Pagi-pagi Alika sudah mencari keberadaan Jihan di meja kerjanya. Bagaimana bisa wanita itu tidak menghubunginya sama sekali dari semalam. Seketika netra Alika terfokus pada satu objek yaitu orang yang sedang berbicara melalui teleponnya. Manusia yang dicari dan dipikirkannya semalaman. Dia tersenyum, menghampiri keberadaan Jihan yang masih sibuk berbincang di telepon. Semakin dekat posisi Alika semakin jelas juga ucapan Jihan, dia melihat Jihan mengakhiri pembicaraannya. Jihan segera menoleh akan bunyi ketukan sepatu Alika. Dia tersenyum dengan kehadiran Alika. Wanita itu kini sudah berdiri tepat di sampingnya. "Kenapa semalam harus pulang duluan? Aku bisa antar kamu, kan?" ujar Alika. Jihan lagi-lagi tersenyum. "Aku khawatir, karena kamu pasti baru datang ke daerah itu." Alika tampak k

