Keinginan Aksara untuk bercinta jadi hilang seketika, ia yang hendak menyatukan kembali milik mereka berhenti tepat di atas tubuh Aveline. Orang tuanya memiliki bisnis di mana-mana, hanya saja mereka lebih mempercayakan bisnis tersebut pada kakaknya. Sementara Aksara, sama sekali tidak dipercaya sampai detik ini.
Orang tuanya selalu menyuruh Aksara untuk belajar pada kakaknya. Aksara juga malas jika sudah dibandingkan, dianggap anak tak berguna, meskipun sejauh ini Aksara sudah berusaha.
“Mama sama Papa bilang kalau aku masih kekanak-kanakan, belum cocok ngurus bisnis. Mereka mau aku fokus belajar, sambil ikutin jejak Kak Areksa. Dia udah pinter dari orok, sedangkan aku? Bisa-bisa butek kalau disuruh belajar terus,” gerutu Aksara kekesalahannya muncul kembali karena merasa orang tuanya lebih mimihak pada Areksa saja. Tidak pernah sekalipun mengapresiasi Aksara.
Kendati demikian, Aksara tidak pernah menaruh benci pada kakaknya dan mengakui kalau Areksa lebih hebat darinya. Aveline diam, dia penasaran apakah pacarnya ini kebagian saham atau tidak.
Aveline cukup kecewa, Aksara terlahir dari keluarga kaya raya tetapi itu harta orang tuanya. Dia disuruh orang tuanya untuk mengincar salah satu anak konglomerat tersebut, Aveline berhasil mendekati Aksara. Tapi sayangnya, pria itu tak memiliki apa-apa.
“Masa nggak dikasih sedikit pun, Sayang? Nggak mungkinlah. Usaha orang tuamu 'kan banyak, masa iya dipercayakan sama Kak Areksa seorang,” kata Aveline sambil menahan d**a bidang Aksara yang tak sabar ingin segera melanjutkan ronde berikutnya.
Aksara pun mengedikkan bahu acuh tak acuh, bisa hidup enak dan tinggal menikmati saja sudah cukup. “Aku bicara serius, aku gak dikasih apa-apa. Mungkin belum. Kenapa kamu nanya ini? Kamu gak mau kalau aku gak punya apa-apa?” tanyanya.
Guna menghalau rasa curiga, Aveline tersenyum kaku sambil mengusap pundak kekasihnya. “Nggak dong, Sayang. Aku 'kan udah cinta banget sama kamu, gak mungkinlah aku ninggalin kamu gitu aja.”
Aksara sempat curiga dengan kekasihnya, tetapi saat Aveline menggodanya Aksara melupakannya. Keduanya langsung menyatukan tubuh, hingga pagi menjelang baru bisa terpuaskan.
Pagi hari kembali menyapa. Di kamar miliknya, Vielga masih terlelap di atas ranjang sembari ditutupi selimut tebal. Sepanjang malam Vielga sulit tidur, sampai dia ketiduran karena memikirkan peristiwa naas yang menimpanya.
Biasanya dia bangun lebih awal, tetapi karena ia kurang tidur, Vielga sampai lupa untuk bangun meski suara alarm berbunyi.
Di kamar Areksa, dua anak kembarnya masuk dan lompat-lompat di atas ranjang. Membuat tidur Areksa terganggu.
“Daddy, bangun, udah siang!” ujar Zanetta, suaranya yang paling jelas terdengar.
Mattheo menelisik wajah tampan ayahnya, sambil mendelik pada Zanetta yang asik melompat di kasur empuk.
“Daddy ….” Mattheo memanggil sambil mengguncang lengan ayahnya.
“Theo? Netta? Kalian ngapain di kamar Daddy?” tanya Areksa buru-buru menarik selimut karena dirinya tak memakai apa-apa. Cukup terkejut melihat dia anaknya masuk ke kamar, nyaris ketahuan.
“Tata sama Theo mau sekolah Daddy, tapi Mbak belum datang ke kamar. Biasanya Mbak suka bangunin pagi-pagi,” kata Mattheo mengadu pada ayahnya kalau Vielga belum datang ke kelar, tidak seperti biasanya.
Areksa menatap ke jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Berarti mereka sudah bangun kesiangan, sebentar lagi jam kerja dan jam sekolah akan dimulai.
“Ya udah, mandi sama Daddy aja, ya. Nanti Daddy susul si Mbak ke kamarnya,” kata Areksa sambil menggiring dua anaknya masuk ke kamar mandi.
Meskipun Areksa penyebab Vielga kesiangan, tetap saja dia geram karena Vielga lalai dalam pekerjaan. Apalagi anak-anaknya tidak diurus, padahal belum sekolah. Selesai mandi, Areksa memakai pakaian kerjanya dan berjalan memasuki kamar Vielga yang ada di lantai bawah.
“Mbok, Tuan Areksa ngapain masuk ke kamar si Vielga?” tanya Emma, sambil berbisik pada Mbok Asmita. Mereka berdua merupakan pekerja lama di sini.
Mbok Asmita tidak mau mencari tahu dan fokus menata makanan di meja. “Udahlah, gak usah kepo. Mending lanjut kerja, daripada diomelin Tuan Areksa. Mau ngomelin kali, udah siang enak-enakan tidur.”
Kedatangan Vielga di rumah ini tak luput dari pandangan Emma, dia memang dikenal judes dan sombong oleh para rekannya. Selalu ingin tahu orang lain.
“Ya baguslah. Nanti omelin aja, Mbok, kita udah capek kerja dari pagi. Dia masih belum bangun, apalagi aku yang ngurus Den Theo sama Non Tata,” gerutu Emma, mengurus anak kecil jauh lebih merepotkan, terlebih lagi mengasuh dua anak sekaligus.
Areksa menutup pintu pelan agar tak membangunkan Vielga yang masih tidur lelap. Areksa menutup jendela, menghalangi pancaran mentari yang masuk lewat ventilasi.
Areksa duduk di pinggir ranjang, sambil memperhatikan Vielga yang tidur dengan posisi tengkurap. Wajahnya sudah kering bekas air mata, sepertinya Vielga tak tidur semalam. Dapat dilihat dari kantung matanya yang besar.
“Vielga, bangun!” bisik Areksa menepuk pelan pipi Vielga.
Merasa tepukan di pipi, Vielga membuka matanya secara perlahan. Rasa pening menjalar, rasa kantuknya pun masih mendominasi.
“Tuan Areksa?” pekik Vielga, dia mengubah posisi jadi terlentang.
“Sudah jam tujuh kurang, kenapa kau tidak bangun dan membiarkan anak-anakku?” omel Areksa,
“Maaf, Tuan, saya tak bisa tidur sejak semalam. Maafkan saya,” kata Vielga, dia lupa kalau dirinya harus bekerja.
Areksa berdecak. “Tunggu apalagi?”
Meski rasa kantuk terasa, Vielga beringsut turun. Tanpa mandi, dia hanya mencuci muka dan gosok gigi saja. Ternyata Areksa masih menunggunya.
“Tuan masih di sini? Maaf jika saya lam—” Ucapan Vielga terpotong ketika Areksa menarik pinggangnya, merengkuh badannya untuk memangkas jarak sembari membungkam mulutnya.
Vielga bergeming, dia melotot karena Areksa menciumnya dengan tergesa. “Jika kau kalau seperti ini lagi, saya tak akan segan menghukummu. Kau harus disiplin, atau tidak gajimu akan saya potong jika diulang!” Areksa menegaskan, ia melepaskan tautan bibir sambil menekan bibir bawah Vielga yang bengkak dan basah.
Vielga menarik napas dalam-dalam, sambil mencengkeram kerah baju majikannya. “Biarkan saya keluar, Tuan. Orang-orang akan curiga kalau Anda terlalu lama di sini.”
Areksa pun melepaskan Vielga, ia memberikan baju pelayan yang dulu. Ukurannya lebih kecil dari ukuran baju Vielga.
“Ini terlihat kecil, Tuan, tidak akan muat di badan saya,” kata Vielga membayangkan betapa engapnya memakai baju sekecil itu.
“Muat, pakai saja. Hampir sama dengan ukuran bajumu, hanya saja ini lebih kecil,” katanya sambil menyodorkan baju baru tersebut.
Vielga menerima dengan ragu, dia tak nyaman kalau memakai pakaian terlalu ketat. “Saya akan mengganti baju saya dul—”
“Ganti di sini, di hadapanku.”
Sepasang mata Vielga membeliak, mulutnya menganga tak percaya ketika Areksa menyuruh dirinya mengganti baju di hadapannya. Sungguh gila!
“Ap-apa, Tuan?” tanya Vielga bingung.
“Pakai bajumu di hadapanku. Cepat! Saya tak punya banyak waktu, sudah siang!” Areksa kembali mengulangi.
Vielga tidak langsung patuh, dia malu melepaskan pakaian di hadapan pria. Terlebih majikannya sendiri.
“Mau saya yang bukakan?”