Alika ketakutan, keringat membasahi tubuhnya. Dia terduduk lemas di pojok ruangan apartemennya dengan lampu masih padam. Dia menangis, menutupi kedua telinganya, menelungkup kan kepalanya di tengah-tengah kaki yang dia tekuk. Tubuhnya terguncang hebat. Kejadian kecelakaan itu kembali membayanginya dengan jelas. Biasanya kejadian itu hanya akan muncul di mimpi buruknya selama ini. Namun, fakta yang baru saja diungkapkan oleh Raka tadi, membuatnya dengan jelas mengingat bagaimana kecelakaan itu terjadi. Alika berteriak kencang. Dia sangat ketakutan. Tubuhnya tak berdaya. Rambut sudah tak beraturan lagi. "Tolong aku!" Suaranya sangat lirih. Napas memburu seperti kuda tengah berpacu. "Tolong aku!" ucap lagi. Dia benar-benar ketakutan. Suaranya hampir tidak terdengar. Di tempat lain, Raka m

