7. Masa Pengasingan Kai

2093 Kata
"Apa ada masalah?" ujar Jay setelah berhasil mengejar Kai. Kai terlihat sangat frustasi, dia mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Kamu tadi juga liat, kan? Raka," ujarnya. "Raka? Siapa?" Jay mengerutkan kening. "Ah, Kakaknya Diandra?" Kai mengangguk, matanya masih mencari keberadaan Raka yang hilang di tengah kerumunan orang. Kai menghela napas. "Ternyata kamu masih di Jakarta," ujarnya lirih. Kai berangkat tepat pukul dua siang, dengan menggunakan pesawat kelas bisnis. Ayahnya benar-benar menyingkirkan dirinya sekarang. Dia teringat ucapan ayahnya, saat kemarin. "Kamu pilih, ke kota itu, atau ke luar negeri, dan jangan kembali lagi!" "Ayah!" tolak Kai. "Kenapa selalu seperti ini? Apa Ayah tidak membutuhkan anak? Aku, Kak Kian, menderita karena Ayah!" ujar Kai tegas. "Ini demi kebaikan kamu!" bentak Wijaya tegas. "Kamu mau di penjara? Kamu mau menghancurkan rumah sakit yang sudah Ayah bangun sejak dulu?" "Lantas Kak Kian, apa alasan dia di singkirkan?" "Kai!" Wijaya tak terima ucapan anaknya. "Itu demi kebaikan dia!" "Kebaikan?" Kai tersenyum sinis. "Di sana adalah daerah berbahaya. Kakak bisa aja mati kalau dia nggak berhati-hati." Wijaya terdiam. Kai meninggalkan ruangan kerja ayahnya. Membuka pintu dan mendapati ibunya sudah menangis mendengarkan pembicaraan anak dan ayah itu. "Aish," gerutu Kai. Dia segera meninggalkan rumahnya. Hubungan dengan orang tuanya terbilang tak cukup baik. Bahkan dia dan ibunya jarang berkomunikasi karena memang wanita itu sibuk dengan karirnya. Kai tidak mendapatkan kasih sayang sejak dulu. Dia hanya boneka orang tuanya yang harus tersenyum saat acara-acara besar di depan publik. ___ Karena Kai sampai pada Bandara yang terletak di kota Kalimantan Selatan pada pukul delapan malam, maka ia disarankan menginap di sana. Hotel juga sudah dipersiapkan ayahnya. Wijaya mengatakan bahwa esok hari akan ada orang yang menjemputnya. Kai tertidur pulas malam itu. Tanpa mengganti pakaian. Dia hanya menikmati kasur setelah tujuh jam perjalanan. Bahkan saat service room hotel mengetuk pintu kamar Kai, dia tak menjawab sama sekali. Sinar matahari sudah mulai muncul. Kai terbangun ketika ponselnya berdering. Ia terpaksa membuka matanya dan mencari barang pribadi miliknya itu. Melihat siapa penelepon yang mengganggunya pagi ini. Sebuah nomor tertera yang menghubunginya pagi ini. Dia menyeret tombol hijau untuk menjawabnya. "Siapa?" tanyanya singkat. "Selamat pagi, Pak Kai. Saya Heru, saya diperintahkan Pak Kades untuk menjemput Bapak. Dari Desa Siayuh, Pak." Heru menjelaskan. "Kebetulan saya sudah sampai di depan hotel," ujarnya lagi. "Oh, Saya mandi dulu ya, Pak," jawab Kai sekenanya. Suaranya pun masih serak khas orang bangun tidur. "Baik, Pak." Setelah telepon terputus, Kai bergegas untuk mandi. Hampir dua puluh lima menit Kai bersiap-siap, akhirnya dia bertemu dengan Heru di lobi utama hotel. Kai diantar dengan menggunakan sebuah mobil bak. "Ini perjalanan lumayan jauh ya, Pak." Heru membuka suara saat sudah men-stater mobilnya. Kai mengangguk. Matanya terlalu sibuk melihat pemandangan asing yang baru dilihatnya hari itu. "Dan di sana tidak ada sinyal, mumpung di kota. Barang kali Bapak mau menghubungi keluarga, silakan." Kai tersenyum tipis. "Keluarga?" Dia tersenyum lagi. "Oh ya, Pak. Panggil saya Kai aja." Kai berucap. "Waduh, kata Pak Kades, Bapak ini orang penting , lho!" jawab Heru sopan. Kai tersenyum. "Tidak sepenting itu," ujarnya. [[]] Alika tengah berbincang bersama Jihan di sebuah kafe. Jihan berjanji akan mentraktir makan hari itu. Alika pun setuju. Wanita di depannya terus berbicara, membuat Alika tersenyum. Dia seolah sudah sangat dekat dengan Alika. Cara berbicaranya yang menyenangkan membuat Alika senang melihat Jihan. "Kak, sepertinya Pak Dika menyukaimu," ujar Jihan tiba-tiba. Alika mengerutkan kening. Dia menatap Jihan lalu tersenyum. "Kita hanya teman," ujar Alika. Jihan menggelengkan kepala cepat. Sebelum berbicara, dia kembali menyeruput minuman di depannya. "Serius! Aku bisa melihat dari sorot matanya," lanjut Jihan masih pada pemikirannya. Kini Alika tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. "Kita masuk perusahaan di hari, bulan, tanggal, dan tahun yang sama. Itu sebabnya hanya dia yang berani sama aku seperti itu." Alika menjelaskan. "Lagipula dia sudah punya pacar." Jihan menghela napas. "Aku pikir dia masih jomlo," ujarnya kecewa. Alika tersenyum, ia berniat kembali meledek Jihan. "Kayaknya kamu yang suka sama dia," ujar Alika. Sempurna, Jihan langsung membulatkan kedua bola matanya. "Enggak!" jawabnya tegas. "Bahkan aku baru putus cinta, enggak mau nyari cinta lagi." Jihan memakan kue dengan garpu kecil di tangannya. "Kenapa?" Jihan tersenyum dia menggeleng cepat. "Tidak, Kakak tahu? Setelah aku putus dengan pacarku, aku posting fotoku bersama pria lain." "Serius?" Jihan mengangguk cepat. "Bukannya kalau seperti itu nanti kamu dikira selingkuh?" "Lebih baik seperti itu," ujar Jihan. Mereka berbincang hingga langit berubah menjadi gelap. Keduanya berjalan menuju tempat tinggalnya. "Kak, apa Kakak pernah berpacaran?" Alika menghentikan langkahnya. Jihan tersenyum dan menggandeng tangan Alika. "Enggak, aku terus yang cerita, sedangkan Kakak, enggak pernah sama sekali cerita." Alika tersenyum. "Pernah," jawab Alika singkat. "Serius?" Alika mengangguk meyakinkan Jihan. "Lantas? Putus?" Alika tersenyum, dia kembali mengangguk. Jihan menghela napas. "Nasib kita sama," ujar Jihan. Mereka menikmati udara malam yang segar di sebuah taman. Sebenarnya Alika tak menyukai tempat itu. Namun,dia tahan karena takut Jihan mengetahui penyakitnya. Dia sering merasa resah di depan kerumunan. "Lebih baik kita pulang," ujar Alika. "Kenapa?" tanya Jihan polos. "Aku lelah," ujar Alika beralasan. "Ah, oke." ____ Alika menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menghela napas, menatap langit-langit kamarnya. Tersenyum ketika mengingat Jihan berbicara sangat banyak. Pertama kalinya ada orang yang mengajaknya berbicara seperti itu. Dulu, saat masih mengenyam pendidikan, dia tak dekat dengan siapa pun. Bahkan ketika di bangku kuliah Raka yang selalu mendekatinya menyerah karena Alika sangat cuek. Tak ada teman perempuan yang dekat dengannya. Interaksinya sekedar menanyakan tugas atau masalah pelajaran. Jihan sering menyendiri. Alika menghela napas lirih. Kemudian bersiap untuk membersihkan diri. Menuju kamar mandi dengan malas. Namun, belum sampai kamar mandi di kamarnya, ponselnya bergetar. Sebuah notif pesan masuk di ponselnya. Alika mengurungkan niat untuk ke kamar mandi. Dia kembali ke tepi ranjang dan meraih ponselnya. _Maaf_ Hanya kata itu yang tertulis di pesan singkat. Alika mengerutkan keningnya. Dia berpikir siapa yang mengirim pesan itu untuknya. Meneliti setiap digit nomor yang tertera di sana. "Siapa?" tanya Alika penasaran. Dia menghela napas, menggelengkan kepala, dan kembali meletakkan ponselnya. Bergegas ke kamar mandi sebelum malam semakin dingin. [[]] Kai benar-benar terkejut dengan tempat tinggal yang dihuninya sekarang. Tanpa pendingin ruangan, tanpa lemari es, dan tanpa furnitur mewah. Kai menatap langit-langit kamarnya yang langsung melihat pemandangan genteng. Kamar sempit dengan tempat tidur nomor tiga, membuat Kai seakan sulit untuk bernapas. Listriknya pun masih menggunakan bohlam berwarna kuning. Dia menatap layar ponselnya, hanya mendapati sinyal dengan tanda silang. "Benar-benar aku dibuang," ujarnya lalu tersenyum. Ia meletakkan ponsel di tangannya dan menghela napas lega. "Aku pasti bisa," ujarnya. Dengan sekejap Kai tertidur pulas, mungkin karena terlalu lelah setelah melewati jalanan setapak pada perbukitan. ___ Sinar matahari terbit begitu cepat. Kai membuka matanya perlahan. Dia membuka jendela kamarnya, pemandangan alam yang menjadi santapannya pagi ini. Dia menghirup udara segar. Belum sempat menikmatinya lama, seseorang mengetuk pintu rumah tiga perak itu. Kai segera ke luar. Membuka pintu dan mendapati laki-laki paruh baya dengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya. "Selamat pagi, Pak Dokter," sapa laki-laki yang mengenakan baju batik itu. Kai tersenyum. "Saya kepala desa di sini. Saya Kenedi, dan ini Jeremi." Kenedi memperkenalkan. "Oh, silakan masuk, Pak." Kai mempersilakan masuk. Kedua tamunya masuk duduk di bangku kayu yang sudah sedikit tua. "Hari ini kemungkinan Pak Alberto pulang dari Kota Baru," jelas Kenedi. "Beliau sedang mengadakan seminar selama satu minggu." "Ah," jawab Kai mengerti. Dia mengenal Alberto yang merupakan sahabat ayahnya. "Nanti Jeremi yang akan mengantar Dokter keliling desa ini. Dia juga yang akan menemani Dokter selama di sini." Kai tersenyum, dia mengangguk. "Ya sudah, saya pamit. Mau ke kantor dulu, sebentar lagi akan ada yang mengantarkan makanan ke sini." "Iya, Pak." Kai mengerti. "Saya juga pamit dulu, Pak. Nanti saya ke sini lagi." Jeremi juga berpamitan. Setelah kedua tamunya pulang, baru saja Kai kembali menutup pintunya. Seseorang kembali mengetuk pintu. Kai mengurungkan niat untuk ke kamar. Dia kembali membuka pintu dan mendapati wanita sekitar berumur empat puluh sembilan tahun berdiri dengan sebuah rantang yang tersusun rapi. "Pak Dokter, saya Jumirah. Saya yang dimandatkan untuk memasakkan makanan untuk Bapak." Kai tersenyum. Dia mengangguk, menerima uluran tangan Jumirah dan mengucapkan terima kasih. Setelah Jumirah pergi, Kai kembali menutup pintunya. Dia meletakkan rantang itu di meja, tidak langsung menyantapnya melainkan memilih untuk pergi mandi. Setelah selesai, Kai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mengenakan baju santai dan duduk di ruang tamu, membuka satu persatu rantang yang masih tersusun rapi. Ada nasi, telur rebus, sayur singkong, dan singkong yang sudah digoreng. Kai terdiam. "Wah," ucapnya tak percaya. "Apa ini?" Makanannya berbanding terbalik dengan makanan kota. Yang biasa Kai memakan makanan enak, kini dia hanya mendapat makanan desa serba hasil hutan. Tetapi, karena Kai sudah terlalu lapar, dia pun menyantapnya. [[]] Nomor yang tadi pagi kembali menghubungi Alika. Kini saat Alika fokus pada layar komputer di kantor, ponselnya berdering. Dia mengalihkan pandangan, meraih ponsel berwarna hitam itu dan kembali melihat nomor yang muncul. Karena rasa penasaran, dia mengangkatnya. "Halo," jawabnya segera. "Maaf." Suara itu terdengar sangat familiar di telinga Alika. Alika mengerutkan kening, kembali melihat nomor yang menghubunginya. "Siapa?" tanya Alika pada akhirnya. "Ini aku, Raka." Alika terkejut, dia membulatkan matanya. "Maaf," ujarnya lagi. Bagaimana bisa Raka kembali menghubunginya setelah belum ada satu bulan mereka putus. "Aku, tak sempat meminta maaf. Saat itu...." Telepon terputus, dengan sengaja Alika mematikannya. Napas Alika memburu, dia tak percaya Raka menghubunginya lagi. Belum sempat napasnya normal, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Alika mencoba biasa. Dika muncul dari balik pintu. Tersenyum pada Alika. Alika membalas senyuman itu dengan kaku. Namun, Dika seperti melihat wajah yang tak biasa dari Alika, dia pun bertanya. "Apa ada masalah?" Dika sudah sempurna muncul di depan Alika. "Tidak," jawab Alika. "Hari ini ada rapat jam sepuluh. Ayo! Sebentar lagi," ujar Dika menunjuk jam tangannya. Alika mengangguk segera. ____ Rapat dimulai, Alika duduk berdampingan dengan Dika. Menyimak saat atasannya memberikan sambutan. Rapat hari ini terbilang santai, bukan masalah pekerjaan. "Oke, akhir tahun ini perusahaan akan mengadakan bakti sosial ke kota-kota terpencil. Ada dua kota yang akan kita datangi, yang pertama daerah Kalimantan Selatan, dan kedua Jawa Timur," jelas laki-laki yang mengenakan kacamata. "Heh! Kalimantan? Jawa Timur?" bisik Dika pada Alika. "Kita isi liburan akhir tahun ini dengan kegiatan yang bermanfaat ya. Nanti di antar kalian akan menjadi penanggung jawab, dan dari bagian lain juga akan ikut serta. Sekitar sepuluh orang per kelompok." Alika memilih menunduk. Dia sama sekali tak tertarik dengan itu. Begitu juga Dika, dia memilih pura-pura sibuk dengan pena di tangannya. "Saya minta, Pak Gio dan Bu Laisa ke Jawa Timur, kalian sebagai penanggung jawab," perintah Gerald yang merupakan direktur utama Fresh Food. "Tapi, Pak. Tiba-tiba saja?" Laisa seolah ingin menolak, namun ragu. Gerald mengangguk pasti. "Kalo saya sih, free Pak. Bu Laisa kan masih punya anak kecil. Masa mau ditinggal." Gio memberi saran. Gerald terlihat mengangguk-angguk. "Kalau begitu, Diandra, bisa?" tunjuk Gerald lagi. "Hah." Diandra terkejut. Dia menunjuk dirinya sendiri. "Saya?" "Cocok tuh, Pak. Sama-sama single," celetuk Gio. Orang yang berada di sana langsung tertawa. Alika dan Dika sangat kentara dalam pemilihan itu. Mereka tak merespon apapun yang dikatakan Gerald. "Oke. Dan untuk yang di Kalimantan, Saya minta Alika dan Dika sebagai penanggung jawab." Alika mengembuskan napas, sedangkan Dika pasrah. "Saya, Pak?" tanya Alika tak percaya. Gerald mengangguk sebagai jawaban. "Buat pengalaman, jangan Jakarta terus yang dikelilingi." Gerald mencoba bercanda. Dika ingin menolak, namun tak memiliki keberanian. Sampai akhirnya rapat ditutup. Kedua manusia itu terlihat sangat lesu. Dika begitu saja mengikuti Alika ke ruangannya. "Ngapain ke sini?" tanya Alika bingung. "Bodo, jauh banget! Mending Jogja bisa jalan-jalan. Ini Kalimantan! Mana ada sinyal di sana." Dika memprotes. Alika tersenyum. "Kenapa nggak protes tadi?" "Aish," gerutu Dika. Dia melempar tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan Alika. "Udah sih, itung-itung liburan." Alika menenangkan. "Masalahnya, agenda akhir tahunku padat!" "Sok sibuk." [[]] Alika mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Walaupun keberangkatannya terhitung tiga hari lagi. Namun, dia mempersiapkan semuanya. Yang lebih ramai saat Widia tau, keponakannya akan pergi jauh. Dia sampai membawakan semua obat-obatan lengkap. Membawa baju musim dingin, dan membawakan Alika berbagai makanan ringan. Alika hanya mengalah, dia memasukkan semua barang yang diberikan oleh Widia. "Semuanya udah beres." Alika lantas menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menghela napas. "Tugas yang berat," ujarnya. Tangannya meraih ponsel miliknya. Ada banyak sekali pesan masuk dari nomor yang akhir-akhir ini menghubunginya. _Maaf, aku benar-benar minta maaf_ _Ternyata kamu memang yang terbaik buat aku_ _Waktu itu aku kalut dalam emosi, aku kehilangan adikku, dan tak bisa mengontrol perasaanku_ _Maafkan aku sekali lagi, kita mulai dari awal_ Itu adalah pesan-pesan yang dikirim Raka untuk Alika. Wanita itu hanya mengerutkan kening tak mengerti. "Bagaimana bisa dengan mudahnya dia minta maaf, setelah melukai hati ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN