Kai memutuskan untuk tidak menegur tetangga barunya. Ia hanya pasrah mendengarkan apa yang didengar, mungkin saat nanti gendang telinganya pecah, baru dia akan meminta pertanggung jawaban. Bukan pertanggung jawaban, melainkan tuntutan akan membuat keributan di tempat umum.
Kai mendengkus, memilih melanjutkan berbaring di tempat tidur dan bermalas-malasan. Akan tetapi, dirinya benar-benar terganggu akan suara yang berasal dari kamar apartemen tetangganya. Kai memutuskan untuk bergegas pergi, dengan berganti pakaian terlebih dahulu.
Laki-laki itu berjalan menuju elevator yang letaknya berada di ujung lantai lima gedung itu. Ia tengah memainkan ponselnya dengan serius. Namun, tiba-tiba seseorang menabraknya tanpa sengaja.
"Maaf," ujar seorang wanita itu meminta maaf. Kai tak mengindahkan permintaan maaf itu, ia mengambil ponselnya yang terjatuh tanpa melihat orang yang menabrak. Kembali berjalan menuju elevator yang masih terbuka.
Alika yang menabrak Kai hanya menggelengkan kepala tak mengerti. Lalu dia kembali berjalan dengan sebuah box berukuran sedang yang berada di tangannya.
Wanita itu menghela napas lega setelah sampai di apartemennya. Melihat kembali isi apartemen yang sudah mulai rapi karena ia kerjakan seharian ini. Alika tersenyum tatkala ponselnya mendapat panggilan yang ternyata dari Widia.
"Iya, Tan," jawabnya segera.
"Tante bawakan makan siang ke situ. Sekalian bantu beres-beres." Suara Widia menggema.
"Iya Tanteku yang cantik." Alika tersenyum.
"Oke, tunggu Tante."
Setelah telepon terputus, Alika kembali membereskan barang-barang yang masih di dalam box-nya.
[[]]
Kai menjatuhkan tubuhnya tepat ke atas tempat tidur berukuran hanya cukup untuk satu orang. Ia menembuskan napas kasar, wajahnya terlihat masih kesal. Jay, yang hari itu menjadi pelampiasan kekesalan Kai hanya pasrah melihat dokternya menghuni kamar kost sepetak yang merupakan tempat tinggalnya selama ini.
"Dokter, ini hari liburku. Kenapa malah ke sini?" protes Jay kesal. "Pasti ada masalah, iya 'kan?"
"Bawel, aku mau istirahat. Hari libur aku terganggu karena tetangga baru itu!" Kai menutup matanya dengan lengan kanan.
"Apa bedanya dengan aku? Ini hari liburku!" Jay masih membela diri.
Entah apa yang diambil Kai dari dalam saku celana pendeknya. Sebuah dompet lipat kini sudah berada di genggamannya. Mengambil sebuah kartu dan diberikan kepada Jay.
"Bawa pacarmu jalan-jalan." Kai memerintah. Menyodorkan sebuah kartu kredit kepada Jay. Laki-laki itu tentu saja tersenyum senang. Tangannya langsung menerima kartu itu tanpa basa-basi.
"Terimakasih," ujarnya senang. "Ah, di kulkas ada bahan makanan yang belum dimasak, mie instan ada di lemari dapur dan maaf, air minumnya habis. Belum sempat aku beli," ujar Jay menjelaskan. "Aku pergi!" Dia berlalu secepat kilat. Membuat Kai tersenyum sekarang.
Kai melanjutkan tidurnya dengan damai. Sudah menjadi kebiasaannya, saat dia memiliki masalah, hanya Jay yang mau menemaninya. Jay yang selalu sabar akan kelakuan kasar Kai.
[[]]
Tepat pukul 20.00 WIB, Alika selesai membersihkan dan merapikan apartemennya. Ia menghela napas dan merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Melihat kembali sekeliling ruangan apartemennya yang ia desain sendiri. Alika tersenyum, saat semuanya sesuai dengan apa yang diharapkannya.
"Masih ada waktu buat makan," ujar Alika. Melirik arloji di tangannya. "Ah, aku harus membeli bahan makanan di toserba." Alika bergegas, ia mengambil jaket dan dompet yang tergeletak di atas tempat tidur.
Alika berjalan menuju toserba yang berada di sekitar apartemennya. Ia menikmati angin malam itu, jalanan yang sudah tak terlalu ramai membuat Alika bisa menghirup udara malam yang segar, bukan udara yang membuat polusi, udara yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan. Tak sampai sepuluh menit, dia sampai di toserba dua puluh empat jam. Alika mulai memilih belanjaan yang dia butuhkan. Ini adalah hari pertamanya tinggal sendiri. Ia harus mempersiapkan semua yang benar-benar akan ia gunakan untuk keperluannya.
Keranjang yang dibawanya nyaris penuh, berisi bahan makanan dan minuman juga kebutuhan lain. Alika merasa sudah cukup, ia pun datang pada kasir yang berada tepat di depan pintu toserba. Setelah membayar semua, Alika lantas membuat mie instan dalam cup dengan menggunakan air panas yang tersedia.
Alika duduk di depan toserba, terlihat sepi malam itu. Alika pun meletakkan belanjaannya di samping tempat duduknya. Ia menunggu mie yang sedang dimasaknya dengan air panas. Setelah merasa matang, ia pun segera menyantapnya.
Seorang laki-laki melewatinya, ia mencium aroma parfum dari laki-laki itu dan Alika langsung mengingat laki-laki yang ditabraknya di depan elevator. Alika segera menoleh. Benar, Kai melewatinya tanpa permisi.
"Aku ngerasa pernah liat dia, tapi di mana? Bukan kejadian tadi," ujar Alika lirih. Netranya melihat Kai masuk ke dalam toserba. "Ah, laki-laki itu!" Alika kini mengingat. Laki-laki yang menolongnya malam itu, laki-laki yang belum sempat ia ucapkan terimakasih.
Seseorang mengetuk meja di depan Alika. "Permisi." Suaranya membuat Alika segera menoleh. Dia adalah Raka, pria itu tersenyum. "Lagi liat apa?" Otomatis Raka mengikuti objek yang dilihat oleh Alika tadi. Tak sampai di sana, karena rasa penasaran, Raka menatap Alika penuh selidik.
"Apa ada pria tampan di sana?" ledeknya, Alika langsung tersenyum lalu menggelengkan kepala. Raka mengambil posisi duduk di depan kekasihnya. Menatap Alika dengan tatapan bahagia, membuat wanita itu tersipu.
"Sudah selesai beres-beresnya?" tanya Raka. Alika mengangguk sebagai jawaban.
"Baru pulang kerja?" tanya Alika, ia masih melihat Raka dengan balutan kemeja yang masih berdasi.
"Oh," jawabnya singkat.
Lagi-lagi tatapan Raka membuat Alika tersipu malu. Bagaimana tidak, kekasihnya itu menatap sembari menebar senyum penuh gula.
"Ah, udah makan?" tanya Raka penasaran. Alika menggeleng.
"Hei, udah malem masa belum makan." Alika tersenyum.
"Ayo! Aku ajak ke restoran paling enak di sini." Raka mengulurkan tangannya.
"Tapi belanjaannya?"
Raka tersenyum. Ia berinisiatif, mengambil semua barang belanjaan Alika dan menitipkannya kembali di kasir yang berjaga di toserba itu.
Raka mengajak Alika ke restoran yang berada di sekitarnya. Banyak pengunjung yang datang, dan juga saat masuk restoran Alika sudah mencium aroma masakan, membuat nafsu makannya kembali bangkit. Alika tersenyum saat Raka dengan manisnya menggandeng tangannya dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Menu paling enak di sini adalah sop iga sapi, dan itu enak banget." Raka merekomendasikan. Alika tersenyum.
"Kamu tahu banget, sering ke sini?"
Pertanyaan Alika membuat Raka berpikir untuk menjawab. Namun, kemudian laki-laki itu tersenyum, dan mengangguk.
"Makanan favorit Mama, dan Davina," jawab Raka.
"Wah, udah terkenal tempat ini."
"Sangat!" Raka berantusias. Setelah memesan makanan, sembari menunggu mereka berbincang dan bercanda di tempat duduk itu. Raka membuat kelucuan yang membuat Alika tersenyum bahkan tertawa. Wanita itu tengah dimabuk cinta. Ia tak peduli dengan sekitarnya, yang dia tahu kini bahagia dia adalah Raka.
[[]]
Sinar matahari siang itu begitu percaya dirinya terpancar di bumi. Kai menemani pasiennya di taman rumah sakit. Ia mendengarkan cerita dari pasiennya yang mengidap gangguan psikotik depresion, adalah gangguan depresi akut yang menyebabkan pasien itu berhalusinasi. Kai mendengarkan semua ucapan yang keluar dari mulut pasiennya. Ia berpura-pura percaya. Semua ucapan yang diutarakan pasiennya adalah hal yang ia ciptakan sendiri dari halusinasi yang ia dapat.
"Anak saya itu rajin, cantik dan juga banyak laki-laki yang suka. Tapi, dia hanya menyukai Dokter, dia bilang, Dokter adalah satu-satunya orang yang bisa membuat dia tersenyum setiap hari." Kai mengangguk. Wanita paruh baya itu berpikir anaknya masih hidup. Anak gadisnya sudah meninggal dalam kecelakaan, bersama seorang dokter yang merupakan kekasihnya. Ia selalu menceritakan anaknya di setiap orang. Dia juga selalu membanggakan anaknya yang selama ini ia besarkan seorang diri.
Setelah mendengarkan semua perkataan pasiennya, Kai mengantarkannya kembali ke kamar. Namun, saat di tengah perjalanan, seorang suster mengambil alih kursi roda yang sudah didorong Kai sejak tadi. Dokter tampan itu tersenyum, dia berterima kasih kepada suster itu sebelum berpisah di koridor rumah sakit. Kai menuju ruangannya, tetapi Jay dengan sigap mencegatnya.
“Ada yang menunggu di ruangan, Dok,” ujar Jay tanpa memberitahu siapa yang tengah menunggu Kai. Laki-laki itu mengerutkan keningnya, menatap Jay penuh selidik.
“Siapa?” Akhirnya dia bertanya. Jawaban datar dari Jay membuat Kai semakin penasaran. Pasalnya asistennya itu hanya menatap Kai tanpa ekspresi apa pun.
Kai dengan cepat menuju ruangannya. Ia segera membuka pintu saat sudah sampai. Netranya menangkap sosok perempuan yang tengah duduk anggun di kursi yang biasa pasien gunakan untuk duduk saat konsultasi dengan dirinya. Laki-laki itu mengembuskan napas. Ia melirik ke arah Jay, sedikit membulatkan matanya menuntut. Jay hanya tersenyum tipis, dan segera meninggalkan ruangan itu. Perempuan yang sedari tadi sudah duduk, kini tersenyum ke arah Kai. Laki-laki itu sama sekali tak membalas senyuman itu.
“Ngapain kamu di sini?” Kai segera duduk di kursinya.
“Kangen aja, pengen liat wajah kamu,” ucap wanita itu dengan nada datar.
“Apa ada masalah?" Kai mengucapkannya tanpa basa-basi. Perempuan itu tersenyum dan menatap mantan kekasihnya itu ragu.
“Memangnya harus ada masalah dulu, biar bisa ketemu kamu?” Perempuan bernama Jihan itu kembali tersenyum.
“Aku banyak kerjaan, kalau tidak ada yang penting, mending pulang aja,” perintah Kai.
Jihan menatap Kai lekat, wajahnya yang ayu tampak terlihat sangat gelisah. Bahkan senyumnya tak bisa berbohong. Benar, Kai tak akan bisa dibohongi oleh perempuan itu.
“Ada masalah apa? Butuh uang?" ujar Kai tanpa ragu.
“Oh,” jawab Jihan lirih. “ Aku diterima di perusahaan besar, aku butuh uang untuk menyewa tempat tinggal di dekat sana.”
“Di mana?”
“Di dekat tempat tinggal kamu,” jawab Jihan ragu.
“Apa?” Seolah Kai salah mendengar ucapan Jihan, dia kembali memastikan.
“Maaf, mungkin kita akan sering bertemu.”
Kai tersenyum tak percaya. Bagaimana bisa perempuan yang sudah mencampakkannya kini akan tinggal di dekatnya. sudah menjadi kebiasaan Jihan meminta uang pada Kai tanpa rasa sungkan dan malu. Hubungan mereka sudah sangat jauh, saat masih berpacaran. Walaupun Kai masih patah hati. Namun, melihat Jihan kesulitan saja membuat dirinya tak tega.
“Oke, akan aku transfer uangnya, sekarang pergilah. Aku masih harus bekerja,” ujar Kai tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jihan. Wanita itu mengangguk dan meninggalkan ruangan Kai.
___
Wanita bernama Jihan kini tengah mendapat perlakuan yang tidak layak dari seorang laki-laki paruh baya, terlihat berkali-kali laki-laki itu memukul tubuh bagian punggungnya.
"Ayah, itu uang untuk pengobatan ibu!" Jihan kembali terisak. Dia tak bisa melawan ayahnya. Laki-laki itu sudah mabuk dan setengah sadar menyiksa anak sulungnya.
"Buat apa mengobati ibumu! Biarkan saja dia mati!"
"Ayah! Harusnya yang mati itu ayah! Laki-laki enggak bertanggung jawab!"
Sebuah tamparan mendarat di pipi Jihan, wanita itu sama sekali tak kesakitan. Ia hanya mengeluarkan air mata.
"Kenapa kamu harus putus dari laki-laki kaya itu! Hah! Kamu bisa manfaatkan dia!" Bentakan ayahnya Jihan membuat semakin hancur.
"Berikan semua uangnya! Cepat!" Laki-laki itu menyodorkan tangannya. Berharap putrinya memberikan uang di genggamannya. Jihan menggeleng cepat, dia berlari sekuat tenaga untuk menghindari ayahnya. Laki-laki yang sudah sepenuhnya dalam pengaruh alkohol itu mencoba mengejarnya. Namun, gagal. Dia terjatuh sempoyongan.
____
Jihan berjalan lemas. Dia sangat sakit mengingat kejadian kemarin. Perlakuan ayahnya yang setiap hari meminta uang darinya. Di sisi lain, dia juga harus mengobati penyakit ibunya. Langit yang sudah berganti malam kini mengajak angin untuk meniupkan udara dingin di bumi. Wanita itu duduk di depan sebuah toserba, minuman kaleng yang sedari tadi dibawanya kini sudah habis. Mengembuskan napas berat. Pasalnya, seharian ini dia mencari tempat tinggal di daerah itu, agar cepat berpindah.
“Seandainya aja, kita masih bersama, kamu pasti dengan kerepotan menyiapkan tempat tidur buatku di apartemen kamu,” ujar Jihan menatap sebuah gedung pencakar langit yang berada dalam jangkauan matanya. Ia tersenyum, namun tanpa rasa penyesalan apa pun di matanya.
Lagi-lagi dia menghela napas.
Tiba-tiba seorang perempuan tak sengaja menjatuhkan ponselnya tepat di samping Jihan. Wanita itu segera mengambilkannya, tersenyum pada si pemilik ponsel.
“Terima kasih. Maaf saya terlalu bersemangat tadi.”
Jihan tersenyum. Ia mengangguk sopan. Wanita itu pun berlalu, masuk ke dalam toserba. Jihan kembali pada memandang gedung yang menjulang tinggi di depannya. Hingga, perempuan tadi menghampirinya, dan dia tak menyadari.
“Apa kamu tinggal di daerah sini?” Perempuan yang ternyata adalah Alika membuka pembicaraan. Jihan menoleh dan tersenyum, ia menggelengkan kepala pelan.
“Saya lagi nyari tempat tinggal di sini, kebetulan baru di terima kerja di perusahaan makanan, Fresh Food,” jawab Jihan.
“Fresh Food? Serius?” Perusahaan yang tengah berkembang pesat itu memang sangat terkenal di kalangan publik.
“Hebat, kan?” Jihan membanggakan diri. Alika tersenyum manis. Kepolosan Jihan membuatnya lupa bahwa Jihan adalah orang asing baginya.
“Oh, sangat hebat,” puji Alika. Dia tersenyum, saat melihat Jihan begitu bersemangat. “Ah, kebetulan saya tinggal di apartemen itu, kalau butuh bantuan bisa hubungi saya saja.” Alika menawarkan diri. “ Saya juga baru tinggal di wilayah sini.”
Jihan mengangguk cepat. “Oh ya, aku Jihan.” Jihan mengulurkan tangannya.
Alika tersenyum. “Aku Alika.”