"Syila? Makin cantik aja janda itu! Tidak! Aku tidak boleh membiarkan Mas Dana dekat dengannya! Aku harus berbuat sesuatu agar dia keluar dari perusahaan ini! Aku enggak akan tenang jika suamiku satu kantor dengannya!" Lena menggeram marah lalu berjalan dengan cepat menghampiri Pradana dan Arsyila.
"Dasar, janda gatal! Beraninya kamu goda suamiku!" Lena yang tadinya datang ke tempat kerja sang suami hendak mengajak Pradana untuk ke dokter kandungan, langsung melabrak Arsyila, dan menampar pipi mantan teman baiknya tersebut.
Arsyila yang tidak tahu-menahu kehadiran Lena, tentu saja terkejut, dan tak sempat menghindar. Tamparan Lena yang begitu keras itu pun, mendarat dengan cantik di pipinya, dan menyisakan gambar tangan berwarna merah di sana. Rasa panas seketika menjalar bukan hanya di pipi, tetapi juga di hati Arsyila.
"Jangan sembarangan menuduh, Lena! Aku bukan janda gatal seperti yang kamu katakan!"
"Mana ada maling yang ngaku?"
Lena lalu melihat ke arah karyawan yang mulai berdatangan. Kebetulan, mereka baru saja selesai makan siang, dan hendak kembali ke ruangan masing-masing. Melihat ada keributan, mereka pun berhenti untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Kalian semua lihat 'kan, wanita berhijab ini? Dia adalah pelakor yang bersembunyi dibalik baju muslimahnya! Dia telah menggoda suamiku!" kata Lena seraya menunjuk ke arah Arsyila.
"Len, sudah, Len. Ayo, ikut aku!" Pradana berusaha mengajak istrinya itu untuk pergi, tetapi Lena menolak.
Lena masih terus menjelek-jelekkan Arsyila, sementara Pradana hanya bisa menatap sang mantan istri dengan tatapan bersalah.
"Apa yang dikatakan wanita itu tidak benar! Dia yang dulu hadir dan menyebabkan rumah tanggaku hancur!" Arsyila mencoba membela diri.
"Jangan menyalahkan aku atas hancurnya rumah tanggamu, Syila! Mas Dana tidak akan berpaling jika kamu bisa mengurusnya dengan baik! Sebagai istri, kamu terlalu angkuh! Mentang-mentang karirmu bagus dan gajimu besar, kamu semena-mena dengan Mas Dana! Mana ada suami yang betah diperlakukan seperti itu sama istrinya? Tapi di saat Mas Dana sudah bahagia denganku dan sebentar lagi kami akan memiliki anak, kamu malah berusaha untuk menggodanya!"
Lena yang pandai bersilat lidah, memutar balikkan fakta hingga membuat para karyawan yang mendengar, menatap sinis pada Arsyila. Apalagi sebelumnya, sudah banyak desas-desus yang mengatakan jika Arsyila perayu lelaki berkantong tebal. Tentu saja kabar miring itu dihembuskan oleh karyawan yang iri melihat kedekatan Arsyila dengan sang atasan. Mereka pun kemudian mengangguk membenarkan statement Lena, tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya seperti apa.
"Tidak! Aku tidak menggodanya! Dia yang terus mengejarku!"
"Suamiku tidak akan pernah kembali pada mantan istri yang tidak mau hamil anaknya!" seru Lena.
"Kalian, dengarkan baik-baik! Demi karier, Syila tidak mau hamil! Tapi setelah dia tahu aku mengandung anak Mas Dana, dia bermaksud memisahkan kami. Apakah seorang muslimah yang baik, akan tega melakukan hal kotor seperti ini?"
Penuh Drama, Lena berkata dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Tentu saja para karyawan yang menyaksikan dan kebanyakan wanita itu, bersimpati pada Lena yang perutnya membuncit.
Arsyila menggeleng. Bibirnya tak mampu menyuarakan pembelaan diri, melihat tatapan kemarahan dari mereka semua.
"Dasar, janda gatal! Sudah dapetin bos, masih saja menggoda suami orang!"
"Ingat, Syila! Tuhan itu adil! Dia pasti akan menghukummu! Semoga kamu tidak akan pernah laku selamanya!"
"Cantik, berhijab, tapi sayang ... najis!"
Suara-suara yang menyakitkan mulai terdengar. Arsyila mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan kebenaran.
"Tolong, dengarkan aku dulu. Kalian tidak tahu cerita yang sebenarnya," pinta Arsyila, tetapi satu pun tak ada yang mau mendengarkan suaranya.
"Wanita gak punya hati sepertimu, tak 'kan pernah bisa memiliki anak! Masak mau memisahkan wanita hamil dengan suaminya!"
Caci maki dan sumpah serapan dari mereka semua masih saja terlontar.
Arsyila menghela napas panjang sembari melirik Pradana yang diam tak melakukan apa-apa untuk membelanya. Arsyila pun tersadar jika laki-laki itu memang sudah berubah entah sejak kapan. Bukan lagi Pradana yang dulu begitu menjaganya agar jangan sampai Arsyila terluka.
Arsyila juga sadar, sekuat apa pun dia mencoba untuk membela diri, tak 'kan ada satu pun yang percaya, karena namanya sudah telanjur buruk di mata sebagian karyawan. Terutama karyawan wanita yang saat ini berada di sana dan bersorak atas apa yang menimpa Arsyila.
"Percuma aku buang-buang waktu dan menjelaskan semua. Mereka tetap tidak akan percaya karena udah telanjur tidak menyukaiku," batin Arsyila sendu.
Merasa bahwa tidak akan ada seorang pun yang percaya dengan apa yang dia katakan, Arsyila bergegas masuk ke dalam lift. Sementara Pradana langsung menyeret lengan sang istri dan membawanya keluar.
Di tempat lain, Alvino yang mengadakan janji temu dengan Pak Danar, saat ini tengah berbincang serius dengan ayah dari Arsyila tersebut.
"Saya harap, Bapak sudi memberikan restu kepada saya untuk menikahi Syila," lanjut Alvino, setelah menyampaikan semua isi hatinya terhadap Arsyila kepada Pak Danar.
Laki-laki paruh baya itu terkekeh pelan, mendengar keberanian Alvino. "Saya akui kamu ini sungguh gentleman, Anak Muda. Kamu sudah tahu jika diantara saya dengan Tama sudah lama bersitegang, tapi kamu tetap berani menemui saya bahkan hendak meminang putri saya."
"Karena saya serius dengan putri Anda, Pak Danar."
"Kamu tidak takut jika saya tolak?"
Alvino menggeleng. "Saya akan terus berusaha."
Pak Danar kembali terkekeh. "Keras kepala juga kamu, Anak Muda. Persis seperti Tama."
"Bagaimana, Pak? Apakah ...?
"Anak Muda," potong Pak Danar, sebelum Alvino menyelesaikan pertanyaannya. "Meski kamu serius dengan putri saya dan saya lihat, kamu juga laki-laki yang baik, dan bertanggungjawab, tapi saya tidak bisa menyerahkan anak perempuan saya pada keturunan Tama."
"Kenapa, Pak?" Meski sedari awal Alvino sudah menduga akan mendapatkan penolakan dari ayah Arsyila, tetap saja laki-laki tampan itu merasa tidak terima.
"Tanyakan saja pada ayahmu, kenapa saya bersikap seperti ini." Setelah mengatakan demikian, Pak Danar segera beranjak karena Elang sudah menjemputnya.
Setelah melajukan mobilnya meninggalkan area parkir restoran, Elang mencecar sang ayah dengan banyak pertanyaan.
"Si Vino mau ngapain ngajak Bapak ketemu? Apa, dia ingin minta restu pada Bapak? Jadi benar, dia serius sama Dik Syila?"
"Ya, begitulah. Dia minta restu ingin menikahi adikmu."
"Lalu? Bapak merestuinya, 'kan?"
Pak Danar menggeleng.
"Kenapa, Pak? Bukankah, kita sudah membahasnya kemarin-kemarin? Bapak bilang, asal Syila bahagia tak mengapa menurunkan ego."
"Benar, Lang. Tapi setelah bertemu dengan anaknya Tama secara langsung dan berbicara dengan Alvino, bapak benar-benar tidak rela melepas adikmu jadi bagian dari keluarga laki-laki tua yang keras kepala itu, Lang."
"Tapi Vino 'kan enggak tahu apa-apa, Pak. Lagipula, bukan hanya Pak Tama yang keras kepala. Bapak juga."
"Loh ... kamu, kok, malah jadi nyalahin bapak, Lang."
"Maaf, Pak. Elang enggak bermaksud nyalahin Bapak. Tapi kalau menurut Elang, Bapak sama Pak Tama, tuh, sebenarnya sama saja. Kalian sama-sama keras kepala dan lucu."
"Lucu? Apanya yang lucu, Lang?" Pak Danar seketika menoleh ke arah sang putra.
"Ya, lucu saja, Pak. Hanya gara-gara masalah sepele, bisa-bisanya persahabatan Bapak sama Pak Tama sampai putus. Bertahun-tahun lagi dendamnya, gak selesai-selesai." Elang yang sedang menyetir mobil, geleng-geleng kepala sendiri.
"Ini bukan tentang masalahnya yang sepele, Lang, tapi harga diri."
Meski Elang sudah mencoba untuk membuka mata sang ayah jika apa yang selama ini terjadi antara ayahnya dengan ayah Alvino hanya kesalahpahaman semata, tetapi Pak Danar tetap keras kepala, dan tidak mau mengakui kesalahpahaman tersebut.
Di tempat duduknya semula, Alvino masih termenung setelah kepergian Pak Danar. Laki-laki yang memiliki tatapan tajam itu masih tak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh ayah Arsyila yang menurutnya tidak memuaskan. Sama seperti jawaban sang papa semalam ketika Alvino mengutarakan maksud ingin melamar Arsyila pada ayahnya.
"Jujur, papa sangat terkejut mengetahui jika ternyata Syila adalah putrinya Danar. Padahal sebelumnya, papa sudah sangat setuju kamu dengan dia karena Sasya sangat menyukai Syila. Tapi kalau kenyataannya demikian ...." sejenak, Pak Tama menjeda perkataan.
"Tapi kenapa, Pa? Bukankah Papa sendiri yang kemarin-kemarin meminta pada Vino untuk segera melamar Syila? Papa tetap setuju 'kan, Vino menikahi Syila?" kejar Alvino.
Ya, Pak Tama sudah mengetahui jika cucu dan putranya menyukai Arsyila, sekretaris Alvino. Meski Alvino belum memperkenalkan Arsyila dengan sang papa secara langsung, tetapi Pak Tama yang sudah beberapa kali bertemu dengan Arsyila dalam rapat, menyukai kepribadi sekretaris putranya itu. Dan ketika sang cucu mengatakan jika dia menginginkan Arsyila menjadi ibunya, Pak Tama mendorong Alvino untuk segera meminang Arsyila.
Akan tetapi, setelah mengetahui jika ternyata Arsyila putri dari sang rival, Pak Tama sepertinya berubah pikiran. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki paruh baya tersebut. Sepertinya, laki-laki yang rambutnya mulai memutih itu sedang mengingat masa lalu.
"Pa?"
Suara Alvino berhasil menyeret Pak Tama dari lamunan. Pak Tama lalu berdeham sembari membetulkan duduknya kembali.
"Kalau kamu memang ingin melamar Syila pada ayahnya, pergilah! Apa pun jawaban yang diberikan Danar, kamu harus bisa menerimanya karena seperti itu pula jawaban papa."
"Jadi, ini ... maksudnya bagaimana, Pa? Papa kasih restu 'kan buat Vino untuk menikahi Syila?"
Pak Tama segera beranjak lalu menuju ke kamarnya, tak mau memberikan jawaban atas kebingungan sang putra.
Di saat Alvino masih kebingungan memikirkan semua, di kantornya kehebohan justru terjadi. Daniel yang tadi dihubungi oleh salah seorang karyawan--ketika Lena melabrak Arsyila--dan langsung balik ke kantor meninggalkan makan siang yang sudah disiapkan Rania, menjadi khawatir karena tidak mendapati Arsyila di tempatnya. Apalagi setelah dia mendengar keterangan dari beberapa orang karyawan yang bersimpati atas apa yang terjadi pada Arsyila siang ini, kekhawatiran Daniel semakin menjadi.
"Kamu ke mana, sih, Syil?" Daniel yang sudah mencari Arsyila ke mana-mana, tetapi tidak dapat menemukan dan nomor sahabat sang istri pun tidak dapat dihubungi, merasa frustasi lalu memutuskan untuk memberitahukan pada Alvino.
"Apa? Syila menghilang?"
bersambung ...