Meskipun kecewa terhadap Alvino, Arsyila yang pagi ini datang lebih awal, berusaha untuk bersikap biasa saja. Sebagai karyawan, dia harus tetap profesional, bukan? Ya, Arsyila memiliki prinsip untuk tidak mencampur-adukkan antara pekerjaan dengan urusan pribadi.
Alvino yang tak mengerti jika Arsyila salah paham dengan ucapannya kemarin, juga bersikap seperti hari-hari biasa. Laki-laki beralis tebal yang mempertegas ketampanannya itu, tetap memperlakukan Arsyila dengan manis. Hal itu justru membuat Arsyila semakin bingung.
"Apa, sih, maksudnya dia? Pakai kasih-kasih bunga segala! Enggak jelas banget!" Arsyila menggerutu ketika Alvino yang baru saja datang, tiba-tiba meletakkan setangkai mawar putih di atas meja kerjanya, sembari tersenyum manis.
Alvino memang sosok yang romantis meski tak diungkapkan lewat kata-kata. Namun, melalui tindakan dengan sering memberikan hadiah kecil pada Arsyila. Seperti parfum, bros, atau pun pernak-pernik lainnya.
"Syila, nanti temani aku makan siang di luar, ya?"
Arsyila yang masih menggerutu panjang pendek setelah Alvino masuk ke ruangannya, semakin sebal setelah membaca pesan yang baru saja masuk dari sang atasan. "Apalagi ini maksudnya?"
Jika biasanya Arsyila selalu patuh mengikuti kemauan sang bos, tetapi kali ini dia menolak dengan memberikan alasan yang justru membuatnya terpaksa mengikuti ajakan Alvino.
"Kalau kamu sakit perut, kita ke dokter sekarang!" ajak Alvino yang langsung mendatangi mejanya, setelah membaca balasan chat dari Arsyila.
"Eh, enggak perlu, Pak! Nanti juga sembuh sendiri."
Meski Arsyila sudah berusaha menolak, tetapi kemauan Alvino wajib hukumnya untuk diikuti oleh semua bawahan, tanpa kecuali. Meski dengan hati yang mendongkol, Arsyila berjalan mengikuti langkah lebar Alvino keluar dari perusahaan.
Di sinilah mereka berdua saat ini berada, di sebuah kafe taman yang sangat asri. Sewaktu di dalam mobil tadi, Arsyila akhirnya berkata jujur jika dia tidak sakit perut karena Alvino memaksa akan membawanya ke dokter.
"Kita mau ngapain, Pak? Pekerjaan saya masih banyak," tanya Arsyila yang bernada protes. Kali ini, dia kembali memanggil Alvino dengan sebutan pak hingga membuat laki-laki itu memasang wajah masam karena tidak suka dipanggil demikian.
"Kenapa memanggil pak?" protes Alvino karena sedari tadi, Arsyila memanggilnya pak.
"Karena ini masih jam kerja," balas Arsyila tegas.
"Tapi kita hanya berdua saja, Syila, dan ini di luar kantor."
Arsyila menghela napas panjang. "Iya-iya. Mas mau bicara apa, sampai harus mengajakku ke sini?" tanyanya kemudian.
Alvino tak langsung menjawab. Laki-laki itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi dengan tatapan intens yang masih tertuju pada Arsyila. Netra Alvino yang tajam bak tatapan elang, membuat Arsyila menjadi salah tingkah.
"Mas?" Suara Arsyila melembut, tak seperti tadi yang terdengar tegas, dan terkadang ketus.
"Tentang perseteruan kedua orang tua kita di masa lalu, Syila. Jika boleh aku meminta, aku pasti akan memintamu untuk tetap menjadi sekretarisku. Tapi, aku juga tak mau egois. Orang tuamu memiliki perusahaan sendiri dan sebagai anak, kamu pasti ingin menjadi anak yang berbakti dengan menuruti kemauan orang tua, bukan?" Alvino menjeda sejenak ucapannya lalu menghela napas panjang.
"Kuharap ...."
"Atas dasar apa, Mas Vino menginginkan aku untuk tetap menjadi sekretaris Mas?" Arsyila yang sedikit banyak sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan Alvino, mengajukan pertanyaan sekali lagi untuk meyakinkan hati jika pemuda di hadapan benar-benar menginginkannya.
"Karena aku mencintaimu, Syila. Aku merasa nyaman bersamamu dan tak sanggup jika harus jauh darimu."
Akhirnya, kalimat sakral itu meluncur juga dari bibir seksi Alvino. Kalimat yang membuat kedua sudut bibir Arsyila terangkat, membentuk sebuah senyuman indah. Namun, itu hanya sedetik saja karena setelahnya Arsyila segera tersadar jika dia bukanlah wanita yang sempurna.
Tak dia pungkiri, Arsyila memang jatuh hati dengan pesona, dan perhatian Alvino akhir-akhir ini. Meski wanita itu sempat menutup hati dengan rapat, nyatanya Alvino adalah sosok tangguh yang mampu membuka pintu hati Arsyila. Mengembalikan kepercayaan Arsyila bahwa tak semua laki-laki itu b******k seperti mantan suaminya. Namun, dengan sangat menyesal Arsyila harus mengubur rasa yang mulai tumbuh, dan berkembang liar di hati untuk bosnya itu.
"Maaf, Mas. Aku tak bisa."
"Kenapa, Syila? Kamu juga mencintaiku, 'kan? Jangan bohongi dirimu sendiri, Syila!"
Tentu saja Alvino sangat kecewa karena dia telah yakin jika wanita di hadapan juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bukan tanpa alasan Alvino berpikir demikian karena beberapa kali dia dapat melihat binar bahagia di kedua netra indah Arsyila, kala Alvino memberikan kejutan untuk wanita cantik itu.
"Mas sudah tahu 'kan statusku? Mungkin ada satu hal yang Mas belum tahu, kenapa kami berpisah? Dia menceraikanku karena aku mandul, Mas. Kalau kita menikah, aku tak bisa memberi Mas Vino keturunan, dan aku tidak yakin Mas bisa menerima keadaanku yang seperti ini."
Arsyila berbicara sembari menatap kedua netra pekat Alvino. Dia ingin mengetahui, sejauh apa perasaan laki-laki itu padanya.
"Aku tak peduli, Syila. Aku sudah tahu dan aku bisa menerimamu, bagaimana pun keadaanmu."
"Mas berbicara seperti itu karena Mas sudah memiliki Sasya, bukan? Atau jangan-jangan, Mas tidak sungguh-sungguh mencintaiku, dan mau menerimaku hanya demi Sasya?"
Alvino tersenyum masam mendengar perkataan Arsyila. "Apa menurutmu, aku sepicik itu?"
Arsyila mengedikan bahu. "Aku enggak tahu. Tapi, enggak ada salahnya 'kan aku berpikir demikian? Aku sudah pernah menikah, Mas. Mantanku, dulu juga mengatakan hal yang manis-manis. Nyatanya apa? Begitu ada yang lain, yang bisa memberinya kepuasan dan anak, dia tega mengkhianatiku."
Arsyila berkata dengan bibir bergetar. Kenangan pahit itu kembali melintas dan seperti baru kemarin dialaminya.
Alvino mengangguk-angguk. "Ya, kamu enggak salah, Syila. Wajar jika kamu memiliki pemikiran seperti itu terhadapku karena pengalaman pahit di masa lalu. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu dan ingin menikahimu. Bukan karena Sasya meski, ya, sejujurnya aku juga mencari ibu untuk anak itu."
"Dan mengenai kemandulan itu, kita bisa cek ke dokter lain untuk memastikan ...."
"Tidak perlu, Mas!" sahut Arsyila cepat. "Jika Mas Vino menginginkan aku menjalani pemeriksaan kesuburan kembali, itu artinya Mas ...."
"Dengar dulu perkataanku, Syila! Aku belum selesai," sergah Alvino. "Apa pun hasilnya, itu tak akan mengubah keputusanku untuk menikahimu, dan tak akan mengubah perasaanku padamu. Aku jatuh hati karena kelembutanmu, Syila. Karena kebaikan hatimu."
Arsyila terpaku. Wanita cantik itu menatap Alvino tak berkedip. Ingin rasanya dia mempercayai apa yang dikatakan laki-laki itu barusan, tapi masih saja ada yang mengganjal di hatinya.
"Kamu enggak harus menjawab sekarang, Syila. Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu."
Pembicaraan mereka terjeda, ketika pelayan kafe mengantarkan pesanan Alvino.
"Ayo, makan!"
Mereka berdua lalu menikmati makanan lebih awal dari jam makan siang.
Hari-hari kembali dijalani Arsyila seperti biasanya. Hubungannya dengan Alvino juga semakin dekat meski Arsyila belum memberikan kepastian. Wanita berhijab itu sepertinya masih ragu dan khawatir jika nanti dia akan kecewa untuk yang kedua kali.
"Syil, ada sahabat kamu, tuh," kata Merry ketika Arsyila baru saja keluar dari toilet.
"Siapa?"
"Istrinya Daniel. Tuh, lagi di ruangan suaminya." Merry menunjuk ruangan Daniel yang berada tepat di sebelah ruangannya dengan dagu.
"Aku ke sana dulu, ya, Mbak."
Arsyila yang sudah cukup lama tak bertemu dengan sang sahabat lalu menuju ruangan Daniel. Wanita itu mengucap salam lalu masuk ke ruangan yang sengaja tidak ditutup itu. Setelah cipika cipiki dengan Rania, Arsyila lalu mendudukkan diri di salah satu bangku.
"Enggak usah banyak pertimbangan, deh, Syil! Iyain aja. Kapan lagi coba ada laki-laki baik seperti pak bos."
Baru saja Arsyila duduk, Rania sudah mengoceh. Apalagi yang dibicarakan jika bukan mengenai hubungannya dengan Alvino? Ya, setiap kali bertemu, Rania pasti akan memaksa Arsyila untuk menerima Alvino, setelah sang sahabat mengetahui dari Daniel jika Alvino menyukainya.
"Enggak semudah itu, Ran. Aku ini bukan wanita yang ...."
"Pak Alvino bukannya enggak mempermasalahkan hal itu, ya?"
"Emang iya, sih? Tapi tetep aja ...."
"Syil. Dipanggil pak bos, tuh." Kedatangan Merry, terpaksa mengakhiri pembicaraan kedua sahabat yang belum tuntas itu.
Arsyila lalu menemui Alvino di ruangannya. "Ada apa, Pak?"
"Kita hanya berdua, Syila Sayang."
"Iya, Mas. Ada apa memanggilku?" Arsyila kemudian mendudukkan diri di hadapan Alvino.
"Besok ada rolling manager dari perusahaan yang beberapa bulan lalu baru diakuisisi oleh perusahaan ini. Kamu temani aku untuk menyambut mereka."
"Temani sebagai apa, nih?" goda Arsyila yang reflek begitu saja, membuat Alvino menaikkan satu alisnya.
Laki-laki itu tersenyum lalu bangkit dari tempatnya duduk. "Sebagai Nyonya Alvino Sebastian," jawab Alvino berbisik di telinga Arsyila, membuat wanita cantik itu merinding seketika.
"Eh, maaf-maaf. Aku tadi keceplosan, Mas." Pipi putih Arsyila merona karena malu.
Sementara Alvino tergelak lalu mengacak lembut puncak kepala Arsyila yang tertutup hijab. Perlakuan sederhana yang mampu membuat Arsyila terbang, melayang karena merasa disayang.
Keesokan harinya, Arsyila yang sudah berdandan cantik, kembali dikejutkan dengan hadiah dari Alvino. Laki-laki itu memberinya sebuah jam tangan mewah nan cantik yang sangat pas dipakai di pergelangan tangan Arsyila.
"Apakah kamu suka, Nyonya Alvino?" tanya Alvino dengan senyuman yang terus mengembang di bibir serta tatapan mesra, setelah Arsyila mengenakan jam tangan pemberiannya.
Alvino sekarang memang suka sekali memanggil Arsyila dengan panggilan demikian. Sementara Arsyila yang tadinya merasa keberatan, akhirnya mulai terbiasa.
"Ya, aku suka, Mas. Terima kasih banyak," balas Arsyila dengan tatapan yang sama mesranya. Sepertinya, wanita cantik itu sudah meneguhkan hati untuk menerima Alvino.
"Pak Bos, Anda sudah ditunggu!" Seruan Daniel, mengurai tatapan mesra keduanya.
"Ayo, kita ke ruang rapat sekarang!"
Alvino memasuki ruangan rapat dengan penuh percaya diri lalu duduk di kursi kebesarannya. Diikuti oleh Arsyila yang duduk tepat di sebelah Alvino. Baru saja Arsyila duduk, tatapannya bertemu dengan tatapan salah seorang manager baru, yang seketika membuat hati Arsyila menjadi geram.
bersambung ...