12. Berbagi Beban

1783 Kata
Kai menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia bernapas lega, menghirup aroma terapi di ruang kamarnya. Tadi Jay hanya menjemputnya di bandara dan harus kembali ke rumah sakit, karena tugasnya. Dia lagi-lagi mengembuskan napas berat. Pikirannya kacau sampai di Jakarta, terlebih lelahnya sudah menggerogoti tubuhnya yang jangkung itu. Pikirannya melayang, mengingat ucapan Alberto terakhir kalinya, saat mereka bertemu dua hari yang lalu. **** "Kembalilah ke Jakarta, kalau kamu seperti ini terus, kamu artinya melarikan diri. Jangan ikuti Ayahmu," ujar Alberto. "Saya tidak pernah mengajarkan untuk melawan, tetapi tidak semua permasalahan diatasi dengan uang. Itu salah, kamu hadapi masalah kamu. Jika nanti akhirnya kamu kehilangan pasien, setidaknya kamu sudah berusaha." Ujar Alberto lagi. Kai hanya terdiam. Cowok itu menatap orang di depannya nanar. Memikirkan kata demi kata yang Alberto ucapkan. Semua itu benar, ayahnya hanya mengandalkan uang untuk semua masalah hidupnya. "Dan ingat, kalau Jakarta tidak menginginkan kamu lagi, di sini akan menerima kamu dengan senang hati." Kai tersenyum. Dia mendengar semua petuah dari sahabat ayahnya. Jeremi yang ikut menyaksikan mengangguk cepat. Dia terlihat bahagia mendengar ucapan Alberto. Jeremi sangat menginginkan Kai untuk tetap tinggal. Namun, semuanya tidak akan mungkin. Di sisi lain dia sedih, karena Kai akan pergi. *** Kai mengambil ponselnya, ia kembali membuka aplikasi w******p, banyak sekali pesan masuk yang belum dia baca. Dia mendengkus kesal, wajahnya terlihat sangat lelah. Lalu kembali meletakkan ponselnya. "Ah, Raka! Orang yang pertama kali harus aku temui adalah dia," ujar Kai bertekad. Jay mengatakan bahwa Raka masih berada di Jakarta. Karena sebelumnya dia mengatakan bahwa akan pindah ke luar negeri, tetapi semua itu bohong. Selama Kai pergi, Jay-lah yang mencari tahu tentang Raka. Kai sudah mengatur rencana untuk menemui Raka. "Besok aku harus menemuinya," ujarnya lagi berktekad. [[]] Mata Kai terbuka perlahan, ketika mentari pagi menyinarinya melalui jendela yang memang tak tertutup. "Aish," gerutunya. Dia menyeret selimut hingga menutupi kepalanya. Ponselnya berdering keras, itu yang paling dia benci saat tinggal di Jakarta. Di saat menginginkan waktu istirahat, ada saja halangan, ada saja gangguan yang datang tanpa dia inginkan. Dia meraba tempat tidurnya, berharap menemukan barang ajaib itu. Namun, belum sempat ia meraihnya. Ponsel itu terjatuh karena tidak disengaja Kai menepisnya keras. "Ah," gumamnya. Laki-laki itu sedikit mengubah posisinya, dan berhasil melihat ponsel itu tergeletak manis di lantai. Dia pun segera meraihnya. Nama Jay muncul, membuat hatinya semakin kesal. "Kenapa? Masih pagi! Jangan ganggu!" jawab Kai kesal. "Gimana mau kembali ke rumah sakit! Ini sudah hampir jam sembilan, dan Dokter masih tidur?" Jay menyerocos. "Katanya hari ini mau ketemu Raka," ucap Jay dengan nada suara tinggi agar Kai tersadar. Mendengar nama itu, mata Kai terbuka sempurna. "Ah, iya." Kai mengubah posisinya menjadi duduk. "Raka!" Satu nama itu yang sudah mengganggunya beberapa bulan ini. Dia segera membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Jay yang sudah menunggunya di tempat biasa mereka bertemu. ____ Setelah seharian ini Kai berada di luar, mencoba mengintai keberadaan Raka. Namun, hasilnya nol. Dia sama sekali tak bisa menemui Raka. Bahkan, batang hidung laki-laki itu tak tampak di manapun. Kai pasrah, dia hanya duduk di depan toserba, menikmati minuman kaleng di depannya. Ponselnya sesekali berdering, menandakan bahwa ada pesan masuk di sana. Kai membukanya, Jay lagi-lagi mengirim pesan. Di hari liburnya, Jay menemani Kai untuk mencari keberadaan Raka. Laki-laki itu sangat setia dengan Kai. Namun, tadi tiba-tiba dia harus pulang karena sang kekasih sedang dalam masalah. -Jangan terlalu lama nunggu Raka, dia enggak bakal muncul- Tulis Jay melalui w******p. Kai hanya membacanya tanpa membalas. Dia menghela napas. Lelah, itu yang dirasakannya sekarang. Ia belum bisa menemui ayahnya. Dia hanya ingin menemui Raka dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Jay mengatakan bahwa masalah Kai sudah benar-benar hilang, tetapi dia tetap tidak bisa bekerja karena ayahnya tak akan mengizinkan. Ia sangat tahu perangai Wijaya seperti apa. Terlebih jika laki-laki tua itu tahu bahwa Kai sudah kembali. Namun, berita kembalinya Kai akan segera mendarat di telinganya. Sudah dipastikan laki-laki paruh baya itu menemui Kai dan memarahinya habis-habisan. "Kai!" panggil Alika ragu. Kai pun menoleh, mendapati Alika sudah berdiri di sampingnya. "Oh," jawab Kai bingung. "Kapan datang? Ah, tidak, sedang apa di sini?" Tiba-tiba saja Kai gugup. "Mau ke dalam," ujar Alika. Dia menunjuk toserba dan tersenyum canggung. "Ah, silakan." Kai mempersilakan. Alika pun kembali melangkah. Wanita itu bingung, sikap Kai berbeda, sangat berbeda dari sebelumnya. "Apa ini? Seperti tidak pernah terjadi sesuatu," ujar Alika lirih. Dia lantas masuk ke toko dan mulai mengambil barang yang akan dibelinya. Hanya butuh waktu sepuluh menit Alika selesai berbelanja dan membayar semuanya. Namun, ketika dia keluar, wanita itu tak mendapati sosok Kai lagi di tempatnya. Mengedarkan pandangan, namun sosok itu benar-benar tak ada. Alika pun menghela napas, sedikit kecewa. Dia lantas melanjutkan perjalanan menuju apartemennya. Wanita itu terkejut ketika seseorang mengambil barang belanjaannya. Dia ingin marah, tetapi mengurungkan niatnya. Karena orang yang kini berjalan di sampingnya adalah Kai. Tentu saja Alika salah tingkah, dia malu. "Dari mana?" Alika bingung. "Ah, ada urusan tadi." Jawaban Kai membuat Alika mengurungkan niatnya untuk tahu lebih banyak. "Baru pulang kerja?" tanya Kai. Alika mengangguk. Keduanya berjalan bersama, Kai membawakan belanjaan Alika. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya diam, dan bingung dengan perasaan masing-masing. Hingga mereka sampai di depan pintu apartemen. Alika menunjuk barang belanjaannya. "Ah, lupa," ujar Kai malu. Dia segera memberikan belanjaan milik Alika. Alika menekan kode akses di pintunya. Begitu juga Kai, mereka terlihat sangat canggung. "Hmm, kapan mau traktir aku makan?" tanya Kai basa-basi. Alika segera menoleh. "Mm, besok sore. Gimana?" jawab Alika ragu. Kai mengangguk setuju. Alika tersenyum sebelum akhirnya mereka menghilang dari balik pintu masing-masing. Kai kembali menutup pintunya. Dia mengembuskan napas berkali-kali. Malu, gugup, dan juga sedikit menyesal. Dia mengingat kejadian waktu di bukit. Dia memukul kepalanya sendiri. "Kenapa aku cium dia," ujar Kai. Wajahnya terlihat malu, namun senyumnya mengembang di saat yang bersamaan. ___ Alika sibuk dengan pikiran dan perasaannya. Dia bahkan tidak fokus pada layar monitor laptop di depannya. Ia masih mengingat kejadian bukit, kejadian saat tadi Kai mengambil alih barang belanjaannya. Dia tersipu, tidak biasanya seperti itu. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dia melihat nama Jihan memanggil di sana. Segera ia angkat. "Ha...." Belum sempat meneruskan, wanita itu mendengar si pemanggil menangis. "Jihan?" Alika memastikan. "Kak, apa boleh aku ke tempat Kakak sekarang?" Suara Isak tangis Jihan sangat kentara. Alika melihat jam dinding, sudah pukul sembilan malam. "Iya, apa ada masalah?" Alika terlihat khawatir. Jihan tak merespon, dia terus menangis. "Ah, oke, oke. Aku kirimkan alamat kamarku, datanglah." Alika segera memutuskan panggilan. Dia segera mengetik nomor kamar apartemennya. Sudah satu jam lebih Alika menunggu Jihan, tetapi wanita itu belum juga datang. Alika terlihat sangat khawatir. Dia mencoba menghubungi Jihan, tetapi nomornya tidak aktif. "Ada masalah apa?" Alika bingung. Pukul sepuluh lewat dua puluh menit, bel pintu apartemen Alika berbunyi. Wanita itu segera berlari membukanya. Benar, Jihan sudah berdiri di depan pintu. Dia sudah tidak menangis lagi. Namun, segera memeluk Alika erat. "Kak!" panggilnya, lalu kembali menangis. "Masuklah," ujar Alika. Dia segera membawa Jihan masuk. "Ada masalah?" tanya Alika ketika Jihan sudah duduk di sampingnya. Jihan terdiam. Dia hanya menatap Alika nanar. "Boleh aku menginap satu malam di sini?" tanya Jihan lirih. Alika mengangguk cepat. Dia menarik lengan