Waktu telah melipat dirinya berkali-kali. Menara Lumière di Jakarta kini telah menjadi bagian dari sejarah arkeologi urban. Namun, jauh dari hiruk-pikuk kota yang kini telah berubah menjadi pusat teknologi tanpa jiwa, di sebuah desa pesisir di timur nusantara, sebuah kehidupan baru sedang mekar. Seorang gadis muda bernama Lumi—nama yang diberikan ibunya untuk menghormati legenda lama—sedang duduk di sebuah sekolah kayu kecil yang ia bangun sendiri. Di sana, ia tidak mengajarkan cara membangun gedung tinggi, melainkan cara membaca alam dan menjaga kejujuran di tengah perdagangan ikan yang sering kali penuh tipu daya. Lumi tidak memiliki harta warisan triliunan rupiah. Yang ia miliki hanyalah sebuah lencana perak tua berbentuk bunga baby's breath yang sudah kusam, yang ia temukan di dala

