Raka mengulas senyum tipis, dia menunduk. Sedangkan Alika menatapnya serius. Melihat laki-laki itu terlalu santai mengucapkan kata putus. Pikirannya langsung banjir pertanyaan.
"Apa ada masalah?" tanya Alika memberanikan diri.
"Apa harus ada masalah, buat kita putus." Suara Raka terdengar ragu. Alika tak menjawab, ia masih memandang Raka lekat. Namun, laki-laki itu tak berani menatap Alika walau hanya sedetik.
"Aku enggak bisa kalau harus menjalani hubungan jarak jauh." Raka kembali buka suara.
"Jarak jauh?" tanya Alika ragu. Raka mengangguk pelan.
"Aku akan bekerja di luar negeri. Pasti akan sibuk," ujar Raka. Suaranya ragu. Namun dia berusaha menutupinya. "Aku enggak butuh hubungan ini, aku nggak bisa menjalaninya sendiri."
"Raka, tapi...." Ucapan Alika terhenti karena Raka kembali mensela.
"Ka, aku harap kamu menemukan laki-laki yang lebih baik dariku." Raka berdiri. Dia meninggalkan Alika seorang diri. Berjalan menjauh dari wanita yang masih mematung di tempatnya. Raka adalah pengecut yang memutuskan wanitanya tanpa sebab.
Ingin marah, tapi orang yang membuatnya marah sudah hilang dari pandangannya. Alika mencoba tenang, walaupun dia ingin sekali menangis. Ia meninggalkan kafe dengan buru-buru. Tak tahan, dia pun menangis. Duduk pada sebuah taman yang tak jauh dari kafe itu.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya berkali-kali. Dia mengingat akan semua perbuatannya saat masih menjalin hubungan dengan Raka. Hubungan yang masih seumur jagung, harus kandas saat Alika benar-benar tengah mencintai Raka.
"Salahku di mana? Karena LDR? Apa itu menjadi halangan?" Air mata Alika kembali menetes. Dia sudah sangat percaya dengan Raka. Dia juga yakin bahwa cinta Raka tulus. Tetapi ini apa? Tiba-tiba laki-laki itu memutuskannya.
[[]]
Kehidupan Alika kembali berubah, dia lebih tertutup dan lebih menyendiri. Saat Jihan menghampiri pun, dia terlihat menghindar. Membuat Jihan penasaran dan semakin gencar mendekati Alika. Saat malam tiba, Alika duduk terdiam di depan toserba. Menikmati minuman dan mie instan dalam cup di depannya. Ia tak menyadari bahwa Jihan sudah berdiri di depannya sejak tadi.
"Benar-benar diabaikan," ujar Jihan. Alika segera menoleh.
"Oh, ngapain di sini?"
"Kak, dari tadi aku berdiri di sini, dan Kakak enggak sadar? Jahat!" Jihan mengeluhkan. Dia mengambil posisi duduk di depan Alika. Kini dia tahu bahwa wanita di depannya adalah atasannya, memiliki umur dua tahun lebih tua darinya. Itu sebabnya Jihan memanggilnya dengan sebutan kakak.
Alika tersenyum. Namun, arti senyum itu tak berarti, seperti tatapan kosong. Dia kembali menyantap mie itu sampai habis.
"Kenapa akhir-akhir ini Kakak berubah, biasanya selalu senyum sama aku kalau di kantor, sekarang kalo ketemu, pergi gitu aja. Apa aku ada salah?" tanya Jihan penasaran.
Alika lagi-lagi tersenyum, dia menggelengkan kepala pelan. "Enggak," jawabnya singkat.
"Lantas kenapa?" Jihan semakin penasaran.
Alika kembali menggeleng. Dia menatap Jihan nanar.
Fakta bahwa Jihan sudah memiliki tempat tinggal, sebuah kamar kost dua petak yang berada tepat di belakang gedung apartemen yang ditinggali Alika. Dia sering melihat Alika. Tetapi, saat akan mendekat, Alika berjalan lurus begitu saja.
"Kalau Kakak punya masalah, cerita sama aku," ujar Jihan tersenyum. "Aku pun banyak sekali masalah. Tapi hanya aku yang tahu, aku enggak bisa cerita ke siapa-siapa, karena itu memalukan." Jihan tersenyum. Ia mengambil air mineral yang berada di tasnya. Meneguknya hampir setengah botol.
"Sebenarnya, aku tinggal di sini karena seseorang." Jihan mulai bercerita. "Tapi, di sisi lain mengharuskan aku tinggal di rumah." Tampak wajahnya menyesal, dia menghela napas berat.
Alika menatap Jihan penasaran. "Bukan karena dekat tempat kerja?" tanya Alika ragu. Jihan tersenyum, ia menggeleng perlahan.
"Pernah satu kali, aku bekerja di Bogor, tapi harus bolak-balik ke Jakarta. Capek, memakan banyak waktu, dan biaya." Jihan mulai antusias menceritakan masalahnya.
"Kenapa?" Alika tertarik dengan jawaban Jihan.
Jihan tersenyum, ia menatap Alika nanar. "Masalah hidupku sungguh sangat rumit, bahkan aku harus melepaskan kekasihku hanya untuk uang."
"Maksud kamu?" Rasa terkejut membuat Alika mengerutkan keningnya. Berpikir keras.
"Enggak, enggak apa-apa. Kak, apa Kakak mau jadi teman aku? Di luar perusahaan."
Jihan menatap iba Jihan, dia melihat gadis itu sangat tulus. Akhirnya dia setuju dengan permintaan Jihan. Wanita itu tampak senang mendapat jawaban dari Alika.
____
Sudah hampir dua minggu Kai menjadi pengangguran. Dia hanya berdiam diri di rumah, tentu saja atas perintah ayahnya. Pemberitaan di luar sana tentang rumah sakit dan dirinya masih bersitegang, wartawan terus mengulik tentang berita bunuh diri itu. Terlebih, dengan tiba-tiba Raka tak bisa dihubungi, dia menghilang dari peredaran. Jay yang selama ini bolak-balik menjenguk Kai di apartemen, entah itu mengibur, membawakan makanan, atau sekedar memberikan informasi rumah sakit.
Aktifitas Kai hanya mondar-mandir kamar, kamar mandi, dan dapur. Dia sama sekali tak menyalakan televisi. Sudah dipastikan beritanya adalah menyangkut dia dan rumah sakit. Kai menghela napas berat. Tak b*******h hidup. Ayahnya pun tak menjawab panggilan darinya. Bagaimana bisa pekerjaannya hilang begitu saja.
"Tau kayak gini, aku berlibur kemarin," keluhnya. Melempar ponsel ke tempat tidur yang berada di sampingnya. Namun, pilihan berlibur menurutnya tak etis. Dia lagi-lagi menghela napas berat.
Bel apartemennya berbunyi. Kai menghela napas, ia tahu siapa yang datang. Dengan segera dia membuka pintunya.
"Lama banget...." Ucapannya terhenti ketika dia melihat sosok yang sangat dibencinya. Wijaya, ayah sekaligus pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Tanpa dipersilakan masuk, laki-laki paruh baya itu sudah berada di dalam apartemen Kai. Matanya menelusur di ruangan bernuansa biru muda itu.
Keduanya duduk di sofa yang berbeda. Walaupun terlihat sangat jelas bahwa Kai tak suka dengan kedatangan ayahnya. Wijaya berdehem, ia memulai pembicaraan.
"Bagaimana? Enak jadi pengangguran?" tanyanya tegas. Kai tersenyum sinis. Ayahnya memang tak pernah setuju dengan apa yang sekarang jadi profesinya. Dulu, Wijaya, meminta Kai menjadi dokter bedah seperti dirinya, belajar bisnis agar meneruskan posisi dirinya. Tetapi, Kai sangat menginginkan menjadi seorang psikiater yang akhirnya terkabul dengan usahanya sendiri.
"Ada apa ke sini?" ujarnya tanpa basa-basi. Wijaya mengambil sebuah kertas di dalam saku jasnya. Melemparkannya tepat di depan Kai.
"Pergilah! Akan aku urus semua masalah di sini," ujar Wijaya tegas. Kai melihat sebuah tiket pesawat terbang. Dia mengambilnya ragu.
"Kalimantan?" Dia melihat tempat pada tiket itu. Ia mengerutkan keningnya bingung.
"Iya, di sana kamu akan tinggal bersama teman Ayah, hanya sampai masalah ini selesai." Kai tersenyum tipis.
"Ayah menyingkirkanku? Seperti menyingkirkan Kak Kian."
Wijaya menatap tajam Kai. "Itu pilihan dia sendiri!" bantah Wijaya tegas.
"Tapi dengan paksaan dari Ayah!" Kai segera membantah.
Wijaya kembali berdehem. Laki-laki itu memalingkan wajahnya. Dia adalah orang yang keras, tak mau disalahkan atas apa yang diperbuatnya.
"Oke, kalau itu memang mau Ayah." Kai mengambil tiket itu. "Tapi, aku bisa kembali kapanpun, jika aku mau!"
"Enggak! Kalau Ayah udah kasih perintah kamu kembali, kamu bisa balik. Tapi, kalau Ayah belum memerintah, jangan pernah muncul di depan Ayah!" Wijaya tegas memperingatkan Kai.
Laki-laki berparas tampan itu terlihat kesal. Dia hanya mengembuskan napas berat dan sangat sebal.
[[]]
Alika terlihat sangat fokus pada layar komputer di depannya. Entah apa yang sedang ia kerjakan, hingga saat seseorang mengetuk pintu ruangannya, dia tak merespon. Ketukan yang ketiga akhirnya Alika tersadar.
"Masuk!" perintahnya. Seseorang masuk dengan beberapa tempat file di tangannya.
"Sibuk banget?" Dika muncul dengan mengembangkan senyumnya. Alika menggeleng. Dia menatap Dika nanar.
"Lagi ngecek laporan bulan kemarin, ternyata banyak banget problem di produksi." Mata Alika kembali pada layar laptop.
"Oh ya, nanti malam ada acara makan malam sama bos-bos. Bisa hadir?" tanya Dika. Alika menggeleng cepat.
"Absen lagi? Alasan apalagi?" Alika memang tak pernah hadir pada acara makan malam kantor. Baginya itu hanya membuang waktu dan tenaga.
"Sudah ada janji," jawab Alika pasti.
Dika menggeleng tak percaya. Dia mengambil posisi duduk di depan Alika. Menatap teman sejawatnya nanar. "Kita itu teman, tetapi enggak pernah dekat. Bahkan enggak tahu masalah masing-masing."
"Temen itu bukan berarti harus tahu semua tentang kita." Jawaban Alika membuat Dika tersenyum.
"Tapi kita terlalu jauh, bahkan kamu enggak simpan nomer aku."
Alika tersenyum. "Sok tahu, siapa bilang. Kamu dulu yang selalu spam pesan ke aku. Aku simpan biar inget siapa yang kirim."
Dika terbahak. Hanya dia yang berani mengajak bicara Alika yang jutek. Di kantor, tak ada satupun yang tahu penyakit yang diderita Alika.
"Keadaan kamu baik-baik saja, kan?" tanya Dika tiba-tiba. Alika mengerutkan keningnya.
"Tiba-tiba nanya kayak gitu? Kenapa?" selidik Alika.
"Aku khawatir."
Alika tersenyum tipis. Dia menggelengkan kepala. "Aku baik," ujarnya singkat.
"Oke, kapan-kapan kita harus jalan berdua," ujar Dika.
"Yang ada pacar kamu itu cemburu berat, nanti aku yang dilabrak." Dika kembali terbahak. Dia pun pamit untuk pergi. Setelah menutup pintu Alika, Dika memejamkan matanya sebentar. Dia mengingat saat kejadian malam itu.
Kejadian di mana tak ada satu orang pun yang menolong Alika dari si pemabuk. Dika tak bisa berbuat banyak, karena memang dia tak pandai berkelahi, dan tidak memiliki keberanian. Saat kedatangan laki-laki itu ke tempat kejadian, tak lama Kai datang menolong Alika. Membuat Dika lega, dan melangkah mundur.
Dika kini benar-benar meninggalkan ruangan Alika. Ia kembali berkutat pada pekerjaannya.
[[]]
Kai tengah memasukkan barang bawaannya ke dalam koper, Jay yang menyaksikan sedari tadi ribut mencari cara agar Kai gagal untuk pergi.
"Kamu enggak akan pernah bisa melawan Ayahku," ujar Kai terus terang. "Ternyata nasibku sama dengan Kak Kian. Menyedihkan." Kai tersenyum tipis, dia kembali memasukkan bajunya ke dalam koper.
"Ah iya, Kakak Dokter, apa dia benar-benar tidak pulang ke rumah?" Kai mengangguk sebagai jawaban.
"Dia memilih menjadi sukarelawan di daerah perbatasan peperangan. Awalnya dia orang yang paling takut mati. Inget banget, dulu sebelum dia berangkat, dia menangis semalaman. Bagaimana bisa seorang laki-laki dewasa menangis," ujar Kai.
"Kenapa Ayah Dokter mengirim dia ke sana?"
"Dulu rumah sakit tak begitu besar, Ayah melakukan segala cara agar bisa menjadi besar, termasuk bekerja sama dengan petinggi negara untuk mengirim dokter-dokternya ke daerah peperangan itu."
"Heh!"
Kai mengangguk. "Kakakku membangkang, dia tak mengikuti aturan Ayah. Dia orang yang bebas, dia tak pernah mengikuti aturan rumah sakit. Tetapi, dia sangat pintar. Namun, itu membuat Ayahku takut dan akhirnya menyingkirkan dia."
Jay menghela napas. Dia menatap Kai iba. Laki-laki itu sudah kehilangan semangatnya lagi.
"Ah, kalau kali ini Dokter juga tak dikirim ke negara peperangan. Ini hanya kota terpencil, satu bulan, dua bulan, Dokter pasti akan kembali. Semangat!" Jay menyemangati. Kai tersenyum tipis. Setelah selesai memasukkan barang-barangnya, Jay mengajak Kai untuk makan di luar. Namun, jelas pria tampan itu menolak.
"Gila kamu, kalo Ayah tau aku keluyuran, bisa-bisa aku nggak akan balik lagi ke Jakarta."
"Oke, aku keluar dulu, beli makanan."
Kai mengangguk. Jay berlalu dari pandangan Kai. Keluar apartemen dengan siulan lagu anak-anak. Tak sengaja saat Jay keluar, Alika juga keluar.
"Permisi," ujar Alika ragu. Jay mengurungkan niat untuk melangkah.
"Apa pemilik apartemen ini sudah berganti?" Suara Alika semakin ragu.
Jay mengerutkan keningnya. "Ah, tidak. Aku hanya sedang bermain di sini." Jay tersenyum. "Kenapa? Anda mengenalnya?"
Alika tersenyum tipis, dia menggelengkan kepala. "Tidak, kita belum pernah bertemu."
"Ah," ujar Jay mengangguk. "Saya duluan," ujar Jay lalu pergi lebih dulu dari Alika.
Hampir satu jam Jay meninggalkan Kai. Dia kembali dengan beberapa kantong plastik berisikan makanan. Kai langsung bersemangat melihat Jay datang. Dia segera mengambil makanan itu dan menyantapnya.
____
Bandara siang itu begitu ramai. Kai menyeret kopernya, Jay hari itu mengantarnya. Keberangkatannya memang tak diketahui wartawan. Padahal setiap hari rumah sakit selalu didatangi wartawan, entah untuk mencari informasi ataupun menemui Kai. Laki-laki itu terlihat tampan, mengenakan jeans dan kaos oblong berwarna hitam. Kacamata ia pakai untuk menutupi identitasnya, juga menggunakan masker agar orang tak mengenalinya.
"Berasa jalan sama artis," ujar Jay.
"Aish, kenapa aku seperti ini?"
"Anggap aja ini liburan," ujar Jay meledek.
Netra Kai tiba-tiba melihat sosok Raka yang tengah berjalan dengan santainya. Matanya membulat, ia langsung memberikan kopernya pada Jay, dan mengejar Raka.