“Ayo naik itu.” Mini menarik tangan Esa. Namun pemuda itu justru menahannya. “Gak Ky. Waktunya makan.” Tegas Esa “Satu lagi.” “Kiky.” “Aku janji setelah ini kita makan.” “Rizky.” Mini mendengus. “Oke. Makan. Tuan pemaksa.” Esa terkekeh pelan melihat reaksi tersebut. Gadis itu kini berjalan satu langkah lebih cepat darinya, seolah merajuk. Namun, pertanyaannya apakah Mini merajuk? Tentu saja tidak. Dia tidak merajuk layaknya gadis pada umumnya. Dia hanya kesal saja. Setidaknya itu yang Mini katakana tadi saat dirinya ditegur Esa untuk tidak meminum terlalu banyak es setelah memakan cemilan pedas. “Tumben ngerajuk Ky.” “Siapa yang ngerajuk? Aku? Enggak ya. Cuma kesel aja. Lagi enak-enak makan malah di ganggu.” Iya, jadi Mini itu tidak pernah merajuk. I

