“Dasar bucin.” “Bukan bucin.” Sanggah Esa. “Iya iya—cuma terlalu cinta kan?” ucap Mini, ia terlampau sering mendengar kalimat itu. Sehingga ia cukup tau kearah mana Esa akan berkata. Esa tertawa pelan. “Benar. Tapi ada lagi.” “Apa itu?” “Aku akan berusaha menghargaimu dan kerja kerasmu. Aku juga akan melakukan apapun supaya kamu tidak pernah merasa kecewa Ky.” Mini menghembuskan nafasnya seraya mendesis pelan. “Kebanyakan gombal.” Ujarnya sebelum menghadap pada para orangtua. “Baby—my princess.” Viona merenggangkan tangannya pada Mini. Lihatlah, baru juga Esa mengatakan jangan memanja Mini. Ibunya sudah melakukan hal itu lagi dan lihat—ekspresi Mini yang terlihat sangat kaku. Esa yakin, Mini tidak biasa diperlakukan seperti itu. “Bunda… Ayah…” sapa Mini. “Se

