13. Pencarian Raka

2021 Kata
Dering telepon pagi itu terlalu bising, membuat sang empunya terbangun dan mengeluh kesal. Dia enggan mengambil ponsel miliknya, namun suara itu sangat mengganggunya. "Ah, kenapa setiap pagi harus ada panggilan!" keluhnya. Kai membuka matanya, meraba samping tempat tidurnya dan berhasil meraih telepon genggam pribadinya. Netranya melihat siapa penelepon pagi itu yang menghubungi. "Kenapa?" Hanya itu yang ditanyakan Kai saat menjawab telepon. "Kamu bukan Ayahku, bukan juga Ibuku, kenapa meneleponku setiap hari!" Kai kesal. Jay selalu mengganggunya pada waktu pagi. "Maaf," ujar Jay merasa tak bersalah. "Tapi ini penting! Serius," ujar Jay yakin. "Apa?" Kai mengangkat alisnya, sedikit penasaran karena memang nada suara Jay tak biasa. "Raka bekerja di perusahaan Ayahnya. Asian Group," ujar Jay. Kai segera membuka matanya sempurna. "Kamu yakin?" Kai memastikan. "Bagaimana kamu bisa tahu?" "Yakin!" Jay berkata tegas. "Mau ketemu, nggak? Buruan sebelum dia ilang lagi!" Jay memerintah. "Oke, oke," ujar Kai segera bergegas. Dia langsung lompat dari tempat tidurnya. Membersihkan diri. Tak sampai lima menit sudah kembali keluar dari kamar mandi. Matanya melirik jam dinding, pukul enam lebih tiga puluh lima menit. "Ah, aku masih bisa nunggu dia di depan perusahaan," ujar Kai bersemangat. Setelah selesai, Kai segera menuju lantai bawah tanah untuk mengambil mobilnya di sana. ____ Untunglah jalanan pagi itu tak terlalu macet. Mungkin karena Kai menghindari jalanan yang rawan macet dan bisa sampai tepat di depan perusahaan Raka pada pukul tujuh lewat empat puluh menit. Itu artinya masih ada dua puluh menit jarak antara bel masuk perusahaan. Kai hanya berada di dalam mobil, netranya terus menatap gedung pencakar langit di depannya, yaitu Asian Group. Dia ingin menemui Raka hari ini, ingin menyelesaikan semua masalahnya. Namun, hampir dua jam dia menunggu, tak terlihat sedetikpun batang hidung Raka, atau bahkan batang mobilnya. Kai mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi Jay saat itu. "Kamu yakin?" tanya Kai begitu panggilannya dijawab oleh Jay. "Apa?" Jay bingung. "Tentang Raka yang bekerja di perusahaan Ayahnya." Netra Kai tak lepas dari gerbang perusahaan itu "Yakin! Kenapa?" Jay bertanya. "Apa mungkin kamu datang ke sana? Apa kamu gila!" Jay segera menyadari. "Tidak, aku hanya di depan gedung perusahaan." Kai membela diri. Sangat terdengar bahwa Jay menghela napas. "Dok, di sana banyak wartawan. Itu perusahaan penyiaran! Lupa?" Kai menghela napas lirih. Dia putus asa. "Iya, aku tahu," ujarnya lemas. "Pergilah! Aku akan mencari informasi dia lebih banyak." Jay memerintahkan. Laki-laki itu terlihat khawatir dengan Kai. Bagaimana bisa Kai mendatangi Raka di tempat yang tak seharusnya. Dia bisa saja bertemu wartawan dan kembali trending atas masalahnya. Kai kesal, dia hanya bisa memutar mobilnya menjauh dari gedung itu. "Aku harus ketemu Raka secepatnya!" Kai bertekad bulat. "Masalah ini harus sudah selesai," ujarnya lemas. [[]] Alika menyerah, sudah kesekian kalinya dia menolak untuk bertemu Raka. Namun, laki-laki itu terus memaksanya bertemu. Pesan yang selalu Alika abaikan juga membuat Raka tak menyerah. Dia terus mengirimkan perhatian dan rasa merasa bersalah pada Alika. Ponsel di depannya sudah berdering lebih dari tiga kali. Dika yang menyaksikan mengerutkan kening. Lagi-lagi matanya memandang ponsel dan Alika secara bergantian. "Kenapa nggak di angkat?" tanya Dika bingung. Alika mengedikkan bahu. "Aku masih enggak ngerti kenapa dia kembali lagi," ucapnya pelan. "Tanya dong, dengan alasan apa dia ninggalin kamu!" Dika menyarankan. Alika tersenyum. "Urusi saja pacarmu, jangan terus-menerus menggangguku!" Dika tersenyum. Dia mengalah, meninggalkan ruangan Alika. Setelah kepergian Dika. Ponselnya berdering lagi. Membuat Alika menghela napas, mengalah dan akhirnya menjawab panggilan itu. "Kenapa?" jawab Alika ketus. "Sibuk?" Suara Raka sudah berhasil membuat Alika muak. "Oh, lagi rapat." Jawaban itu membuat Raka mengerti. "Ah, sorry." Raka meminta maaf. "Oh ya, nanti sore bisa ketemu? Aku ingin berbicara sama kamu," ujar Raka. "Kebetulan aku sampai Jakarta sekitar jam empat sore. Nanti sekalian aku jemput," ujar Raka menjelaskan. "Tidak, maaf. Hari ini aku sudah mempunyai janji dengan orang lain," ujar Alika. "Siapa?" Raka penasaran. Laki-laki itu langsung menampakkan wajah kesal. "Ada," jawab Alika singkat. "Ah, bagaimana kalau besok?" tanya Raka lagi. "Lihat saja besok," jawab Alika ketus. "Sudah ya, aku tutup." Alika memutuskan panggilan itu. Wanita itu mencoba tenang. Dia berkali-kali mengembuskan napas. Bisa-bisanya Raka datang tanpa permisi. Dia seenaknya memutuskan hal yang menurut Alika penting. "Aku udah lupa semua tentang dia! Aku harus tegas sama dia, aku yakin aku pasti bisa membuat dia jera." Alika memutar-mutar kursi yang diduduki. Otaknya berpikir bagaimana caranya Raka tak mengganggunya lagi. ____ Kai lagi-lagi mengganti saluran TV di depannya. Suara TV itu terlalu keras, membuat dirinya tidak menyadari ada orang masuk ke apartemen. Wanita cantik bergaun warna hitam, dengan rambut kecoklatan berdiri di hadapan Kai. Dia tampak menatap Kai lekat. Setelah laki-laki itu menyadari, dia hanya mendengkus kesal. Membuang jauh pandangannya. "Apa yang Mama lakukan di sini?" tanya Kai ketus. Matanya tak sekalipun menatap wanita paruh baya yang ternyata ibunya. Wanita berumur sekitar empat puluh tujuh tahun itu kini mengambil posisi duduk di sofa yang sama dengan Kai. "Apa kamu akan terus begini? Temui Ayahmu, minta pekerjaanmu kembali!" Wanita itu mengusulkan. "Mama peduli?" Kai tersenyum sinis. Lagi-lagi mengganti saluran TV di depannya. Membuat wanita itu mengambil alih remot kontrol di tangan Kai. Mematikan TV dengan cepat. "Kai! Oke, selama ini Mama enggak pernah kasih perhatian ke kamu. Tapi, Mama nggak pengen kamu seperti Kian." Kai menoleh, dia tersenyum kecut. "Mah, urusi saja urusan Mama. Aku bukan anak kecil, aku pasti bisa menyelesaikan urusanku sendiri!" Kai mengambil kembali remot ditangan ibunya. Kembali menyalakan dan menambah volume suara televisi itu sehingga lebih keras dari sebelumnya. "Kai!" Mamanya merebut remote dan mematikan layar flat yang besar itu. "Kembali ke rumah sakit! Atau kamu akan kehilangan pekerjaanmu!" Bentak perempuan itu. "Ma!" Kai tak setuju. Dia memang tak menyukai ibunya. Namun, dia selalu menuruti kata-kata ibunya. "Please, temui Ayahmu, ikuti apa kata dia. Jangan terlalu egois, jangan terlalu gengsi. Berhenti mencari kebenaran itu!" Kai menghela napas, dia memijat keningnya. Memejamkan mata, pria itu begitu pusing dengan kedatangan ibunya. "Pergilah!" ujar Kai lirih. "Aku harus istirahat," ucapnya tanpa memandang wajah Diana. Wanita itu menghela napas. Dia menatap putra bungsunya nanar. "Ingat kata Mama, segera temui Ayahmu," ujarnya sebelum benar-benar pergi. Diana berlalu. Lagi, Kai mendengkus kesal. Wajahnya tampak tidak suka dengan kedatangan Diana. Dia menyandarkan kepalanya di sofa. Memejamkan mata dan mencoba tenang. Namun, mengingat ucapan ibunya tadi membuatnya geram. "Argh," gerutunya kesal. Dia menjatuhkan bantal tepat di atas wajahnya. "Kenapa aku harus punya orang tua seperti mereka!" gerutu Kai kesal. [[]] Tepat pukul dua siang, Kai sampai di rumah sakit tempat ayahnya bekerja, yang merupakan rumah sakit di mana dulu dia bekerja. Dia menelusuri koridor rumah sakit yang tampak ramai. Banyak dokter dan perawat yang mengenalinya. Mereka saling bertegur sapa, walaupun reaksi Kai tak seheboh mereka. Kai hanya mengulas senyum tipis saat ada yang menyapa dirinya. Tanpa mengetuk pintu, dia masuk ke sebuah ruangan bertuliskan CEO. Ruangan ayahnya yang besar dan serba nyaman. Laki-laki paruh baya yang tengah duduk di sana menoleh. Penglihatan yang sudah mulai kabur membuatnya memakai kacamata untuk memastikan siapa yang masuk tanpa sopan santun. Dia berdehem. Wajahnya tampak tak suka dengan kedatangan anak bungsunya. "Ada apa?" tanyanya tegas. Suara beratnya membuat Kai sangat muak. "Wah, sepertinya rumah sakit ini aman-aman saja. Aku lihat pasien semakin banyak di sini," ujar Kai tanpa basa-basi. "Ada urusan apa?" tanya Wijaya lagi dengan tegas. "Bukankah seharusnya Anda menanyakan kapan saya datang? Setelah dibuang!" Suara Kai semakin menekan. Wajahnya tak bisa berbohong bahwa dia sangat marah sekarang. "Pergilah!" usir Wijaya kesal. Kai tersenyum sinis. Dia bahkan kini tertawa, melihat perlakuan Wijaya kepada dia dirinya. "Wah, kita seperti tidak memiliki hubungan darah," ujar Kai ketus. Wijaya tak menjawab. "Aku akan membuka klinik sendiri," ujar Kai tiba-tiba. "Apa?" Wijaya terkejut, dia tersenyum sinis. "Nama kamu itu sudah tidak dipercaya oleh pasien! Apa? Membuka klinik sendiri?" Wijaya tak percaya dengan ucapan Kai. "Sadarlah! Karir kamu sudah berakhir di dunia medis." Suara Wijaya sedikit tinggi. Dia ingin anaknya tersadar dengan posisinya. "Benarkah? Apa Ayah berpikir seperti itu? Akan saya buktikan!" Kai bertekad. "Tidak, tidak perlu kamu membuktikan," ucap Wijaya kesal. "Nanti juga kamu akan membuat masalah lagi, membuat kekacauan lagi, dan aku yang akan membersihkannya." Perangai Wijaya sangat buruk, tegas dan juga sarkas. "Itu karena Ayah tidak ingin nama Ayah kotor! Ayah selalu membersihkannya dengan uang, uang, dan uang!" bentak Kai. "Benar! Termasuk donor jantung untuk kamu! Itu aku dapatkan dengan cara kotor!" "Ayah!" teriak Kai. Dia mulai emosi, tapi menahannya. "Sudahlah! Kamu hanya harus mengikuti kata Ayah." Wijaya menyarankan. "Aish," umpatnya kesal. Kai berbalik. Dia ingin pergi, namun langkahnya terhenti. "Kembalilah bekerja." Ucapan Wijaya membuat Kai menghentikan langkahnya. "Dengan satu syarat, sembuhkan satu pasien, buat surat kesembuhan dia, dan kembali bekerja di rumah sakit." Kai hanya menahan emosinya saat itu. Dia mengepalkan tangannya erat dan pergi kembali melangkah. Keluar hanya dengan kemarahan. Jay yang melihat itu enggan menyapa Kai. Karena sudah dipastikan laki-laki itu akan marah besar. ___ Alika duduk di depan toserba. Dia menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Hingga langit berubah warna menjadi jingga, orang yang ditunggunya tak tampak batang hidungnya. Alika menghela napas. Dia berpikir, bagaimana dia menghubungi Kai. Mereka tak saling menyimpan nomor telepon. Sore ini dia sudah berjanji akan mentraktirnya makan. Namun, Kai tak juga muncul dalam pandangannya. Alika menghela napas. Memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya. Dia berjalan santai menuju gedung apartemen yang ditinggalinya. Langkahnya tak pasti, matanya selalu memandang ke arah lain yang tak jelas. Pintu elevator terbuka, Alika dengan lemas masuk. Matanya melihat sosok Kai yang akan menuju elevator. Tentu saja kedua bola matanya langsung membulat. "Oh," ujar Alika. Kai pun menyadari keberadaan Alika. "Maaf, tadi aku...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Alika tersenyum. "Tidak apa-apa," jawab Alika. Kai melihat jam tangan yang bertengger manis di pergelangan lengannya. "Baru pulang?" tanya Kai. Alika segera mengangguk. Kai menghela napas lega. Mereka hanya terdiam di dalam lift selama beberapa detik. Akhirnya pintu kembali terbuka dan Alika segera keluar. "Aku duluan," ujar Alika. Dia berjalan menuju pintu apartemennya. "Mmm, apa di rumahmu ada bahan makanan yang perlu dimasak?" tanya Kai tiba-tiba. Alika yang sudah hampir sampai di depan pintu menghentikan langkahnya. Dia menoleh, menatap Kai yang masih pada posisinya. "Kenapa?" tanya Alika ragu. "Aku akan memasakkannya untukmu. Tidak, untuk kita berdua." Kai menawarkan. Alika tersenyum lalu mengangguk. [[]] Baru selesai membersihkan diri, bel pintu apartemen Alika berbunyi. Untung saja Alika sudah menggunakan baju tadi saat di kamar mandi. Dia segera membuka pintu, tangannya masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Mendapati Kai berdiri dengan sebuah kantong berisikan minuman. "Masuk." Alika mempersilakan. "Aku terlalu cepat datang?" "Tidak," jawab Alika segera. "Duduklah! Aku akan mengeringkan rambut dulu." Alika masuk ke dalam kamarnya. Kai duduk, dia melihat isi apartemen Alika, tata letaknya sama dengan apartemennya, hanya barang-barang yang digunakan berbeda. Kai mengambil sebuah majalah di meja di depannya. Dia membuka halaman per halaman, sembari menunggu Alika. Tak sampai sepuluh halaman, Alika sudah keluar. Rambutnya sudah lebih rapi dari sebelumnya. "Ah, aku masak sekarang," ujar Kai. "Mm, mending kita pesan saja. Kamu di sini tamu, masa disuruh masak," ujar Alika menyarankan. Kai tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. "Tak apa," ujar Kai. Dia menuju dapur. Alika pun mengikuti, saat Kai membuka kulkas, dia terkejut, begitu banyak air minum dalam botol di sana. Hanya ada beberapa sayur dan telur yang hanya tinggal empat biji. Alika tersenyum malu. "Hanya itu yang aku punya," ucap Alika. "Sebenarnya aku tak suka masak. Sisa bahan itu, Tanteku yang masak." "Ah, enggak apa-apa." Kai tersenyum. "Apa ada nasi?" "Nasi?" Alika terdiam, dia kembali tersenyum dan menggeleng. Kai menghela napas. "Jadi?" Kai bertanya bingung. Lagi-lagi Alika tersenyum. "Kita pesan aja," ujar Alika. Kai mengalah, ia mengangguk setuju. Alika memesan makanan siap saji. Kai terdiam, entah apa yang dipikirkannya. Membuat Alika penasaran. "Apa ada masalah?" tanya Alika. Ia mencoba mengusir kecanggungan diantara keduanya. Kai mengangguk. "Banyak!" ujarnya datar. Alika tersenyum. Dia mengangguk mengerti. Mengerti bahwa Kai mungkin tak ingin bercerita. Namun, rasa canggung dan sunyi menyimuti apartemen bernuansa biru muda itu. Membuat Alika berinisiatif mengambil remote TV. "Kita lihat acara apa, ya?" ujar Alika sudah berancang-ancang menekan tombol power. Namun, Kai mencegahnya, ia menarik lengan Alika dan jatuh dipelukannya. "Sebentar," ucap Kai lirih. Alika terkejut, ia hanya membulatkan matanya sempurna. Kai semakin erat memeluknya. "Aku butuh kamu," ucapnya lirih. Alika semakin tak mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN