Bab 6. Menjerat Sang Babysitter

1166 Kata
Pukul sembilan malam, Mattheo dan Zanetta sudah terlelap tidur di kamar. Vielga juga akan bersiap pulang, tetapi sebelum itu ia harus menemui Areksa terlebih dahulu. Sembari ingin mengatakan hal penting. Vielga menyampirkan tas selempang miliknya, dia berjalan ke arah bar pribadi milik Areksa di lantai bawah. Di sana, sudah ada Areksa tengah duduk sendirian sambil menenggak minuman. “Tuan,” panggil Vielga sambil gemetaran. Tentu dia gugup ketika Areksa memanggilnya datang, apalagi berduaan. “Duduk!” titah Areksa singkat. Vielga akan duduk di kursi yang agak jauh, Areksa malah berdecak sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Suasana malam yang mencekam, terasa horor dilihat seperti itu oleh majikannya. “Di dekatku, di sini.” Areksa menunjuk kursi sebelahnya dengan dagu. Awalnya, Vielga belum mengerti, sampai dia pindah posisi di dekat Areksa yang sibuk minum alkohol. Berada di dekat Areksa yang sedang mabuk, Vielga mual mencium aroma tersebut. “Temani saya di sini, saya ingin kamu menemani saya seperti di club malam waktu lalu,” kata Areksa membuka suara karena Vielga hanya diam saja. Gadis itu bingung ingin membicarakan apa dan bagaimana memulainya. Kepala Vielga terangkat, keningnya mengkerut sambil menatap Areksa bingung. “Apa, Tuan? Maksud Anda apa?” tanyanya belum mengerti. Gemas karena Vielga malah loading, Areksa menarik kursi yang diduduki Vielga hingga berada lebih dekat dengannya. Jagung Vielga berdebar kencang, dia tak tahu apa tujuan Areksa menyuruhnya datang ke sini. Tangan Areksa yang semula menarik kursi, kini mengusap paha Vielga yang tersentak kaget. Bagai tersengat listrik, Vielga merinding sebadan-badan karena Areksa malah menyentuhnya dengan lancang. “Sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan?” Vielga bergerak tak nyaman. Bukannya diam, tangan Areksa justru menyelusup masuk ke dalam rok yang dia pakai. Mengelus paha dan bokongnya. Meski Vielga bekerja sebagai pengasuh anaknya, tidak ada salahnya jika Areksa meminta Vielga untuk menemaninya seperti di club malam waktu lalu. “Sudah saya katakan, meskipun kamu babysitter anakku, tapi di mataku kamu tetaplah wanita malam. Tidak ada salahnya bukan jika kamu menemaniku di sini? Dengan begitu, saya tidak perlu datang ke club,” kata Areksa dengan enteng, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Vielga diperlakukan seperti ini. Alasan dia mengundurkan diri dari club karena enggan melayani, tetapi Areksa malah seperti ini. Mata Vielga berkaca-kaca, dia bergerak tak nyaman karena Areksa tak melepaskan tangan. “Saya akan menemani Anda, tapi tidak seperti ini caranya. Anda sudah lancang, lepaskan, Tuan,” pinta Vielga sembari menahan tangis. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik Vielga pulang saja dari pagi. Areksa menyeringai, menarik tangannya kembali sambil menyesap rokok, mengembuskan asapnya ke arah Vielga yang tersedak karena sesak. “Kau mau minum?” Areksa menawarkan segelas minuman, tetapi Vielga menolak karena tak biasa minum, takut dia mabuk nantinya. Cukup lama mereka bungkam, Vielga merasa sungkan ingin meminta bantuan, apalagi ia baru saja kerja di rumah Areksa. Apa yang akan dikatakan sang majikan jika Vielga sampai meminjam uang padanya. Namun, Vielga merasa tak punya pilihan, tadi pagi saat dirinya masih di rumah, ada pria yang datang menagih utang ayahnya yang masih belum lunas. Mereka mengatakan jika ia dan ibunya yang harus melunasi. “Tuan, saya ingin meminjam uang pada Anda untuk membayar utang,” cicit Vielga mengesampingkan rasa malu karena dia sangat butuh uang itu. Areksa tertawa samar. “Kau bahkan baru bekerja di sini, tapi sudah berani meminjam uang. Memangnya berapa uang yang kau butuhkan?” “Maaf, Tuan. Saya terpaksa, tapi saya janji akan membayarnya, saya butuh uang 100 juta,” balas Vielga. Dia pusing mencari dana untuk mencicil hutang ayahnya yang tak kira-kira jumlahnya. 