bc

Tercipta UntukKu

book_age16+
431
IKUTI
1.5K
BACA
time-travel
love after marriage
dare to love and hate
comedy
lighthearted
campus
colleagues to lovers
like
intro-logo
Uraian

Terkadang hidup ini tak adil, kadang kala hati harus terluka karena cinta. Rinila Paramitha gadis cantik berprestasi dalam akademis tetapi kurang beruntung dalam hal percintaan. Radit Pria yang telah berhubungan dengannya sejak masa SMP harus meninggalkannya karena perjodohan. Bias, sosok pria yang sempat membuat Rinila terlupa pada kisah Cintanya bersama Radit ternyata adalah sepupunya. Lalu hadir Gaung dalam hidupnya, Dosen muda yang menyukainya. Saat Rinila Paramitha menyadari hatinya memilih Gaung. Rinila Paramitha harus menerima kenyataan pahit, Gaung telah di jodoh 'kan, akan segera menikah dan memboyong istrinya ke kota Pelangi untuk melanjut 'kan S2nya dan hidup bersama istrinya di kota itu.

Bagaimankah kisah Rinila Paramitha dalam urusan hatinya yang selalu terhalang akan perjodohan? Siapakah yang akan menjadi pendamping hidupnya? Bagaimana Rinila Paramitha bertemu dengan jodohnya?Apakah Rinilah Paramitha bertemu jodohnya lewat usaha sendiri atau ia pun di jodoh 'kan orang tuanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Mencoba Lupakan
Pagi ini Rinila Paramitha duduk sendiri di sudut jendela menghadap jendela. Ia memandang jauh keluar jendela menatap langit kota Pelangi yang kelabu, pandangan menghilang bersama tatapan mata yang terlihat kosong. Seorang pramusaji datang menawarkan teh, beberapa saat setelah Rinila Paramitha duduk. Ia menjawab tawaran pramusaji itu dengan anggukan dan kembali menatap ke luar jendela tanpa kata yang keluar dari bibir mungilnya. Ini hari kedua Rinila Paramitha berada di kota Pelangi. Salah satu kota di belahan Barat Negeri Langit. Kota yang sangat dingin yang menusuk tulang. Sekalipun dengan cuaca yang ekstrem orang-orang tetap berlalu lalang beraktivitas. Rinila Paramitha tersenyum kagum melihat pakaian musim dingin yang di gunakan para wanita di kota Pelangi. Pandangannya lurus kedepan. Ia teringat undangan pernikahan yang ia terima satu bulan yang lalu. Kartu undangan yang indah, bertinta emas dengan inisial R&R. Namun, R di undangan itu bukan lah namanya. Kedatangan pramusaji yang mengangkat piring kotor kembali mengaget 'kannya, Rinila Paramitha menghapus bayangnya tentang inisial kartu undangan itu. Matnya mulai menghangat, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh di tempat itu, tetapi gagal. Air matanya luruh menuruni sudut matanya. Ia pun buru-buru mengambil tisu untuk mengusap sudut matanya. Kemudian ia pun memutuskan beranjak pergi dari ruangan itu untuk berjalan-jalan menikmati keindahan kota Pelangi, berharap ia dapat menghibur hatinya akan luka yang ia rasa 'kan, walaupun dengan cuaca yang sangat dingin. Langkah Rinila Paramitha berhenti saat melihat sepasang pengantin dan hatinya kembali nyeri. Teringat pada Radit dan undangan pernikahannya yang ia terima waktu itu. Masih terekam jelas percakapan terakhir mereka. "Maaf 'kan aku, ibu ku menjodohkan aku. Kita akhiri saja hubungan ini, sudah tak mungkin kita bersama lagi tanggal pernikahan telah di tetap 'kan," ucap Radit tanpa ada rasa ragu "Apa? Kau dijodoh 'kan, lalu apa artinya hubungan kita selama ini. Bukan kah ibumu juga tau tentang hubungan kita?" Kata Rinila Paramitha dalam tangisnya "Maaf." kata Radit singkat dan berlalu pergi tanpa memperdulikannya Luka yang cukup dalam yang di rasakan Rinila Paramitha kehilangan sosok pria yang ia cintai, pria yang selalu bersamanya sejak ia masih duduk di bangku SMP, pria yang selalu menemaninya melewati tujuh tahun kisah mereka. Mungkin akan butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka hatinya. Rinila Paramitha ingin berlari, menenangkan diri sejauh mungkin dari Radit. Ia pun memutuskan travelling selama satu minggu ke kota Pelangi. Bukan kota romantis tapi ia berpikir mungkin dengan travelling setidaknya ia bisa melupakan rasa sakit yang menyakiti hatinya untuk cintanya yang telah ia berikan pada Radit. Rinila Paramitha tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya, sejak ia memasuki ruang makan dan terus mengikuti langkah kakinya. Sosok Pria tampan yang merasa iba saat melihat sosok wanita cantik menanggis dan memutuskan diam-diam mengikuti langkah wanita itu berkeliling kota Pelangi hingga kembali kehotel tempat mereka menginap. Saat tiba di kamarnya, Bias tak bisa melupakan wajah cantik wanita itu. Wanita yang telah mencuri perhatiaannya, wanita yang terus menari-nari dalam pikirannya, wanita yang membuatnya rela mengikuti saat cuaca benar-benar dingin dan yang sangat ia sesalkan, mengapa ia tak menghampiri wanita itu memberikannya sapu tangan saat ia menanggis dan berkenalan dengannya "Sial! Apa besok kami bisa bertemu kembali?" tanyanya pada dirinya * * * Pagi ini Bias bergegas ke dining room dengan buru-buru, disana belum banyak orang yang terlihat. Dia berharap bisa dipertemu 'kan dengan wanita itu lagi, dan Tuhan mengabulkannya. Wanita itu memasuki ruang tempat ia berada, mata Bias tak lepas dari wajah cantiknya, wanita itu terlihat lebih menawan hari ini bibirnya dihiasi senyumannya dan itu membuat paras cantiknya lebih mempesona. Bias tak tau bagaimana caranya agar bisa menyapa wanita itu, dan dengan sengaja ia berdiri menabrak wanita itu hingga membuat isi di piringnya hampir tumpah. Mau bagaimana lagi hanya itu yang bisa lakukan untuk membuat wanita itu menyadari keberadaannya. "Ups, sorry!" ucap Bias berpura-pura Rinila Paramitha terpana sesaat. Pria yang menabraknya sungguh sosok manusia pilihan, sempurnah secara fisik, ganteng, tinggi, putih, hidung mancung. Sungguh sosok yang pasti dikagumi para wanita. Namun, Rinila Paramitha tak mau larut dalam situasi sentimental, ia pun berlalu menggal 'kan Bias tanpa kata dengan acuh tak acuh. Melihat ketidak perdulian wanita itu, Bias tak berhenti mengikuti Rinila, ia pun bertanya kembali saat Rinila meletakan piring di tangannya ke atas meja. "Apa kau baik-baik saja?" Rinila hanya membalasnya dengan senyuman ringan dari bibir mungilnya Bias pun lalu memberani 'kan diri memperkenalkan dirinya setelah melihat senyum dari bibir Rinila. "Bias Swargaloka Muhammad!" ucapnya mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah Rinila Paramitha masih saja terdiam dan tak membalas uluran tangan Bias. Merasa salam perkenalannya di tolak dan harga dirinya direndah 'kan Bias lalu menarik uluran tangannya perlahan. Ia hendak beranjak dari hadapan Rinila, namun langkahnya terhenti, ketika mendengar wanita itu menyebut namanya "Rinila Paramitha," Ujar Rinila tak sampai hati pada Bias Nama Rinila menggema direlung hati Bias, ingin rasa ia berteriak kegirangan. Namun yang ia lakukan sebaliknya dengan santai ia berkata dengan senyum di bibirnya. "Senang berkenalan dengan mu, Rinila! Jika kau punya waktu hubungi aku di nomor ini aku akan mengajak mu berkeliling kota jika kau mau." Kemudian Bias mengeluarkan kartu namanya dan bergegas meninggalkan perkenalan yang singkat itu dan menuju kantor untuk menghadiri rapat pagi Rinila hanya membalas dengan tersenyum tipis dan tak membalas kata-kata Bias dan hanya melihat punggung Bias yang berjalan meninggal 'kannya "Cowok aneh!" bisiknya mengeleng-gelengkan kepala saat Bias telah menghilang dari ruangan itu. Rinila pun kembali melanjutkan sarapannya tanpa kata. * * * Meeting pagi ini membuat Bias ingin melupa 'kan sejenak tentang Rinila, sosok gadis yang sejak kemarin memukau matanya. Namun, penyangkalan dalam hatinya bukan keputusan yang tepat. Sepanjang pagi itu, Bias tak dapat mengikuti meeting dengan baik. Pikirannya terbang pada sosok wanita cantik yang ia temui, Rinila, sosok gadis cantik yang di lihatnya sejak kemarin pagi, wanita yang membuat hatinya gelisah tak menentu dan membuatnya tersenyum tanpa ia sadari. Bias mengingat kembali saat pertama bertemu Rinila, saat ia duduk termenung di sudut jendela hingga Bias membuntutinya berkeliling kota Pelangi dan saat mereka dipertemukan kembali pagi ini, ia melihat Rinila tersenyum dan senyuman itu membuat wajah cantiknya semakin merona. "Rinila. Rinila. Rinila! Kau benar-benar mempesona." Nama itu mengema di dinding hati Bias. BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) "Apa yang kau lakukan di kota ini?" Tanya Bias mulai mengobrol sambil memasukan makanannya ke dalam mulut, Rinila tetap tak menjawab dan dengan santai mengunyah. "Apa kau tak terbiasa menjawab pertanyaan dari seseorang?" sindir Bias Rinila menatap Bias, ada kekaguman di pikirannya sungguh elegan pria yang sedang duduk bersamanya "Apa ada yang salah dengan wajah ku?" tanya Bias mengibas-ngibas 'kan tangan di depan wajah Rinila "Ma ... Maaf!" ucap Rinila singkat, segera memaling 'kan wajahnya dan kembali mengunyah makanan. "Apa kau sakit? Kau terlihat begitu murung." Rinila tersenyum sedikit menggeleng dan berkata. "Aku baik-baik saja."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook