Kai menatap Wijaya serius. Dia tampak tak percaya dengan ucapan Wijaya. Bisa diartikan selama ini Wijaya mencari tahu tentang kehidupannya. "Setelah ikut campur tentang pekerjaanku, sekarang mau ikut campur dengan masalah percintaan aku? Bukankah hidup Ayah sibuk? Kenapa harus ngurusin hidup anaknya?" ujar Kai tegas. "Kai!" Wijaya tak terima dengan ucapan anaknya. "Itu demi kebaikan kamu!" "Apa? Kebaikan?" Kai tersenyum kecut. "Kehidupan yang baik menurut Ayah seperti apa? Menutupi kesalahan?" tanya Kai kesal. "Kai!" "Ayah, sudah cukup Ayah membantu semua masalah aku. Mulai saat ini aku akan menyelesaikannya sendiri. Termasuk tentang percintaan aku," ujar Kai menekankan. Kai melangkah, namun baru satu langkah kembali berhenti. Wijaya yang masih berdiri di balik meja masih menatap anak

