Keesokan paginya, Vielga masih terdengar menangis sejak semalam. Gadis itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Meski ingin pergi dari sana, nyatanya, tubuhnya terlalu sakit hingga membuatnya lemah tak berdaya. Sejak semalam ia hanya menangis, menggenggam selimut menutupi tubuh polosnya dengah posisi membelakangi Areksa. Ia begitu membenci sang majikan setelah apa yang dilakukannya semalam.
Mendengar isak tangis Vielga, Areksa yang sedang tertidur pun merasa terganggu. Mata beratnya berusaha untuk terbuka. Ia memegangi kepala karena merasa pening. Areksa menoleh ke samping, dia sangat terkejut mendapati ada seorang wanita di ranjangnya.
Areksa terperanjat, ia berusaha mengubah posisi sambil menatap punggung polos yang sudah dipenuhi kissmark.
“Vielga? Apa yang terjadi?” tanya Areksa, dia tidak tahu apa yang sudah ia lakukan sehingga keduanya berada di ranjang yang sama tanpa busana.
Vielga tidak menjawab, bahunya terguncang dan terus menumpahkan kesedihan tanpa mempedulikan Areksa yang berusaha mengingat apa yang terjadi.
Otaknya berputar, mengingat dari awal dia masuk ke club malam, pulang dalam keadaan mabuk. Vielga menolongnya dan merangkulnya ke kamar, saat di kamar, Areksa tercengang. Dia sudah ingat rangkaian kejadiannya.
“Saya tak tahu ini benar terjadi, saya kira ini hanya mimpi,” gumam Areksa melihat kondisi ranjang yang sudah berantakan dan sudah basah oleh cairan percintaan mereka.
Areksa hanya memasang wajah biasa saja. Dia tak menyesali perbuatannya. Menjadi duda sejak lama, membuat dirinya tak bisa menahan keinginannya untuk bercinta. Sampai dia terangsang dengan kehadiran pengasuh anaknya. Sekian lama menahan diri, Areksa tak menyangka kalau hal yang diinginkan pun terjadi.
“Apakah sakit?” Areksa menarik pundak Vielga agar menatapnya.
Wajah cantik Vielga sudah merah dibasahi air mata, kedua matanya juga sembah lantaran sudah lama menangis. Vielga masih terisak, Areksa mengusap lembut pipinya agar gadis ini tenang.
“Jangan sentuh saya! Jangan sentuh saya, Tuan!” ketus Vielga masih ketakutan, takut kejadian naas itu terulang.
Areksa merendahkan badan, dia menarik Vielga ke dalam pelukan sembari menenangkan. “Semuanya sudah terjadi, sudah lama saya menahan diri dan apa yang saya takutkan pun terjadi. Kamu sudah membuatku tergoda, Vielga. Saya tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah membuatku seperti ini. Jadilah teman ranjangku, saya akan memenuhi semua kebutuhan hidupmu dan melunasi hutang ayahmu.”
Tentu saja itu dengan tegas ditolak oleh Vielga. Dia tak menyangka kalau selama ini Areksa sudah menginginkan hal tak senonoh ini. Vielga memukul d**a bidangnya, meminta untuk dilepaskan karena tak sudi berdekatan dengan Areksa.
“Saya tak mau! Saya tak sudi jika harus menjual diri!” Vielga menentang cepat, dia bukanlah w************n yang patuh dengan keinginan gila majikannya.
Areksa menyeringai, sejak pertemuan pertama mereka di club. Areksa memang sudah tertarik pada Vielga, hanya saja dia tidak menunjukkan rasa kagumnya. Ketika Vielga ingin kerja di rumahnya, Areksa memang sudah merencanakan hal ini dari awal. Dia ingin menjerat Vielga agar mau menuruti perintahnya.
“Irawan Wicaksono.” Tiba-tiba Areksa memanggil nama seseorang yang familiar didengar.
Semula Vielga memberontak, dia lekas menengadah. Melihat wajah Areksa dari jarak sejengkal. Irawan Wicaksono, dia adalah atasan ayahnya di perusahaan. Bagaimana bisa Areksa tahu?
“Anda mengenalnya?” tanya Vielga, karena pria tua bangka itulah yang membuat ayahnya masuk ke penjara dan terus menagih hutangnya.
Sebagai sesama pengusaha, tentu saja Areksa tahu meskipun tidak terlalu akrab, hanya sekadar kenal saja. Mendengar nama Irawan, Vielga mengepalkan tangan. Dia tahu betul bagaimana pria itu, dia licik dan serakah. Vielga yakin kalau ayahnya difitnah, Vielga tak percaya kalau ayahnya melakukan kecurangan selama kerja di perusahaan.
“Hanya sekadar kenal, kami sering rapat bersama. Dia selalu mengajukan permintaan untuk bekerjasama. Itu teman ayahmu, bukan?” papar Areksa, membalas tatapan Vielga yang masih mengeluarkan isakan pelan.
Vielga mengangguk. Rasanya tidak adil saja, ketika ayahnya jadi tersangka, sementara Irawan Wicaksono itu hidup bebas dan hidup senang di luaran sana. Usaha yang ia punya adalah hasil jerih payah mereka berdua, tetapi saat berada di puncak karir, kenapa ayahnya malah dijebloskan ke penjara? Ada hal janggal yang tak Vielga ketahui.
“Ya, dia bukan atasan. Lebih tepatnya rekan seperjuangan Papa. Dia dan Papa sudah membangun bisnis bersama, tetapi kenapa ayahku yang dijebloskan ke penjara sementara usaha itu mereka yang mengurus. Rasanya aneh saja.” Vielga yang tadinya tak Sudi mendekati Areksa, kini tertarik membahas soal pria itu bersama majikannya. Dia masih belum terima soal kasus ayahnya.
“Kau ingin saya melakukan apa?” Areksa memegang dagu Vielga untuk menghadap ke arahnya. “Saya akan membantumu jika menginginkan sesuatu, tetapi untuk itu, tidak gratis.”
Selama ini, Bu Vivi dan Vielga memang sama-sama merasakan kejanggalan. Mereka tidak tahu bukti apa pun soal kejahatan ayahnya dan tak pernah diberi tahu.
Vielga memegang erat lengan Areksa. Mungkinkah harus meminta bantuan Areksa agar ayahnya bebas? Tapi, Areksa bukan sukarela membantunya, dia meminta kesempatan dalam kesempitan.
“Apa yang ingin Anda pinta? Saya ingin Anda membantu saya, Tuan,” kata Vielga setelah berpikir dengan matang, dia ingin ayahnya bebas dan ibunya bahagia seperti dulu. Sejak ayahnya di penjara, Bu Vivi sering sakit-sakitan.
Jawaban Vielga ini tak ayal membuat Areksa menyeringai penuh arti, dia senang jika Vielga tertarik untuk menyetujui penawarannya. Areksa mengelus punggung Vielga hingga ke bongkahan b****g miliknya, memberikan remasan yang membuat Vielga memejamkan mata.
“Saya membutuhkan partner ranjang, hanya itu yang saya mau. Kau akan tetap menjadi babysitter anakku, tetapi jika saya membutuhkanmu, kau harus melayaniku.”
“Apakah tidak ada cara lain, Tuan? Saya keberatan.” Vielga mendesah kecewa karena syarat yang Areksa ajukan malah partner ranjang, Vielga enggan.
“Tidak ada karena hanya itu yang saya butuhkan. Jika kau bersedia menerima tawaranku, saya akan membantumu untuk membebaskan ayahmu. Bagaimana?”