100 juta bagi Areksa tidak ada apa-apanya. Lelaki itu meletakkan puntung rokok di dalam wadah kecil, lalu berhadapan dengan Vielga. Sembari menelisik penampilannya. “Berapa bulan kau akan membayarnya?” Bingung mau menjawab apa, Vielga yakin tidak akan semudah itu melunasi uang dalam jumlah banyak. “Saya usahakan tiga atau lima bulan akan saya lunaskan, Tuan.” Tak yakin dengan jawaban Vielga. Gaji Vielga memang besar, tapi Areksa sudah menebak tidak akan semudah itu membayar utang. Kendati demikian, Areksa menilai akan sangat menarik untuk meminjam gadis uang. Utang yang akan menjerat Vielga dalam kuasanya. “Kalau dalam waktu segitu kau belum melunasi utangmu, bagaimana?” Areksa terus mencecar tanya. Vielga jadi makin kelabakan, lidahnya kelu ketika harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari majikannya itu. “Saya yang akan menentukan. Apa pun itu, kamu tak berhak menentang. Saya akan kirim uangnya sekarang ke rekeningmu?” Vielga mengangguk, dia sangat senang Areksa mau berbaik hati membantunya. “Iya, Tuan. Saya akan usahakan lunas pada waktunya.” Areksa merogoh saku celana, jarinya berselancar di keyboard ponsel, tengah mengetik sesuatu. “Sudah saya transfer, kamu cek saja.” “Ponsel saya rusak, Tuan. Paling nanti saya akan langsung liat di ATM saat saya pulang.” Sambil menghela napas panjang, Areksa memperlihatkan riwayat transfer pada Vielga. “Kamu ini 'kan udah jadi pengasuh anak saya, kamu itu harus punya HP, bagaimana jika nanti saya ingin bertanya soal anak-anak saat saya bekerja kalau kamu nggak punya HP?” Areksa berkata tegas, ia tidak tahu kalau Vielga selama ini tidak memiliki ponsel. “Baik, Tuan. Setelah gajian bulan ini, saya akan langsung membelinya.” Sebenarnya, jangankan untuk membeli ponsel, memikirkan kebutuhan sehari-hari saja Vielga merasa sangat pusing. Dia juga baru bekerja, belum punya uang untuk membeli ponsel baru. “Dasar merepotkan! Saya yang akan membelikanmu ponsel, tapi kamu harus temani saya minum dan jangan protes! Nanti saya akan memberikanmu uang banyak, kapan lagi kan kau menerima uang hanya untuk menemaniku minum saja.” Tangan Vielga ditarik paksa agar berada di dekat Areksa. Ia diminta duduk di dalam pangkuan pria itu, tetapi dia memberontak dan menolak. “Diam!” “Lepas, Tuan!” “Kau sudah mengatakan siap menanggung konsekuensi apa pun kan saat bekerja di sini! Jadi, jangan membantahku!” Vielga sudah seperti orang bodoh, dia hanya bisa membisu dengan bulir air mata yang mulai berjatuhan. Vielga pun menunduk dalam, dia ingin melawan, tetapi teringat Areksa sudah membantunya. “Kenapa kau menangis? Bukankah kau sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini?” tanya Areksa menegakkan duduknya saat mendengar Vielga malah menangis. “Sudah saya katakan, saya terpaksa melakukan pekerjaan itu.” “Sudahlah, kau bisa pulang sekarang! Saya sudah kehilangan selera untuk minum!” Tanpa menghiraukan Vielga, Areksa berjalan sempoyongan meninggalkan Vielga sendirian. Saat Areksa pergi, Vielga menutup wajahnya dan menumpahkan tangisan. “Bodoh, Vielga! Kenapa kau hanya diam saja diperlakukan seperti ini!” makinya pada diri sendiri. Dengan perasaan sesak, Vielga mampir dulu ke ATM untuk transfer uang. Dia berjalan gontai menuju kontrakan. Bu Vivi sudah menunggu kepulangan Vielga dari tadi. “Vie, kok baru pulang sekarang? Kamu kenapa? Kamu habis nangis?” Tanpa menjawab ibunya, Vielga langsung berlari dan berhambur ke pelukan Bu Vivi sambil menangis. “Kenapa, Nak? Jangan buat Mama khawatir.” Ingin bercerita, tetapi Vielga tak mau ibunya tahu kalau gadis itu membayar cicilan utang ayahnya dengan meminjam uang dari majikannya sampai mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari Areksa. “Jika aku mengundurkan diri, bagaimana caranya aku membayar utang ke Tuan Areksa? Aku harus bagaimana sekarang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN