Areksa membiarkan Vielga diam sambil berpikir, gadis itu masih ragu untuk menyetujui syarat yang Areksa berikan. Jika Vielga mencari tahu, dia tak akan bisa melakukannya lantaran dirinya bukan siapa-siapa. Sementara Areksa, dia punya kuasa dan seorang pengusaha. Sangat mudah baginya membantu kejanggalan yang ia rasakan selama ini.
Areksa melipat tangan, menjadikannya sebagai bantalan. Tangan kirinya terulur, mengusap kulit punggung Vielga yang tampak menggoda.
“Sudah setengah jam kamu berpikir, kau mau atau tidak?” Hilang sudah kesabaran Areksa karena Vielga tak kunjung memberikan jawaban.
Vielga menoleh, berhadapan dengan Areksa sambil menahan selimut agar tak melorot. Padahal percuma saja, Areksa sudah melihat tubuhnya.
“Apa yang saya dapat selain ayah saya dibebaskan?” tanya Vielga, dia tak boleh dirugikan dan harus tahu apa keuntungannya selain itu. Vielga sudah mencari uang sendiri, tetapi uangnya tak cukup, ditambah harus mengantar Bu Vivi berobat.
“Apa yang kamu mau saya berikan.” Areksa membalas dengan enteng. Baginya, jika soal uang itu hal mudah dan tak rugi memberikannya secara cuma-cuma.
Vielga mengigit bibirnya, masih berpikir. Jika dia setuju, itu artinya dia harus melayani kebutuhan ranjang majikannya. Vielga harus mempertimbangkan dengan matang agar tidak menyesal kemudian.
“Anda harus berjanji pada saya kalau ayah saya akan bebas, saya mau pria tua bangka itu hancur. Tak adil jika hanya Papa yang disalahkan,” pinta Vielga, dia hanya bisa mengandalkan orang lain karena dia tak memiliki uang untuk meminta bantuan untuk memperkerjakan mata-mata.
Areksa terus mendengarkan. Baginya keinginan Vielga itu mudah untuk dituruti. Dengan begini, keduanya sama-sama menguntungkan.
“Ya, baik. Kita sama-sama menguntungkan. Kau butuh uang dan keadilan, saya butuh partner ranjang. Deal?” tanya Areksa mengulurkan tangan ke hadapan Vielga bahwa mereka setuju dengan kesepakatan ini.
Vielga membalas uluran tangan Areksa. Terpaksa ia harus menjual tubuh demi kedua orang tuanya. “Saya harap Anda menepatinya.”
“Tenang saja, itu mudah bagiku. Bagaimana denganmu? Apakah kau akan patuh pada setiap perintahku?” Kini giliran Areksa yang memastikan. Hanya Vielga, satu-satunya wanita malam yang ingin ia tiduri terus menerus. Selain cantik, Areksa juga tertarik.
Sulit memang dihadapkan dengan keputusan rumit ini. Pikiran Vielga kalut, dia bingung harus melakukan apa guna memecahkan kejanggalan ini.
“Ya, asalkan Anda tak macam-macam padaku jika di luar. Kita harus menyembunyikan ini dari siapa pun,” kata Vielga dengan hati berat menyetujuinya.
Detik jam terus berputar, hari sudah di tengah malam dan Vielga belum kembali ke kamar. Areksa memperhatikan Vielga yang sedang memasang pakaian dengan kesusahan. Areksa mendekat, membantu gadis itu.
“Hati-hati jika keluar, harusnya aman karena para pekerja tidur di jam ini. Terkecuali jika di luar,” kata Areksa sambil berbisik di dekat telinga Vielga, menciuminya sambil meraup daun telinganya hingga menyisakan jejak saliva di sana.
Siapa sangka, gadis yang sudah mencuri perhatiannya sejak pandangan pertama kini sudah berada di dalam jeratnya. Areksa sudah berhasil membuat Vielga takluk.
“Saya lebih suka melihatmu memakai pakaian seksi, saya akan memberikanmu pakaian yang lebih pendek dari ini.” Areksa menumpukan dagu di pundak Vielga, sambil mengusap pahanya dengan lembut.
“Mbok Asmita akan memarahi saya nantinya, Tuan.” Vielga berkomentar. Sebagai kepala pelayan, Mbok Asmita memang selektif dalam menjalankan tugasnya. Tak jarang jika Vielga mendapat teguran.
Meski Mbok Asmita kepala pelayan, tetapi Areksa lebih berhak menentukan. “Tenang saja, saya yang akan menegurnya jika dia memarahimu. Kau cukup pakai saja, tubuhmu bagus, akan lebih bagus jika memakai pakaian terbuka.”
Vielga lekas berdiri, dia sedikit kesusahan jalan lantaran sakit di bagian pangkal paha membuatnya meringis kesakitan. Areksa terus memperhatikan, hingga wanita itu keluar dari kamar.
“Apa aku seganas itu?” gumamnya karena setengah sadar saat melakukan.
***
Di sisi lain, tepatnya di salah satu hotel mewah di kawasan ibu kota. Terlihat seorang wanita dan pria tengah memadu kasih di ranjang, tak peduli suami atau bukan, yang mereka pikirkan hanya kenikmatan.
Aksara terus memaju-mundurkan kejant4nannya, sesekali memberikan goyangan. Sementara sang kekasih di bawah sana terus mendesah.
“Ah!” Aveline mendesah penuh kenikmatan.
Di saat dirinya sudah pulang dari luar negri, Aksara langsung menyentuhnya tanpa henti dan pelepasan berkali-kali. Sudah lama menjalin hubungan jarak jauh, membuat rasa rindu yang Aksara rasakan menggebu.
Pria itu terus bergerak dengan ritme cepat, peluh keringat membasahi badan mereka yang terus memacu tubuh untuk mencapai puncak kenikmatan yang mereka nantikan.
“Luar biasa, kamu nikmat sekali, Sayang,” desah Aksara terus menghentakkan pinggulnya, membuat tubuh Aveline terhentak-hentak seiring dengan gerakan pinggul kekasihnya.
Aveline menjambak rambut Aksara, ketika keduanya akan tiba pada puncaknya. Aksara memeluk Aveline dengan erat, tetapi wanita itu mendorongnya.
“Di dalam apa di luar, Sayang?” tanya Aksara sembari merem melek.
“Di luar aja, takut kebobolan,” balas Aveline dengan napas terengah-engah. Aksara mengangguk dan mencabut miliknya, menyemburkan cairan miliknya di atas ranjang.
Puas bercinta dengan hitungan jam, Aksara menarik Aveline ke dalam pelukannya.
“Kamu kuat banget, Sayang, aku suka,” puji Avelina sembari menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Aksara.
Dipuji oleh Aveline, Aksara mengulas senyum. Hari ini Aksara sangat bosan di rumah lantaran kena omel kedua orang tuanya karena Aksara banyak menghabiskan waktu bermain, alhasil malah dibanding-bandingkan dengan kakaknya.
“Pulang besok ajalah, Yang, sekarang kita puas-puasin di sini. Aku juga males balik.”
“Loh, kenapa? Mama sama Papa kamu gak bakalan marah? Awas loh mereka tambah marah karena kamu nggak pulang.”
Memang akan marah, tapi mau bagaimana lagi. Aksara sangat muak jika pulang ke rumah dan selalu saja diomeli, dibanding-bandingkan dengan Areksa yang lebih unggul dalam segi apa pun. Selalu menjadi anak kebanggaan orang tua, berbeda dengan dirinya.
“Marah, sih, tapi bodo amatlah. Aku masih kangen sama kamu, Sayang, udah dua bulan kita nggak ketemu,” ungkap Aksara sambil menciumi wajah Aveline dengan ciuman bertubi-tubi.
Keduanya harus berpisah karena Aveline ada pekerjaan di luar negri, sementara Aksara lebih memilih menetap di sini dan bermain bersama teman-temannya.
“Makanya, kamu tuh jangan main mulu kerjaannya. Sekali-kali belajar bisnis sama kakakmu supaya gak diomelin terus. Kalau aku jadi orang tuamu, aku bakalan marah.”
Wajah Aksara berubah cemberut karena Aveline berada dipihak orang tuanya. Pria yang empat tahun lebih muda dari Areksa pun masih belum tertarik bekerja. Meski dia mirip dengan kakaknya, tetapi sikap mereka berbeda, malah berkebalikan.
“Aduh, Sayang, milikku udah tegang. Lagi, ya,” canda Aksara sambil menggoda Aveline agar mau bersenang-senang dengannya malam ini. Ingin melupakan masalah yang ada di rumah dan menghabiskan waktu bersama orang yang dicintainya.
Aveline mendesis, dia sudah kram harus melayani Aksara yang tak puas sama sekali. “Bisa-bisanya kamu. Eh, emang kamu tuh gak mau kerja atau gak dikasih kepercayaan sama orang tua?”