Kai masih memeluk Alika erat. Wanita itu hanya terdiam. Namun, setelah merasa lebih baik, Kai melepaskan pelukan itu. Ia tak berani menatap mata perempuan di depannya. Malu, itu yang dia rasakan setelah sadar akan perbuatannya.
"Maaf," ucapnya lirih. Dia menunduk.
Alika tersenyum, dia tahu beban yang dipikul Kai sangatlah berat. Terlihat dari raut wajah laki-laki itu sangat masam.
"Semangat, kamu pasti bisa melewati ini," ujar Alika menyemangati. Dia berusaha membuat Kai tersenyum, tetapi gagal. Kai hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tetapi, aku kurang percaya diri sekarang. Satu masalah membuatku benar-benar hancur saat ini." Kai berucap. "Kadang aku berpikir, aku enggak pantas jadi seorang dokter," ujarnya lagi.
Alika menggelengkan kepala. "Apapun masalah kamu, bagaimanapun keadaan kamu sekarang, kamu adalah Dokter yang sangat dibutuhkan pasien. Mereka percaya, menggantungkan hidupnya pada kamu." Alika mencoba meyakinkan.
"Aku seorang pembunuh," ujar Kai lirih. Perempuan itu sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan Kai. Dia mengira bahwa memang nasib pasien ada di tangan dokternya. Namun, bukan berarti mereka adalah pembunuh. Alika tak bisa menjawabnya karena ia ragu dan mungkin akan menyakiti hati Kai. Alika berpura-pura mengalihkan pembicaraan.
"Ah, kenapa lama sekali makanannya," ujar Alika mengambil ponselnya. "Apa drivernya nyasar?" tebaknya. Kai tahu, Alika menghiburnya, sehingga dia sedikit mengulas senyum tipis. Alika tak ingin membuat Kai lebih hancur lagi dengan masalahnya. Dia ingin melihat laki-laki itu tersenyum walau cuma sedikit.
"Oh ya, besok aku pasti akan traktir kamu di restoran. Janji," ucap Alika bersemangat. Ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya dengan tegak. Matanya dengan genit dikedipkan, hanya untuk menghibur. Kai mengangguk.
"Padahal aku tadi sudah menunggu hampir satu jam," ujar Alika pura-pura merajuk. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Heh." Kai terkejut mendengarnya.
Alika mengangguk cepat. "Kenapa kamu enggak datang-datang! Kamu patut dimarahi," ujar Alika meledek.
Kai menatap Alika lekat. Dia seolah mencari kebenaran pada wajah perempuan itu. "Serius?" Kai tak percaya. Lagi-lagi Alika hanya mengangguk cepat.
"Maaf," ujar Kai merasa bersalah. Alika menggeleng cepat. Dia berpura-pura marah.
"Maaf aja enggak cukup," ucap Alika.
"Lantas?" tanya Kai. "Seperti ini?" Kai mendekatkan wajahnya ke arah Alika. Tersisa lima sentimeter lagi, Kai berhenti. Bel pintu rumah Alika berbunyi. Alika tersenyum lega, menjauhkan wajahnya dan segera mendorong tubuh Kai agar menjauh.
"Drivernya datang," ucapnya gugup. Dia segera berlari ke arah pintu. Kai hanya tersenyum. Alika datang dengan dua buah kantong berisikan makanan. Membukanya dengan cepat dan menampilkan makanan kerusakannya.
Mereka menikmati makanan yang sudah dipesan. Tersenyum canggung, membuat Alika benar-benar malu saat itu. Tetapi, wanita itu menutupinya, mencoba melakukan hal yang bisa mengusir kecanggungan itu. Terkadang kedua pasang mata itu bertabrakan lalu membuangnya di tempat lain.
Alika terus memakan ayam yang sudah ditangannya. Dia tak menyadari bahwa Kai tengah memperhatikannya sembari mengulas senyum.
"Aku mencintaimu," ucap Kai tiba-tiba. Alika hampir batuk dan hampir menyemburkannya. Dia segera menghentikan makannya. Wanita itu menatap Kai lekat.
"Kenapa?" Alika bingung.
"Aku mencintaimu." Kai mengulanginya lagi. Kai mendekatkan wajahnya ke arah Alika. Dia mencium Alika dengan bekas makanan di area bibirnya. Wanita itu lagi-lagi dibuat terkejut. Matanya hanya membulat, membiarkan sisa ayam yang dipegangnya terjatuh.
Mereka berciuman cukup lama. Hingga akhirnya Alika menerimanya dengan melingkarkan tangannya di punggung Kai. Laki-laki itu sangat menikmatinya. Hampir satu menit, keduanya tersadar dan saling melepaskan. Alika malu, begitu juga Kai, dia sangat malu. Canggung menyelimuti keduanya. Kai berpura-pura memainkan saos dengan ayam di tangannya.
Setelah beberapa menit, Kai tersenyum. Dia akhirnya berani menatap Alika. Wanita itu benar-benar tersipu sekarang, dilihat dari pipinya yang memerah seperti tomat. Sedangkan Alika sendiri tak mau menatap Kai.
"Mungkin aku sedikit terlambat mengatakannya. Tetapi, aku serius," ujar Kai. "Mungkin sudah tidak pantas untuk mengatakannya. Tetapi, aku ingin kamu berada di sisiku dalam keadaan apapun," ucap Kai serius. Netranya tak melepas pandangannya dari Alika. Dia mengangguk dan tersenyum. Otomatis, Kai langsung memeluknya erat.
"Terima kasih," ucapnya.
"Kenapa aku gampang banget jatuh cinta akhir-akhir ini?" batin Alika. "Raka, bahkan luka ini masih ada. Tetapi, aku bahagia dengan orang ini." Alika terus membatin dalam pelukan Kai.
Beberapa menit Kai memeluknya, kini melepaskan pelukan itu dan menatap Alika dengan senyuman. Dia tersenyum melihat Alika begitu gugup .
[[]]
Raka berdiri di depan gedung apartemen Alika. Dia mungkin menunggu wanita itu pagi ini. Berkali-kali melirik jam tangannya, sudah lebih dari tiga puluh menit. Dia menghela napas. Namun, perjuangan menunggunya tak sia-sia. Alika muncul dari balik pintu lobi utama gedung itu. Raka mengulas senyum, walaupun Alika belum menemukan keberadaannya.
Tak menunggu waktu lama, dia melihat keberadaan Raka, membuat langkah Alika ragu. Laki-laki itu melambaikan tangannya cepat. Tersenyum selebar mungkin untuk menarik perhatian Alika. Karena jarak mereka yang lumayan dekat dan sudah terlanjur melihatnya, terpaksa Alika mendekat. Raka terlihat merapikan bagian kemejanya.
"Apa kabar?" tanya Raka membuka pembicaraan. Alika menatap Raka malas. Dia terdiam tak menjawab pertanyaan Raka.
"Bagaimana bisa dia menanyakan kabar, setelah meninggalkanku," batin Alika kesal. Raka tersenyum dia menyodorkan sebuah kopi yang sudah diseduh dalam kemasan. Kopi yang dibelinya tadi sebelum berada di tempat ini. Kopi kesukaan Alika yang menjadi minuman favoritnya.
"Sudah sarapan?" tanya Raka lagi. Dia merasa tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Dia bersikap biasa, tetapi Alika terlihat tidak menyukainya. Raka lagi-lagi tersenyum, wajahnya tersirat rasa khawatir. Namun, dia menutupinya.
"Sudah," jawab Alika singkat. Raka mempersilakan Alika untuk berjalan. Mereka beriringan. Tangan Alika memegang erat selempang tas yang dipakainya. Terlihat sangat tidak nyaman berada di dekat Raka. Berbeda dengan Raka, dia malah sesekali memandang Alika dengan senyumannya.
"Aku, sudah punya kekasih," ucap Alika menghentikan langkahnya. Mendengar itu, Raka juga menghentikan langkahnya. Menoleh karena posisi Alika kini berada di belakangnya. Dia menatap Alika penuh selidik. Berharap itu hanya suatu kebohongan dari mulut wanita itu.
"Benarkah? Dengan siapa?" Raka mencoba biasa. Dia masih belum percaya ucapan Alika.
"Iya, ada. Orang yang mencintaiku sekarang," ucap Alika ragu. Raka mengangguk. Dia kembali mempersilakan Alika untuk berjalan. Wanita itu semakin bingung dibuatnya.
"Apa nanti sore punya acara?" tanya Raka. Alika segera menjawab dengan anggukan kepala.
"Aku punya pacar, sudah pasti aku sibuk," jawabnya tegas. Hal itu membuat Raka tersenyum.
___
Jay pagi-pagi sudah datang di tempat Kai. Kali ini bukan mengganggunya melalui telepon, namun datang langsung setelah ia menyelesaikan jaga malam di rumah sakit. Mata panda ya terlihat sangat kentara, tetapi stamina cowok itu masih terlihat kuat.
"Bukankah kamu harus istirahat? Kenapa malah datang ke sini?" ujar Kai ketus, setelah tadi pemilik rumah membukakan pintu untuk tamunya, Jay langsung masuk mengikuti Kai. Setelah duduk di sofa panjang, Jay belum juga mengutarakan maksudnya datang pagi-pagi. Jay menatap Kai penasaran. Membuat laki-laki itu bingung.
"Ada apa ini? Jam delapan pagi Dokter udah bangun," ujar Jay mencoba mencari tahu. Kai tersenyum tipis. Dia beranjak dari duduknya, berniat untuk mengambil air minum untuk Jay.
"Kata orang kalau kita bangun siang, rejekinya dipatok ayam," ujar Kai, berlalu menuju dapur dan mengambil dua botol air di dalam kulkas. Kembali dan memberikan minuman pada temannya. Jay menerima alasan Kai, dengan mengangguk.
"Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Kai.
"Nanti malam ada pesta perusahaan Asian Group. Sudah dipastikan Raka akan hadir." Jay meminum minuman dalam botol yang berhasil dia buka dengan mudah. Kai mengangguk mengerti.
"Tapi, tidak semua orang bisa hadir di sana. Dokter harus cari cara supaya bisa ke sana." Jay menginterupsi kan. Lagi-lagi Kai hanya mengangguk. Dia sangat tahu situasi sekarang. Kesempatan emas untuk menemui Raka secara langsung.
"Itu gampang!" Kai mengumpulkan tekadnya untuk bertemu Raka. Semakin cepat mereka bertemu, semakin cepat pula masalah ini akan selesai.
Jay datang hanya memberikan informasi itu. Setelah dia pergi, Kai segera menghubungi seseorang melalui panggilan telepon genggamnya.
Setelah mengakhiri percakapannya di telepon, Kai tampak tersenyum puas. Dia tersenyum seperti menyiapkan sesuatu.
Kai akhirnya mendapatkan undangan untuk bisa masuk ke pesta di mana Asian Group mengadakannya. Dia mendapatkannya dari salah satu rekan ayahnya yang memang berteman dengan orang tua Raka. Kai tersenyum puas. Selang dua jam, seseorang menekan bel pintu apartemennya. Tak menunggu lama, Kai segera membuka pintu dan menampilkan seorang kurir memberikan paket berupa sebuah amplop. Setelah menerima Kai kembali menutup pintu dan segera membukanya. Ia menatap undangan berwarna hitam yang berada di dalam amplop cokelat dan tersenyum puas
"Baik, kita selesaikan nanti malam," ujarnya bertekad.
Waktu begitu cepat berlalu, menjelang sore hari Kai sudah di depan kantor Alika. Mereka berjanji akan bertemu dan sekedar nongkrong di kafe. Pukul empat lewat lima belas menit, batang hidung wanita yang ditunggu Kai muncul. Laki-laki itu tampak tersenyum, segera turun dari mobil dan menyambut kedatangan Alika. Ia membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
"Maaf, sedikit terlambat," ujar Alika tak enak. Kai menggelengkan kepala, dia tersenyum.
"Baru sampai, kok." Kai lalu menutupkan pintu kembali dan mengitari mobil untuk menuju pintu pengemudi.
"Oh ya, nanti malam aku ada acara, jadi mungkin sekarang kita pulang saja." Alika berucap ketika Kai sudah berada di tempat duduknya.
"Oh begitu, oke." Kai tersenyum.
Alika tersenyum. Dia mengingat pertemuannya tadi dengan Raka. Raka mengatakan bahwa orang tuanya ingin bertemu dengan Alika dalam pesta nanti malam yang diadakan Asian Group. Alika sudah menolak, tetapi Raka memaksanya dan memohon. Sampai akhirnya Alika setuju, tetapi ia akan mengajak Jihan turut serta, dan Raka pun menyetujuinya.
Kai melajukan mobilnya, melewati jalanan kota yang sore itu sudah macet. Kai lagi-lagi menghela napas.
"Setiap hari ketemunya macet," gumamnya. Alika hanya tersenyum menanggapi kekasihnya.
"Ah, malam ini kamu mau ngapain?" tanya Alika. Kai menoleh.
"Ah, aku? Mmm, kebetulan aku diundang ke sebuah acara, semacam pesta gitu." Kai tersenyum. Alika mengangguk mengerti.
"Apa perlu nanti malam aku antar kamu dulu?" Kai menawarkan.
"Tidak, aku bersama dengan temanku," ucap Alika. Wajah Alika tampak pucat pasi, penuh keringat, dan juga sedikit bergetar.
"Kenapa? Kamu sakit?"
Alika menggeleng cepat. Dia tersenyum.
"Tidak apa-apa," jawab Alika ragu.
"Tidak, kamu sakit?" Kai memeriksa kening Alika. Benar, suhu badannya sangat panas. Seketika Kai langsung khawatir. Dia menepikan mobilnya.
"Kenapa tiba-tiba?" Kai segera membuka dasbor mobil dan mengambil kotak obat di sana. Tangan Alika meraih tangan Kai.
"Sebenarnya, aku...." Alika ragu akan berucap. Kai menghentikan aktivitasnya, menatap kekasihnya lekat.
"Aku tidak terbiasa menggunakan mobil," ujarnya lirih. "Itu membuatku tidak aman," ucap Alika lemah. Kai menghela napas. Dia memegang tangan Alika, mengusap dan menggenggamnya erat.
"Maaf," ucap Kai. "Aku nggak tahu, aku pikir kamu bakal baik-baik saja. Kenapa nggak bilang sama aku?" ucap Kai merasa bersalah. Alika menggeleng cepat.
"Tidak apa-apa," ucap Alika.
"Maaf, maaf," ucap Kai berkali-kali. Dia memeluk Alika dengan erat. "Maafkan aku," ucap Kai lirih.
Wanita itu benar-benar masih takut dengan mobil pribadi. Ia dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang begitu tragis.
___
Suasana pesta begitu ramai. Terlihat dari banyaknya tamu yang datang, para pelayan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada sebuah panggung kecil di pusat gedung. Tamu yang hadir berpakaian layaknya akan mendapat penghargaan. Alika bersama Jihan memasuki gedung itu, disambut dengan penjaga pintu yang selalu menyapa para tamu.
"Wah, baru kali ini aku datang ke pesta." Jihan bergumam takjub. Dia melihat disekelilingnya makanan yang sudah disediakan di sana. Alika tersenyum.
"Kak, Kakak kenal sama yang ngadain pesta ini?" tanya Jihan dengan polosnya.
"Iya," jawab Alika singkat. Tiba-tiba saja ketakjuban Jihan beralih saat Raka datang dengan setelan jas berwarna hitam dengan warna dasi yang senada.
"Selamat malam," sapanya ramah. Jihan dan Alika bersamaan menoleh. Melihat senyum Raka yang begitu manis malam itu, membuat Jihan terdiam di tempatnya. Alika hanya tersenyum tipis.
"Hai," sapa Raka pada Jihan. Jihan tersenyum.
"Aku Raka," ucapnya memperkenalkan diri. Dia menjulurkan tangan untuk bersalaman.
"Aku Jihan," jawab Jihan menyambut tangan Raka.
"Selamat menikmati pestanya," ujar Raka ramah. Jihan mengangguk cepat.
"Ah, Mamaku mau ketemu kamu nanti setelah Papa menyambut di depan. Oke," ujar Raka. Alika mengangguk ragu.
"Wah, ada pertemuan keluarga, nih?" Jihan berusaha mencairkan suasana.
Raka tersenyum.
"Kak, kenapa enggak pernah cerita kalau punya pacar setampan ini," ledek Jihan.
"Heh." Alika terkejut.
"Tidak, kita sudah putus." Raka menjawab ucapan Jihan.
"Heh! Maaf," ujar Jihan tak enak hati.
Tiba-tiba percakapan mereka terganggu akan satu suara. Ketiganya menoleh saat seorang laki-laki muncul diantara mereka.
"Sudah lama tidak bertemu," ucap Kai dengan tegas. "Rupanya kamu di sini," ucapnya lagi. Mata Alika membulat dengan keberadaan Kai. Begitu juga Raka, dia sangat terkejut dengan kehadiran dokter psikiater itu. Terlebih Jihan yang tak menyangka dengan kedatangan Kai. Tatapan Kai terlihat sangat marah.