Alvino melajukan mobil sedan mahalnya dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke kantor. Sambil menyetir, berulang kali laki-laki berwajah tegas itu mencoba menghubungi Arsyila. Nada sambung terdengar, tetapi nomor yang dia hubungi tak kunjung menerima panggilannya, dan hal itu membuat Alvino semakin panik saja.
"Kamu ke mana, sih, Sayang?"
Alvino terus membunyikan klakson dan menyalip mobil apa saja yang ada di depannya. Dia mengendarai mobil dan menginjak pedal gas paling dalam, layaknya pembalap formula one. Beruntung, jalanan sedikit lengang karena masih jam kerja.
Setibanya di kantor, Alvino langsung mencari Daniel ke ruang operator karena Daniel mengatakan jika dia akan mengecek CCTV untuk mencari tahu ke arah mana Arsyila pergi. Karena semua orang yang ditanyai, tidak ada yang melihat Arsyila keluar dari kantor. Termasuk resepsionis, juga security yang berjaga di lobi.
Kedatangan Alvino disambut Daniel dengan tatapan penyesalan karena dia tidak dapat menjaga Arsyila, seperti yang diminta oleh sang atasan sebelum meninggalkan kantor tadi pagi.
"Maaf, Pak Bos. Tadi, saya pulang sebentar agar istri saya bisa makan siang karena anak kami tiba-tiba demam dan rewel," terang Daniel, sebelum Alvino menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
Ya, tadi pagi sebelum Alvino keluar kantor, laki-laki itu sudah berpesan pada Daniel agar menjaga Arsyila dari gangguan Pradana. Sebenarnya Alvino juga berat meninggalkan Arsyila, apalagi Merry hari ini juga izin tidak masuk kerja. Namun, dia yang sudah telanjur membuat janji dengan Pak Danar tidak dapat membatalkan pertemuannya dengan ayah Arsyila.
Alvino mengatur napasnya terlebih dahulu setelah mendudukkan diri karena dari area parkir tadi, dia berlari untuk menuju ruang operator. Dia lalu menggeleng, memberikan jawaban pada Daniel. "It's oke, Niel. Kita fokus saja cari Syila."
Daniel merasa sedikit lega karena Alvino tak mempermasalahkan kelalaiannya. Daniel tahu jika berhubungan dengan keluarga, khususnya anak, bosnya itu akan memberikan kelonggaran bagi siapa saja. Karena Alvino sendiri sangat menyayangi Sasya dan begitu menjaga bocah berusia lima tahun yang sudah tidak memiliki ibu itu.
"Sudah dicek semua, Niel?"
Pertanyaan Alvino kemudian, mengalihkan perhatian Daniel dari layar monitor. "Sudah, Bos. Syila masuk ke dalam lift lalu ke meja kerjanya untuk mengambil tas. Setelah itu dia kembali masuk lift, tapi ...."
"Tapi, apa?" cecar Alvino dengan tidak sabar dan tatapannya ikut tertuju ke layar datar di hadapan yang menayangkan gambar setiap pintu lift.
"Dari tadi kami nyari Syila keluar dari lift ke semua lantai, tapi Syila tidak ada keluar dari lift, Bos."
"Kok, bisa?" Alvino menatap seorang operator yang berada di sana, serta Daniel, secara bergantian.
"Baseman sudah dicek?"
Alvino dan operator itu mengangguk, kompak. Jawaban keduanya, membuat kedua bahu Alvino menjadi lemas. Laki-laki itu lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Sejenak, keheningan tercipta. Tiba-tiba saja, Alvino beranjak lalu keluar dengan tergesa, tanpa mengatakan apa pun pada Daniel hingga membuat suami Rania itu mengerutkan keningnya.
"Pak bos mau ke mana, sih?" gumamnya bertanya sembari menoleh ke arah sang operator. Tentu saja operator tersebut menggeleng karena dia pun tidak tahu ke mana sang bos akan pergi.
Di tempat lain, Lena yang terpaksa membatalkan pemeriksaan kandungan karena sang suami marah-marah padanya gara-gara kejadian tadi, lalu memilih kembali ke rumah Pradana yang ditempati oleh sang mama mertua. Wanita yang kandungannya semakin membesar itu kemudian mengadu pada Mama Mira jika sang suami saat ini bekerja satu kantor dengan Arsyila.
Hubungan Lena dengan Mama Mira kembali membaik meski Lena masih tetap tinggal di apartemen, sejak uang belanja untuk Mama Mira ditambah bahkan lebih banyak dari yang wanita paruh baya itu minta dari Arsyila. Lena terpaksa memberikan karena Mama Mira mengancam akan membeberkan rahasia mereka berdua pada Pradana. Karena itulah, Lena pun meminta uang lebih banyak lagi pada Pradana agar segala kebutuhan, dan kegemarannya yang senang berfoya-foya terpenuhi.
"Pantes aja, ya, Ma. Beberapa minggu terakhir, sejak Mas Dana pindah ke kantor pusat, sikap putra Mama sama Lena, tuh, berubah."
"Berubah bagaimana maksud kamu, Len?"
"Ya, berubah, Ma. Mas Dana enggak lagi sehangat dulu."
Mama Mira masih terdiam, mencoba untuk menerka-nerka.
"Apa mungkin, karena sekarang Syila makin cantik, ya, Ma."
Mama Mira menatap sang menantu dengan dahi berkerut.
"Dia, tuh, sekarang makin cantik, tahu, Ma. Entah perawatan di klinik mahal mana, dia? Yang pasti, bukan perawatan klinik biasa, Ma."
"Dia duwit dari mana, Len, untuk perawatan mahal? Dia 'kan juga harus bayar kontrakan?"
"Morotin bos-bos tajir, mungkin," jawab Lena yang terdengar jelas jika dia begitu iri pada Arsyila.
"Pokoknya, Mama bantu Lena, ya, Ma, agar Mas Dana enggak berpaling," pinta Lena seraya menggenggam tangan sang ibu mertua. "Perut Lena juga makin besar, nih, Ma, dan Lena butuh perhatian dari Mas Dana," lanjutnya sendu hingga mengundang simpati dari Mama Mira.
"Kamu tenang saja, Len. Mama akan pastikan jika si Dana tidak akan pernah ninggalin kalian."
Mama Mira kemudian mengelus lembut perut buncit Lena yang kini sudah hampir memasuki bulan ke sembilan. Terlihat jelas jika mamanya Pradana itu sangat mengharapkan bayi yang masih bersembunyi di dalam rahim Lena. Sementara Lena menunduk menatap perut dengan senyuman seringai terulas di bibirnya yang merah.
Di lantai teratas gedung perkantoran Pratama Adijaya Group, nampak seorang wanita tengah meringkuk di sebuah bangku panjang. Wanita berhijab itu sepertinya ketiduran. Sementara di samping kakinya, duduk Alvino yang menatapnya prihatin.
"Kamu pasti kelelahan menangis, Syila, sampai wajah kamu sembab seperti itu," gumam Alvino yang hanya bisa menatap Arsyila tanpa berani menyentuh wanita cantik itu karena menghargainya.
Rupanya, Alvino tadi segera berlari untuk menuju roof top karena feeling-nya mengatakan demikian. Benar saja, wanita yang dia khawatirkan itu ada di sana dan ketika Alvino menjumpainya Arsyila sudah dalam keadaan tertidur. Namun, jejak air mata masih jelas terlihat di wajahnya yang putih bersih.
Alvino terus memandangi wajah wanita yang telah berhasil mencuri perhatiannya itu. Sesekali, pemuda itu menghela napas panjang untuk mengurai rasa sesak di d**a.
"Sepertinya, jalan yang kita lalui akan sedikit sulit, Syila. Tapi, aku tak 'kan menyerah," batin Alvino ketika teringat pertemuannya tadi dengan ayah Arsyila.
Detik berganti, senja pun berlalu. Namun, Arsyila tak kunjung terbangun. Terpaksa, Alvino membangunkan wanita berhijab itu karena kumandang adzan magrib mulai terdengar.
"Ini, di mana?" tanya Arsyila seperti orang linglung.
"Kita di roof top, Sayang."
Arsyila mengedarkan pandangan lalu mencoba mengingat-ingat.
"Aku mau keluar saja dari kantor ini, Mas." Perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Arsyila, setelah dia dapat mengingat semuanya.
"Minum dulu," kata Alvino seraya menyodorkan air mineral yang sudah dia buka. Alvino memang menyempatkan turun sebentar tadi untuk mengambil air minum.
"Aku sudah mendengar semua dari Daniel. Setelah ini, kita sholat dulu agar pikiran kamu tenang. Jangan mengambil keputusan, di saat kamu masih terbawa emosi," lanjutnya bijak dan Arsyila mengangguk, mengerti.
Usai sholat di ruangan Alvino, Arsyila yang hendak langsung pulang dicegah oleh laki-laki itu. "Ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Tentang apa, Mas? Kalau tentang pekerjaan, apakah aku akan tetap bekerja di sini atau keluar, aku belum bisa memikirkannya dengan baik."
"Bukan tentang itu, Syila."
"Lalu?"
"Kita ngobrol sambil cari makan. Yuk!" Tak mau dibantah, Alvino kemudian menggiring Arsyila menuju lift untuk turun.
Sambil melajukan mobil, Alvino menceritakan pada Arsyila hasil pertemuannya tadi dengan Pak Danar. Alvino juga menceritakan obrolannya semalam dengan sang papa. Tak ada satu pun yang dia lewatkan. Termasuk perseteruan kedua orang tua tersebut, sejauh yang Alvino ketahui.
"Kalau menurut Mas sendiri, sebenarnya yang salah siapa?" tanya Arsyila.
Alvino menggeleng. "Aku hanya tahu dari satu versi, Syil, yaitu versi papaku. Dan pastinya, karena itu versi papa, tentu papa yang benar."
Arsyila mengangguk, membenarkan.
"Cobalah kamu cari tahu, bagaimana kalau menurut ayah kamu. Dari situ, nanti kita bisa tarik benang merahnya agar bisa ketemu. Karena sepengatahuanku, masalah yang terjadi di antara mereka, tuh, sebenarnya masalah biasa yang enggak perlu dibesar-besarkan."
Arsyila kembali mengangguk. "Iya, Mas. Aku akan secepatnya temui bapak."
"Kalau bisa, malam ini juga kamu nginap di sana, dan ajak ngobrol ayah kamu."
"Jangan sekarang, Mas. Aku lelah. Aku ingin segera istirahat."
Alvino tak memaksa dan tak lagi mengajak bicara. Laki-laki itu lalu menghentikan mobilnya di sebuah restoran dan mereka berdua makan malam di sana dalam keheningan. Alvino yang memahami jika mood Arsyila sedang buruk, tak ingin semakin merusak suasana hingga dia biarkan saja Arsyila dengan kebisuannya.
Usai makan, Alvino segera mengantarkan Arsyila ke kontrakan.
"Yakin, enggak mau aku antar ke rumah ayah kamu?" tanya Alvino, memastikan sekali lagi sebelum dia pulang.
"Iya," jawab Arsyila singkat.
"Atau, mau menginap di rumahku, dan tidur sama Sasya?"
Arsyila menggeleng.
"Ya, sudah. Kalau ada apa-apa, kabari aku segera," kata Alvino sembari mengusap lembut puncak kepala Arsyila.
"Masuklah! Aku baru akan pergi, setelah kamu masuk."
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Mas! Aku akan baik-baik saja. Salam sayang buat Sasya," kata Arsyila, sebelum menutup pintu.
Tubuh Arsyila merosot di balik pintu. Dia benar-benar merasa lelah hari ini. Lelah jiwa pastinya karena kedatangan Lena yang tak terduga.
Keberadaan Pradana di kantor yang sama dengannya saja, sudah membuat Arsyila merasa tidak nyaman. Apalagi setelah kejadian barusan, di mana semua orang akhirnya tahu jika dia adalah mantan istri Pradana, Arsyila tidak dapat membayangkan bagaimana dia akan menghadapi hari-hari selanjutnya di kantor.
Suara ketukan pintu, berhasil mengurai lamunan Arsyila. Kening wanita cantik itu pun berkerut, menebak siapa yang malam-malam bertandang ke kontrakannya.
"Apa Mas Vino balik lagi ?" gumamnya seraya bangkit. Arsyila kemudian membuka pintu yang belum dia kunci itu.
"Syila, Aku kangen."
bersambung ...