Keesokan harinya, Vielga tetap bekerja meski sempat ada keinginan untuk mengundurkan diri. Areksa sendiri tak membahas soal masalah semalam. Pria itu tetap bersikap dingin dan seperti biasa, selalu memberi peringatan sebelum bekerja agar Vielga menjaga anak-anaknya dengan baik.
“Nanti malam saya akan pulang telat, kasih tahu anak-anak saya, ya!” Areksa melangkah pergi. Meninggalkan Vielga yang sebenarnya merasa takut saat berada di dekat pria itu.
“Semoga kejadian semalam nggak terulang lagi. Pokoknya, aku nggak akan mau menemaninya minum lagi. Saat mabuk, Tuan Areksa bisa melakukan apa pun, aku nggak mau dia sampai menodaiku,” batin Vielga masih menatap kepergian Areksa yang semakin menjauh.
***
Enam bulan sudah berlalu, kejadian malam itu tak pernah terulang lagi. Vielga pun merasa tenang dalam bekerja. Rasa trauma perlahan hilang. Selama tinggal di rumah Areksa, Vielga selalu menjaga agar tak melakukan apa pun yang dapat mengundang hasrat kelaki-lakian dari majikannya. Ya, Vielga selalu mengenakan pakaian tertutup. Kaos kebesaran berlengan menjadi pakaian favorit yang ia kenakan selama bekerja. Tak seperti saat di rumah, Vielga juga selalu mengenakan celana panjang daripada celana pendek yang menjadi kebiasaannya. Ia sadar betul jika ia sendirilah yang harus bisa menjaga diri dari Areksa. Namun, harapan tak selalu menjadi kenyataan, meski sudah melakukan segala upaya, Vielga lupa jika selama ini Areksa ternyata sudah menahan diri sejak tergoda oleh gadis itu dari awal mereka bertemu.
Malam itu, Areksa pulang dalam keadaan mabuk dan melihat sang majikan kesulitan berjalan menuju kamar, Vielga pun membantunya. Namun, saat ia hendak keluar dari kamar, Areksa malah menahan dan menyudutkannya hingga tak bisa pergi.
“Saya mohon, Tuan, lepaskan! Jangan seperti ini!”
Areksa mencengkeram kedua tangan Vielga, lalu meletakkannya di atas kepala sembari mencondongkan wajah ke hadapan gadis muda itu. Vielga memejamkan mata dengan raut takut terlihat jelas di wajahnya.
“Le-pas, Tuan! Saya akan kembali kamar saya, Tuan bisa istirahat.”
“Siapa yang menyuruhmu ke kamar? Saya memintamu untuk menetap di kamar ini. Saya ingin bicara empat mata denganmu, selagi kita berdua,” bisik Areksa dengan napas beratnya, tangan kanannya yang menganggur mengusap pipi Vielga yang sudah basah oleh keringat dingin.
“Sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan? Saya bersedia bicara, asal jangan seperti ini, lepaskan saya,” pinta Vielga sembari menahan d**a bidang Areksa yang semakin memangkas jarak dengannya, tubuh Vielga semakin rapat ke tembok.
Areksa menatap tajam, bibirnya menyeringai penuh arti melihat wajah Vielga yang ketakutan begini. “Sudah tiga bulan, kapan utangmu dibayar? Bukankah kamu bilang tiga bulan akan melunasinya, sampai kapan?” tanya Areksa sembari menelusupkan tangannya ke dalam rok yang dipakai Vielga, mengelus kulit mulusnya.
Mata Vielga mengerjap, dia lupa kalau sekarang ini tepat tiga bulan perjanjian ia akan membayar hutang. Akan tetapi, Vielga belum bisa membayar hutangnya pada Areksa.
“Katakan sesuatu, perlukah aku ajari kamu bicara? Kamu sudah abai dengan kewajibanmu, sadar tidak?” Areksa bertanya dengan nada sinis.
“Maafkan saya, Tuan, uang yang saya punya belum terkumpul semuanya karena dipakai untuk biaya ibu saya yang sedang sakit. Saya mohon, kasih saya waktu—”
“Saya sudah memberimu waktu tiga bulan, itu lama, masih kurang? Jangan kurang ajar, jika tidak mampu membayar jangan menjanjikan sejak awal jika pada akhirnya kamu ingkar. Sekarang saya tanya padamu, apakah kamu akan membayarnya atau tidak?” Areksa mencecar Vielga dengan berbagai macam tanya, membuat Vielga gelagapan dan gemetaran.
Uang yang dia pinjam untuk membayar utang besar, tapi uang gajinya belum terkumpul sebanyak itu. Sedangkan Areksa sudah menagihnya, Vielga bingung, ia harus bagaimana?
Diamnya Vielga tak ayal membuat kesabaran Areksa terkikis, ia menyibak rok Vielga hingga tersingkap ke atas. Menampilkan paha putih dan mulusnya. Hawa dingin mulai mencekam, Vielga berusaha menutupinya, tetapi tangannya ditepis oleh sang majikan.
“Saya akan membayarnya, Tuan, akan saya usahakan melunasinya segera. Tolong, lepaskan saya, nanti ada yang melihat,” pinta Vielga dengan penuh permohonan, dia tidak mengerti mengapa Areksa melakukan hal tak senonoh ini padanya.
“Tidak ada yang berani masuk ke kamarku tanpa izinku.”
Dada Vielga terasa sesak, ia terus menahan tangis yang ingin ia curahkan.
“Membayarnya dengan tubuhmu boleh juga.” Sudut bibir Areksa terangkat, ia menatap penampilan Vielga dari atas hingga bawah.
“Apa maksud Anda? Jangan macam-macam, Tuan!” Vielga meninggikan nada bicara, dia merasa terhina dengan perlakuan Areksa padanya.
Areksa membuka satu persatu kancing kemejanya hingga tanggal, menampilkan lekuk tubuh atletisnya yang terlihat jelas di hadapan mata. Vielga membuang pandangan, air matanya jatuh begitu saja.
“Tidak akan ada yang melihat, di sini hanya saya dan kamu yang tahu. Dan juga, pintunya sudah saya kunci. Jangan mencoba untuk lari. Saya sudah bersabar selama ini, sekarang jangan harap bisa lari dariku.”
Dengan tak sopan Areksa membungkam bibir Vielga dengan ciuman tergesa, Vielga menggigit bibirnya sampai ciuman mereka terlepas paksa.
“Sadar, Tuan, Anda sedang mabuk!” ketus Vielga mengusap bibirnya yang berdarah.
“Saya memang mabuk, tapi saya melakukan ini dengan kesadaran penuh, Vielga,” pungkas Areksa menarik paksa tengkuk pengasuh anaknya, menyatukan kembali napas mereka sampai gadis di depannya tak biasa melepaskan diri.
Tak peduli Vielga yang terus memberontak, ciuman yang semula bersarang di bibir kini mulai merambat hingga ke ke mana-mana. Vielga memukuli d**a bidang Areksa, dia yakin kalau majikannya sedang terpengaruh alkohol. Makanya bertindak kurang ajar seperti ini.
“Ngh!” Vielga melenguh ketika Areksa mencium leher jenjangnya, menyampirkan rambut panjangnya yang menghalangi sampai memberikan gigitan-gigitan kecil di bagian sana.
Suara yang spontan dikeluarkan, membuat Areksa semakin ingin melanjutkan pada hal lebih dari sekadar ini. Ia kehilangan akal, tak mempedulikan Vielga yang berusaha memberontak dan melepaskan diri.
Akan tetapi, nihil, tidak hasil sama sekali lantaran tenaga Areksa jauh lebih besar dibandingkan dengannya.
“Kalau kau tidak bisa melunasi utang-utangmu, tubuhmu akan menjadi milikku malam ini!”
Dua mata Vielga membelalak, ketika Areksa mengatakan itu tubuhnya diangkat. Debat jantung Vielga berdetak dua kali lebih cepat, ditambah tubuhnya sudah melayang, digendong ala bridal menuju pembaringan.
"Kau harus melayaniku!"
Tenaga Areksa yang besar, sangat mudah baginya membawa Vielga. Dengan mudah pria itu melemparnya begitu saja sembari melepaskan ikat pinggang yang masih melekat.
Vielga meringis, dia bergegas cepat duduk dan berusaha mundur sampai tubuhnya membentur headbord ranjang. Sementara Areksa sudah berhasil melepaskan celana, tatapan nakalnya tak beralih dari Vielga, bahkan untuk sedetik pun tidak.
"Tuan, tolong lepaskan aku! aku mohon!"
Ia merangkak naik ke atas ranjang, menarik dua kaki Vielga untuk mendekat ke arahnya. Vielga tidak mengerti, kenapa Areksa dengan tega melakukan ini padanya.
Pria yang ia kira baik, ternyata menunjukkan sikap aslinya. Vielga sudah salah menilai, Areksa tak sebaik yang dia kira. Vielga memberontak sekuat tenaga, tak pandang bulu meski pria itu adalah atasannya sendiri.
“Berhenti! Atau tidak saya akan berteriak!” bentak Vielga menangis histeris ketika baju pelayan yang dia pakai ditarik hingga robek.
“Teriak saja, kamar saya kedap suara. Tiidak usah naif, kau bahkan sudah mencobanya dengan pria lain di club malam sebelum bekerja di sini, bukan?” tanya Areksa mulai melucuti satu persatu kain baju yang Vielga pakai.
Rupanya Areksa salah paham. Dulu, saat pertama bertemu di sebuah club malam, tetapi Vielga tidak sampai melayani pria di ranjang. Dia bekerja di sana hanya sebatas menemani minum, ia terpaksa melakukan ini karena butuh uang.
“Anda salah paham. Saya tak pernah tidur dengan pria mana pun. Meskipun Anda majikan saya, saya tidak takut, Anda sudah kurang ajar.”
“Saya akan melupakan utangmu jika kamu mau melayaniku. Saya akan memberimu gaji dua kali lipat jika mau melayaniku di ranjang dan mengurus dua anakku. Dengan begitu, kamu tak perlu pusing memikirkan biaya hidup. Saya yang akan menanggungnya, Vielga. Bagaimana? Apa kamu tertarik dengan penawaranku?”
Memang benar Vielga membutuhkan uang, tetapi tidak mau sampai memberikan tubuh. Baginya, harga diri jauh lebih penting dan tak bisa dibeli dengan uang. Vielga tak menjawab, dia merasa malu karena bajunya yang sobek sudah berserakan di mana-mana. Hanya menyisakan pakaian dalam saja.
“Lebih baik saya berhenti bekerja di sini, daripada harus melayanimu. Saya tak sudi! Menyingkir dariku, Tuan! Anda terpengaruh alkohol!”
Tubuh besar Areksa mulai menindih Vielga, wanita yang tadinya terus mengeluarkan suara langsung diam ketika bibirnya dibungkam dengan ciuman kasar. Aroma alkohol begitu menyeruak masuk ke indra penciumannya, Vielga tak henti memukuli.
Gerakan Vielga membuat kesabaran Areksa terkikis, ia mulai mengatur posisi untuk berhadapan dan mulai melakukan penyatuan.
“Ah, hentikan, b******n!”
Kamar yang tadinya sepi, kini dipenuhi oleh suara tangisan dan lenguhan yang Vielga keluarkan. Wanita itu merasa hancur berkeping-keping, ketika apa yang ia jaga selama ini terenggut paksa di tangan pria yang bukan siapa-siapanya.
“Sial, ternyata kau masih perawan!” umpat Areksa melihat ada bercak darah di seprai.
Usai menuntaskan hasratnya, tubuh Areksa langsung ambruk di sampingnya dengan keringat membasahi. Menyisakan Vielga yang menangis tersedu-sedu, menangisi hidupnya yang pilu.
“Pria b******n! Pria b******k! Aku membencimu, Tuan!”