Netra Alika membulat, dia sedikit mengangkat alisnya sebagai kode kepada Kai apa maksud dari pertanyaannya. Mata teman-temannya kini sudah menyerbu dirinya, menginginkan respon sang ketua yang diam-diam mengenal dokter itu.
"Ah, mmm...." Alika ragu akan menjawabnya.
Kai tersenyum. Tak seperti biasanya dia berurusan dengan orang lain. Terlebih orang yang tak dekat dengannya. Tapi, kali ini dia malah memancing supaya Alika bereaksi menanggapinya.
"Jadi, selama ini kalian saling kenal?" Dika langsung melontarkan penilaiannya.
"Oh, tidak. Kita baru...." Belum sempat Alika meneruskan, Kai kembali tersenyum. Laki-laki itu benar-benar mengerjainya sekarang. Membuat para rekannya penasaran akan hal itu.
"Sebentar," ujar Alika. Dia menyerat Kai, membawanya ke rumah Kai dan menutup pintu. Kai tampak santai, dia duduk di bangku ruang tamu.
"Kita baru kenalan kemarin, kan?" tanya Alika. Kai mengangguk tanpa menjawab.
"Kita juga baru ketemu di sini, kan?"
Lagi-lagi Kai menjawab dengan anggukan kepala.
"Terus, kenapa kamu merasa bahwa...."
"Kita dekat?" sela Kai dengan cepat.
"Oh." Alika mengiyakan.
"Elevator, dua belas kosong tiga, apartemen High Class Residence, toserba dua puluh empat jam," ujar Kai dengan cepat. Alika mencerna satu per satu makna dari ucapan Kai, dan semua itu berhubungan dengan dirinya. Seketika mata Alika membulat. Dia menatap Kai tak percaya. Laki-laki itu hanya mengangguk pasti.
"Kamu, kan? Yang tinggal di sebelah apartemenku?" tanya Kai tiba-tiba.
Alika gelagapan, selama ini Kai mengenalinya, walaupun mata mereka tak pernah saling bertemu, tetapi laki-laki itu tahu kalau Alika adalah orang yang tinggal dekat dengannya.
"Kamu...."
Kai mengangguk. "Aku ingat, kita bertabrakan di depan lift, kamu yang membuat keributan di hari pertama kepindahan, dan kamu yang terus liatin aku saat di toserba. Iya, kan?" Seperti ketangkap basah, Alika malu. Dia tak bisa berkata apapun, selain diam. Kai tersenyum sinis.
"Kok bisa, kita ketemu di sini? Takdir?" Kai bertanya. Alika menghela napas. Dia mengambil posisi duduk di samping Kai.
"Sejak kapan kamu kenal aku?"
"Semalem, aku inget semuanya. Pantes aja muka kamu itu familiar banget, ternyata udah sering ketemu."
"Bilang aja, kita baru kenal kemarin. Teman-temanku pasti pada kepo masalah ini, dan juga tolong jangan sok dekat sama aku." Alika bangkit.
"Hei, siapa yang sok dekat?"
"Pokoknya, bersikaplah biasa," ujar Alika lalu pergi.
Alika melihat teman-temannya masih menunggu di luar. Ketika Alika keluar dari rumah Kai, semua mata tertuju pada dirinya. Dia tersenyum canggung.
"Tidak, itu bukan seperti apa yang kalian pikirkan, serius!" Alika meyakinkan.
"Sedekat apa hubungan kalian? Sampai kamu harus nutup pintu rumah dia?" Suara Dika kini bercuap. Kai mendengar dengan sangat jelas, ia tersenyum.
"Ah, kita baru kenal kemarin," jawab Alika memberi alasan.
"Kemarin? Di sini? Atau di Jakarta?" Lagi-lagi Dika penasaran.
"Dik, kamu kebanyakan tanya, kita nggak ada apa-apa, kok!" Alika mengambil posisi duduk.
"Cie, Bu Alika. Ternyata deketnya sama yang ganteng-ganteng," celetuk Sinta yang malam itu mengenakan selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
"Iya, cie, cie. Enggak nyangka di sini ketemu sama gebetan Bu Bos." Laki-laki berkaos hitam kini ikut menimpali.
Alika tersenyum malu. "Serius, kita enggak ada apa-apa."
"Enggak ada apa-apa kok gugup!" protes Dika.
[[]]
Sinar mentari pagi begitu cerah hari itu. Kai menikmatinya melalui jendela kamar rumahnya. Jendela yang masih terbuat dari kayu itu dibukanya sehingga menampakkan sinar mentari langsung ke tubuhnya. Terlebih pemandangan alamnya begitu elok. Kai tersenyum.
"Seandainya setiap hari melihat pemandangan seperti ini di Jakarta, bakalan sangat betah pasti."
Hari ini Kai tak memiliki kegiatan. Ayahnya benar-benar mengasingkannya di tempat ini. Namun, banyak hikmah kehidupan yang bisa diambilnya saat ini. Ilmunya sebagai dokter masih bisa disalurkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Karena memang setiap hari Minggu, akan ada pengobatan gratis untuk penduduk pribumi. Jeremi hari ini juga harus menggantikan ibunya di ladang. Memanen hasil bumi yang ditanamnya.
Kai berencana ingin melakukan jejak petualang, dia ingin menelusuri perbukitan. Dia ingin memanfaatkan alam yang masih sangat asri ini untuk menikmati liburan. Kai segera bersiap. Dia mengambil tas ransel kecil, dan diisi dengan air mineral. Dia melirik ponsel yang masih tergeletak manis pada meja samping tempat tidurnya.
"Benar-benar nggak berfungsi," ucapnya lalu tersenyum.
Tepat pukul sembilan pagi, Kai ke luar. Dia mendapati Alika dan teman-temannya tengah bersiap untuk pergi hiking.
"Pak Dokter mau ke mana?" Dika sedikit mengeraskan suaranya.
"Ah, aku cuma mau pergi jalan-jalan." Kai menjawabnya datar.
"Bareng kita-kita aja, kalo ada temannya lebih seru, lho!" Dika menyarankan.
"Kebetulan kita cuma bertujuh, mau nambahin? Biar genap berdelapan." Dika terus menawarkan.
"Heh." Kai bingung.
"Oh, kita di sini mau buat game, tapi Alika belum punya partner," ujar Dika.
"Aku? Partner?" Alika bingung.
"Gimana? Mau gabung, nanti pemenangnya bakal dapet makan gratis, lho sepuasnya dari Alika," ucap Dika terus berbicara.
"Dika!" Alika tahu, Dika kini tengah mengerjainya. Kai tersenyum, dia melihat Alika sudah sangat gugup dan panik. Seorang psikiater bisa membaca ekspresi seseorang walaupun tidak sempurna. Kai membaca ekspresi mimik wajah Alika, dia tak ingin Kai bersamanya.
"Boleh," jawab Kai tiba-tiba.
"Asik, kita genap!" Dika kegirangan. Harusnya mereka ada sepuluh anggota. Tetapi tiga orang diantaranya harus menjaga rumah dan memasak untuk siang harinya.
____
Alika berjalan berdua dengan Kai, dia hanya terdiam. Kai yang sudah mengalungkan kamera DSLR di lehernya sesekali mengangkat kamera itu dan memotret pemandangan di depannya.
"Kenapa setuju sama ajakan Dika, kamu bisa aja nolak, kan?" tanya Alika.
"Memangnya kenapa?" tanya Kai balik bertanya, dia sudah berancang-ancang mengambil gambar pemandangan bukit di seberangnya.
"Enggak, kenapa mau bergabung?"
"Enggak suka?"
"Ih, nyebelin!" Alika mengambil posisi duduk di batang pohon yang sudah tumbang. Kai pun mengikuti.
"Kok berhenti, belum juga dapet harta karun!"
Permainan kali ini adalah mengumpulkan harta karun, harta Karun yang dimaksud adalah mengumpulkan bahan makanan untuk pesta nanti malam dan mengumpulkan kayu bakar.
Alika tersenyum tipis. "Itu cuma alasan Dika aja, rencana awal cuma mau hiking aja kok," ujar Alika datar. "Dan nggak ada pemenang di sini."
"Tapi walaupun aku enggak menang, kamu juga harus traktir aku, kan?"
Alika mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Aku udah selametin kamu dari jurang, aku udah gendong kamu dari hutan, dan aku udah bantu kalian ngumpulin kayu dan bahan makanan." Alika mengerutkan kening, semakin tak mengerti ucapan Kai yang terakhir.
"Mana kayu dan bahan makanannya?" tanya Alika.
"Nanti, bakal aku cari."
Alika tertawa. Dia menggelengkan kepala, menganggap Kai manusia aneh.
"Masih mimpi buruk?" Tiba-tiba Kai bertanya. Membuat Alika menarik kembali tawa yang sudah ia keluarkan. Alika terdiam, kini netranya menatap Kai.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" tanya Alika tak mengerti.
"Mimpi buruk dalam tidur dan mimpi buruk dalam kehidupan nyata, itu sama-sama menyakitkan." Kai menerawang.
"Kehidupan nyata? Kisah kamu?" Seolah Alika tahu apa yang dirasakan oleh Kai.
"Oh," jawabnya mengiyakan.
"Kamu seorang dokter, kamu tampan, dan kamu juga mapan. Apanya yang buruk?"
"Masa depan."
"Heh!" Alika bingung.
"Seketika hancur dan berakhir di sini."
Alika tak mengerti, dia melihat Kai butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya. Alika terdiam, hanya menatap wajah maskulin di sampingnya itu. Tiba-tiba saja Kai tertawa, dia segera mengangkat kameranya dan menghadapkan pada wajah Alika. Dengan spontan memotret wajah yang tengah bingung itu.
"Sampai Jakarta harus traktir aku," ujar Kai lalu bangkit dari duduknya.
"Hapus foto aku!" protes Alika. Dia mengejar Kai. Namun, lagi-lagi Alika terjatuh karena ranting pohon yang menghalanginya. Dia kesakitan. Kai segera kembali.
"Kenapa? Jatuh lagi?" ujar Kai tak percaya.
"Sakit banget!" erang Alika.
"Terkilir lagi?" Alika menggelengkan kepala. Kai segera membuka sepatu Alika. Mendapati darah keluar dari ibu jari kakinya. Alika menahan sakit. Untung saja, di tas Kai selalu tersedia obat-obatan walaupun tak lengkap. Kai membuka kotak kecil dalam tasnya.
"Ada," ujarnya lega. Ia mendapati plaster dan perban di sana. Segera mengambilnya. Ia juga mengambil air mineral untuk membersihkan darah itu.
"Karena enggak ada alkohol, pake ini aja." Kai menyiram luka Alika dengan air itu.
"Kenapa selalu terjatuh?" tanya Kai. "Makanya liat dong, matanya dipake!"
"Lagian kenapa ngambil fotoku tanpa izin?"
"Nyalahin aku lagi?" Kai berhenti mengobati Alika. Kini dia menatap Alika tajam. Wanita itu gugup. Dia memalingkan wajahnya.
"Enggak, siapa yang nyalahin!" jawab Alika tegas. Setelah selesai mengobati lukanya, Kai kembali duduk.
"Bisa jalan, kan?" tanya Kai sembari tangannya memasukkan barang yang sudah ia keluarkan.
"Bisa," jawab Alika singkat.
"Kapan pulang ke Jakarta?" Lagi-lagi Kai bertanya secara tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Enggak, semenjak ada kalian, suasana rumah jadi berisik!"
"Lusa, udah balik lagi." Alika menjawabnya dengan ketus.
"Bagus deh," ujar Kai. Dia menghela napas panjang. "Terus, jagain apartemen aku, takut ada yang masuk diam-diam."
Alika menahan tawanya. Dia tahu Kai hanya bercanda. Dia menatap Kai lekat.
"Ternyata nggak semenyebalkan itu," batin Alika.
"Ayo! Kita lanjutkan jalan," ujar Kai kembali bangkit. Alika mengangguk. Tiba-tiba laki-laki itu mengulurkan tangannya. Alika pun tersenyum dan menyambutnya.
"Bisa jalan, kan?" Kai memastikan.
"Bisa! Tapi, pelan-pelan!" Alika menjawab.
Kai memperlambat langkahnya. Alika hanya bisa menginjak sepatu bagian belakangnya. Agar tak terlalu ketat pada luka ibu jarinya. Mereka kembali menelusuri jalanan itu. Baru kali ini, dia sangat kagum pada pemandangan di depannya, melihat alam yang begitu asri. Berkali-kali Alika mengungkapkan kekagumannya.
"Kenapa indah banget?" ujar Alika. Seperti memiliki niat jahil, Kai menoleh, tangannya sudah berancang-ancang pada kamera.
"Kamu yang lebih indah kalo lagi kaget," ujarnya. Satu jepretan berhasil kembali dia abadikan dengan objek wajah Alika.
"Kenapa foto aku terus!" Alika memprotes. Kai tersenyum, dia kembali berjalan. Nyatanya, hati itu sudah begitu siang. Perut Alika sudah menuntut untuk diisi. Karena keduanya tak ada yang membawa bekal. Mereka memutuskan untuk kembali ke pemukiman.
[[]]
Malam ini hujan turun, membuat semua anggota tim Alika hanya berdiam diri di dalam. Gagal melakukan pesta bakar-bakar. Mereka hanya bercanda gurau di dalam dan membuat permainan kecil.
"Dokter itu lagi apa ya?" Tiba-tiba Sinta memikirkan Kai, membuat peserta yang lain dengan kilat menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" Dika penasaran.
"Enggak, dia sendiri di rumahnya. Apa tidak takut?" ujar Sinta.
Dika mengedikkan bahu sebagai jawaban. Uang lain sibuk dengan permainan, dan Alika sibuk dengan ponsel tanpa sinyal itu.
"Ah, aku nyerah!" Alika meletakkan ponselnya kasar. "Sinyal benar-benar hilang!" Mereka menyambut perkataan Alika hanya dengan senyuman.
Alika memutuskan untuk ke kamarnya. Dia merasa lelah dan ingin beristirahat. Di luar kamarnya sangat ramai, membuat Alika tak bisa memejamkan matanya dengan sempurna. Namun, tiba-tiba hujan begitu deras. Alika panik, dia sudah berkeringat, terlebih saat sebuah petir dan gledek bersautan di luar sana. Alika takut, dia bahkan menutupi telinganya dengan bantal, merasa dirinya aman. Keringat sudah sangat banyak keluar dari pori-pori kulitnya. Kecemasannya terlihat sangat kentara. Dia takut, padahal banyak orang di luar sana. Dia tak ingin membuat kehebohan dengan keadaannya yang sekarang.
Tanpa disadari, seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Melihat Alika dalam keadaan seperti itu membuatnya terkejut, dia segera menghampiri. Alika demam tinggi, keringatnya sangat banyak.
"Bu, ada apa? Apa Ibu sakit?" tanya Sinta panik. "Pak Dika!" teriak Sinta kencang. "Pak Dika!"
Dika pun masuk dengan cepat. Dia terkejut melihat Alika sangat lemas.
"Bu Alika demam," ujar Sinta panik. "Bisa panggikan dokter?"
"Ah, dokter! Sebentar." Dika mengulang dari balik pintu. Tak menunggu waktu lama, dia kembali bersama Kai. Laki-laki itu langsung memeriksanya dengan cepat.
"Sejak kapan seperti ini?" Kai ikut panik, demam Alika sangat tinggi. Wanita itu tak meresponnya. Dia hanya mengatur napasnya yang memburu. Kai memegang tangan Alika, dia yang paling tahu keadaan wanita yang tengah berbaring lemah itu.
"Apa ada masalah?" tanya Kai pelan. Alika masih tak menjawab. Kai menoleh, masih mendapati Dika dan Sinta, bahkan kini semua teman-temannya berada di depan pintu.
"Bisa tinggalkan kita berdua?" ujar Kai. Dika mengangguk cepat. Dia lantas memerintahkan semuanya untuk keluar, dan menutup pintu kamar itu. Tinggallah Alika dan Kai di kamar.
"Apa mimpi buruk lagi?" tanya Kai. Alika sudah lebih tenang. Hujan semakin deras, tangannya masih gemetar hasil tadi. Perlahan Kai memegang tangan Alika.
"Tak apa," ujar Kai. Dia adalah seorang psikiater, dia bisa membaca pikiran dan wajah semua pasiennya.
"Apa sudah lama seperti ini?" tanya Kai lirih.
"Iya," jawab Alika lemah.
"Sejak kapan?" Kai semakin penasaran.
"Sudah lima belas tahun," ujar Alika lemah. Dia malu, dia sama sekali tak menatap Kai.
"Sudah pernah ke dokter?"
Alika menggelengkan kepala pelan.
"Kenapa?"
"Aku benci dokter, mereka semua egois!" Suara Alika semakin lirih. Tiba-tiba dia meneteskan air mata.
"Tidak semua dokter seperti itu," ucap Kai.
"Benar," jawab Kai mengiyakan. Alika bingung, ia menoleh ke arah Kai dengan tatapan penasaran. Bagaimana bisa dia mengatakan benar, sedangkan kenyataannya dia adalah seorang dokter.