Bab 11. Keheranan Semua Orang

1162 Kata
Vielga berdiri mematung sembari menatap baju pelayan ketat dan pendek yang diberikan oleh Areksa. Dia memegang sisi wastafel sambil mengusap sudut matanya. Ia tak pernah memakai pakaian sekecil itu, di club saja tak terlalu seksi seperti ini. Vielga ragu untuk memakainya, terlebih jika ini di rumah majikannya. Ada banyak pelayan yang akan curiga jika dirinya berpenampilan tak sopan. Vielga pun bimbang, dia hanya bisa menangis dalam diam. “Sudah belum, Vielga? Kenapa lama?” Suara panggilan dan ketukan cukup mengejutkan, Vielga membubarkan lamunannya karena sadar kalau Areksa masih ada di kamarnya. Areksa berdecak kesal karena Vielga mengulur waktunya yang terus berjalan. “Aku harus gimana?” gumam Vielga bermonolog sendiri. Hatinya ingin menolak memakai, tapi tak memiliki keberanian. “Vielga!” Lagi, suara Areksa terdengar menggelegar di Indra pendengaran. Sebelum menemui Areksa, Vielga mengumpulkan sejumlah keberanian untuk menolak Areksa. Demi kebaikannya dan juga agar tidak mengundang curiga, jika Vielga memakainya, takut ada masalah. Ia meraih gagang pintu, di depan pintu Areksa berdiri sembari melayangkan tatapan tajam. Di kilat hitam legam itu, Vielga hanya bisa melihat binar mata yang penuh nafsu di mata majikannya. “Tuan,” panggil Vielga menunduk, ia bisa menebak raut tak suka dari wajah tampan Areksa. Wajah yang diidamkan banyak wanita, rupa bak dewa, tetapi sikapnya tak kalah kejam dari iblis. Vielga menunduk dengan perasaan sedih. Mata Areksa yang tadinya berbinar, kini berubah menjadi datar. “Kenapa tak dipakai baju yang saya berikan? Saya menunggumu untuk memakainya,” ujar Areksa sembari meredamkan amarahnya. Sudah lama dia menunggu, tapi zonk, Vielga tak mengganti bajunya. “Saya tak mau memakainya, Tuan, saya takut akan terjadi masalah jika pelayan lain melihatku seperti itu,” pinta Vielga sambil mengatupkan dua tangan di depan d**a. Berharap Areksa berbelaskasihan padanya. Areksa menampilkan wajah datar, ekspresinya sulit sekali ditebak. Vielga tak tahu dia marah atau tidak. “Jika kau tak suka bilang dari awal, jangan dipendam. Merepotkan!” Areksa mengomeli, ingin sekali Vielga menimpali. Dari awal saja dia keberatan memakai, tapi dipaksa. Giliran Vielga mengutarakan rasa keberatannya, Areksa malah menyalahkannya. “Tapi saya sudah bilang sejak awal, saya sudah mencobanya dan tak muat di tubuh saya, Tuan. Itulah kenapa saya tak mau memakainya, saya pakai yang ada saja.” Areksa terus mendengarkan alasan Vielga. Pria berperawakan tinggi dan gagah itu maju satu langkah ke dekat Vielga, meletakkan tangan kirinya di tembok, tepat di samping kepala gadis itu sambil mengunci pandangan dan bertatapan. “Sebagai gantinya akan saya persiapkan nanti malam. Datanglah ke kamarku nanti malam, jangan banyak alasan,” bisiknya, melayangkan kecupan di leher Vielga ssmpai gadis yang tadinya mematung langsung meremang. Areksa menjauhkan badan, dia harus segera keluar karena orang-orang pasti menunggu. Vielga berdehem, menetralkan rasa gugupnya dan mengikuti langkah Areksa berjalan. Di meja makan, sudah ada Mattheo dan Zanetta yang sudah duduk di kursi sambil bercengkerama, serta bercanda tawa. Melihat pemandangan itu, Areksa hanya bisa tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Mempunyai anak kembar yang masih aktif-aktifnya, membuat mereka jarang akur. “Mbak, cepetan ke sini, kenapa lama banget, sih? Tata udah laper tahu!” omel Zanetta ketika Vielga menunjukkan batang hidungnya ke sini. Lekas saja Vielga menghampiri, berdiri di samping dua anak tersebut yang ternyata menunggunya. “Maaf, Non, Mbak lagi nggak enak badan sampai kesiangan. Non Tata mau apa?” tanya Vielga. “Buatin Tata bekal buat di sekolah, Tata gak suka masakan Mbak Emma. Tata lebih suka masakan Mbak Vie.” Namanya disebut oleh majikan kecilnya, Emma hanya bisa menggerutu dalam hati karena makanannya diremehkan. Padahal dia sudah mati-matian menyesuaikan. “Kamu nggak boleh gitu, gak boleh bicara kasar di hadapan orang, takutnya orang lain sakit hati karena omongan kita. Iya, 'kan, Mbak?” tanya Mattheo menegur adiknya agar tak ceplas-ceplos saat bicara. Meskipun wajar, karena masih kecil. “Kamu tahu dari mana, Nak?” tanya Areksa tertegun mendengar bocah yang mirip sekali dengannya ini. Baik dari segi wajah maupun dari sikap. Mattheo melirik ayahnya, lalu ke arah Vielga. “Mbak yang selalu bilang gitu,” balasnya singkat. Sebelumnya Areksa tak pernah melihat anaknya seperti ini. Semenjak ada Vielga, mereka selalu diajarkan dari hal-hal kecil agar mengubah kebiasaan buruk mereka. Sudah tugas Vielga, mengurus serta mengajarinya. “Tapi 'kan emang nggak enak, masa makanannya asin. Ih, aku gak suka. Enakan makanan Mbak. Cepetan dong, Mbak, buatin bekal mumpung masih ada waktu.” Zanetta sedang dalam sikap cerewetnya, persis sekali seperti ibunya. Sampai Areksa hanya bisa menghela napas menghadapi anak bungsunya. “Terus Non Tata mau sarapan apa? Perutnya diisi dulu biar nggak kosong,” tutur Vielga. “Kasih batu aja, suruh makan. Tata rewel banget kayak Mommy!” sembur Mattheo sambil melanjutkan makanan. Mendengar perdebatan kakak dan adik itu sudah hal biasa yang selalu dijumpai setiap hari. Si kembar dengan berbeda sikap memang sulit akurnya. “Udah, kapan makanannya kalau kalian ribut terus? Tata ….” Areksa menoleh pada anaknya yang kesal,”makan yang ada, biar Mbak siapkan dulu bekalmu.” “Areksa, Areksa.” Disela-sela sarapan mereka, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya datang sambil memanggil nama tuan rumah. Wanita berusia sekitar lima puluh lima tahun itu tampak awet muda dan elegan karena merawat penampilan meski usianya tak lagi muda. “Mama? Ada apa?” sahut Areksa sambil menaruh sendok dan garpu karena sudah selesai menghabiskan makanan. “Yeay, ada Oma!” pekik Mattheo dan Zanetta, senang dengan kehadiran neneknya. Dia itu Bu Natya, ibu Areksa dan Aksara. Bu Natya datang ke sini ingin menanyakan keberadaan putra bungsunya yang tak ada pulang semalaman. “Ada Aksara gak di sini, Reksa? Mama puyeng banget nyariin anak satu biji, bikin pusing terus kerjaannya,” gerutu Bu Natya duduk di samping sang putra sambil memijat pelipisnya. Areksa tak heran lagi jika orang tuanya mengeluh soal Aksara. Adiknya memang bandel dan keras kepala. “Dia gak ada di sini, Ma, kenapa lagi?” Penasaran apa yang terjadi, Areksa bertanya. Menyuruh para pelayan meninggalkan ruang makan, terkecuali Vielga, dia harus memantau si kembar yang sedang makan. “Biasalah, kabur, apalagi? Disuruh belajar bisnis sama papamu malah kabur. Katanya mau ketemu sama pacarnya, Mama gak tahu siapa. Takutnya sembarangan wanita.” Bu Natya terus mengeluh, tak pernah tahu siapa kekasih anaknya itu karana tak diberitahu. Dia bahkan baru tahu kalau Aksara memiliki kekasih. “Tenang, Mama kebiasaan suka heboh begini. Aku akan mencarinya nanti,” ujar Areksa memberikan segelas air putih agar ibunya tenang. Bu Natya diam sejenak sambil berusaha tenang. Ternyata Aksara tidak ada di sini. Bu Natya tersenyum pada dua cucunya yang lahap makan, lalu beralih pada wanita asing yang baru ia lihat. “Kamu siapa?” tanya Bu Natya pada Vielga. “Saya Vielga, Nyonya, babysitter Tuan Theo dan Non Tata,” balas Vielga seadanya. Bu Natya mengernyit, kemudian menatap anaknya dengan wajah penuh tanya. “Kamu siapin sarapan mereka saja, biar kami yang pantau,” kata Areksa menengahi, menyuruh Vielga untuk pergi. “Apa Mama gak salah lihat, Areksa? Apa-apaan ini? Kenapa kamu mempekerjakan seorang pelayan muda di rumahmu, bukannya kamu bilang tak mau ada pelayan muda. Lantas kenapa sekarang ada?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN