Keadilan yang mulai terasa detik ini juga, adalah saat dimana aku merasa semuanya gelap, kemudian dia datang menjadi cahaya. -Ladisya- ¶¶¶ Mata tajam menghunus seperti anak panah tepat pada sasaran. Rambut pirang menyala serta bibir yang tidak pernah tersenyum untuk Disya. Alis yang selalu saja menukik tanda kobaran kemarahan. Bahkan di luar kepala pun Disya sudah hafal akan apa yang terjadi. Disya tidak pernah ingin menangis ataupun memprotes, hanya saja sebagai manusia semua itu refleks terjadi. Seakan kebal terhadap rasa sakit, membiarkan sang Mama meluapkan seluruh emosinya pada Disya. Mereka mirip, seperti reinkarnasi berulang. Namun entah kenapa Marie tidak pernah sudi memberikan kasihnya pada Disya. PLAK! Sambutan yang bahkan mengerikan selalu Disya telan bulat-bulat semenja

