Raka membawa Jihan ke rumah sakit. Dia tak bisa bertanya banyak karena Jihan belum juga tersadar. Raka menunggunya di depan ruang UGD. Setelah Dokter menyarankan untuk memindahkan Jihan ke ruang inap, tanpa ragu Raka setuju. Dia menunggu Jihan di sana. Berinisiatif memberikan kabar kepada Kai. Sambungan telepon lagi-lagi di luar jangkauan. "Ada apa, sih?" Raka terlihat kesal. "Kenapa susah banget dihubungi," ucap Raka. Suara Raka tak terlalu keras, takut membuat Jihan terbangun. "Kamu telepon siapa? Kai?" tanya Jihan tiba-tiba. Suaranya masih terdengar lemas, Raka terkejut. Dia melihat Jihan sudah membuka matanya. "Kamu nggak apa-apa?" Setelah diperhatikan, ada bekas pukulan di sudut bibir Jihan. Dan area lengan Jihan bengkak berwarna kebiruan. Raka melihatnya iba. Jihan tersenyum, di

