8. Beradaptasi

2008 Kata
Keberangkatan Alika akhirnya terlaksana. Dia menuju bandara dengan Dika, mereka akan bertemu rombongan lain si sana. Walaupun dia masih trauma dengan sebuah mobil pribadi. Namun, Dika mengerti, dia meyakinkan Alika bahwa tak akan terjadi apa-apa. Terpaksa Alika menurut,karena tidak mungkin dia menggunakan bus umum untuk sampai di bandara. Sedikit demi sedikit juga Dika mengetahui penyakit Alika. Di bandara sudah terlihat beberapa orang telah berkumpul. Barang yang akan disosialisasikan akan diberangkatkan dengan menggunakan pesawat milik TNI-AU secara terpisah. Setelah memeriksa semua semua anggotanya, Alika dan Dika bersiap untuk menuju pengecekan penumpang. Dika terus berjalan bersama Alika. Dia tau Alika terlihat gugup. Karena ini pertama kalinya perempuan itu akan pergi jauh. "Jangan gugup di pesawat nanti." Dika memberi saran. Alika menoleh saat sudah berjalan lebih dulu. Dia mengangguk mengerti. "Bukankah kamu yang gugup, karena pacar kamu enggak ikut?" ledek Alika datar. Dika terkekeh. Dia melihat perempuan di depannya hanya dengan senyum. Keberangkatan mereka adalah pukul sembilan pagi, sampai pada tempat tujuan adalah pukul tujuh malam. Mereka melakukan perjalanan panjang. Saat sampai di sana nanti, akan ada mobil pick up yang akan menjemput mereka di bandara. Maklumlah, karena akses kendaraan di sana sangat terbatas. Di sana ada dua rumah yang akan mereka huni, khusus untuk laki-laki dan perempuan. Rumah itu memang dikhususkan untuk para pendatang selain dari desa tersebut. Karena kampung mereka dikelilingi oleh hutan dan perbukitan, sudah dipastikan pada malam hari mereka hanya mendengar lolongan anjing dan serigala dari hutan. _____ Kai terlihat duduk santai di teras rumahnya. Dia melihat rumah di sekitarnya terang, tidak seperti malam-malam kemarin yang gelap gulita. Dia juga melihat ada benda-benda asing yang tergeletak di teras rumah. Saat Jeremi datang, Kai mempersilakan duduk. "Sudah ada penghuninya? Atau ada tamu dari luar lagi?" tanya Kai penasaran. Malam ini Jeremi memang akan menginap di tempat Kai. Hubungannya dengan Kai sudah mulai dekat, karena Jeremi orang yang supel dan baik hati. Membuat Kai tak merasa canggung di dekatnya. Dia juga setiap hari menemani Kai berkeliling desa itu. "Oh, itu mereka dari Jakarta juga, Dok," jelas Jeremi. "Relawan di sini," lanjutnya. "Jakarta?" tanya Kai sedikit terkejut. Jeremi mengangguk segera. "Mereka sukarelawan, dari perusahaan gitu. Sekitar sepuluh hari mereka akan di sini, membantu warga dalam pekerjaan, memberikan bahan pokok makanan. Dua hari lagi juga barang sembako yang mereka bawa sampai di sini." Jeremi menjelaskan. Dia tampak antusias dengan kedatangan sukarelawan ke desanya. Kai mengangguk. "Sering ada seperti itu?" tanyanya penasaran lagi. "Banyak sukarelawan yang datang ke sini?" "Hmm, sudah kedua kalinya, dan dari perusahaan yang berbeda." Jeremi tersenyum. "Oh ya, memangnya di Jakarta itu banyak perusahaan besar?" tanya Jeremi yang kini balik penasaran. "Iya, hampir setiap sudut ada gedung-gedung pencakar langit, dan gedung yang besar. Tapi, kebanyakan para investor asing yang malah jadi bosnya," ujar Kai. "Dan banyak juga perusahaan swasta miliki orang lokal," jawabnya. "Ah," jawab Jeremi mengangguk mengerti. "Sudah malam, Dok. Sudah hampir pukul dua belas. Dokter istirahat saja. Besok sepertinya akan ada pemeriksaan gratis di rumah Pak RT. Sudah pasti Dokter akan membantu," ujar Jeremi." Kai mengangguk. "Biar saya berjaga di sini," ucap Jeremi sopan. "Enggak, enggak, kamu juga harus istirahat. Besok pasti kamu bakalan capek," ujar Kai. Jeremi tersenyum lalu mengangguk pelan. Kai sangat baik di mata dirinya. Kai pun masuk diikuti oleh Jeremi. Jeremi tidur beralaskan tikar di samping ranjang Kai. Ruangan sempit tanpa pendingin ruangan terasa sudah sangat dingin sampai ke tulang. Malam itu Kai benar-benar tak bisa tertidur, dia hanya menatap langit-langit kamarnya yang terlalu rendah. Membiarkan jendela terbuka sedikit, membuat suhu ruangan itu semakin dingin. "Apa sudah tidur?" tanya Kai. Jeremi yang juga belum terlelap menanggapinya. Dia mengubah posisinya menghadap Kai. "Belum, Dok. Apa Dokter butuh sesuatu?" tanya Jeremi sigap. "Tidak," jawab Kai tersenyum. "Apa kamu masih memiliki orang tua?" Pertanyaan Kai membuat Jeremi sedikit terkejut. Jeremi mengubah posisi tidurnya. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Kai. Dia mengangguk walaupun Kai tak melihatnya. "Bapak saya kerja di kota dan Ibu bekerja di ladang," jelas Jeremi. "Saya memiliki adik, tapi lebih memilih tinggal di kota bersama Bapak. Karena Ibu tidak ada yang jaga, maka saya yang menjaga dia." Jeremi menjelaskan dengan polosnya. "Kenapa tidak kamu saja yang pergi ke kota? Dan bekerja di sana," ujar Kai. Jeremi menggelengkan kepala pelan. "Ibu saya sering sakit. Adik saya masih egois sama dirinya sendiri. Nggak mungkin biarkan dia menjaga Ibu, sedangkan Ibu harus butuh perawatan, nyari obat-obatan herbal dari alam adalah keahlian saya. Maka dari itu, Bapak meminta saya tetap di sini bersama Ibu." Kai mengangguk. "Tapi hubungan kalian baik?" Bukan ingin mencari tahu, hanya saja cerita Jeremi mungkin akan menarik hati dan menjadi perbandingan dengan hidupnya. Jeremi mengangguk. "Tentu saja, Bapak terkadang pulang dua bulan sekali. Karena memang akses kendaraan di sini susah. Pekerjaan di kota juga banyak. Jadi, dia enggak setiap minggu atau bulan pasti pulang. Biasanya kalau beliau tidak pulang, Bapak akan mengirim surat." Kai tersenyum. Dia menatap Jeremi. "Kenapa kamu belum menikah?" tanya Kai lagi. Jeremi tersenyum. "Dokter sendiri? Kenapa belum menikah? Umur kita sama, hanya beda beberapa bulan saja." Jeremi bermaksud meledek. Kai tersenyum lagi-lagi. "Menikah itu buat aku terlalu jauh. Bahkan aku baru saja dipecat, mau dikasih makan apa Istriku nanti." "Dokter orang kaya," ujar Jeremi, dia mengubah posisinya, menggunakan tangannya sebagai bantalan kepala. "Oh, sejak aku kecil, semua fasilitas dari Ayah membuatku lupa untuk bersyukur. Menghamburkan uang, membangkang, bahkan aku menuntut untuk membeli rumah karena aku nggak mau tinggal sama mereka," ujar Kai. "Aku berpisah dari Kakakku, berhubungan lewat telepon juga jarang karena dia sangat sibuk." "Kenapa bisa?" Jeremi terkejut. Kai mengangguk pelan. "Kita bernasib sama. Sama-sama dibuang sama Ayah." "Mana ada orang tua tega membuang anaknya sendiri." Kai tersenyum. "Sudahlah, sudah larut, kamu silakan istirahat." Pagi-pagi sekali para rombongan sudah bangun, mereka sibuk menghangatkan diri, menghirup udara pagi sembari menyalakan api di depan rumah. Alika berkali-kali mengusap tangannya. Saat Jeremi keluar dari rumah Kai, tentu saja disaksikan oleh mereka yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing. "Permisi," sapa Dika. "Apa Kakak tinggal di rumah itu?" Jeremi tersenyum. "Tidak, saya hanya menemani tamu. Dia adalah dokter yang sudah bertugas di sini." "Wah, serius?" Dika tak percaya. "Iya, ya sudah saya permisi." Jeremi berlalu. "Wah, tetangga kita dokter," ujar Dika bersemangat. Alika hanya tersenyum. "Oh ya, hari ini ada pemeriksaan gratis di rumah pak RT, apa perlu kita bantu-bantu di sana?" tanya Dika. "Boleh, Pak." Wanita berbaju kuning setuju, yang lainnya pun ikut menyahuti persetujuan itu. Alika hanya tersenyum. Rekannya terlalu bersemangat. Tepat pukul sembilan pagi, rombongan Alika berbondong-bondong menuju rumah kediaman ketua RT. Mereka diantar oleh salah satu warga yang bertugas menjaga rumah mereka. Benar, di sana sudah berkumpul banyak orang, ada yang membawa anak kecil, ada juga orang tua lanjut usia. Alika sebenarnya cemas, melihat banyak orang seperti itu, tetapi dia yakin tak akan terjadi apa-apa. Dia hanya duduk sendirian di sebuah bangku. Melihat rekan-rekannya berbicara dengan perangkat desa itu. "Sebentar lagi Dokter yang akan membantu datang, jadi bersiap-siap yang mau memeriksakan diri." Logat suara Pak RT terdengar sangat kental khas orang Kaliman. Jeremi datang dengan membawakan tas milik Kai. Diikuti Kai yang berjalan dengan gaya kerennya. Sepatu kets putih yang membalut kakinya terlihat sangat trendi dan baru. Orang-orang dibuat kagum akan ketampanannya. Seketika mata Alika membulat melihat sosok Kai. "Dia?" ujar Alika tak percaya. Alika segera menunduk. Dia tak ingin Kai melihatnya. "Tunggu! Apa yang aku lakukan? Apa aku melakukan kesalahan?" Alika tersadar. Dia menghela napas dan kembali menatap Kai yang sudah duduk di tengah-tengah warga sekitar. Pengobatan berlangsung dengan lancar, semua warga mengantre sebagai mana mestinya. Tim Alika juga turut membantu. Hanya saja Alika banyak di balik layar. Kai mengobati warga dengan serius. Dia sangat pintar dalam hal itu, walaupun dia adalah seorang psikiater, tetapi sebelum benar-benar menjadi psikiater dia mengambil jurusan kedokteran umum. Pukul sebelas lebih dua puluh lima menit, pengobatan selesai. Kai berpamitan segera untuk pulang ke rumahnya. Dengan diantar Jeremi, Kai pun pergi. Melewati satu hutan yang tak terlalu besar. Kai berjalan sembari mendengarkan ocehan Jeremi. Sesekali dia tersenyum menanggapinya. "Oh ya, Dok. Kenapa tadi pulangnya tidak bareng mereka?" tanya Jeremi lalu membenarkan letak selempang tas milik Kai. "Aku mau menikmati pemandangan di sini. Sudah hampir sebulan, tapi belum aku eksplor semua." "Wah, ide bagus. Dokter mau ke mana? Biar saya antar." Jeremi menawarkan diri. "Enggak, hari ini kamu istirahat saja. Bukankah Ibumu sedang tidak enak badan?" Jeremi mengangguk sebagai jawaban. "Oh ya, setelah makan siang nanti, aku akan menemui Ibumu, aku periksa dia." "Serius, Dok!" Jeremi bersemangat. Kai mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Dok." Perjalanan mereka lancar, tak terhambat suatu apapun. Kai menghela napas setelah Jeremi membukakan pintu untuknya. Dia duduk untuk bersantai. Tak lama seseorang datang dengan satu rantang susun makanan. "Terima kasih, Bu Jum," respon Jeremi sopan. Kai ikut tersenyum. Jeremi bahkan melayani Kai dengan membuka semua isi di dalamnya. "Kita makan bareng," ujar Kai. "Enggak. Ini makanan khusus buat Dokter," jawab Jeremi segera. "Khusus apanya?" Kai melihat makanan yang setiap hari dia jumpai dan dia makan. "Di sini, ini adalah makanan paling mewah," ujar Jeremi. Netra Kai membulat. Dia hampir tertawa, tetapi menahannya. "Enggak, kita makan bareng-bareng." Kai membagi dua nasinya dan mendekatkan lauk pauk ke arah Jeremi. [[]] Alika dan teman-temannya masih berada di rumah ketua RT, mereka masih berbincang dan diundang untuk makan siang bersama. Mereka disambut baik oleh warga sekitanya. "Maaf, Pak. Jadi merepotkan keluarga Bapak," ujar Alika saat mereka tengah menikmati makan siang ala kampung. "Tidak sama sekali, Bu." Ketua RT tertawa renyah. "Kita berterima kasih atas kedatangan Anda sekalian." Semuanya begitu menikmatinya, makan siang dengan lauk seadanya. Setelah menikmati makan siangnya, Kai berjalan kembali untuk menuju rumah Jeremi. Dia membawa tas berisikan obat dan perlengkapan medis lainnya. "Apa ini tidak merepotkan, Dok?" "Santai saja," jawab Kai. Mereka melewati jalanan setapak untuk menuju rumah Jeremi. Tak sampai lima belas menit mereka sampai di rumah Jeremi. Rumah yang begitu sederhana dan terbilang kecil. Lantainya pun masih menggunakan ubin berwarna hitam. Jeremi mendapati ibunya tengah duduk di teras. Tersenyum ketika melihat anaknya pulang. Jeremi lantas memperkenalkan Kai, mengatakan maksud kedatangan Kai. Ibunya menyambut dengan haru. Kai mulai memeriksa wanita yang sudah berbaring. "Apa penyakitnya sudah lama dirasakan?" tanya Kai. "Sudah hampir dua tahun, di sini jarang ada dokter. Jadi, paling saja meminum ramuan herbal yang dibuat oleh Jeremi." Kai mengangguk pelan. "Kenapa enggak ke kota, biar lebih jelas penyakitnya apa," ujar Kai lagi. "Ke kota membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. Di sana juga perawatannya pasti mahal." Kai menghela napas. "Kapan-kapan saya ajak Ibu ke Jakarta. Di sana perlengkapan medis sangat lengkap. Supaya nanti Ibu diperiksa dan tahu penyakitnya apa. Biar enggak pusing lagi, biar enggak sakit-sakitan lagi." Mendengar itu Jeremi dan ibunya tersenyum. "Itu terlalu merepotkan, Dok." "Tidak, tidak sama sekali. Semua biaya saya yang tanggung. Tinggal Ibu dan Jeremi bersedia kapan bisa ke sana." Wanita itu terlihat ingin menangis. Dia memandang Kai penuh dengan rasa terima kasih. Selesai memeriksa, Jeremi mengantar Kai sampai depan rumahnya. "Ini serius, Dok? Saya enggak perlu mengantar?" Kai mengangguk. Dia tersenyum. "Jaga saja Ibumu, aku sudah hapal jalannya." Kai berjalan sendirian, dia memang ingin menikmati perbukitan siang ini. Sebelum dia melanjutkan perjalanan, dia ke rumahnya untuk menyimpan barang bawaannya, dan bersiap untuk pergi lagi. Kai menelusuri jalanan kecil, hutan dan persawahan. Dia tersenyum, dia menikmatinya. "Tidak terlalu buruk," ucapnya. Dia berpikir kepergiannya dari Jakarta membuat hatinya lebih tenang, tanpa ponsel dan tanpa jejaring sosial di hidupnya. Kai benar-benar menikmatinya. Tiba-tiba disela perjalannya, dia melihat seorang perempuan tengah berdiri diujung tebing. Kai pun terkejut, dia perlahan mendekat. Perempuan itu terlihat merentangkan tangannya, Kai benar-benar takut. "Apa dia mau bunuh diri?" Kai panik. Dia mendekat dengan perlahan. "Kalau aku mengagetkannya, sudah pasti dia terjatuh, bagaimana caranya." Kai terdiam di tempatnya. Masih memperhatikan wanita yang tak dia kenal, terlebih hanya melihatnya melalui punggung. Kai berdehem sangat pelan. Membuat wanita itu menoleh. Dia terkejut, hampir terjatuh, namun Kai segera menarik lengannya hingga menjauh dari tebing. "Kalau mau bunuh diri jangan di sini! Ini tidak akan berhasil!" Kai berucap tegas. "Heh." Alika kaget, dia hanya menatap Kai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN