9. Salah Sangka

2123 Kata
Kedua netra Alika dan Kai bertemu, mereka menatap satu sama lain. "Siapa yang mau bunuh diri?" tanya Alika ragu. "Heh." Kai tersadar. Dia melepaskan pegangan tangannya, sehingga Alika terjatuh. "Ah," ringis Alika kesakitan. "Lalu apa yang kamu lakukan di sana?" "Heh." Alika bingung. "Aku hanya mencari udara segar." "Aish," gerutu Kai. Dia malu, ia pergi meninggalkan Alika. Namun, baru beberapa langkah terhenti. Alika mencoba bangun, tetapi kakinya terkilir sehingga dia jatuh dan kesakitan. "Kenapa?" Kai melihat Alika tengah kesakitan. "Sepertinya terkilir." ujar Alika sembari menahan sakit. Kai mengembuskan napas. Dia kembali mendekat. Melepas sepatu Alika, mencoba mengobati kaki yang terkilir. "Kamu Dokter?" tanya Alika ragu. Kai menoleh, tatapannya sangat tajam. "Benar, dia laki-laki itu! Tetangga baruku!" batin Alika bergelut. "Memangnya harus dokter yang mengobati luka macam ini?" jawab Kai ketus. Alika menggeleng cepat. "Ah, kenapa wajah kamu tak asing buatku?" ujar Kai ragu. "Heh." Alika terkejut, dia berpikir kau sudah mengenalnya. "Tidak, kita baru pertama kali bertemu. Iya, kan?" Kai mengedikkan bahunya. Dia kembali fokus pada kaki Alika. Tanpa basa-basi dia mengembalikan kondisi kaki Alika. Tentu saja wanita itu berteriak kencang. Dia bahkan mendaratkan tangannya di lengan Kai sebagai tanda protes. "Serius sakit banget!" protes Alika. "Tapi bakal lebih baik. Coba berdiri!" perintah Kai ketus. Alika memilih duduk bersandar pada pohon di belakangnya. Mau tidak mau, Kai ikut menemaninya. Duduk di samping Alika. Mereka menyaksikan pemandangan bukit di sore hari bersama-sama. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Alika membuka percakapan. "Untuk jalan-jalan!" jawab Kai ketus. "Bukan, tapi kenapa bisa ada di desa ini?" "Ah, bukan urusanmu!" Alika menghela napas. Ternyata orang yang selama ini diam-diam dia perhatikan sangat dingin dan ketus. "Kalau dilihat-lihat juga kamu bukan orang pribumi." Kai berbicara tanpa menoleh ke arah Alika. Wanita itu mengangguk sebagai jawaban. Karena tak mungkin Kai tahu dengan jawabannya, akhirnya dia memberi jawaban. "Aku dari Jakarta, kita di sini mau ngadain bakti sosial," jelas Alika. Kai tak merespon. Mereka kembali terdiam, hanya menikmati pemandangan sore hari di hutan itu. Sampai lebih dari tiga puluh menit terdiam, akhirnya Kai bangkit. "Sudah bisa jalan sendiri, kan?" tanya Kai. "Sebaiknya kamu pulang sekarang! Udah mau gelap." Kai berjalan melangkah pergi. Lagi-lagi baru beberapa langkah berhenti karena mendengar suara Alika yang kesakitan. "Kenapa lagi?" tanya Kai menoleh. "Sepertinya ...." Kai menyerah, dia tak mungkin meninggalkan wanita ini di hutan seorang diri. Sedangkan hari mulai gelap. Kai menggendong Alika, walaupun hatinya tidak ikhlas. Namun, laki-laki itu tetap melakukannya. "Makanya lain kali hati-hati," ujar Kai kesal. "Ini juga karena kamu," jawab Alika. "Heh! Karena aku? Hei, aku udah berusaha nolong kamu! Karena aku?" Kai tak percaya dengan jawaban Alika. Wanita itu mengalah. Dia memilih diam. "Benar, wangi parfum ini!" batin Alika. "Dia benar-benar laki-laki itu." "Terima kasih," ujar Alika tiba-tiba. Kai menghentikan langkahnya. Dia sedikit menoleh. "Untuk apa?" "Udah mau gendong aku," ujar Alika. "Ini nggak gratis!" jawab Kai ketus. Alika terkejut saat Kai melewati jalanan yang menuju rumahnya. Dia bingung dan juga penasaran. "Kamu tau aku tinggal di sini?" tanya Alika. Kai tak merespon. "Kamu mata-mata!" Alika semakin kepo. Setelah pemukiman mereka sudah terlihat di depan mata, saat netra Kai melihat teman-teman Alika tengah berkumpul di depan rumah, dan saat itu juga Kai menurunkan Alika. "Bawel!" ujar Kai ketus. Dia berjalan lebih dulu menuju rumahnya. Alika hanya terdiam di tempatnya, melihat punggung Kai yang semakin menjauh darinya. Membulatkan matanya saat Kai memasuk rumah yang dihuninya, dan ternyata Kai yang menghuni rumah di samping penginapan Alika. "Hah!" Alika terkejut. Dia menghela napas. "Bertetangga lagi?" Setelah Kai benar-benar masuk, Alika berjalan dengan kaki sedikit pincang. "Kenapa?" Saat Dika menyadari ada yang lain dari cara berjalan Alika. "Terkilir, tapi udah diobati," jawab Alika. "Kok bisa? Siapa yang obati?" "Bawel," jawab Alika singkat. "Gimana barang-barangnya? Besok sampai jam berapa?" tanya Alika mengalihkan pembicaraan. "Ah, besok sekitar pukul delapan pagi, malam ini harusnya sudah ada di Kota Baru, dan bisa dikirim besok pagi." Dika menjelaskan. Alika mengangguk mengerti. "Oh ya, dokter yang tadi pagi mengobati di rumah Pak RT, ternyata tinggal di sana." Dika menunjuk rumah Kai. "Terus kenapa?" "Ya enggak, kali aja kita butuh bantuan dia," ujar Dika. [[]] Semua sembako yang dibawa oleh anggota TNI telah sampai di rumah ketua RT, disambut antusias oleh orang-orang di sana. Bahkan beberapa warga membantu untuk membawa barkarung-karung beras untuk dimasukkan ke dalam aula desa yang kebetulan berdampingan dengan rumah ketua RT itu. Alika tampak sangat bersemangat, begitu juga dengan kelompoknya. Dika membantu warga dengan membawa barang lain, yang menurutnya lebih ringan. Alika hanya duduk menyaksikan. Hampir tiga jam, akhirnya pekerjaan itu selesai. Tugas Alika dan kelompoknya adalah memilah bahan pangan itu dalam satu kantong plastik besar untuk dibagikan. "Teman-teman, kita selesaikan hari ini, supaya besok sudah bisa kita bagikan ke warga sekitar." Alika menjelaskan. Mereka menjawab setuju. Saking semangatnya sampai lupa waktu, bahwa langit sudah mau berubah menjadi gelap. "Terima kasih, Bu." Pak RT terlihat sangat terharu, dia duduk bersama Alika. Wanita itu tersenyum. "Sudah tugas kita, Pak." Alika menjelaskan. Tepat pukul tujuh malam, setelah mereka makan malam, akhirnya berpamitan pulang. Kelompok laki-laki membagi tugasnya untuk berjalan melindungi para wanita. Namun, ada juga warga yang mengantar mereka dengan membawa obor untuk penerangan jalan. "Terima kasih, Pak," ujar Alika pada laki-laki paruh baya yang mengantar dia beserta rombongan. "Selamat beristirahat buat semuanya." Bapak itu sangat ramah, diapun meninggalkan pemukiman bersama rekannya. "Malam ini kita ngapain enaknya?" Dika hampir membuat rencana. Namun, Alika dengan tegas melarang. "Istirahat! Besok harus bekerja lagi!" jawab Alika ketus. Dika menghela napas. "Iya, Bu Bos!" Anggota lain tersenyum. Mereka memang kelelahan dan membutuhkan istirahat. Pukul sepuluh malam Alika sama sekali tak bisa terlelap. Dia melihat anggota perempuan yang lain sudah memasuki alam mimpinya. Alika pun memutuskan untuk bangun dan keluar, mencari udara segar di depan rumahnya. Tak jauh dari sana ada sebuah pos yang memang disediakan oleh warga untuk menjaga para tamunya. Alika berpikir dia akam aman jika duduk malam hari di depan rumah. Saat Alika membuka pintu, dia mendapati Kai tengah duduk di teras, menikmati kopi yang mungkin dibawanya dari Jakarta. "Kenapa belum tidur?" tanya Alika ragu. Jaraknya hanya sekitar lima meter. "Bukan urusanmu!" Kai mengambil posisi duduk. Entah mendapat keberanian dari mana, Alika mendekati Kai dan duduk di sampingnya. "Memangnya enggak takut tinggal sendirian di sini?" tanya Alika membuka pembicaraan. "Udah biasa sendiri!" Alika mengangguk. "Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Kai. Walaupun laki-laki itu tidak penasaran, tetapi dia tak ingin terlihat canggung di depan Alika. Wanita itu tersenyum mendengar pertanyaan Kai. "Entahlah, aku hanya belum terbiasa tidur dengan orang lain." Alika menjawabnya santai. "Aku takut mengganggu mereka," jawabnya lagi. Kai menahan tawa. Dia menoleh ke arah Alika sebentar, lalu membuang pandangannya lagi. "Karena dengkuran?" Alika mengerutkan kening, dia menoleh, lalu menggeleng cepat. "Bukan!" jawabnya tegas. "Lalu?" Kai bertanya dengan nada setengah meledek. "Aku sering bermimpi buruk. Bahkan hampir setiap hari," ujar Alika datar. Seakan Kai tertarik, jiwa psikiaternya keluar, dia pun penasaran dan menatap Alika. "Kenapa?" Alika tersenyum. Dia menggelengkan kepala pelan. "Aku enggak bisa cerita, karena kita nggak saling kenal," ujar Alika. "Sejak kapan bermimpi buruk?" Alih-alih mendengar jawaban Alika, dia malah bertanya. "Sejak lima belas tahun yang lalu." Kai terkejut, dia menatap Alika lekat. "Serius?" Alika mengangguk segera. "Aneh ya?" "Apa pernah ke dokter?" tanya Kai. Alika tersenyum dia menunduk. "Dokter? Tidak, semua dokter itu egois!" Kai terkejut dengan ucapan itu. "Maksud kamu?" "Oh, aku udah enggak percaya sama dokter," ucap Alika. Dia memainkan jemarinya, tanda gugup. Saat Kai melihatnya, dia langsung tahu bahwa Alika sedang gugup. Alika mencoba tersenyum, mencoba menghilangkan rasa gugupnya. "Ah, bahkan kita tidak mengenal satu sama lain, kenapa bisa aku bercerita," ujarnya lalu kembali tersenyum canggung. "Aku Kai," ucapnya tiba-tiba. Alika menoleh tak percaya. Mata mereka bertemu, Alika benar-benar mengetahui siapa nama laki-laki ini. "Heh." Alika bingung akan menjawabnya. "Aku Alika," jawabnya ragu. Keduanya terdiam, sampai akhirnya Alika berpamitan untuk pulang. Dia malu, dia takut Kai benar-benar mengenalinya. Wanita itu mengulas senyum tipis, saat sampai dirumahnya. "Bagaimana bisa dia memperkenalkan diri," ucapnya lirih. ___ Siang ini Alika dan teman-temannya akan membagikan sembako untuk semua warga desa. Mereka sudah mempersiapkan semuanya. Dari beras, sampai bahan pokok yang lainnya. Beberapa laki-laki yang mengenakan seragam TNI juga turut serta dalam pembagian itu. Mereka juga mengatur jalannya bakti sosial agar tak berebut. Kai berjalan segera, saat tadi Jeremi mengatakan bahwa ada warganya yang sakit. Kai membawa ransel berisikan peralatan medis. Tak sengaja netranya bertemu dengan netra Alika. Namun, laki-laki itu tak melanjutkan pandangannya karena terus mengikuti Jeremi. Hampir lima belas menit mereka melewati perkampungan dan pemukiman, akhirnya sampai di rumah warga yang tengah sakit. Ternyata seorang anak kecil yang memiliki demam tinggi. Orang tuanya menangis di sampingnya. Memegangi tangan putranya yang terbaring lemah. Kai segera memeriksanya. Diambilnya stetoskop dari dalam tasnya. Dia mulai memeriksa detak jantungnya. "Sudah sejak kapan?" tanya Kai. "Semalam, Pak." Wanita paruh baya itu tak sanggup untuk berucap. Kai memeriksa juga mata pasien, dia tak menemukan keanehan saat memeriksa. "Apa dia muntah-muntah?" tanya Kai. Wanita itu menggelengkan kepala. Kai melepaskan stetoskop di telinganya. "Anak ini hanya demam biasa, saya ada persediaan obat, nanti bisa diminum agar demamnya turun." Kai menjelaskan. Wanita itu terlihat tenang. Dia melihat anaknya yang masih terbaring. Jeremi memberikan tas ransel milik Kai. Kai segera mengambil kotak obat di dalamnya, mencari obat penurun panas dan diberikannya kepada wanita di sampingnya. "Ini diminum dua kali sehari, hingga demamnya turun," ujar Kai menyodorkan selembar obat penurun panas. "Terima kasih, Pak." Wanita itu tampak sangat bahagia. "Semoga lekas sembuh," ujar Kai tersenyum. Dia bangkit dari duduknya. Kai langsung berpamitan untuk pulang, Jeremi pun turut berpamitan. Langkahnya terhenti ketika sampai di pintu rumah itu, pemilik rumah memanggil kembali Kai. "Pak Dokter, ini tolong diterima, sebagai rasa terima kasih saya." Dia menyodorkan sekantong plastik besar di tangannya. Kai mengerutkan kening, dia menerimanya. "Terima kasih, Bu." Kai tersenyum, Jeremi langsung mengambil alih plastik itu agar Kai tak keberatan membawa barang. Mereka berjalan kembali menuju rumah. Seperti biasa mereka melewati jalanan setapak yang penuh berliku dan naik. Seperti sudah biasa pada jalanan itu, Kai menyukai dan menikmatinya. Dia hanya terus mengikuti jalan itu dengan hati-hati. "Dok, siang nanti saya harus ke hutan, karena bahan makanan di rumah sudah mulai habis," ujar Jeremi. "Oke, lagi pula aku juga ingin bersantai." Kai menjawabnya tanpa menghentikan langkah. "Sepertinya Dokter sudah terbiasa di sini." Kai mengangguk pasti. "Aku menyukai di sini, orangnya ramah, lingkungannya damai, dan juga aku bisa menenangkan pikiran di sini." Sesampainya di rumah, Kai mengambil posisi rebahan di bangku panjang. Dia merasa lelah, Jeremi yang melihatnya tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi Dok." Jeremi berpamitan. "Oke, oke, hati-hati. Salam buat Ibu," ujar Kai. "Baik, Dok." Jeremi berlalu, membiarkan pintu terbuka. Kai menghela napas, dia merasa haus dan akhirnya bangkit mengambil air putih yang tersedia di meja. Dia meneguk hingga dua gelas berturut-turut. Merasa hausnya sudah terobati, Kai kembali berbaring. Tiba-tiba saja dia tersenyum. "Tanpa ponsel, tanpa TV, tanpa hidup mewah. Aku bisa Ayah, aku bahkan bisa mengobati pasien di sini tanpa dibayar. Mereka menyambutku dengan baik, tidak seperti rumah sakit, yang setiap hari menekan seperti dipenjara." ujar Kai, netranya melihat langit-langit rumah yang sudah tua itu. "Di sini mungkin aku bisa lupa sama masalahku, tapi aku akan tetap meminta pertanggung jawaban," ujar Kai lagi. [[]] Malam tiba, rombongan Alika berkumpul di depan rumah. Membuat api untuk membakar singkong dan jagung. Suasana yang tak bisa dirasakan di kota mereka. Mereka saling bercanda gurau. Kai jelas mendengarnya dari dalam rumahnya. Namun, dia tidak keluar sama sekali. Sampai akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Dengan malas Kai membuka pintunya, mendapati Dika yang sudah menebar senyum. "Ada apa?" tanya Kai. "Dokter, kebetulan kita sedang mengadakan pesta kecil-kecilan. Kalau berkenan, Dokter boleh bergabung dengan kita," ujar Dika. Kai tersenyum canggung. "Oh." Dia ingin menolak, tetapi niat baik mereka mengajaknya juga tak ada salahnya untuk bergabung. "Oke, sebentar." Kai tersenyum, Dika terlihat bersemangat, dia kembali bergabung dengan teman-temannya lagi. Tak lama Kai datang, disambut baik oleh tim Alika. Mereka mempersilakan Kai untuk duduk. Kai tersenyum sopan, dia pun bergabung. Mereka benar-benar kompak, tetapi Kai hanya terdiam. "Dokter dari Jakarta juga?" Dika melemparkan pertanyaan. "Oh, iya," jawab Kai ragu. "Wah, sama dong kita. Enggak nyangka bisa ketemu di sini." Dika terus berbicara. Kai tersenyum. "Oh ya, kenapa Dokter bisa ada di sini? Tugas?" Dika terus bertanya. "Oh, mmm...." Kai bingung akan menjawabnya. "Kamu terlalu banyak bertanya," ujar Alika menimpali. Semua orang tertawa. "Tak apa," jawab Kai. "Nah, siapa tau nanti di Jakarta kita bisa ketemu, Iya nggak, Dok?" Dika malah bersemangat. Kai tersenyum dia mengangguk. "Pasti bakal ketemu. Bukan begitu, Alika?" tanya Kai tiba-tiba. Membuat semua orang yang mendengar, terkejut dan menatap tajam ke arah ketua tim mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN