"Kamu kenapa sih?" William bersandar di dinding dekat dengan Archanne. Sedangkan gadis itu sejak tadi menunduk, wajahnya sedatar tembok, entah kenapa ia ingin sekali memeluk sesuatu. "Aku, .. Entahlah. Bagaimana keadaan Davina?" Elak Archanne sebisa mungkin untuk tidak nampak menyedihkan. "Dia sudah tenang. Tidurnya juga sudah tidak berantakan. Bagaimana keadaanmu?” “Aku bermimpi. Beberapa malam yang lalu.” Kata Archanne mengingat-ingat bagaimana alur mimpinya terjadi, “Aku di sebuah padang rumput, ada suara yang terus memanggilku.” Kata Archanne. “Lalu kau berlari mengejar suara itu?” “Ya. Dia meminta tolong. Berteriak. Menyakitkab untuk mendengarnya.” Archanne menggelengkan kepalanya, menepiskan pikirannya yang berkecamuk. Ada hal lain yang lebih nyata yang harus ia khawatirkan selain