Jihan segera. Masuk ke dalam apartemennya. "Terima kasih," lanjut Jihan. Alika mempersilakan Jihan untuk duduk. Tatapannya terlihat tulus untuk seorang Jihan. Dia yakin, gadis itu sedang dalam masalah besar. Alika mengerti, sepertinya Jihan tak ingin cerita. Dia hanya butuh istirahat. "Ah, aku siapkan kamar untuk kamu." Alika segera bangkit, tetapi Jihan menahannya. "Aku hanya ingin tidur dengan Kakak," ucap Jihan pelan. Alika bingung, ia kembali duduk dan menatap Jihan lekat. Terlihat sisa air mata masih membasahi pipi gadis itu. "Apa kamu sudah makan?" tanya Alika. Jihan menggeleng pelan. "Ah, aku buatkan makanan buat kamu, sebentar," ucap Alika segera pergi ke dapur. Dia meyiapkan bahan makanan yang diambilnya dari kulkas. Membuat nasi goreng. Hampir tiga puluh menit sibuk di dapur, ia kembali dengan sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Meletakkannya di depan Jihan. "Makanlah," ucap Alika. "Hanya itu yang bisa aku buat," ujarnya lagi. Jihan tersenyum. Dia mengangguk lemah. Dia mencoba memakannya namun seperti tak memiliki semangat. Alika hanya bisa mengusap punggungnya dan malah membuat Jihan kembali menangis. Gadis itu memeluk Alika erat. "Terima kasih, Kak." Jihan terisak dalam pelukan Alika. "Terima kasih tidak menanyakan apapun," ujarnya lagi. ____ Jihan dan Alika sudah berbaring di tempat tidur yang sama. Mereka hanya terdiam, kalut dengan perasaan masing-masing. "Istirahatlah," ucap Alika. "Kak," kata Jihan lirih. Alika segera menoleh. "Apa aku harus lapor polisi, agar Ayahku dipenjara." Jihan bercerita. "Heh!" Alika terkejut. "Kenapa?" "Dia mengambil semua uangku, bahkan uang yang harus aku gunakan untuk berobat Ibuku." Air mata Jihan menetes begitu saja. "Aku sudah sangat muak dengan perlakuan dia. Aku ingin terbebas, aku ingin Ibu sembuh dan membawanya pergi dari kehidupan dia," ujar Jihan penuh emosi. Alika mengubah posisi tidurnya. Dia menghadap Jihan dan mengusap lengan wanita itu. "Laporkan, bila itu membahayakan kamu dan Ibumu," ujar Alika pelan. "Tetapi Ibu tak menyetujuinya," ujar Jihan kecewa. Dia menangis. Jihan berbicara banyak dengan Alika. Hal itu membuat dirinya sedikit lega. Hingga akhirnya dia tertidur pulas. Alika tersenyum melihatnya. Dia mengusap rambut yang menutupi wajah Jihan. "Kamu pasti bisa melewati ini," ujarnya lirih tanpa membangunkan Jihan. Ternyata Jihan tak benar-benar tertidur. Setelah memastikan Alika tertidur, dia menatap Alika lekat. Tersenyum saat melihat wanita itu tertidur pulas. "Maafkan aku, aku harus merepotkan mu kali ini," ujar Jihan lirih. "Tapi..." Dia mengingat tadi sebelum dirinya bertemu Alika. Jihan bertemu Kai saat di elevator. Melihat Jihan menangis, membuat Kai khawatir. Bahkan saat Kai melihat lengan Jihan terluka, ia segera mengobatinya. Awalnya Kai berpikir Jihan akan menemuinya. Namun, setelah mendengar Jihan bahwa dia akan bertemu Alika, Kai terkejut. "Ah, kamu mengenal dia?" tanya Kai penasaran. Jihan mengangguk perlahan. Melihat Kai begitu terkejut saat mendengar Jihan mengenal Alika. "Kenapa?" tanya Jihan penasaran. "Ah, enggak." Kai berusaha menutupi keterkejutannya. "Ah, jangan katakan kalau kita saling kenal." Kai memerintah. "Maksudnya?" tanya Jihan bingung. "Oh." Kai bingung mencari jawaban yang tepat. "Kita tetangga, kalau kamu bilang baru dari tempatku, akan sangat canggung. Iya, kan?" Kai beralasan. Jihan menggeleng. "Kenapa? Kamu mengenal dia?" tanya Jihan menyelidik. "Tidak, kita hanya sebatas tetangga," ujar Kai menampik. Dia terlihat gugup. "Pokoknya, rahasiakan kalau kita ini kenal, apalagi kita adalah mantan kekasih," ujar Kai ragu. "Aneh," ujar Jihan mengerutkan keningnya. "Please!" Pinta Kai sedikit memohon. Jihan ingin tahu kenapa Kai seperti itu. Tidak biasanya laki-laki yang sudah dikenalnya sejak dulu seperti sekarang ini. Namun, pada akhirnya akhirnya dia mengangguk setuju. ____ Jihan menatap Alika lekat. "Ada hubungan apa kalian berdua?" tanya Jihan lirih. "Kenapa dia begitu panik memohon sama aku untuk merahasiakan hubungan kita." Matanya masih menatap fokus pada Alika, dan akhirnya memilih untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN