Vielga berlari secepat mungkin agar segera sampai di rumah sakit. Dia sudah tak bisa menenangkan diri jika mendengar kabar ibunya begini. Masih belum Vielga ketahui, penyakit apa yang diderita ibunya sampai separah ini.
Bu Vivi memang selalu mengatakan hanya penyakit biasa. Logisnya, jika penyakit biasa, tidak mungkin sakit sampai berketerusan, bukan? Vielga yakin, ada yang Bu Vivi sembunyikan darinya.
“Sus, pasien atas nama Viviana di mana, ya? Pasien yang baru dibawa hari ini, adakah?” tanya Vielga menjelaskan dengan napas tersengal-sengal ke para suster.
“Ada, Mbak. Pasien atas nama Bu Viviana ada di ruang Anggrek nomor 35,” kata suster sambil melihat komputer.
Gegas saja Vielga langsung mencari ruangan di mana ibunya berada. Dia berlari hampir menabrak orang karena rumah sakit lumayan ramai, saking tak tenangnya, Vielga jadi tak fokus.
Ia terus mencari-cari ruangan Bu Vivi. Sampai menit demi menit berlalu, Vielga telah menemukan ruangannya. Ia masuk ke dalam, ada dokter yang sedang memeriksa.
“Mama!” panggilnya melihat Bu Vivi tak sadarkan diri di atas brankar.
“Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan ibuku? Bisa jelaskan Mama saya sakit apa?” Vielga mencecar dokter agar memberitahukan penyakit apa yang diderita oleh ibunya sampai tak sembuh-sembuh meskipun rutin berobat.
“Loh, memangnya Anda tak tahu kalau ibu Anda punya riwayat gagal jantung?” tanya dokter memekik pelan, karena keluarga pasien tidak tahu apa penyakitnya.
Vielga berpegangan pada sisi brankar untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak limbung. Lagi, ujian datang menghampiri. Jika kemarin diuji soal harta, kini diuji oleh kesehatan ibunya. Vielga baru tahu kalau Bu Vivi menderita penyakit parah, pantas saja tak sembuh jika hanya penyakit biasa.
“Apa, Dok? Lalu, apa yang harus dilakukan supaya Mama sembuh, Dok?”
“Bu Vivi tidak pengobatan rutin akhir-akhir ini yang menyebabkan sakitnya bertambah parah. Ada cara agar ibu Anda bisa sembuh yaitu transplantasi jantung. Jika Anda bersedia, kami akan segera menanganinya,” papar dokter.
Vielga ingin melakukan hal terbaik untuk ibunya agar Bu Vivi segera sembuh. Akan tetapi, mendengar transplantasi jantung adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan ibunya, Vielga harus memikirkan biaya.
Pasti biayanya sangat mahal, Vielga tak memiliki uang sebanyak itu saat ini. Ia juga masih memiliki hutang, tak mungkin juga ia meminjam lagi. Vielga dilematis, dia harus melakukan apa agar ibunya sembuh.
“Saya akan memikirkannya dulu, Dok,” kata Vielga pada dokter yang langsung keluar karena pemeriksaan sudah selesai.
Tubuhnya mendarat di kursi kosong, Vielga menundukkan wajahnya di samping Bu Vivi sambil menangis. Di saat mereka susah, tidak ada satu pun keluarga atau orang terdekat yang menolongnya. Mereka hanya mendekatinya di saat Vielga hidup senang.
“Mama jangan khawatir, Vie bakalan mencari cara supaya Mama cepat sembuh. Bertahanlah,” lirihnya dengan suara pilu, menatap sendu pada Bu Vivi yang pucat dan kurus, tak sesegar lalu.
Di saat Vielga sedang bingung, suara ponsel membuat Vielga mengalihkan pandangan. Dia merogoh ponsel, ternyata Areksa yang menelpon.
“Di mana?” Areksa bertanya dengan nada dingin, dia pasti menghubungi karena Vielga belum kembali ke sekolah.
“Tu-tuan … maafkan saya, saya tak bisa kembali ke sekolah saat ini.”
“Why? Kenapa kau menangis?”
“Saya sedang di rumah sakit.”
“Apa yang terjadi? Kau sakit?”
“Bukan saya, tapi Mama. Saya meminta izin pada Anda untuk menjaga Mama. Saya akan bekerja kembali kalau Mama udah mendingan. Saat ini, hanya saya satu-satunya keluarga Mama, Tuan.”
Tadinya Areksa ingin memarahi Vielga, tapi mendengar wanita itu sedang tertimpa duka dia menahan amarahnya.
“Saya izinkan. Di rumah sakit mana kau berada?”
Tanpa rasa curiga, Vielga menjawab,”Rumah Sakit Mega Bintang, Tuan.”
Selesai mengatakan itu, Areksa langsung mematikan teleponnya sepihak. Vielga memeluk ibunya dari samping dan melanjutkan menangis, belum kepikiran cara agar mendapatkan uang dalam jumlah banyak.
Satu jam lamanya Vielga menangis, air matanya terus mengalir sampai matanya sembab. Vielga sudah memikirkan cara yang ampuh untuk menghasilkan uang. Datang ke club malam, Vielga akan bicara dengan Friska nanti agar ia bisa mendapatkan uang.
“Vielga!” Baru saja keluar ruangan, suara pria familiar terdengar.
Vielga mencari di mana sumber itu berasal. Ternyata dari arah lorong, di sana terlihat Areksa datang sambil berlari ke arahnya. Bingung dengan kehadiran Areksa, Vielga diam di tempatnya.
“Tuan? Sedang apa Anda ke sini?”
“Mamamu sakit apa? Kenapa kau hanya bisa menangis seperti orang bodoh? Kenapa tidak memberitahuku jika butuh bantuan?” Bukan menjawab, Areksa malah mengomeli Vielga.
Sungkan saja, Vielga tak mau merepotkan Areksa untuk yang ke sekian kali. Kendatipun, Areksa tidak keberatan karena mereka sudah menyepakati kesepakatan untuk saling menguntungkan.
“Saya sungkan, Tuan, saya akan berusaha mencari uang untuk pengobatan Mama. Anda tidak perlu repo—”
“Tidak merepotkan, sesuai kesepakatan. Saya akan memberimu uang, kamu memberikan pelayanan ranjang. Sudah adil, bukan? Sekarang jelaskan padaku, apa yang terjadi dengan ibumu?”
Kelemahan wanita, saat ditanya sebabnya pasti tak kuasa menahan air mata. “Dokter bilang Mama harus transplantasi jantung, Tuan, Mama mengidap riwayat gagal jantung dan saya baru tahu sekarang.”
Areksa mengangguk pelan. Kondisi ibu Vielga sangat serius dan harus segera ditindaklanjuti.
“Ayo ke ruang administrasi, biar saya yang membayar biayanya,” kata Areksa menarik tangan Vielga untuk membawanya ke ruang administrasi.
“Tuan, biaya transplantasi jantung sangat mahal. Saya tidak ingin banyak merepotkan Tua—” Perkataan Vielga terjeda karena Areksa terus menyelanya.
“Uang saya banyak. Tidak akan habis hanya membayar biaya pengobatan ibumu.”
Di satu sisi Vielga senang, di satu sisi dia sedih. Areksa sudah banyak membantunya, meskipun bukan cuma-cuma. Vielga harus menyerahkan tubuhnya jika Areksa banyak menolongnya. Sampai di adminstrasi, Areksa membayar lunas biaya pengobatannya.
Para pihak medis pun sudah bersiap, akan melakukan tindakan selanjutnya. Vielga lega, Areksa menarik kembali tangannya.
“Kita mau ke mana, Tuan?” tanya Vielga.
Berhubung Areksa membawa mobil sendiri, dia leluasa tanpa takut diketahui oleh siapa pun. Dia membawa Vielga ke dalam mobil, kemudian mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan rumah sakit.
“Bagaimana dengan Mama saya?”
“Mamamu sudah ditindaklanjuti, kita akan ke sini nanti.”
“Kita mau ke mana? Tuan tidak menjawab pertanyaanku.”
“Hotel, kita akan kembali setelah bercinta nanti.”
Vielga meneguk saliva susah payah ketika Areksa langsung membawanya ke sebuah hotel yang jaraknya dekat dengan rumah sakit. Setelah memesan kamar, keduanya masuk ke kamar yang sudah dipesan.
Areksa melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang melekat di tubuh kekarnya. Tubuh Vielga tertarik mendekat, merapat ke dekat Areksa. Detik berikutnya mereka saling menyatukan bibir. Memberikan lumatan, sampai decapan penyatuan bibir terdengar, menambah gairah Areksa untuk melakukan pemanasan sebelum lanjut pada intinya.
Benang saliva terlihat ketika Areksa melepaskan, memberikan kesempatan agar Vielga meraup pasokan udara.
“Lepas pakaianmu, aku ingin kau menari di hadapanku tak memakai baju!”