayolah kita ke sana lagi Jeno Zoey,” bujuk Elysian kepada kedua sahabatnya itu. “Kita tidak tahu tempat itu di mana Elysian, kita hanya mengikuti kelinci putih itu bukan?” ujar Zoe. Pertanyaan Zoe membuat Elysian cemberut dan menggerutu dingin. “Benar Elysian, kecuali jika kamu ingat tempat itu di mana tata letak dan arah yang kita lalui sewaktu kita berada di sana,” tegas Jeno. “Kita coba dulu ya semisal kalau tidak ada kita nongkrong aja di tempat biasa,” bujuk Elysian kedua kalinya. Namun kedua sahabat Elysian menghela nafas dan mengangguk setuju supaya bisa membenarkan dan mewujudkan keinginan Elysian itu. “Yes!” Sorak bahagia Elysian. “Bantu Jeno dulu Elysian nanti ketika waktu kosong mata kuliah, soalnya dia juga sempat terganggu sama Joana kemarin.” “Terganggu bagaimana Zoey?” “Cewek menyebalkan itu ke rumah aku dan tahu sendiri aku tidak suka diganggu pada waktu tertentu dan dia datang memiliki banyak alasan yang tidak masuk akal seolah dia meminta bantuan yang beragam membuat aku tidak nyaman dalam satu hari itu, aku merasakan terusik bagai neraka karena dia meminta dengan polos pada ibuku dan ya ibu aku terlihat kasihan bagaimana pun aku sulit menolak bukan? Itu yang membuat aku merasa tertekan kemarin menghadapi monster itu,” gerutu Jeno. “Oh begitu, wanita itu tidak henti-hentinya mengganggu kamu Jeno, bisa-bisanya dia berani begitu,” ujar Elysian. “Aku juga mau bebas Elysian, setiap kali aku ingin bebas pasti aku harus cari kalian dulu baru aku bisa tenang.” “Dia masih takut kita ya Zoey.” “Benar Elysian aneh banget, dia takut kita padahal tegur sapa saja belum pernah.” “Kita seolah dijauhkan olehnya, jadi jika kita tidak ada dia mencari kesempatan untuk mendekati Jeno bagaimana pun caranya.” “Aku tidak mengerti kenapa dia begitu Elysian, kasihan juga Jeno itu tampan tetapi tersiksa.” “Kharisma kita terlalu menarik sepertinya haha membuat dia kabur mendekati kita,” tawa kecil Elysian. “Jangankan kharisma kalian, di kelas aku saja sudah dipenuhi orang yang minta nomor kalian aku sebagai sahabat kalian merasa risih harus didekati banyak teman pria yang terkadang merebut ponselku karena ingin tahu nomor kalian.” “Benarkah Jeno, Kita se-populer itu ya Zoey?” “Yang populer itu kamu Elysian bukan aku.” “Kamu pun Zoey.” “Kupikir aku tidak begitu Elysian.” “Jeno, tetapi sayang sekali di kelas kamu yang bersinar hanya seorang Jeno dan tidak ada yang menarik hati.” “Karena kelas aku yang memiliki visual menarik dan sangat pintar hanya aku!” ucap Jeno sembari tersenyum dan menggibaskan rambut dengan percaya diri yang tinggi. “Kita ke kelas Elysian nanti Jeno semakin tinggi hati.” “Iya kamu benar Zoey,” Mereka berdua pergi meninggalkan Jeno sendirian, dan Jeno sangat terkejut dengan sikap mereka berdua. “Heh kalian memuji diri kalian dengan berkharisma aku tidak protes, Hey!” teriak Jeno yang mengharapkan mereka mendengar jeritan sembari menunjuk ke arah mereka, lalu lari menghampiri mereka dengan merangkul keduanya. “Setelah mata kuliah ini tunggu ditempat biasa kita belajar ya Jeno, Elysian akan bantu kamu.” “Iya baiklah, kali ini kita berpisah di sini, hati-hati kalian!” ucap Jeno dengan senyuman manis dan mereka pun membalas senyuman itu. “Bye Jeno, jangan lupa ya!” "Iya!" Elysian dan Zoe meninggalkan Jeno sendirian. Seusai ujian kuliah selesai dan saat siang menuju sore Elysian menemui kedua sahabatnya dan membantu Jeno untuk mengerjakan tugasnya dan belajar bersama. Lalu selepas melakukan kegiatan tersebut Elysian, Zoe dan Jeno pergi mencari toko buku Trouvaille seharian mereka mencari dari titik pertama hingga berkeliling jauh perhentian terakhir tepat di Café Coffee Lazata tempat favorit berkumpul mereka dan saat memesan mereka bercengkerama seru mengenai ujian yang tadi sudah dikerjakan. Seusai selesai berkumpul akhirnya mereka menemukan toko itu di sebelah toko Café Coffee Lazata membuat ketiga sahabat itu terkejut dan kebingungan dan pada akhirnya mereka masuk ke toko itu dan disambut baik oleh penjaga yang mereka kenal yang bernama Horesa Jolyon sang penjaga toko buku Trouvaille. “Selamat datang lagi kalian!” “Oh, hai Tuan Horesa!” “Wow, Tuan Horesa kenapa toko ini sekarang pindah tempat?” tanya Jeno yang matanya sibuk melihat sekitar. “Iya Tuan ini sangat bagus, ramai sekali disini,” ucap Jeno berdecak kagum sembari mengitari segala penjuru yang ada didalam ruangan yang ramai itu. Toko buku itu menjadi ramai pengunjung dan banyak sekali buku-buku terbaru yang sangat mengindahkan mata. “Karena ditugaskan oleh pemilik toko ini untuk memindahkan ke khalayak ramai, kau tahu kan ditempat yang asal tidak ada pengunjung,” ucap Jeno melihat sekelilingnya dengan terpesona. “Oh iya juga sih, mewah tetapi tidak dapat ditemukan memang sedikit merepotkan aku pikir di sini bagus apalagi tempatnya sangat mencolok,” jawab singkat Zoe. “Hanya modal seminggu saja tempat ini masih saja mewah para pekerja toko buku ini memang profesional sekali Tuan,” ungkap Elysian sembari memegang buku-buku yang berjejer rapi dan ter-struktur. “Tentu saja Jeno, kita tidak akan pernah mengacaukan ekspektasi pengunjung!” jawab Tuan Horesa dengan mempersembahkan senyuman bangga dan senang. Tampaknya Elysian sudah berbaur di keramaian itu dikarenakan buku yang disukai Elysian banyak tersedia. “Tuan, aku menunggu seminggu mencari toko ini tidak ketemu giliran berkeinginan keras dan berharap sekali tiba-tiba toko ini sudah di bangun dengan hebatnya seperti ada sihir di jari jemari tukang bangunan di sini,” ungkap Elysian berdecak kagum melihat semua ini, karena Elysian kesusahan ketika ingin datang kembali ke toko Trouvaille ini. Karena sudah tidak sabar menanti buku-buku Elysian pun mulai aktif mencari dan meninggalkan kedua temannya itu. “Lihat Elysian dia sangat bersemangat dan bertenaga demi mencari buku yang dia sukai,” tutur Jeno dengan senyuman yang menyukai Elysian yang terlihat senang itu. “Iya Jeno, bagaimana kalau kita pergi juga mencari buku?” tanya Zoe kepada Jeno. “Sejak kapan kamu suka buku Zoey?” sahut Jeno yang tiba-tiba saja dia bilang ingin mencari buku. “Sejak ada diskon komik di sana Jeno, aku pergi dulu!” Zoe mulai berlarian ke area komik yang dipenuhi diskon-diskon dan Jeno pun di tinggalkan lagi sembari berjalan ikut menikmati juga. “Pantas saja dia bersemangat bukan buku ternyata tetapi komik.” Zoe sangat bersemangat dengan komik-komik di sekelilingnya dan mulai menyerbu komik tersebut sehingga meninggalkan Jeno sendirian, dan Jeno mulai penasaran dengan wanita yang dulu ada di lantai dua dan mulai berlarian ke arah sana, Tuan Horesa serius mengamati dari kejauhan melihat Jeno berlarian. Dalam antrian yang panjang, Elysian antri paling belakang dalam barisan panjang itu dan cukup memakan waktu lama, lalu tiba-tiba di belakang Elysian datang seseorang yang membeli banyak komik, disana ada Zoe dengan wajah semringah dengan mengayunkan keranjang itu. “Eh Zoey, kok bisa, ternyata banyak sekali komik disini aku baru sadar pantas saja kau bersemangat sekali.” “Aku sangat senang disini, tiap hari kita kesini boleh?” “Tentu tak masalah, tapi aku kesal dengan antrian sepanjang ini.” “Ya kau benar, eh bukankah kau pernah bilang wanita kasir seperti model?” “Benar, kenapa?” “Lihatlah Elysian tidak seperti model pun, seperti kasir biasa.” “Eh, mungkin sudah diganti,” ucap Elysian dengan sangat terkejut. “Mungkin saja,” singkat Zoe. Antrian sudah tidak panjang dan kini Elysian mulai bertransaksi bersama dengan Zoe. Saat sudah membayar Elysian bertanya pada kasir itu. “Hai Nona, Siapa namamu?” tanya Elysian secara tiba-tiba kepada kasir yang di depannya dan itu membuat kasir di depannya sangat terkejut. “Nama saya Mika Nona,” ucap Kasir itu sembari bekerja mengecek buku-buku Elysian dan menetapkan total harganya. “Berapa lama anda bekerja disini?” tanya kembali Elysian yang sangat penasaran. “Baru saja minggu lalu Nona.” “Eh maaf sebelumnya, mau bertanya di manakah kasir bernama Kasia?” “Ah Nyonya Kasia dia tidak ada disini, saya menggantikan dia sebagai kasir, Nyonya Kasia hanya sementara menjadi penjaga kasir, eh anda siapa Nyonya Kasia dan kenapa bisa kenal Nyonya Kasia, Nona?” “Nyonya? Bukankah dia sama-sama kasir?” “Ah itu-“ ucap kasir terhenti. “Sudahlah Elysian aku mau bayar nih lihat dibelakang antrian panjang lah, jika ingin bertanya saat kasir nya senggang saja,” tegas Zoe yang tepat berada dibelakangnya Elysian yang ikut mengantri juga dengan membawa banyak komik. “Eh maaf-maaf, Makasih Nona Mika maaf mengganggu waktunya,” ucap Elysian yang merasa tidak enak. “Sama-sama Nona, tidak masalah kok,” jawab kasir itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN