Happy reading ...
"Syila? Jadi, dia sekarang bekerja di sini? Dan jadi sekretarisnya Pak GM? Makin cantik aja kamu, Syil. Bakalan lebih susah untuk bisa move on kalau aku sering ketemu dia. Enggak ketemu aja, aku enggak bisa melupakan dia," batin Pradana sembari terus memperhatikan Arsyila.
Rupanya, salah satu manager yang di-rolling ke kantor pusat itu adalah Pradana, mantan suami Arsyila. Pradana dan beberapa orang manager di-rolling di kantor pusat karena kinerjanya selama setahun terakhir, tidak memuaskan. Di sini, mereka akan mendapatkan pembinaan jika memang masih dapat dibina. Namun jika tidak, maka mereka terancam akan turun jabatan.
Acara penyambutan sekaligus pengarahan untuk manager dari beberapa divisi yang baru saja di-rolling itu, berlangsung cukup singkat. Hanya ada sambutan dari Alvino selaku GM yang mewakili direktur utama yang pagi ini menghadiri acara serupa di perusahaan yang baru diakuisisi tersebut. Selanjutnya, masing-masing dari manager baru memperkenalkan diri, dan dari situlah Alvino dapat menangkap tatapan Pradana yang berbeda pada Arsyila.
"Dasar, buaya buntung!" maki Alvino dalam hati.
Ya, Alvino diam-diam mencari tahu tentang masa lalu Arsyila. Tak tanggung-tanggung, laki-laki yang mulai jatuh hati pada Arsyila karena kelembutan hati wanita cantik itu-- terutama ketika menghadapi Sasya--juga mencari tahu kenapa Arsyila dan Pradana berpisah. Tak sulit bagi Alvino untuk mencari informasi tersebut karena perusahaan tempat Pradana dan Lena bekerja, kini sudah berada di bawah kendali perusahaan keluarganya.
Alvino pun merasa terganggu dengan tatapan Pradana pada Arsyila. Alvino lalu sengaja meletakkan tangannya pada sandaran kursi sang sekretaris yang jika dilihat dari tempat duduk Pradana, Alvino seperti merangkul Arsyila. Alvino kemudian mengajak Arsyila bicara dengan berbisik-bisik. Semakin terlihat mesra, lah, pemandangan tersebut.
Di bawah meja, tangan Pradana mengepal sempurna karena cemburu menguasai hatinya. "Memang aku yang telah melepaskan Syila. Tapi aku tetap tidak terima jika dia bersama laki-laki lain. Apalagi, laki-laki itu lebih tinggi derajatnya dariku."
Usai acara penyambutan, Pradana mencegat langkah Arsyila, dan Alvino.
"Maaf, Pak GM. Boleh, saya meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan sekretaris Anda?"
"Untuk?" Alvino mengernyit.
"Ada hal pribadi yang harus kami bicarakan," jawab Pradana penuh penekanan. Seolah, dia ingin memberitahukan pada Alvino jika Arsyila adalah miliknya.
Arsyila menggeleng. Namun, berbeda dengan Alvino yang mengangguk, memberikan izin hingga membuat Arsyila menatap protes padanya.
"Turuti aja, Sayang. Pastikan, bahwa dia benar-benar mundur setelah ini," bisik Alvino yang lagi-lagi membuat darah Pradana mendidih melihat keintiman sang mantan dengan laki-laki lain.
"Apaan, sih, Mas? Kita udah selesai, ya!" Arsyila menepis dengan kasar tangan Pradana yang berusaha memegang tangannya, setelah Alvino berlalu.
"Ada hal yang belum aku jelaskan, Syila."
"Semua sudah jelas, Mas! Enggak ada lagi yang perlu dijelaskan! Hubungan kita telah berakhir, sejak hari itu!"
Pradana menggeleng. "Aku masih mencintaimu, Syila. Sangat mencintaimu. Aku enggak bisa ngelupain kamu, Sayang. Kita balikan, ya?" Laki-laki itu merajuk seperti anak kecil.
Pradana sangat yakin jika Arsyila pasti mau kembali lagi seperti dulu karena yang dia tahu, sang mantan istri sangat mencintainya. Ya, itu dulu. Arsyila memang sangat mencintai Pradana. Wanita itu bahkan rela berdebat dengan almarhumah ibunya, demi mempertahankan hubungan dengan Pradana.
Akan tetapi, sepertinya Pradana melupakan jika dia telah menyakiti hati Arsyila begitu dalam. Mungkinkah Pradana lupa atau pura-pura tidak tahu jika hati wanita yang sudah disakiti sedemikian rupa, maka akan sulit untuk melupakannya?
Arsyila pun tertawa, mendengar perkataan sang mantan. "Apa? Cinta katamu? Balikan? Apa aku tidak salah dengar?"
"Aku serius, Syila. Kenapa kamu malah menertawakan aku?" Pradana masih saja memasang wajah memelas.
"Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan pernah menyakiti hatiku, Mas! Kamu tidak akan berselingkuh di belakangku bahkan dengan orang terdekatku sendiri! Sia-sia pengorbananku selama tiga tahun menjadi istrimu, Mas! Mendampingimu dari nol hingga kamu bisa seperti sekarang! Aku bahkan merelakan untuk tidak pernah merawat diriku sendiri karena uang belanja yang kamu kasih, diminta oleh mamamu! Aku juga diam saja ketika mamamu memperlakukan aku layaknya pembantu!"
Arsyila tersulut emosinya. Emosi yang tak sempat dia luapkan kala itu. Karena ketika Pradana menjatuhkan talak dan dia mengetahui kemandulannya, Arsyila hanya fokus dengan kesedihan, dan melupakan kemarahan meski dia mendapati fakta lain bahwa Pradana selingkuh dengan Lena.
"Tidak mungkin, Syil. Mama sudah aku kasih jatah sendiri setiap bulan. Mama juga selalu bilang, kalau makanan yang kita makan, beliau yang menyiapkan."
Bibir Pradana bergetar kala mengatakan demikian. Dia benar-benar terkejut karena tak menyangka, sang mama ternyata memperlakukan Arsyila dengan tidak baik. Pantas saja, seminggu setelah dia menikahi Lena, istri barunya itu protes, dan tidak mau tinggal serumah dengan sang mama.
"Aku enggak mau tinggal di sini, Mas! Aku enggak betah!" kata Lena dengan bibir mengerucut.
"Kenapa? Di sini 'kan ada mama yang bisa ikut jagain kamu?"
"Mamamu suka seenaknya saja nyuruh-nyuruh aku, Mas! Aku 'kan bukan pembantu! Lagipula, aku ini sedang hamil, Mas! Harusnya dimanja, bukan disuruh-suruh!"
"Masak, sih, mama begitu? Ya, sudah. Biar nanti aku kasih tahu mama pelan-pelan."
"Enggak perlu! Nanti yang ada, mama malah marah padaku karena disangkanya aku ngadu yang enggak-enggak! Kita pindah aja!"
"Pindah ke mana, Lena? Apa, kamu mau kembali ke kontrakan kamu? Oke, aku enggak masalah, kok, kita tinggal di sana. Tapi, kita harus bicara dulu sama mama pelan-pelan."
"Jangan ke kontrakan lamaku, dong, Mas!"
"Lalu?"
"Aku mau pindah ke apartemen!"
"Apartemennya siapa, Len?"
"Kita 'kan bisa sewa, Mas!"
"Sewa apartemen itu mahal, Len." Pradana mencoba memberikan pengertian dengan berkata pelan, meski sang istri sedari tadi berkata kasar.
"Kamu ini sebenarnya sayang sama kami berdua apa enggak, sih? Kalau enggak, ya, udah! aku bisa, kok, ngurus anak ini sendiri!"
Jika Lena sudah mulai merajuk dan bawa-bawa anak yang masih berada di dalam kandungan, maka Pradana tidak dapat berbuat apa-apa, dan hanya bisa menuruti keinginan wanita itu. Akhirnya, Pradana harus rela menyewa sebuah apartemen untuk Lena hingga dia harus bekerja lebih keras lagi demi mencukupi dua dapur sekaligus. Pradana juga harus merelakan tabungannya terkuras habis, demi memenuhi keinginan Lena yang terkadang di luar nalar. Lena adalah tipe wanita yang boros dan suka menghambur-hamburkan uang.
Dulu ketika masih bersama Arsyila, Pradana bisa menabung karena mantan istrinya itu pandai mengatur keuangan meski yang dia berikan tak seberapa karena harus dibagi juga dengan sang mama. Apalagi ketika Arsyila masih bekerja, sang mantan istri hanya mengambil sedikit saja uang yang dia berikan, dan sisanya dikembalikan lagi pada Pradana agar ditabung. Kini, boro-boro bisa menabung. Bisa mencukupi kebutuhan serta keinginan Lena saja, sudah untung.
Sang mama juga mulai ngomel-ngomel di minggu pertama pernikahannya dengan Lena. Alasannya, uang yang diberikan Lena tak seberapa padahal semua keperluan rumah tangga, Mama Mira yang belanja. Ya, keuangan Pradana dikuasai oleh Lena setelah mereka menikah.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak! Tapi, itu kenyataannya!" Suara Arsyila, berhasil menyeret Pradana dari lamunan.
"Dan apa balasan mamamu padaku, Mas? Mamamu justru mendukung pelakor itu karena dia dapat memberimu anak! Sementara aku ... aku hanyalah wanita yang tak berguna di matanya! Di mata kalian!" lanjut Arsyila dengan bibir bergetar.
Setiap kali teringat jika dirinya mandul, hati Arsyila terasa pedih. Arsyila merasa menjadi seorang wanita yang tak berguna karena tak bisa melahirkan keturunan hingga dia disia-siakan oleh mantan suaminya. Itu mengapa, Arsyila seolah menarik-ulur untuk menerima cinta Alvino. Banyak hal yang harus dipertimbangkan meski Alvino mengatakan jika dia bisa menerima Arsyila apa adanya.
Arsyila segera pergi dari hadapan Pradana, setelah mengeluarkan semua kekesalan hatinya. Wanita itu melangkah dengan cepat dan satu tujuannya, yaitu ke ruangan Alvino. Kedatangan Arsyila disambut Alvino dengan tatapan hangat.
"Silakan minum dulu." Penuh perhatian, Alvino mengambilkan segelas air putih untuk Arsyila.
Setelah menghabiskan segelas air putih, Arsyila lalu menceritakan pembicaraannya dengan Pradana. Wanita cantik itu bercerita dengan raut wajah yang masih terlihat kesal. Alvino pun nampak geram, mendengar cerita Arsyila.
"Menikahlah denganku, Syila, agar dia tak lagi mengganggumu. Kamu sudah memikirkan permintaanku kala itu, 'kan?"
Arsyila mengangguk. "Ya, aku sudah memikirkannya, Mas. Aku mau menikah dengan Mas jika ayahku merestui."
Alvino menghela napas panjang. Sedikit keraguan menyelinap di hatinya. Akankah ayah Arsyila yang masih berseteru dengan sang papa, mau memberikan restu untuknya?
"Baiklah, aku akan menemui ayahmu secepatnya."
Waktu terus berlalu. Arsyila mulai tidak nyaman bekerja di sana karena Pradana terus mengejarnya. Meski dengan sembunyi-sembunyi agar Alvino tak mengetahui aksinya, Pradana berusaha untuk bisa mendapatkan kembali hati Arsyila.
"Apa maumu, sih, Mas?" Arsyila bertanya dengan meninggikan suara ketika tiba-tiba Pradana ikut masuk ke dalam lift yang akan membawa Arsyila naik ke lantai atas, setelah makan siang.
Kebetulan, siang ini Arsyila makan sendirian di kantin karena Merry izin tidak masuk. Selama makan tadi pun, Arsyila sudah merasa tidak nyaman karena Pradana selalu mendekat. Dan sekarang, laki-laki itu bahkan nekat mengikutinya masuk ke dalam lift.
Terpaksa, Arsyila keluar lagi karena tidak mau ada kesalahpahaman dengan Alvino nantinya. Sayangnya, ketika mereka berdua baru keluar dari lift, ada beberapa karyawan wanita yang melihat. Kedekatan mereka berdua pun menjadi bahan gunjingan.
"Pinter, ya, janda gatel yang satu itu! Yang diincer, laki-laki yang berkantong tebal semua!" kata salah seorang di antara mereka, tanpa memelankan suaranya.
"Bener banget. Setelah dengan Pak Daniel, lalu Pak Vino. Sekarang, malah gaet manager baru," timpal yang lain.
"Asal kantong tebel, sikat aja! Tak peduli, itu laki orang atau bukan! Ya, begitulah pelakor!"
Seseorang yang baru saja datang dan mendengar percakapan ketiga karyawan wanita tersebut, terlihat sangat marah. Dia kepalkan kedua tangan lalu mengayun langkah cepat.
bersambung ...