Kai menatap Alika iba. Dia mengusap punggung tangan wanita itu dengan sangat lembut.
"Tidurlah, kamu akan aman." Kai berucap pelan. Alika hanya terdiam, dia memalingkan wajahnya. Malu, karena Kai adalah orang asing yang akhirnya tahu keadaan dirinya.
Perlahan Alika memejamkan matanya. Kai tersenyum melihat itu. Setelah memastikan Alika tertidur pulas, dia pun bangkit dan keluar dari kamarnya.
"Bagaimana, Dok?" Dika langsung menyerbu Kai begitu keluar.
"Dia akan membaik, sekarang sudah tidur. Cuma masih demam," ujar Kai. Setelah bangun nanti, kalau masih demam panggil aku aja."
"Apa sebaiknya, Dokter tetap di sini? Kita di sini orang awam tentang medis, kalau terjadi apa-apa bagaimana?" Dika menyarankan. Kai tersenyum.
"Benar, Dok. Dokter ikut jaga Bu Alika, kita takut Beliau kenapa-kenapa," timpal Sinta.
"Biar nanti, tim perempuan tidur di kamar satunya, kita yang laki-laki jaga di sini." Dika menginterupsi.
"Oke, tapi aku harus pulang dulu." Kai pun pamit.
Kai segera menutup pintu rumahnya, dia memikirkan Alika.
"Lima belas tahun? Trauma?" Otak Kai berpikir keras. Dia bahkan tak percaya dengan leadaan Alika. Kai menghela napas. Kai seperti mengingat sesuatu.
"Ah, waktu itu! Di taman kota, dan pemabuk!" Kai mengingatnya. "Benar, itu dia!" Kai benar-benar ingat. "Pantas saja, wajahnya begitu sering aku lihat."
____
Malam itu Kai benar-benar menemani Alika. Tim perempuan sudah lebih dulu tertidur, sedangkan anggota laki-laki masih asik bermain di ruang tamu. Kai lagi-lagi masuk ke kamar Alika. Hanya untuk memastikan keadaan wanita itu. Mengambil posisi duduk di samping Alika yang masih tertidur pulas.
"Apa kamu menderita selama ini?" tanya Kai lirih. "Semua dokter memang sama, mereka hanya memikirkan caranya mereka bertahan, dan aku sudah kalah oleh Ayahku." Kai bercerita.
"Walaupun begitu, kamu tetap harus pergi ke dokter, kamu enggak bisa selamanya seperti ini. Jangan sampai semakin parah penyakit ini," ujar Kai berbicara sendiri.
[[]]
Kicauan burung di pagi hari sudah mulai meramaikan desa itu. Kai masih tertidur di samping Alika. Menelungkupkan kepala. Wanita itu terkejut, dia bingung siapa pemilik tubuh itu. Tangannya masih dipegang oleh Kai. Dia ingin mengubah posisi, tetapi sangat sulit. Hingga akhirnya Dika masuk. Alika pun bingung.
"Siapa?" tanyanya tanpa mengeluarkan suara.
"Dokter," jawab Dika juga tanpa suara. Alika terkejut. Dika langsung memerintahkan Alika untuk tetap diam. Membuat Alika mengalah, dia hanya bisa bernapas.
Kai terbangun, membuat Alika segera berpura-pura masih tertidur. Dia tak ingin keadaan canggung bersama dokter itu. Alika kembali memejamkan matanya. Kai tersadar, segera melepaskan tangan Alika. Dia memeriksa demam Alika yang ternyata sudah turun.
"Syukurlah," ujarnya lega. Kai segera keluar dari kamar, dia tak mendapati siapapun di sana. Tetapi, mendengar suara bising dari halaman rumah. Ternyata anggota yang lain tengah berolahraga pagi.
"Selamat pagi, Dok!" sapa Dika, disambut yang lainnya. Kai tersenyum.
"Dokter hari ini ada acara?" tanya Dika lagi. Kai berpikir, hingga akhirnya menggelengkan kepala.
"Bagus. Hari ini rencananya kita mau pamitan k rumah Pak RT, juga ada kegiatan pembangunan pos untuk warga." Dika menjelaskan.
"Lalu?"
Dika tersenyum. "Tapi, kita harus meninggalkan Bu Alika sendiri. Kalo Dokter yang jaga, bagaimana?"
"Heh." Kai terkejut. Dia menemukan hal aneh pada senyum para manusia di depannya itu. Seperti memang memberikan kesempatan untuk berdua dengan Alika.
"Tapi...." Kai ingin menolak.
"Aku udah baikan, kok." Suara Alika terdengar dari ambang pintu. Kai segera menoleh.
"Tetap saja, Ibu harus istirahat." Galang memberi saran.
"Serius, aku udah membaik." Alika meyakinkan.
"Jangan bandel, besok mau perjalanan jauh, siapa yang mau nolongin kalo sakit lagi." Dika memprotes. Alika tersenyum. Kai menatap Alika penuh selidik. Wanita itu hanya tersenyum dan mengedikkan bahu.
____
Setelah sarapan pagi, para rombongan pun pergi ke rumah ketua RT. Memang rencana terkahir mereka adalah membangun sebuah post sebagai tanda kenang-kenangan. Mereka akan dibantu oleh warga sekitar agar cepat selesai.
Alika hanya berdiam diri di rumah, dia kembali berusaha mencari sinyal ponselnya. Dapat bocoran, katanya jika ingin mendapatkan sinyal, ponsel miliknya harus ditempelkan pada tembok rumah. Hal yang Alika yakini itu adalah suatu hal kebohongan. Tetapi,dia mencobanya.
"Ah, dapat!" ujarnya kegirangan. Saat dia menempelkan ponselnya di tembok.
"Apa?" Tiba-tiba suara Kai mengagetkan. Sehingga Alika terkejut dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Setelah memeriksa, sinyalnya kembali hilang.
"Yah," ujar Alika kecewa.
"Kenapa?" Kai mengambil posisi duduk di samping Alika.
"Tadi udah dapet sinyal, tapi malah ilang lagi!" gerutunya manja.
Kai tersenyum. "Kamu tahu, selama aku di sini aku terbebas dari ponsel, yang dulu seperti nyawaku," ujar Kai. Alika mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Alika.
Kai mengangguk. "Dulu aku nggak bisa hidup tanpa ponsel, tapi sekarang hidupku lebih tenang."
"Kenapa kamu berada di sini?" tanya Alika tiba-tiba.
"Di sini?"
"Iya, di desa ini."
"Kenapa? Masih penasaran?" jawab Kai. Alika mengangguk cepat. Kai hanya tersenyum.
"Nanti aku ceritain kalo kamu udah traktir aku makan." Kai menyeruput kopi yang dibawanya. Alika merajuk.
"Ah, kenapa nyari sinyal? Mau hubungin pacar kamu?" tanya Kai.
"Pacar?" Alika tersenyum sinis. "Bukan, tapi Tante aku, takut dia khawatir nanti."
"Kali aja mau hubungin pacar karena kangen." Kai tersenyum.
"Enggak punya pacar dan nggak mau pacaran."
Kai menoleh cepat. "Kenapa?" tanyanya segera.
"Kepo!" Alika tertawa. Dia merasa sudah mengerjai Kai.
"Aish," gerutu Kai. Dia malu.
"Kamu bakal berapa lama di sini?" tanya Alika.
"Kepo!" Kai membalas dendam. Dia merasa menang dan tertawa.
"Ih, orang serius nanya," ujar Alika tak terima.
"Entahlah, mungkin bakal selamanya," ujar Kai.
"Kok bisa?"
"Kenapa? Kangen? Hmm, mungkin di Jakarta nanti perlakuan aku nggak sama kayak sekarang." Kai menerawang.
"Maksudnya?" Alika bingung. "Kamu punya dua kepribadian?" Kai segera menoleh.
"Mungkin," jawabnya singkat.
"Ih," gerutu Alika kesal.
"Ah, besok kalian udah mau pulang, kan? Nanti malam aku ajakin ke tempat paling indah di sini."
Alika mengerutkan kening.
"Apa?"
"Ada, bagus banget! Dijamin bakal terpesona." Kai memberi spoiler.
"Serius?" Alika tak percaya. Kai mengangguk cepat.
"Tempatnya juga tak jauh dari sini, hanya butuh lima menit," ujar Kai semangat.
"Oke." Alika langsung setuju karena penasaran.
___
Tepat pukul tujuh malam, Kai bersiap-siap untuk ke luar. Dia bahkan sedikit menggunakan parfum pada bajunya. Walaupun baju yang dipakainya terbilang santai, namun dia terlihat sangat gagah.
Dia melihat pintu rumah Alika terbuka. Ada yang tengah duduk di depan teras. Kai pun mendekat.
"Ah, mau kencan?" Galang membuka suara. Kai terkejut.
"Tidak," jawabnya segera. Dika keluar dengan segelas kopi panasnya.
"Dok, maaf. Malam ini kita nggak bisa ikutan," ujarnya lalu mengambil posisi duduk.
"Oh, tak apa." Kai sedikit malu.
"Lagipula capek banget, abis kerja seharian tadi." Dika tersenyum. "Tapi Alika udah siap, kok." Dika memberitahu.
"Kalian enggak sengaja, kan. Ngebiarin kita berdua?" Seolah Kai mengetahui niat mereka kembali mendekatkan Alika dengan dirinya.
"Tidak, serius! Kita memang capek banget," jawab Dika yakin.
"Ah," ujar Kai mengangguk. Tak lama Alika keluar.
"Ayo!" ujar Kai.
"Selamat menikmati kencan malam terakhirnya," ujar Galang meledek. Alika tersenyum.
"Nggak usah di dengerin."
Kai berjalan, dia menerangi jalan untuk Alika dengan menggunakan senter. Mereka berjalan menelusuri jalanan menanjak. Sesekali Kai memegangi tangan Alika saat berjalan pada jalanan terjal. Benar, hanya sampai lima menit mereka sampai di sebuah bukit. Sangat indah di malam hari, melihat lampu perkampungan di bawah dan beberapa danau yang memantulkan lampu di sekitarnya.
"Wah!" Alika terkagum.
"Indah, kan?" Alika segera mengangguk.
"Sungguh cantik!" Alika takjub. "Seandainya, pemandangan apartemen seperti ini," ujar Alika. Kai tersenyum.
"Kamu bisa membuat satu permohonan di sini. Kata orang sini, kalau kita membuat permohonan di malam hari dan di tempat ini, akan jadi kenyataan."
"Serius?" Alika bersemangat. Kai mengangguk cepat.
Dia segera memejamkan matanya, mengaitkan kedua telapak tangannya untuk membuat permohonan. Kai tersenyum. Hampir satu menit Alika terdiam. Dia membuka matanya dan menghela napas lega, tersenyum pada laki-laki yang berdiri di sampingnya.
"Udah?" tanya Kai. Alika mengangguk cepat.
"Apa yang kamu minta?" tanya Kai.
"Rahasia dong," jawab Alika sekenanya.
"Salah satunya?" Paksa Kai.
"Mm, siapapun kita, apapun masalah kita, bagaimanapun keadaan kita, semoga cepat diberi jalan keluar dan hidup bahagia," ucap Alika lalu tersenyum.
"Jangan senyum," ujar Kai menatap Alika lekat.
"Ke...." Belum sempat Alika meneruskan ucapannya, Kai mendaratkan bibirnya di bibir Alika.
Sepersekian detik dia tersadar. Segera menjauh dan merasa bersalah.
"Maaf," ujarnya lirih. Alika salah tingkah, pipinya memerah walaupun tak diketahui oleh Kai. Laki-laki itu sudah menunduk sedari tadi.
"Apa kita pulang saja?" tanya Alika ragu.
"Oh, ayo!" Kai berjalan kembali menerangi jalan untuk Alika. Tiba-tiba saja, meraih lengan mungil Alika dan menggandengnya. Alika tersenyum.
Di rumah, Dika dan kawan-kawan sudah menyiapkan pesta bakar-bakar. Ada singkong, ada jagung untuk membuat pesta kecil perpisahan.
"Lha, kok sebentar?" tanya Dika yang menyadari kedatangan Alika dan Kai.
Keduanya hanya mengangguk bersamaan.
"Kita udah siapkan pesta. Ayo! Kita habiskan dan istirahat, besok harus menempuh perjalanan jauh," ujar Dika.
"Apa yang mau dihabiskan? Bahannya aja belum dibakar," jawab Alika lalu tersenyum.
Dika nyengir. Dia segera memerintahkan tim yang lain untuk segera membuat api.
Malam itu mereka begitu bahagia, lelah yang sudah Meraka lalui sehari ini semuanya hilang karena senyum dan kebahagiaan. Alika sama sekali tak melepas senyuman dari bibirnya. Sesekali matanya bertemu dengan mata Kai yang tengah memperhatikannya. Benar, Alika kembali salah tingkah.
Setelah bahan yang sudah dibakar habis oleh mereka. Berangsur mereka masuk dan beristirahat. Tinggallah Dika dan Kai di sana. Dika tengah membereskan sisa kayu bakar yang masih ada dan Kai ikut membantunya.
"Terima kasih, karena sudah membuat Alika tersenyum." Dika menghentikan aktivitasnya, begitu juga Kai, dia menoleh dan menunggu Dika kembali berucap.
"Dia mengalami PTSD sejak lima belas tahun yang lalu," ujar Dika.
"Heh." Kai terkejut.
Dika mengangguk. "Kecelakaan itu menyebabkan kedua orangtuanya meninggal. Dia trauma sampai sekarang," jelas Dika lagi. "Aku tak begitu jelas mengetahui hidupnya, karena dia sangat tertutup."
"Apa dia ke dokter?" Dika menggelengkan kepala. "Selama aku mengenal dia, aku tidak pernah melihat dia ke dokter manapun," ujar Dika.
"Kamu sudah lama mengenal dia?"
"Aku adalah senior di kampus, mungkin dia tak kenal, karena kita baru bertemu di perusahaan. Aku sering memperhatikan dia dulu saat masih kuliah."
Kai mengangguk mengerti. Keduanya bercerita sangat banyak hingga larut malam.
[[]]
Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat dengan mobil yang sudah disediakan. Kai juga turut serta dalam rombongan. Dia mengatakan pada Dika bahwa ia akan mengantarnya.
"Dokter, kapan pulang ke Jakarta?" Galang melempar pertanyaan. Kai hanya tersenyum. Hingga akhirnya dia menjawab pertanyaan yang tak memiliki jawaban yang pasti.
"Mungkin secepatnya," ujarnya lagi.
"Ini serius? Dokter mengantar kita sampai Kota Baru?" Sinta kali ini penasaran. Kai mengangguk.
"Aku juga ada perlu di sana."
Perjalanan memakan waktu hingga tiga jam untuk sampai di Kota Baru. Mereka berpamitan dengan pejabat kota.
"Hati-hati," ujar Kai pada Alika. Wanita itu tampak masih malu bertemu dengan Kai. Dia mengangguk.
"Jagain apartemen aku," kata Kai bercanda. Alika tersenyum.
Setelah mereka berpisah, Kai pun menuju pusat kesehatan Kota Baru, di mana di sana ada Alberto yang tengah bertugas.
Kai diantar oleh seorang perawat, dia menelusuri koridor rumah sakit kecil. Hingga mereka sampai di ruangan Alberto.
"Kai, kapan ke sini?" ujar Alberto yang tengah memeriksa data pasiennya. Kai tersenyum. Dia mengambil posisi duduk di depan Alberto.
"Ayah kasih kabar?" tanya Kai tanpa basa-basi. Alberto tertawa, dia menatap Kai nanar.
"Datang-datang langsung nanya itu? Sudah tidak betah?" Kai tersenyum. Dia menggelengkan kepala pelan.
"Keadaan di Jakarta sudah membaik, ayah kamu juga sudah mengurus semua. Tetapi, mungkin kamu enggak bisa langsung kerja di rumah sakit." Alberto menjelaskan.
"Kenapa?"
"Kai, kamu siap? Saat semua pasien tak ada yang mau berobat dengan kamu? Ada dokter baru di sana yang lebih profesional, dan dia akan menetap di rumah sakit."
"Heh!" Kai terkejut. "Tapi.... Aku benar-benar enggak bersalah," jawab Kai tegas.
"Aku tahu. Nanti, saat kabar itu semuanya hilang, saat Raka memberi pernyataan bahwa itu bukan salah kamu, saat itu keadaan akan benar-benar membaik," ujar Alberto. Kai mengalah, dia menghela napas.
____
Alika terbaring di tempat tidurnya. Malam itu dia sudah bisa beristirahat di apartemennya. Namun, dia memikirkan sosok Kai yang masih nan jauh di sana. Alika teringat saat Kai menciumnya, tiba-tiba saja dia malu, dia gugup dan pipinya memerah. Dia memegangi bibirnya sembari mengelusnya pelan.
"Apa ini?" Alika tersipu. Dia menutup wajahnya dengan selimut.
[[]]
Satu bulan kemudian,
Kai berjalan dengan sangat percaya diri. Dia melepas kacamata hitam yang masih terpasang manis di wajah tampannya. Netranya berkeliling melihat tempat yang baru saja dia datangi. Tersenyum penuh tekad.
"Benar, aku pasti bisa beradaptasi lagi," ujarnya lirih. Dia menghirup udara sore hari, sebelum akhirnya seseorang mengagetkannya.
"Welcome back, my Doctor!" ujar Jay bersemangat. Kai menoleh, dia mendapati Jay dengan senyum manisnya. Dia membalas senyum manis itu.