Selasa pagi terasa ganjil bagi Aira. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, ia tidak terbangun oleh dering alarm pukul 05.00 pagi. Tidak ada blazer yang harus disetrika, tidak ada jadwal pertemuan yang harus dihafal, dan tidak ada aroma kopi dari mesin di lantai 22. Ia duduk di ruang tamu apartemen kecilnya, menatap kardus berisi barang-barangnya yang masih tergeletak di lantai. Di puncak tumpukan itu, bunga baby’s breath pemberian Reyhan mulai sedikit layu, namun tetap terlihat cantik. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Reyhan masuk: "Rapat dimulai sepuluh menit lagi. Jangan matikan ponselmu. Apa pun yang terjadi, percayalah padaku." Aira meremas ponselnya. Di gedung tinggi sana, Reyhan sedang memasuki kandang singa sendirian demi melindunginya—atau lebih tepatnya

