“Daddy, tangkap Theo! Dia ngambil mainan Tata!” teriak Zanetta dengan suara melengkingnya. Areksa hanya bisa mengulas senyum, sambil menghampiri dua anaknya yang sedang berlarian.
“Curang kamu, ngadu ke Daddy terus!” cibir Mattheo kala mainan adiknya diambil oleh sang ayah.
Areksa duduk di ranjang sembari menarik dua anaknya ke pangkuan. “Daddy sudah ada pengasuh baru buat kalian. Dia ada di luar, dia yang akan menemani dan mengurus kalian jika Daddy tidak ada di rumah.”
Mattheo dan Zanetta mencebik, mereka tidak suka jika ayahnya mempekerjakan pengasuh untuk mereka. Yang anak itu butuhkan adalah ibunya, si kembar memang selalu meminta pada Areksa untuk bersama dengan ibunya.
“Ih, Tata nggak mau sama pengasuh. Tata mau sama Mommy aja, Dad,” tolak Zanetta dengan wajah cemberut.
“Sama, nanti pengasuhnya malah galakin kita. Mending Daddy panggil Mommy aja ke sini, Mommy kok nggak pulang-pulang?”
Tak mengerti karena kedua orang tuanya cerai, jadinya mereka selalu saja mengira kalau ibu mereka bekerja. Areksa mengembuskan napas pelan, bingung harus menjawab apa kalau dua anaknya sudah begini.
“Coba dulu sama pengasuh yang sekarang, siapa tahu gak segalak pengasuh lama,” tutur Areksa, terpaksa melakukan ini semua karena dia sibuk bekerja.
Setelah dibujuk, akhirnya dua anak kecil itu mau menemui pengasuh barunya. Vielga merasa pegal lantaran terlalu lama berdiri.
Vielga melambaikan tangan ketika sepasang anak kembar keluar dari kamar. Dia bisa menebak kalau ini adalah anak Areksa.
“Theo, kok pengasuhnya cantik, mirip Mommy, ya,” bisik Zanetta menarik tangan kakak kembarannya.
Mattheo menatap lekat wanita dewasa yang lebih tinggi darinya. Benar kata Zanetta, kalau pengasuh barunya hampir mirip dengan sang ibu.
“Jangan-jangan ini Mommy kita,” balas Mattheo sambil berbisik.
Areksa muncul di belakang anaknya. “Ini anak saya. Ini Mattheo, ini Zanetta. Umurnya masih lima tahun, apa kamu mampu mengurusnya?” tanya Areksa, tidak mudah mengurus anak seaktif Mattheo dan Zanetta. Itulah sebabnya, Areksa ingin tahu kesiapan dan kinerja kerja dulu.
“Saya sanggup, Tuan,” jawab Vielga sembari tersenyum pada dua anak kecil di depannya yang terus menatapnya.
Areksa pun hanya bisa mengangguk, dia menyerahkan Mattheo dan Zanetta untuk diurus Vielga di bawah pengawasannya. Selagi libur kerja, Areksa memilih mengawasinya sendiri.
Vielga menggandeng Mattheo dan Zanetta ke lantai bawah, setiap gerak-geriknya tak luput dari pandangan dua majikannya.
“Mbak, kenapa mirip Mommy?” celetuk Mattheo sambil melirik ke belakang, memastikan ayah mereka tidak ada. Jika Areksa mendengar ibunya dibahas, Areksa akan marah.
“Wah, iyakah? Mbak bahkan gak tahu Mommy kalian seperti apa rupanya.”
“Mommy cantik, sama kayak Mbak,” sahut Zanetta, ia merasa rindu saat melihat wajah Vielga yang mirip seperti ibu mereka.
Sampai di lantai bawah, berhubung Mattheo dan Zanetta belum makan dari pagi. Areksa menyuruh Vielga membujuk mereka agar mau makan.
Di dapur juga sudah ada kepala pelayan, yang Areksa tugaskan membantu Vielga selama proses seleksi.
“Tuan Theo alergi s**u sapi dan juga bulu hewan, kalau Nona Tata alergi makanan laut dan serbuk sari. Jangan pernah memberikan mereka makanan nggak sehat, apalagi makanan instan, nanti Tuan Areksa marah kalau makanan dan minuman tidak diperhatikan,” papar Mbok Asmita menjelaskan satu persatu hal apa saja yang harus diperhatikan selama bekerja di rumah ini.
“Baik, terima kasih, saya akan mengingatnya.” Dirasa paham dengan penjelasan Mbok Asmita, Vielga pun lanjut bekerja. Membujuk mereka untuk makan, ternyata sulit. Apalagi ada Areksa memantau.
“Tata nggak mau makan, Daddy, Tata mau ketemu Mommy!” Zanetta menolak suapan yang Vielga berikan, dia bersedekap d**a dengan wajah cemberut.
Areksa melirik Vielga, Vielga tahu apa maksudnya. “Non Tata, kalau habis makan kita main masak-masakan gimana? Nanti Mbak bakalan ajarin Non Tata masak makanan yang enak.”
“Apa, sih! Tata gak suka main masak-masakan! Tata udah besar!” omel Zanetta, membuat Vielga bingung memikirkan cara.
“Gimana kalau kita menggambar? Kebetulan Mbak juga bisa menggambar, loh.” Tak menyerah begitu saja, Vielga terus mencoba sampai Zanetta mau sarapan.
“Apa Mbak bisa melukis? Tata suka melukis, tapi Daddy selalu marahin Tata karena Tata belepotin catnya ke mana-mana.”
Areksa memijat pelipisnya, dia sendiri pusing menghadapi Zanetta yang rewel, beda dengan Mattheo yang lebih penurut.
“Bisa kok bisa, nanti Mbak bakalan temenin Non Tata melukis sepuasnya. Asalkan Non Tata mau makan, supaya lebih bertenaga saat melukisnya.”
“Kalau gak mau, mending Mbak temenin Theo main robot dan mobil-mobilan aja. Tata biarin aja sendiri, jangan ditemani,” ujar Mattheo seraya menjulurkan lidahnya pada Zanetta.
“Gak boleh gitu dong, Theo! Mbak bilang 'kan mau nemenin aku melukis. Siapa cepat dia dapat, kamu main aja sama Daddy!”
“Ruang lukisnya ada di tempat bermain, di sebelah kamar mereka. Tempat kamu berdiri tadi,” ucap Areksa memberitahu di mana letak ruangannya. Vielga kesulitan menghapal sudut ruangan di rumah ini, saking luas dan besarnya.
“Iya, Tuan. Saya tidak akan menyuapi mereka.”
Alis tebal Areksa terangkat satu, dahinya mengernyit. “Kenapa? Jika tidak disuapi akan lama selesainya nanti.”
“Usia mereka sudah lima tahun, Tuan. Saya rasa sudah seharusnya Nona Tata belajar makan sendiri agar terbiasa nanti,” kata Vielga.
Di hari pertama Vielga bekerja, dia masih kesulitan beradaptasi dengan Mattheo dan Zanetta. Hingga beberapa hari berikutnya, ia mulai terbiasa mengurus keduanya, bahkan dua anak tersebut juga mulai bisa menerima Vielga sebagai pengasuh barunya.
Selama satu Minggu menjalani seleksi, Areksa pun memanggil Vielga untuk datang ke kediamannya lagi.
“Bagaimana, Tuan? Apakah saya lulus seleksi?”
“Dua anakku masih belum sepenuhnya menerimamu, tapi saya rasa kinerja kerjamu lumayan. Saya memutuskan untuk membiarkanmu bekerja di sini, menjadi pengasuh Mattheo dan Zanetta mulai sekarang dan seterusnya.”
Mendengar itu, Vielga pun merasa sangat senang karena diterima oleh Areksa sebagai babysitter anaknya. Gadis itu terlihat girang dengan senyum di bibirnya. Tentu saja ia senang, selama satu minggu menjalani seleksi akhirnya apa yang ia usahakan ada hasilnya sekarang.
Areksa pun hanya bisa diam saja melihat Vielga tampak ceria, tak ada raut tegang di matanya.
“Beneran Tuan saya diterima?” tanya Vielga masih belum percaya, matanya terasa panas ingin menangis bahagia.
“Perkataan saya barusan belum jelas?” Pertanyaan Vielga diabaikan, Areska malah justru mengajukan tanya.
“Jelas, Tuan, jelas. Terima kasih sudah menerima saya kerja di sini.”
Areksa tetap menampilkan raut wajahnya yang datar. Selama Vielga bekerja di sini, Areksa tak terganggu sama sekali. Lelaki berperawakan tampan itu lekas melewati Vielga begitu saja karena ia akan pergi ke kantor.
“Jaga anak-anak saya dengan baik! Jika sesuatu yang buruk terjadi, kamu yang harus menanggungnya!” Sebelum pergi, Areksa selalu mengatakan itu. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada kedua anaknya yang dapat membuat mereka tak ingin dijaga oleh sang babysitter. Areksa sadar betul jika tak mudah mencari pengganti untuk bisa mengasuh anaknya. Beruntung, tanpa sengaja Areksa bertemu dan mendapatkan pengganti babysitter untuk bekerja di rumahnya.