Angin tampaknya sangat ramah sehingga mengibaskan rambut Elysian yang tengah membaca buku di sebelah jendela yang terbuka, udara segar tidak dapat dibantah membuat beberapa menit kemudian membuat Elysian mengantuk dan tanpa sadar tertidur lelap dengan buku yang berada di tangannya.
Dari arah luar terdengar bel berbunyi dan membuat Elysian terbangun dari tidur indahnya saat Elysian menuju ke pintu melihat siapa orang yang berisik memainkan bel nya terdapat dua orang yang tak asing baginya lalu Elysian membuka pintunya dan membiarkan mereka masuk.
“Yahoo El!” Teriak Jeno bersemangat saat Elysian membuka pintu rumahnya.
“Elysian ayo kita pergi lagi ke toko buku Trouvaille,” ucap Zoe lembut. Jeno maupun Zoe membawa tas punggung.
“Baiklah ayo masuk ke kamar ku.”
“Elysian apakah aku boleh bertanya beberapa hal tentangmu?” tanya Jeno sembari melihat-lihat rumah Elysian yang tampak luas dengan tata letak yang rapi dan bersih itu.
“Boleh saja Jeno, apa itu?”
“Pertanyaan ini sangat menyinggung dan tidak sopan, Ehem apakah masih boleh aku bertanya?”
“Bukankah sudah jelas jika menurutmu itu menyinggung dan tidak sopan maka tidak boleh dikatakan sembarangan Jeno?” Celetuk Zoe membuat Jeno kesal.
“Aku mengerti Zoey hanya saja aku penasaran.”
“Katakan apa yang ingin kau tanyakan Jeno, Jangan sungkan,” tegas Elysian menjawab kebimbangan Jeno.
“Kau tinggal sendirian selama ini Elysian hanya dengan nenekmu, ya aku tahu sih nenekmu sudah lama meninggal tetapi orangtuamu di mana? Maksudnya aku tidak tahu kenapa mereka meninggal dan kamu tidak menjelaskan itu semua jadi aku sangat-sangat penasaran, Tetapi jika kamu tidak mau menjawab aku mengerti jadi itu terserah kamu Elysian,” tanya Jeno dengan berderetan rasa penasaran yang keluar dari mulutnya itu.
“Oh hanya itu, Aku kira kalimat menyinggung apa, jadi kata nenekku mereka meninggal karena kecelakaan hebat yang menewaskan mereka saat mengantarkan ku ke tempat wisata.”
“Kau hanya memiliki nenekmu? Apakah kamu memiliki keluarga lain selain nenekmu?”
“Tidak ada katanya, aku hanya memiliki nenek dan nenekku bukan orang yang bisa diajak bicara banyak saat aku menanyakan banyak hal, dia bungkam seolah dia tidak ingin memberiku jawaban atas segala hal yang aku tanyakan padanya, aku kecewa sih dia tidak memberiku jawaban pasti. Namun, dia sangat baik padaku dia membesarkan dan merawatku dengan baik aku tak akan pernah menyesal memiliki nenek seperti dia, meskipun dia akan selalu terdiam saat aku tanya apapun mengenai orangtua ku,” jelas E;ysian.
“Ah bagus kalau begitu jika dia dapat memberimu kasih sayang, tetapi kau memiliki foto mereka?” tanya Jeno.
“Heh Jeno!” Bisik Zoe kepada Jeno.
“Tak apa Zoey, aku tidak memiliki bukti fisik yang menyatakan siapa orangtua ku hanya saja aku pernah menemukan barang semacam kotak tua yang dimiliki nenekku yang saat itu sempat dia bilang bahwa aku tidak boleh membuka kotak itu, aku merasa aneh maka dari itu aku buka kotak saat aku dewasa, dengan isinya terdapat satu foto wanita yang sangat cantik yang sedang duduk memegang bunga dan satu kalung perak berbentuk daun semanggi cantik yang saat aku memegang pertama kali sangat bersinar terang yang membuatku takut sehingga aku tidak lagi memegang benda itu. Namun, aku pajang foto wanita cantik itu dikamarku,” jelas Elysian menjelaskan situasinya.
“Bisa saja itu ibumu Elysian,” celetuk Zoe yang tiba-tiba menduga itu ibunya Elysian.
“Tetapi dia seperti mirip denganku warna mata dan rambut. Namun, dia sangat cantik seperti wanita kerajaan karena di sekelilingnya sangat mewah banyak aksesoris yang jarang aku temui di sini, jika dia ibuku kenapa rumah ini biasa saja ya maksudnya dia tidak meninggalkan warisan apa gitu,” jelas Elysian yang mengatakan pendapat dirinya mengenai kondisi ini.
“Bisa-bisanya mikirnya ke sana, tetapi mungkin saja zaman dulu ada foto yang berlatar kemewahan,” ucap Zoe.
“Kalau ada semua orang bisa terlihat kaya, tetapi mungkin saja dulu keluargamu kaya karena adaya kecelakaan itu jadi ekonomi menurun,” ucap Jeno.
“Nenekmu tak mengatakan apapun tentang itu, ya aneh jadinya semua hal itu tidak terungkap, sayang sekali.”
“Iya kau benar sayang sekali dia bungkam tetapi dengan diamnya dia, itu membuat ku penasaran, oh iya kalian harus ke atas akan aku ambil kan cemilan dan minuman,” ucap Elysian sembari meninggalkan mereka berdua dan mengambil beberapa cemilan dan minuman di dapur sedangkan Jeno dan Zoey naik ke lantai atas sesuai dengan perintah Elysian, “Terima kasih Elysian!” ucap Jeno, lalu timpa Zoe juga, “Iya Elysian terima kasih ya, aku dan Jeno ke atas duluan,” Elysian hanya mengangguk dan fokus kembali mengambil beberapa cemilan dan minuman, lalu setelah mereka berada di atas dan Elysian pun yang sudah selesai mengambilnya di tangannya langsung menghampiri mereka dan menaruh nya di mejanya.
“Elysian bunga apa ini lucu banget!”
“Itu bunga Lily Zoey, jika kamu suka kamu boleh ambil akan aku ambil vas untukmu.”
“Benarkah? Aku hanya bertanya jika di kasih aku senang juga sih, tetapi kenapa tiba-tiba memberi ku bunga Elysian?” tanya Zoe yang menatap langsung ke mata Elysian.
“Aku tahu kamu menyukai tanaman maupun bunga indah, Lily ini cocok untukmu Zoey kamu harus tahu lambang yang dicerminkan Lily adalah lambang yang mirip dengan sifat kamu juga.”
“Akan aku coba cari bunga yang ini,” ucap Zoe, Elysian mengangguk setuju. Elysian pun pergi ke dapur lagi untuk mengambil beberapa cemilan dan minuman yang belum semua diambil olehnya.
“Zoey kenapa kamu memandangi bunga itu terus?” tanya Jeno penasaran.
“Tampaknya bunga ini semakin berkilau setiap aku memandangi dia apakah bunga ini jatuh cinta padaku. Lihatlah Jeno, Dia seperti sihir indah tampak berkilauan kan kan?”
“Aku tidak tertarik dengan bunga Zoey, aku lebih suka kaktus.”
“Kaktus sangat membosankan dia hidup sendirian dan kesepian.”
“Dia indah Zoey, dia memiliki bunga sebagai temannya kamu tidak pernah lihat temannya itu kah? kamu tidak tahu kaktus itu memiliki sikap yang baik dia adalah tanaman yang kuat mungkin dia terlihat sendirian tetapi dia bisa bertahan dalam menjalani hidup, dia memiliki sisi lembut yang di mana menyelimutinya di saat dia dalam keadaan disakiti, dia mengeluarkan getah yang tandanya dia bersedih dan dia memiliki banyak sisi yang mengagumkan,” jelas Jeno yang menjelaskan tentang kaktus kepada Zoe.
“Serius dia ada bunga?” tanya Zoe yang baru tahu.
“Kamu tidak tahu apa-apa Zoey,” keluh Jeno.
Elysian kembali dalam keadaan membawa cemilan dan minumannya. Namun, keheranan karena teman-temannya saling terdiam satu sama lain.
“Ada apa ini, Kenapa dengan kalian berdua?”
“Kita sedang berdebat Elysian, bukan berdebat sih cuman seperti kita memiliki selera yang berbeda!” tegas Jeno yang saling memalingkan wajah dengan Zoe.
“Aku menyukai bunga dan dia menyukai tanaman kaktus.”
“Dia tidak tahu apa-apa mengenai kaktus yang unik El!”
“Memangnya kamu tahu bunga itu seperti apa, Mereka indah Jeno! Coba kamu berikan pada wanitamu dia akan sangat menyukai nya!” teriak Zoe, lalu Jeno pun melihat Elysian.
“Dengar, akan aku berikan kaktus untuknya bukan bunga yang akan cepat layu!”
“Tidak romantis tahu, masa di kasih kaktus!”
Perdebatan antara Jeno dan Zoe memuncak ketika Elysian datang dan membuat Elysian terlihat kesal dengan mereka. Namun, Elysian pergi ke kamar di sebelah nya dan mengabaikan mereka lalu Zoe dan Jeno tidak sadar mengikuti Elysian ke kamar sebelah nya sembari masih dalam perdebatan itu. Didalam kamar masih saja sama tidak ada perdamaian di dalamnya yang ada Elysian bertambah kesal, dan juga kenapa mereka mengikutinya sedari tadi.
“Stop kalian!” teriak Elysian memuncak dan membuat mereka yang berdebat telihat diam dan terkejut dan tanpa sadar juga mereka berada di kamar kosong yang bukan kamar milik Elysian.
“Dengar, Zoey kaktus itu sangat baik buat dijadikan teman maupun di kasih hadiah kepada orang lain banyak yang menyukai nya dan Jeno apakah kaktus bukan bunga? Sedikit berbeda dengan keyakinanmu tetapi di kaktus pun memiliki bunga juga kan, kalian ribut dengan sesuatu hal ini membuatku kesal saja, kan Jeno bilang tergantung selera bukan? Harusnya kamu paham wanita itu rata-rata menyukai nya tetapi tidak menolak jika ada wanita juga yang menyukai kaktus, cukup jangan berdebat dengan sesuatu hal yang membuat kalian lelah sendiri. Ok silahkan kalian pindah ke kamar ku nikmatilah cemilan dan minuman yang telah aku sediakan dan aku akan ke kamar ini untuk berganti baju dan jangan adu mulut lagi ok?” jelas Elysian yang menenangkan mereka secara lembut meskipun sedang kesal mendengar perdebatan mereka.
Mereka menurut perkataan Elysian dan pergi ke kamar pribadi Elysian dan Elysian mulai menutup pintunya dan berganti pakaian. Zoey dan Jeno pun duduk berjauhan di kamar Elysian. Perdebatan itu pun terhenti oleh Elysian, Jeno maupun Zoey terdiam tanpa sepatah kata pun. Namun, Jeno mulai mencoba memperbaiki situasi.
“Zo-ey,” ucap Jeno terbata-bata, “Zoey maafkan aku, seharusnya aku tidak memulai perdebatan ini dan membuat kamu kesal kepadaku, aku tidak paham dengan sikapku kali ini jadi aku minta maaf sebelumnya,” ucap Jeno meminta maaf kepada Zoe sembari menundukkan kepalanya.
Zoe pun memandangi Jeno dengan tatapan lega dan mengambil nafas yang banyak.