Bab 5. Mulai Tergoda

1051 Kata
Sesampainya di dalam mobil. Areksa duduk di belakang sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, Areksa tak fokus lantaran memerhatikan babysitter anaknya diam-diam. Menjadi duda dalam waktu lama, membuat dirinya tak ingin dekat dengan wanita. “Jalan!” perintah Areksa. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah, Areksa merasa pening pagi ini. Ingin diam di rumah, tetapi ada meeting penting di kantor. Sementara di dalam rumah. Vielga sedang menyiapkan perlengkapan sekolah dua majikan kecilnya. Mattheo dan Zanetta masih duduk di bangku TK, Vielga juga harus menemani mereka di sekolah nanti, sesuai perintah Areksa. “Non Tata, Tuan Theo,” bisik Vielga sembari mengguncang bahu dua anak kembar itu agar mau bangun. Kebiasaan mereka, jika bangun selalu siang dan sulit dibangunkan lantaran malamnya selalu tidur di tengah malam. Apalagi jika bukan bermain, mengurus anak yang sedang aktif-aktifnya membuat Vielga harus memperluas stok kesabarannya. “Masih pagi, Mbak, Tata masih ngantuk ini,” ujar Zanetta sembari menyingkirkan tangan Vielga yang terus mengusap punggungnya agar bangun. Sementara Mattheo, bocah lelaki itu langsung bangun dan duduk, walau masih dengan wajah kantuk. Mattheo mencebik, lalu menendang-nendang b****g adiknya agar segera bersiap. “Bangun, Tata, udah siang, nanti kesiangan. Kamu ini kayak kebo aja,” ejek Mattheo, Vielga menahan tawa setiap kali mendengar perdebatan adik dan kakak itu. Baginya, mereka berdua sangat lucu dan menggemaskan, meskipun Vielga harus menyesuaikan diri agar bisa beradaptasi. “Mbak sudah siapin air hangat di kamar mandi, Mbak mandiin kamu dulu, ya, Tuan,” kata Vielga. Ia beringsut turun dari ranjang, mengitari ranjang untuk pergi ke hadapan Mattheo. Kala Vielga ingin menggendongnya, Mattheo mendelik tajam sambil menepis tangannya. “Theo gak mau ditemenin mandi, malu,” tolaknya dengan nada cuek. Plek ketiplek sekali dengan Areksa. “Kenapa malu, Tuan? Tuan Theo 'kan masih kecil. Kecuali kalau Tuan Theo udah besar, sekarang nggak papa Mbak mandiin,” pungkas Vielga takut terjadi sesuatu jika dibiarkan tanpa pengawasan. Mattheo menggelengkan kepala, dia menolak diantar dan ingin mencoba melakukan apa pun sendiri. “No, aku sendiri aja. Kata Daddy aku gak boleh manja, Mbak bangunin Tata aja.” Karena tidak mau dipaksa, Vielga pun membantu Mattheo turun dari ranjang dan melepas bajunya untuk diletakkan di dalam keranjangnya kotor. Vielga kembali ke samping Zanetta, dibanding dengan Mattheo, Zanetta lebih aktif dan rewel. Wajar saja, namanya juga anak perempuan. “Mommy, Tata kangen Mommy.” Saat mata Zanetta terbuka, gadis kecil itu terus memanggil nama ibunya dengan suara parau. “Eh, Non Tata mimpi, ya?” tanya Vielga menarik Zanetta ke dalam pelukannya. Zanetta diam saja sambil memejamkan mata. “Tata kangen Mommy, Mbak mau nggak nemenin Tata ketemu Mommy?” tanya Zanetta menatap Vielga di hadapannya. Vielga bingung mau menjawab apa, pasalnya dia harus izin pada Areksa dahulu jika ada sesuatu. “Nanti Mbak izin dulu pada Tuan Areksa, ya, Non. Sekarang Non Tata mandi dulu dan sarapan, Non Tata harus sekolah biar pintar dan bikin orang tua bangga.” “Kalau Tata pintar, Mommy dan Daddy bakalan balikan gak, Mbak?” Bibir Vielga terkatup rapat, pertanyaan itu sangat sulit dijawab. Zanetta berubah masam lantaran pertanyaan yang diajukan tidak dihiraukan. Sore harinya. Areksa pulang lebih awal, lelaki