3. Pelik

2055 Kata
Wajah tampan milik Raka mengulas senyum manis, ketika Alika menjawab pertanyaannya walaupun hanya dengan anggukan kepala. Terlihat perempuan itu malu, pipinya memerah seperti tomat. "Aku mau, menjalani hari-hari ini bersamamu. Menemani kamu setiap kamu butuh aku, apa kamu bersedia?" Pertanyaan Raka membuat Alika tersipu. Lebih tersipu lagi dari sebelumnya yang hanya menyatakan perasaan suka terhadap lawan jenisnya itu. Alika mengangguk pelan sembari tersenyum manis. Betapa bahagianya, Raka dengan segala keromantisannya menyatakan bahwa dia bersedia mendampingi Alika dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya. Walaupun jelas Laki-laki itu tak mengatakannya secara langsung. "Tapi...." Seolah ada yang mengganjal dari pikiran Alika, ia pun menatap Raka dengan menebak apa yang ada di pikiran Raka melalui sorot matanya. "Penyakit kamu?" tanya Raka datar. "Itu bukan penyakit, itu bisa sembuh seiring berjalannya waktu. Aku juga nggak keberatan akan hal itu." Raka tersenyum. Wanita di depannya terlihat mengembuskan napas lirih. Ia melanjutkannya dengan senyum manis. Lega, itu yang dirasakan olehnya. Raka mengerti akan gangguan mental trauma yang dia alami. Setidaknya masih ada pria yang mau menerima kekurangannya, pikir Alika. Seperti kebanyakan pasangan lain yang baru mengikrarkan hubungan mereka, Alika dan Raka terlihat sangat bahagia. Seperti senyum yang saling bersautan, sorot mata mereka memancarkan perasaan bahagia yang tak dimiliki pasangan lain. Dengan berani Raka memegang tangan Alika dan mengaitkannya dengan telapak tangannya yang besar, berjalan menelusuri tatanan kota yang malam itu sudah sangat ramai. Senyum mereka sama sekali tak pudar dari peredarannya. Alika beruntung memiliki Raka. Alika bisa hidup normal seperti sekarang. Wanita itu bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan manusia lainnya. Raka akan membuatnya sembuh, tanpa harus ke dokter. Dia akam menerima apa pun yang Alika rasakan. Laki-laki itu terlihat bahagia menggenggam tangan Alika. Wanita yang selama ini dia cintai diam-diam. Sesekali Raka menciumi punggung tangan Alika lalu kembali tersenyum. "Bagaimana bisa hidupku berubah hanya dalam satu waktu, seolah tak ada tantangan apapun untuk memulai hidup yang baru bagiku. Pria ini akan membahagiakanku, aku yakin itu," batin Alika. Netranya terus melihat punggung Raka yang berjalan lebih dulu darinya, namun tangan mereka saling terkait. [[]] Kai berkali-kali melirik jam tangan yang melilit di lengan kirinya. Wajahnya sudah menunjukkan bahwa dia kecewa, kesal dan juga marah. Hampir satu jam ia menunggu seseorang namun tak ada satu orang pun yang duduk di depannya. Minuman yang dipesannya sudah separuh tersisa di dalam gelas. Netranya melihat seikat bunga yang masih segar, namun aroma harumnya sudah tak seharum dari pertama ia beli. Kai terperanjat dari duduknya, bermaksud untuk pergi. Namun, tercegat ketika kedua matanya menangkap sosok yang sedang berjalan melewati jajaran meja yang sudah diduduki pengunjung lainnya. Kai menghela napas lega, seketika semua perasaan kesalnya berubah dengan ekspresi senyum manis itu. Ia kembali duduk, merapikan jas yang sebenarnya masih tertata rapi. Belum sempat mempersilakan wanita yang mengenakan blouse biru muda itu duduk, dan senyum Kai kembali ia tarik ketika mendengar pernyataan wanita itu. "Kita putus!" Wanita itu terlihat menatap Kai nanar, ia masih berdiri di depan Kai. "Heh." Kai terkejut, ia sampai tak bisa berkata apapun. "Jihan," ujar Kai ragu. Wanita bernama Jihan, akhirnya duduk. Menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Menatap Kai dengan tatapan yang tak biasa. "Aku bosan. Sikap kamu nggak berubah, menyebalkan!" "Jihan." Kai tampak tak terima. "Benar, katakan kalau kamu laki-laki sempurna, tampan, mapan, juga selalu ada. Tapi, itu membuatku bosan. Sikap kamu, seperti orang yang terobsesi. Aku, ingin laki-laki romantis walaupun tanpa bunga!" "Jihan, tapi...." Kai mencoba menjelaskan. "Ini keputusanku, kuharap kamu menerimanya. Kita masih bisa berteman, tapi untuk menjalin hubungan. Maaf," ujar Jihan. "Terima kasih atas waktunya selama ini." Jihan beranjak dan pergi meninggalkan Kai. Pria itu terlihat marah, kecewa, dan kesal, namun menahannya. Mencoba tenang, walaupun wajahnya tak bisa berbohong. Ia mengepalkan tangannya erat, lalu meninggalkan meja yang sudah didudukinya sedari tadi. Jihan terlihat menghela napas lega setelah ia benar-benarenghilang dari pandangan Kai. "Maafkan aku," ucapnya lirih. Ia mengusap kepalanya sendiri. "Bagus, bagus," pujinya pada diri sendiri. Dia berjalan meninggalkan area kafe sebelum Kai menemukannya lagi. Setelah hampir sepuluh menit menunggu bus, akhirnya bus yang ditunggu datang. Dia segera naik, dan mencari tempat duduk yang kosong. Lagi-lagi menghela napas berat. Kini ia bersandar pada kaca bus, membuka sedikit kaca bus itu untuk mendapatkan udara segar. Air mata terlihat menetes tanpa permisi. Ia tersenyum mengingat semua apa yang sudah dilaluinya bersama Kai selama empat tahun ini. Jihan mencoba mengatur napas dan emosinya. Dia memutuskan Kai, tetapi dia yang seolah tersakiti. "Benar, kamu bakal ketemu sama wanita yang sederajat sama kamu." Jihan berbicara lirih. "Maafkan aku, aku membutuhkan uang saat ini." [[]] Wajah berparas ayu itu selalu tersenyum ketika melihat layar ponselnya. Ini pertama dalam hidupnya, mencintai seseorang dan mendapat cinta dari orang lain selain dari keluarganya. Banyangkan Raka selalu menjadi moodboster dirinya. Mewarnai hari-hari yang selama ini berwarna gelap. Tiba-tiba senyum itu pudar, ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Widia muncul hanya dengan menunjukkan kepalanya. "Kenapa, Tan?" tanya Alika kaget. "Apa sudah disiapkan. Tante, akan menghubungi jasa angkut barang besok." Kini Widia sempurna muncul dan mendekat ke arah Alika. Duduk di samping Alika. Netranya melihat barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah karton-karton besar adalah milik Alika yang akan dipindahkan ke apartemen barunya. "Kamu yakin? Akan tinggal sendiri." Widia menyelidik. Alika tersenyum dan mengangguk pasti. "Udah saatnya aku mandiri, Tante," jawabnya pasti. "Ish, mandiri. Tante cuma khawatir kamu...." "Tante, aku bisa menghadapi sendiri. Lagi pula Tante juga akan sering mengunjungiku, kan?" tanya Alika. "Tentu saja," jawab Widia pasti. Mata wanita itu terlihat sudah berkaca-kaca. Dia yang sudah membesarkan Alika, tetapi dia harus rela melepas Alika memilih jalan hidupnya sendiri. "Tante kenapa nangis?" Suara Alika juga bergetar, ia tahu Widia pasti sangat sedih saat ini. Hubungannya memang tidak terlalu dekat, tetapi sampai saat ini orang yang paling Alika percaya adalah Widia. Orang yang selalu ada di saat Alika butuh adalah Widia. Widia memeluk Alika erat. Menangis, mencurahkan perasaan khawatirnya malam itu. Alika menyambut pelukan itu, dia juga menangis. Tetapi, Alika sudah memutuskan untuk tinggal sendiri karena ia memilih apartemen yang jaraknya dekat dengan kantornya. Sehingga, dia bisa mengurangi penggunaan transportasi umum. Awalnya Widia tak menyetujui, namun perlahan luluh ketika Alika terus meyakinkan wanita yang sudah lama menjanda itu. Selama ini Widia lah yang mengurus berbagai keperluan Alika, menemani Alika dikala ia ketakutan, dan selalu bersama Alika saat kedua wanita itu sedang kesepian. Sebenarnya Widia memiliki seorang anak, namun tinggal di luar negeri karena melanjutkan sekolah bersama mantan suaminya yang sudah lama bercerai. Malam itu benar-benar membuat Widia ingin terus bersama Alika. Dia memutuskan untuk tidur bersama keponakannya itu. Bercerita panjang lebar sampai ia tertidur pulas. Alika tersenyum melihat Widia tertidur. Ia membernarkan letak selimut yang dipakai Widia, dan mencium keningnya. Mematikan lampu meja yang berada di sampingnya. Alika menghela napas lirih. Ia mencoba memejamkan matanya, namun sebuah notif pesan membuat matanya kembali terbuka sempurna. -Good Night, Sayang- Raka mengirimkan pesan kepada kekasihnya. Tentu saja, Alika tersipu malu saat membuka pesan itu. Namun, ketika hujan turun tanpa pemberitahuan. Senyum itu langsung menghilang dari peredaran bibirnya. Alika terkejut, terlebih saat sebuah petir menyambar dengan suara geluduk yang menyertai. Keringat dingin langsung bermunculan dari berbagai sisi bagian tubuhnya. Alika menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, mungkin Widia sudah tertidur sejak tadi. Alika mengatur napasnya yang memburu, ia menutupi kedua telinganya dengan bantal. "Aku aman, aku aman, aku aman." Dia meyakinkan diri sendiri. Menenangkan diri dengan melakukan gerakan 'butterfly hug' , di mana itu adalah cara paling mudah untuk menenangkan diri. Alika menutup matanya, sembari mengatur napas yang sedari tadi memburu. Menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, dan menepuk kedua bahunya dengan gerakan berulang-ulang. Widia sama sekali tak terbangun, lelah seharian ini membuat tidurnya sangat pulas. Alika mencoba tenang, dia tak ingin membangunkan Widia. [[]] Kai tampak terlihat gelisah. Walaupun raganya tenang menghadap balkon apartemen, menikmati hujan malam itu. Namun otaknya tengah berpikir keras. Terlihat dari cara dia memainkan ujung kuku yang digigit, menandakan dia gugup. Wajahnya terlihat tengah memikirkan sesuatu, berkali-kali rahangnya terbentuk keras. Sudah dipastikan laki-laki itu tengah berpikir akan kejadian hari itu. "Kenapa dia memutuskanku?" Pertanyaan itu berkali-kali ia lontarkan tanpa menemukan jawabannya. "Apa aku melakukan kesalahan?" Mata Kai terpejam, ia mencoba menemukan jawaban, namun gagal. Rumus yang bercecer di otaknya tak ada satupun yang menemukan jawaban. Kai pasrah, mengembus napas kasar dan berjalan ke arah sofa panjang yang berada di depan layar TV flat yang menempel pada dinding. Menutup matanya dengan lengan kanannya. Mencoba berpikir jernih dari apa yang dialaminya tadi. Sepersekian detik, seperti mendapat jawaban. Kai segera beranjak dan mencari letak ponselnya. Tanpa menunggu waktu lama, ia menemukan ponsel miliknya. Menghubungi seseorang yang mungkin bisa memberikan jawaban atas pemikirannya. Telepon terhubung, namun tak ada jawaban dari penerima. Kai melihat kembali layar ponselnya. Nama Perawat Jay yang tertera di sana. "Ke mana perginya tuh anak." Kai bingung. Jay adalah salah satu rekan media yang dekat dengannya. Dia selalu mengikuti Kai ke manapun pria itu pergi, walaupun masih dalam area rumah sakit. Menurutnya Kai adalah dokter terkeren yang pernah ia kenal di kehidupannya. Lagi-lagi dia mencoba menghubungi Jay. Tak lama panggilan pun diterima. Kai segera berbicara. "Sedang apa?" tanya Kai segera. "Ada apa?" Alih-alih menjawab pertanyaan Kai, Jay malah bertanya balik. "Aku lagi sama Nagita," jawab Jay santai. Terdengar Kai menghela napas. Nagita adalah pacar dari Jay. "Ah, oke." Kai kecewa. "Apa ada masalah?" tanya Jay tiba-tiba. "Enggak, lanjutin aja kencannya." Kai menutup teleponnya segera. Ia kembali melihat langit-langit apartemennya. Pikiran Kai masih kalut, ia membuka aplikasi i********: di ponselnya. Tak sengaja melihat foto Jihan bersama laki-laki lain yang baru diunggahnya delapan menit yang lalu. Caption dalam foto itu hanya bertuliskan 'Kamu'. Kai merasa benar-benar sudah dihianati kali ini. Ia tersenyum miris, rasa kecewanya sudah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia tersenyum sinis. "Jadi, ini kelakuan kamu di belakang aku?" Kai menatap tajam foto Jihan yang mungkin dengan kekasih barunya. "Aish," gerutunya. Dia sudah dihianati selama ini. Hubungannya yang sudah berjalan lebih dari empat tahun sia-sia karena perselingkuhan. Kai mencoba tenang, ia melempar ponselnya kasar. Kembali pada posisi awalnya, memejamkan mata walaupun dengan pikiran yang sudah bercampur aduk. ____ Raka melihat foto-foto Alika saat tersenyum. Dia terlihat sangat merindukan kekasihnya itu. "Kamu cantik," pujinya pada layar ponsel miliknya. Tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Raka segera meletakkan ponselnya. "Belum tidur?" tanya Raka pada gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Gadis itu mengangguk manja. Ia duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Raka. "Ada masalah?" tanya Raka khawatir. Dia adalah Davina yang merupakan adik semata wayang Raka. Adik yang sangat Raka jaga dan cintai. "Aku lelah," ujarnya lirih. Raka tersenyum. Dia merangkul Davina dan mengusap lengannya. "Ada Kakak, kenapa mesti lelah?" Raka tersenyum. "Semuanya bakal baik-baik aja. Kakak yakin itu." Raka menatap adiknya lekat. Davina hanya mengedikkan bahu. Raka mencium kening Davina. "Sudah malam, Kakak antar ke kamar kamu." Raka membawa Davina ke kamarnya. [[]] Sinar surya pagi hampir naik di atas pelupuk. Ini adalah hari libur Kai, ia bebas bangun tanpa ada gangguan dari pihak rumah sakit yang meneleponnya. Sayangnya, tidur pria itu terganggu ketika suara dentuman tembok menggema sampai di telinganya. "Aish," gerutunya kesal. Ia menarik bantal dan meletakkan di atas telinganya. Lagi-lagi suara tembok itu semakin kencang. Kai mengalah, dia terbangun dengan wajah kesal. "Ini hari Minggu! Kenapa selalu ada yang menggangguku!" desisnya. Kai mengambil telepon yang menempel pada tembok samping tempat tidurnya. Telepon yang hanya digunakan untuk menghubungi layanan apartemen yang ia tinggali. Menekan tiga digit nomor. "Selamat pagi, ada yang bisa kamu bantu? Dengan siapa?" Sang customer service memberikan tanggapan cepat. "Apa ada perbaikan di sebelah kamar saya? Itu sangat mengganggu!" Kai memprotes kesal. "Maaf, ini dengan siapa? Dan kamar nomor berapa?" "1202." Kai mengucapkannya dengan lantang. "Tolong tunggu sebentar," jawabnya lagi ramah. Entah apa yang dia lihat, setelah beberapa detik tersisa di telepon akhirnya kembali berbicara. "Kamar 1203, adalah penghuni baru yang pindah hari ini." Kai mendengkus. Ia menutup segera teleponnya. Baginya adalah suatu kesialan saat seseorang ada yang mengganggu tidurnya pada hari libur. Kai merasa sangat kesal, ia mencoba tenang. Dia berpindah ke ruangan tengah. Berharap di sana tak mendengar apa-apa. Duduk dengan kasar. Menyalakan layar flat berwarna hitam di depannya, meningkatkan volume suaranya agar bisa mengalahkan suara dentuman tembok yang ternyata masih di dengarnya. "Aaargghh," teriaknya kencang. Dia merasa terganggu. Terlebih suara itu belum juga berhenti. "Benar, aku harus menegurnya!" Kai bertekad. Wajah kesalnya tampak tak bisa ditoleransi lagi. Ia bergegas keluar dari apartemennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN