Alika berjalan cepat. Hari ini dia sudah sangat terlambat datang ke kantor, pasalnya pagi tadi dia tak mendengar bunyi alarm yang berdering hampir sepuluh kali. Dia mencoba mengatur napasnya yang memburu. Setelah meletakkan tasnya di ruangan, ia segera menuju ruang meeting, karena memang pagi ini dirinya memiliki jadwal meeting bersama para atasan lainnya. Alika menghela napas lega, ketika netranya melihat beberapa orang masuk ke ruangan meeting yang berada di lantai tiga. Dia tidak terlambat, dan masih punya sedikit waktu. Tetapi jantungnya masih berdegup kencang, hasil dirinya berlari tadi. Untung, kaki dengan menggunakan heels setinggi dua belas sentimeter itu sudah terbiasa berlari tanpa takut terjatuh.
“Apa saya terlambat?” tanya Alika pada seorang laki-laki muda yang baru saja akan memasuki ruangan. Dia menoleh, menatap Alika polos, tersenyum dan menggelengkan kepala. Alika kembali mengembuskan napas lega. “Syukurlah,” ujarnya.
Orang yang baru saja dia tanyai adalah Dika seorang manager warehouse, teman seperjuangan Alika, namun hubungannya dengan wanita itu tak terlalu dekat. Karena memang Alika membuat jarak untuk bersosialisasi dengan manusia di sekitarnya.
Wanita itu duduk manis di tempatnya, dia menghela napas berat. Melihat kursi CEO yang masih kosong, membuat hatinya semakin tenang. Namun, tak selang beberapa lama, para petinggi perusahaan memasuki ruangan. Semua peserta rapat pagi itu memberikan salam kepada laki-laki yang berkewarganegaraan Jepang. Meeting di mulai, satu-persatu peserta melaporkan hasil produksi atau keuangan perusahaan. Saat Alika menyampaikan laporannya, si CEO membahas masalah pengembalian produk. Awalnya Alika ragu akan menjawabnya, namun dia dengan tegas memberikan alasan yang sangat masuk akal. Ia juga mengatakan bahwa semuanya sedang dalam proses perbaikan dan baik-baik saja. Membuat CEO percaya dan hanya menganggukkan kepala. Tepat pukul sepuluh, rapat selesai. Alika tak langsung meninggalkan ruangan. Dia menghirup udara pewangi ruangan, memejamkan matanya, dan bersandar pada kursi yang didudukinya.
“Sudah lebih tenang?” Dika bertanya, membuat Alika segera membuka matanya. Ia hanya mendengkus lirih sembari menatap Dika yang akhirnya menghilang dari balik pintu.
Alika melirik jam tangannya, ia teringat akan sesuatu. “Hari ini aku harus menemui karyawan baru,” ujarnya, ia bergegas, merapikan meja, dan meninggalkan ruangan itu. Berjalan menuju ruangannya dengan cepat.
[[]]
Kai hanya bersantai di kursi ruangannya. Hari ini dia tak memiliki jadwal untuk memeriksa pasien, ataupun melakukan terapi. Dia hanya bermain game sesekali tersenyum saat dirinya menang. Namun, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dia terkejut dengan kedatangan ayahnya. Spontan, dia segera berdiri dan sedikit membungkukkan badannya tanda hormat. Laki-laki tua itu kini mengambil sebuah remote TV dan menekan tombol power sehingga TV flat berukuran besar di ruangan Kai telah menyala. Mengganti saluran TV seenaknya, membuat Kai bingung, dia hanya mengerutkan keningnya.
“Apa yang Anda lakukan di ruangan saya?” tanya Kai ketus.
Laki-laki itu hanya berdehem. “Lihat!” Suaranya terdengar berat dan tegas.
Layar monitor TV itu menampilkan sebuah berita dengan judul ‘ Seorang Pasien dengan Gangguan Mental Bunuh Diri’. Kai semakin tak mengerti, dia menatap layar TV itu dan direktur utama rumah sakit itu yang juga merupakan ayahnya. Ia mengulas senyum sinis. Melihat tingkah ayahnya yang menurutnya melakukan hal konyol.
“Apa bagusnya berita itu? Lalu ada masalah saat dia bunuh diri? Itu hak dia,” ujar Kai sangat sinis. Tatapan tajam ayahnya membuat Kai semakin ingin melawannya.
“Dia adalah pasien Rumah Sakit Metropolitan Medical Center,” ujar seorang dalam layar TV yang tengah diwawancarai.
Kai terkejut, ia segera menoleh ke arah layar besar itu. Menunggu ucapan berikutnya yang dilontarkan oleh orang yang kini tengah disorot oleh kamera. “Raka!” Kai tampak mengenalinya.
“Saya adalah kakak dari korban. Dia memang bunuh diri karena over dosis obat yang diberikan dokternya. Adik saya ini sangat berhati-hati dengan kesehatannya, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini dia terlihat murung, sejak pertemuan terakhir bersama dokternya itu.” Raka menjelaskan. “Saya berharap dokter itu diselidiki, kita enggak takut kalau harus menuju ranah hukum.”
Kai terlihat terdiam, ia sama sekali tak menyangka salah satu pasiennya bunuh diri. Ia mengingat bahwa satu minggu yang lalu, dia bertemu dengan pasiennya itu dan mereka baik-baik saja. Lagi-lagi ayahnya berdehem, membuyarkan pikiran Kai.
“Apa dia pasienmu?”
“Oh,” jawab Kai lirih sembari mengangguk ragu.
"Masalah besar!" ujarnya tegas. Laki-laki itu menatap Kai tajam. Menyaksikan respon apa yang akan anaknya berikan.
"Yah, tapi aku tidak melakukan apa-apa, saat dia melakukan konsultasi juga aku berikan solusi yang bagus." Kai beralasan. "Tidak mungkin dia...."
"Keluarlah dari pekerjaanmu! Sebelum polisi datang untuk menyelidiki!"
"Yah, aku jelas enggak bersalah!" Kai mengelak.
"Ruangan ini di kosongkan untuk sementara waktu! Cari dokter pengganti!" perintah sang kepala rumah sakit dengan tegas kepada asisten pribadinya. "Ayah akan mengurus semua untukmu! Jadi kamu hanya perlu diam di rumah!" Pandangannya menatap Kai. Dia meninggalkan ruangan itu tanpa permisi.
"Aish," gerutu Kai kesal. Ia kembali melihat layar televisi yang kini sudah berganti dengan berita lain. Laki-laki itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Aku harus bicara sama Raka," ujar Kai panik. Dia terus menelpon, namun tak ada jawaban. Pria itu menyerah, ia hanya memejamkan matanya, otaknya berjalan seperti mesin dengan kecepatan tinggi.
[[]]
Alika tampak sangat berduka dengan meninggalnya adik dari Raka. Dengan berpakaian serba hitam, terdiam di sudut ruangan yang penuh haru tangis dari keluarga Raka. Laki-laki itu entah di mana keberadaannya. Alika hanya terdiam, banyak tamu yang datang untuk melayat. Sesekali wanita itu mengusap air mata yang sudah terjatuh. Kini netranya melihat keberadaan Raka, turun dari sebuah anak tangga dengan kondisi lemas. Laki-laki itu sangat terpukul, matanya sembap hasil menangis. Alika tak bisa berbuat banyak. Dia hanya menatap iba kekasihnya. Mungkin dia bisa berbicara dan menghibur Raka setelah prosesi pemakaman adiknya selesai.
Tepat pukul dua siang hari, pemakaman selesai dilangsungkan, dilihat dari mobil-mobil yang sudah mengantar jenazah ke TPU kembali ke rumah Raka. Alika hanya bisa menunggu di rumah Raka. Laki-laki itu berjalan ke arahnya, langkah yang sedikit ragu, membuat Alika menyambutnya dengan senyuman. Dia ingin memberikan kekuatan untuk kekasihnya itu.
"Maaf, tidak bisa menemanimu tadi." Suara Raka terdengar lemah. Alika mengerti, dia mengangguk.
"Kita berbicara di taman belakang."
Alika mengikuti langkah Raka menelusuri rumahnya, menuju taman belakang yang memang sepi. Mereka duduk di sebuah kursi panjang. Wanita itu sama sekali tak berani membuka pembicaraan, dia takut perkataannya bukan menghibur, tetapi malah menyakiti Raka. Alika hanya menatap nanar kekasihnya itu. Raka tersenyum tipis.
"Kenapa dia pergi secepat itu?" tanya Raka lirih. Dia mengembuskan napas lirih. Alika jelas mendengarnya. "Dia memiliki gangguan kecemasan. Sudah berobat rutin dan aku pikir itu akan bagus buat kesehatan dia." Alika terkejut mendengarnya.
"Jadi...." Alika mencoba memahami, pertama kalinya wanita itu tahu bahwa Raka memiliki saudara yang memiliki penyakit mental sama seperti dirinya. Seolah mengerti apa yang akan diucapkan Alika, Raka mengangguk.
"Aku yang membujuknya kembali ke sekolah, aku juga yang menyarankan untuk pergi ke dokter psikiater, dan aku juga yang setiap hari menemaninya." Raka berkata datar. "Kenapa dia memilih meninggalkan dunia ini? Apa dia sudah bosan dengan penyakitnya? Aku selalu mendukung dia, apa pun yang akan dia lakukan. Kenapa dia pergi begitu cepat." Raka mencoba tegar.
Alika meraih tangan Raka, ia mengusapnya perlahan, seolah memberi kekuatan.
[[]]
Kai hanya pasrah melihat beberapa orang satpam menyita membereskan barang-barang yang ada di ruangannya. Dalam sekejap karirnya hancur oleh berita yang belum jelas penyelidikannya. Ayahnya masuk, ikut mengawasi.
"Ayah, apa ini adil? Berita itu belum jelas, bunuh diri dia juga bukan karena aku!" Kai membela diri.
"Anggap saja ini liburan buat kamu," ujar laki-laki tua itu ketus.
"Tapi, ini nggak adil!"
"Kamu butuh keadilan? Buktikan kalau kamu nggak salah, tanpa membawa nama rumah sakit ini."
Kai menghela napas kasar. Ia tahu watak ayahnya sangat keras, tegas, dan juga ambisius. Dia menyerah, namun mencari cara untuk kebenaran. Bagai disambar petir di siang bolong, wajahnya tak bisa berbohong, Kai terus menatap meja kerjanya yang sudah kosong, setelah semua orang tadi pergi dia masih berdiri mematung di posisinya. Seseorang mengetuk pintu yang memang sedari tadi terbuka, Kai tak menoleh.
"Dokter," panggil Jay lirih. Kai tak menjawab, namun dia berbalik dan melihat kesal ke arah Jay.
"Saya bukan Dokter kamu lagi!" jawabnya ketus lalu meninggalkan Jay. Perawat itu menghela napas, dia tahu saat ini Kai sangat hancur. Laki-laki itu kemudian mengejar Kai.
Kai meninggalkan rumah sakit sore itu, dia melajukan mobilnya dengan kencang. Jalanan sepi, karena memang bukan jam pulang kantor ataupun sekolah.
"Ah, aku harus menemui Raka sekarang!" Otak Kai menemukan ide. Dia langsung memutar arah kembali mobil yang dikendarainya. Hampir tiga puluh menit, akhirnya dia sampai di pelataran rumah duka. Rumah itu terlihat mewah. Namun, lampu yang meneranginya tak bisa mengubah bahwa mereka sedang berduka. Kai masih berada di dalam mobilnya, dia mengurungkan niatnya untuk turun, karena netranya melihat sekumpulan wartawan tengah berjaga di depan Raka. Beberapa polisi juga berseliweran di rumah itu.
Kai menyandarkan kepalanya pada jok mobil yang didudukinya. Menghela napas dan memejamkan matanya, lalu kembali melihat orang-orang yang tak dikenalnya itu. Kai memutuskan untuk pergi.
Di sudut teras toserba dua puluh empat jam, Kai menyandarkan tubuhnya. Sesekali tangannya meraih minuman kaleng dingin yang dibelinya dan meminumnya. Menghisap rokok yang sudah terapit manis di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
[[]]
Malam itu Alika terlihat, pasalnya panggilan telepon yang sedari tadi sudah tersambung, tak mendapatkan jawaban sama sekali.
"Kamu di mana, Raka?" Wajahnya begitu khawatir, dia lagi-lagi melakukan panggilan telepon lagi. "Apa dia sibuk?"
Alika memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dia mencoba memejamkan matanya, namun sama sekali tak terpejam. Tak lama sebuah notif pesan masuk di ponselnya. Melihat nama Raka, dia langsung tersenyum.
_Besok, temui aku di Kafe Dream, jam empat sore_ Itu adalah pesan dari Raka. Alika segera membalasnya.
_Oke, selamat malam, selamat beristirahat_ Tak lupa ia menambahkan emoticon hati setelah pesannya.
Alika menghela napas lega, ia tersenyum akhirnya bisa mendapat kabar dari Raka. Dia mencoba memejamkan matanya.
"Tolong aku! Tolong aku!" Suara anak kecil penuh dengan darah meminta tolong. Ia menangis di bawah rintikan hujan, tak ada satupun yang menolongnya. "Mama, Papa," ucapnya semakin lirih. Sampai sebuah bunyi sirine ambulan datang.
Alika segera membuka matanya, keringat keluar dari semua penjuru pori-pori kulitnya. Napasnya memburu, dia bermimpi. Mimpi yang setiap hari dia alami dalam tidurnya.
"Tolong aku!" ujarnya lirih. Ia segera bangkit dan mengambil gelas yang berada di meja samping tempat tidurnya, meminum habis air di dalamnya. Menyalakan lampu kamarnya sehingga lebih terang dari sebelumnya. Wanita itu mencoba tenang.
"Enggak apa-apa, enggak apa-apa," ujarnya berkali-kali sembari mengusap kepalanya pelan. Napasnya masih memburu, tetapi dia mencoba tenang.
[[]]
Kai tak melakukan apapun siang ini di rumahnya. Ia hanya berkali-kali mengubah posisi tidurnya. Padahal matahari siang itu sudah hampir di puncak langit, tetapi kamar itu masih terlihat gelap karena gorden yang menutupi jendel-jendelanya masih tertutup rapat.
"Ah, ini rasanya pengangguran?" keluhnya. "Menyenangkan," lanjutnya lagi. Selama ini dia memang bekerja keras demi mendapatkan gelar kedokterannya, mendapatkan pekerjaan yang tak mudah, walaupun masih dalam rumah sakit orang tuannya. Kai akhirnya menyerah, dia bangkit dari tempat tidurnya, dan membuka gorden kamarnya. Sehingga, silau, sinar matahari langsung mengenai tubuhnya.
Kai menghela napas, dia keluar kamarnya, menuju dapur, dan mengambil sebotol air dingin di dalam kulkas. Meminumnya separuh dan kembali meletakkannya. Bingung, itu yang dirasakannya. Dia memilih duduk di sofa panjang dan menyalakan televisi di depannya.
"Ah, Raka! Aku harus kembali menghubunginya." Kai mencari ponselnya. Saat dia ingat, dia menuju kamarnya kembali. Mengambil ponsel yang sudah separuh tertutup oleh bantal. Segera mengambilnya, dan mencari nomor Raka di sana.
Lagi-lagi tak ada jawaban. "Aish," gerutunya kesal. "Kenapa tiba-tiba susah sekali di hubungi!" Kai kesal, ia melempar ponselnya kembali ke sembarang sofa yang didudukinnya.
_____
Alika bingung, kenapa pesannya yang dikirim sejak pagi, tak kunjung dibalas oleh Raka. Ia berkali-kali memeriksa ponselnya, membuat tak fokus pada pekerjaan. Dia menunggu jam pulang. Saat rapat pun wanita itu hanya terdiam. Mencari jawaban kenapa Raka mengabaikannya hari ini.
Alika berjalan lurus menuju ruangannya. Hingga dia tak mendengar ada seseorang memanggilnya.
"Alika!" Suara perempuan itu berasal dari koridor toilet kantor. "Alika!"
Alika tersadar, dia menoleh, mendapati Jihan tengah tersenyum kepadanya. Jihan tersenyum, dia melambaikan tangannya dengan semangat.
"Kamu kerja di sini juga?" tanya Jihan menghampiri Alika. Dia tersenyum sebagai jawaban.
"Kenapa enggak bilang, pas kita ketemu?"
Alika tersenyum. Saat seseorang melewati mereka, orang itu menganggukkan kepala sebagai salam.
"Kamu bagian apa?" tanya Jihan bersemangat.
"Aku? Hmmm...." Belum sempat menjawab, seseorang memanggil Alika.
"Bu Alika, semua berkas sudah ada di meja. Ibu tinggal menandatanganinya." Orang itu kembali melangkahkan kakinya.
"Bos?" tebak Jihan. Alika tersenyum, dia menggeleng.
"Wah." Jihan tak percaya. "Ah, aku harus kembali ke mejaku."
Alika tersenyum dan mengangguk.
[[]]
Sore itu, Alika sudah duduk di depan Raka. Laki-laki itu terlihat hanya terdiam. Membuat Alika bingung. Ia memainkan sedotan pada minumannya, sesekali menyeruput minumannya.
"Kita putus," ujar Raka datar. Alika terkejut, dia menoleh dan bingung.
"Heh."
"Ayo! Kita putus," ulang Raka.