Semua makanan seafood sudah tersaji di depan pasangan beda usia ini.
Seperti orang kerasukan, Ilona memasukan kepiting dalam mulutnya. Bahkan, kulitnya tidak di kupas. Darren meringgis ngeri, melihat kekasihnya kelaparan.
"Maaf yang, aku lama. Jadinya, kamu kelaparan." Darren, mengelus rambut kekasihnya dengan sayang.
Ilona hanya mengangguk, tidak bisa menjawab karena mulut penuh. Darren memasukan nasi dan sayur dalam mulutnya. Dengan menyedot-nyedot isi kepiting ala-ala pesanan Ilona. Sekarang, dia beralih ke udang. Langsung lima udah masuk dalam mulut Ilona.
"Aku nggak biasanya, banyak makan gini. Jangan-jangan aku hamil." Ilona menyeka mulutnya dari sisa-sisa air putih.
Sendok Darren tertahan di udara. Dia memperhatikan, wajah kekasihnya yang begitu bersinar. Darren, meminum air untuk menghilangkan serat-serat yang menempel di tengorokan. Dan sebuah batu besar, masuk dalam kerongkongannya.
"Iya." Darren hanya mengangguk. Kalau hamil, dirinya habis sudah.
Ilona mengetahui rona wajah Darren yang berubah pias. Dia paham, karena perjanjian bodoh itu. Jika, ia hamil. Akhirnya mereka akan berpisah.
Ilona mengambil tangan Darren dan mengelusnya.
"Lupakan perjanjian bodoh kita! Aku udah nggak ingat itu lagi. Aku mau kita punya banyak anak, dan kamu tetap hidup bersama aku." Darren akhirnya, bisa sedikit bernafas lega.
"Iya sayang." Walau sudah tidak berselera lagi. Darren pura-pura memasukan sesendok nasi dalam mulutnya.
Ilona memesan kepiting lagi satu porsi. Benar-benar brutal wanita ini.
Dalam waktu lima menit, tinggal cangkang kepiting yang tersisa. Ilona menjilat tangannya.
"Hah puas."
"Astaga! Aku lupa, buat video. Darren kita pesan lagi banyak. Dan makan di rumah aja." Pekik Ilona. Melupakan setoran untuk kontennya.
Ilona memesan lagi, semua seafood dalam restoran itu di borongnya.
***
"Aku beli obat lagi." Darren menunjukan obat gel bentuknya seperti pasta gigi.
"Obat kuat?"
"Obat gatal. Perangsang." Wajah Ilona memerah. Lelaki ini, terlalu vulgar ketika berbicara.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Dengan banyak kantong makanan di belakang mereka.
"Kita singgah bentar, mau beli testpack." Darren hanya mengangguk lemas dan pasrah.
Jika memang wanita itu hamil, dia hanya bisa pasrah. Nasib apa yang akan menimpanya.
Ilona turun, Darren hanya menunggu dari dalam. Melihat wanita cantik itu keluar. Cantik! Cantik sekali wanita itu. Sayangnya, Darren tidak berminat dengan wanita seperti ini. Darren memiliki kriteria wanitanya sendiri. Yang pasti, Ilona masuk daftar yang kesekian.
Darren hanya memegang gel yang baru di belinya tadi. Ini merupakan, gel pembunuh s****a. Gel itu, akan di oleskan pada milik Ilona dengan begitu s****a yang masuk akan di bunuh. Dan bisa mencegah kehamilan.
Ilona keluar dari apotik, dengan berjalan dengan begitu anggun. Siapa sangka, wanita anggun dan cantik itu di bodohi habis-habisan.
Ilona masuk ke dalam. Mulai mengoceh, tentang kehamilan. Yang membuat kepala Darren pusing.
"Ya ampun, pasti anakku cewek. Punya lesung pipi. Trus, setiap hari nangis minta s**u. Trus, mau manja-manja sama papa." Ilona menerawang jauh. Sudah memikirkan wajah anaknya, yang iya yakini versi Darren cewek.
"Jadi, siapa namanya?"
"Hm.... apa ya? Aduh, aku harus cari di internet nama-nama anak cewek yang cantik. Maren? Mauri? Maula? Milona? Gabungan nama kita aja ya?"
"Aduh, tinggal beberapa bulan lagi. Aku harus menyiapkan namanya cantik."
Ilona uringan-uringan dengan nama anaknya. Darren, jengah mendengarnya.
Tiba di rumah, Ilona dengan cepat ingin memeriksa testpack. Dia tidak mau menunggu, sampai besok. Dengan bergegas ke kamar mandi. Darren, menurunkan semua makanan dan menyiapkan makanan tadi buat di makan.
Semua sudah selesai, dia menunggu dengan was-was. Walau Ilona, melupakan perjanjian itu. Ia tetap, tidak ingin punya anak. Di saat umurnya masih muda, dan belum lulus kuliah. Apalagi, mereka tidak mempunyai ikatan yang jelas. Hanya sebatas perjanjian bodoh.
Dengan melihat, berbagia makanan di atas meja. Darren dengan sabar menunggu Ilona.
"Darren.........." teriak Ilona dari dalam.