itu berjalan dengan langkah lebar menuju ke dalam rumah. Dia tak tenang meninggalkan Zanetta dan Mattheo bersama pengasuh barinya. “Theo? Netta?” panggil Areksa masuk ke dalam kamar anaknya, tetapi kamar ini kosong, tidak ada siapa pun di sini. Areksa diam sebentar, dia tidak tahu ke mana perginya Mattheo dan Zanetta. Dari tadi tidak kelihatan. “Mbak, ambilkan bebek-bebekan Tata di ruang bermain!” Areksa mengurungkan niat pergi ketika mendengar suara putri bungsunya ada di kamar mandi. Berarti mereka ada di sana, pantas saja dia cari tidak ada. Areksa melangkah maju, ketika sampai di pintu sosok Vielga muncul membuka pintu dengan baju yang sedikit basah. Keduanya saling bertatapan karena baju Vielga berwarna putih dan sedikit basah, Areksa jadi gagal fokus melihat dalaman yang terlihat. Areksa membuyarkan lamunan. “Tuan Areksa, sejak kapan Tuan di sini? Maaf, saya tak tahu Tuan sudah pulang,” kata Vielga sambil menunduk, malu sekali berpenampilan seperti ini. “Sedang apa anak-anakku?” Mencoba untuk fokus, Areksa sulit mengalihkan pandangan. Dia jadi gagal fokus lantaran tubuh gadis muda memang menggoda. Areksa terus menahannya. “Anak-anak Anda sedang mandi Tuan, mereka sedang berendam.” Atensi Areksa fokus pada satu titik, ia melihat kancing baju yang Vielga pakai terbuka bagian atasnya. Areksa mengendurkan dasi, ia berdehem berkali-kali. “Kancing bajumu.” Areksa memberitahu. Pipi Vielga bersemu, dia bertambah malu karena tidak menyadari itu. Vielga lalu menutupnya, wajahnya terasa panas saking malunya. “Bisa-bisa aku sampai b*******h ngeliat gadis itu,” batin Areksa. Daripada ia makin sesak, lebih baik Areksa pergi saja dari sini. Dia berjalan cepat menuju kamar, ia mengumpat kesal lantaran sesuatu di bawah sana malah tegang. “Sial! Sial!” umpatnya sambil masuk kamar mandi. Alhasil, di dalam sana ia hanya bisa menuntaskan hasratnya sendirian. Sekalian mandi dan menemui dua anaknya. Areksa kembali ke ruangan bermain anaknya, di sana masih ada Vielga yang menemani. “Vielga, bisa kita bicara?” Areksa memanggil gadis muda itu. Vielga menutup buku, Zanetta menghela napas kasar karena aktivitasnya terjeda. Padahal cerita dongeng yang dibacakan Vielga sedang seru-serunya. “Daddy ganggu saja, padahal dongeng seru,” cibir Zanetta pada ayahnya. “Sebentar, Nak. Daddy mau bicara penting,” jawab Areksa. Keduanya berjalan menuju jendela, menatap pemandangan di bawah sana. Areksa memasukkan tangan ke saku, sambil membelakangi Vielga. “Ada apa, Tuan?” “Mulai sekarang kau harus tinggal di sini. Karena setiap malam Theo dan Tata tidak ada yang menjaga saat saya lembur di ruang kerja.” “Tuan, tapi … tapi saya tak bisa jika harus tinggal di sini. Saya punya ibu yang sedang saki—” “Jika menolak, kamu bisa pergi dari sini!” selanya menegaskan tanpa memberikan kesempatan bagi Vielga untuk menjelaskan. Memang sebenarnya sudah jadi aturan di rumahnya, bagi siapa pun yang bekerja dengannya harus tinggal dan menetap di sini. “Baiklah, Tuan, saya akan bicarakan ini dengan ibu saya. Untuk sekarang saya nggak bisa tinggal di sini, apa Tuan mengizinkan saya pulang?” Tak mau ambil pusing, Areksa juga membicarakan ini secara mendadak. Wajar saja Vielga belum siap. “Jika sudah menidurkan anak-anak, datanglah ke bar. Saya tunggu kamu,” bisiknya tepat di dekat telinga Vielga, membuat bulu kuduk Vielga meremang. Kenapa Areksa mengundangnya untuk datang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN