Bab 12. Jatuh Pingsan

1074 Kata
Sudah Areksa duga kalau keluarganya juga akan keheranan ketika ada pelayan muda di rumahnya. Mereka tahu kalau Areksa memang tak mau ada pelayan muda, tapi sekarang malah ada. “Kinerjanya bagus, makanya aku menerima dia kerja di sini. Theo dan Tata juga mulai dekat dengannya,” kata Areksa. Menutupi bahwa ada kedekatan tersembunyi diantara mereka berdua. Bu Natya juga tidak berhak melarang. Dia hanya aneh saja, kenapa Areksa berbusa pikiran padahal aturan itu sudah diterapkan sejak dirinya belum menikah. “Serasa gimana gitu, Reksa. Pokoknya kamu harus bisa jaga diri, takutnya kegoda sama pelayan muda. Jangan sampai itu terjadi,” celetuk Bu Natya secara spontan. Areksa yang sedang minum pun tersedak Areksa meletakkan kembali gelas di atas meja, sambil mengusap tenggorokannya yang terasa sakit. Bu Natya mengusap punggungnya. “Gak mungkinlah. Masa iya aku tertarik sama pelayan? Gak mungkin, mana mau aku dengan wanita dari kalangan rendah,” kata Areksa menegaskan bahwa dirinya hanya tertarik dengan tubuh Vielga saja, tidak lebih dari sekadar itu. Dia lebih suka dengan wanita yang setara dengannya. Tepat saat mengatakan itu, Vielga yang hendak keluar dari dapur pun mendengar. Gadis itu diam di ambang pintu sambil memegang bajunya dengan erat, dianggap kalangan rendah, Vielga sangat tersinggung karena di mata orang kaya, orang miskin tidak ada harganya sama sekali. Hidupnya berubah dratis. Ia yang dulunya selalu dihormati, kini malah diinjak-injak oleh orang berada. Vielga mengurungkan niat, ia kembali ke dalam. “Bagus, kamu memang anak Mama yang penurut.” Bu Natya tersenyum bangga karena Areksa selalu menuruti perkataannya, tak pernah mengecewakan sama sekali. Dari kecil hingga sekarang, Areksa selalu patuh pada perintah kedua orang tuanya. Termasuk menikah dengan wanita pilihan dan sepadan dengan mereka, walaupun pernikahannya dengan istri pertama tidak bertahan lama. Hanya bertahan tiga tahun saja. “Kamu udah menjadi duda sejak dua tahun lamanya, Areksa. Kamu gak ada keinginan menikah lagi? Kamu masih muda, masa depanmu masih cerah, Nak.” Selalu saja begitu. Baik ayah maupun ibunya selalu membahas hal ini, tetapi jawaban Areksa juga sama. Dia tak mau menikah dulu, dia ingin fokus pada pekerjaan dan mengembangkan bisnis. Soal istri, itu bisa ia cari nanti. Sekarang Areksa hanya ingin menikmati kesendirian, walaupun tak bisa menahan kebutuhan biologisnya. Makanya ia menjerat Vielga, agar ada yang menemaninya. Vielga juga masih perawan, belum disentuh lelaki mana pun, yang membuat Areksa mau dengan gadis itu. “Nanti sajalah, Ma, umurku juga masih dua puluh delapan. Aku ingin fokus bekerja dulu, lagipula urusan wanita itu urusan mudah. Yang terpenting aku mengembangkan usaha, supaya bisa membangun cabang di mana-mana,” balas Areksa tetap seperti ini jawabannya jika ditanya kapan menikah lagi. Sejujurnya, Areksa tak memikirkan itu. Entah akan menikah lagi atau tidak, ada partner ranjang saja sudah cukup. Prinsip dan kegigihan putra sulungnya patut diapresiasi, Bu Natya bangga karena Areksa bisa menjaga amanah ayahnya sebagai penerus perusahaan. “Andai saja Aksara sama kamu. Kalau kalian kerja sama mengembangkan bisnis papamu, pasti bisnis kita akan semakin berkembang. Sayangnya anak itu hanya bisa foya-foya dan bermain saja, Mama tak habis pikir.” “Oma, Oma tahu Mommy gak? Kenapa Mommy nggak datang lagi ke sini? Apa Mommy udah gak sayang kita?” tanya Zanetta selalu saja menanyakan kabar ibunya. Saat ini, ibu mereka sedang di luar negri dan mengurus pekerjaan, tak bisa berkunjung menemui anaknya. Areksa juga kesal, mantan istrinya memang wanita gila kerja dan tak ingat waktu. “Mommy kalian lagi ada urusan kali, Nak, Oma sering lihat Mommy kalian seliweran di sosmed. Mungkin nanti, kalau gak sibuk ke sini.” Bu Natya menjawab dengan tenang. Melihat dua cucunya kekurangan kasih sayang seorang ibu, Bu Natya jadi sedih karena rumah tangga anaknya bertahan sebentar. “Kalau lagi kangen Mommy, doain aja supaya Mommy baik-baik aja di sana dan ketemu kita. Kenapa kamu ini nangis mulu? Cengeng banget,” kata Mattheo selalu saja membuat Zanetta kalah telak. Meski usianya baru lima tahun, bocah itu sudah seperti umur sepuluh tahunan saja dari sikap dan bicaranya. Sikap Mattheo ini tak ayal mengundang rasa penasaran ayahnya. Areksa takjub setiap kali Mattheo mengatakan kata bijak pada adiknya, sepertinya karena diajarkan Vielga. Tak sia-sia Areksa merekrut dia sebagai babysitter anaknya. “Nah, betul tuh kata Kak Theo. Doain aja, supaya Mommy kalian pekerjaannya lancar dan cepat pulang. Pinter banget cucu Oma, persis kayak papamu pas masih muda.” Bu Natya mengusap puncak kepala Mattheo dengan bangga, jadi teringat Areksa saat masih muda. “Terus Tata nggak pinterkah, Oma?” Zanetta tak suka jika ada yang memuji Mattheo, dia akan cemberut jika tak ada yang memihaknya. “Astaga, kapan Oma bilang kamu gak pinter? Anak-anak dan cucu-cucu Oma pinter, jangan cemberut dong, Oma 'kan nggak nyebut gitu loh.” Di saat mereka asik tertawa. Areksa melihat dari jarak jauh, di beberapa meter melihat Vielga tengah menyiapkan sarapan. Seakan-akan ada medan magnet yang menariknya, Areksa tertaruk melihatnya dengan waktu lama. “Areksa! Reksa!” Bu Natya memanggil sambil mengguncang lengan Areksa yang melamun. “Kenapa, Ma?” Areksa sedikit kaget. “Kamu gak ada keinginan untuk balikan sama Gistara, Nak? Kasihan loh anak-anakmu yang masih merindukan ibunya.” Ditanya seperti itu, seketika saja Areksa jadi tak selera. Tanpa banyak kata, dia pergi begitu saja untuk berangkat kerja. Bu Natya geleng-geleng kepala. “Anak itu kebiasaan kabur kalau ditanya begitu, emangnya salah?” Saat di jam sekolah. Vielga meminta izin pada Areksa untuk menjenguk ibunya sebentar. Karena terhalang pekerjaan yang mengharuskan Vielga meninggalkan ibunya sendiri, Vielga jarang mengunjungi. Siang ini Vielga lumayan senggang. Sebelum ke kontrakan, Vielga membeli makanan kesukaan Bu Vivi dari uang yang diberikan Areksa padanya. “Akhirnya aku bisa beli makanan kesukaan Mama setelah sekian lama gak mampu membelinya,” gumam Vielga sambil menatap tote bag yang ia bawa sambil mengembangkan senyum indah di bibirnya. Jarak toko kue dan kontrakannya lumayan dekat. Guna menghemat uang, Vielga memilih berjalan kaki. Saat sampai di kontrakan, ada tetangga yang berkumpul di depan kontrakannya. “Ibu-ibu, ini ada apa?” tanya Vielga mulai merasakan tak enak hati. “Mama kamu jatuh pingsan, Vielga. Dia sudah dibawa ke rumah sakit oleh warga. Rumah Sakit Mega Bintang,” balas tetangga sebelah kontrakannya. Tote bag yang ia genggam terjatuh, lemas sekali ketika mendengar kabar kalau ibunya jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Vielga berjongkok, mengambil kembali kue kesukaan ibunya dan bergegas menyusul ke rumah sakit. Pikiran Vielga berkecamuk, dia merasa bersalah sekali karena tak bisa menjaga ibunya dengan baik. “Sebenarnya apa yang terjadi sampai Mama begini, Mama sakit apa? Tuhan, semoga mamaku baik-baik saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN