Bab 5. Layu Sebelum Berkembang

1481 Kata
Usai acara lelang yang dimenangkan oleh perusahaan Alvino, laki-laki paruh baya yang sedari tadi memperhatikan Arsyila mendekat. Basa-basi, laki-laki yang sebagian rambutnya telah memutih itu mengucapkan selamat pada Alvino yang merupakan rival dalam perebutan tender barusan. "Terima kasih, Pak Danar," balas Alvino, sopan. Setelah berbincang sebentar dengan Alvino meski terlihat canggung karena perusahaan mereka berdua memang tidak seiring sejalan, laki-laki tua yang bernama Danar itu lalu menunjukkan sebuah foto pada sekretaris Alvino. "Maaf, Nona. Apakah Anda mengenal wanita dalam foto ini? Apa hubungan dia dengan Anda?" Tanpa basa-basi, Pak Danar bertanya pada Arsyila. Arsyila nampak terkejut, setelah melihat dengan seksama foto usang yang ditunjukkan Pak Danar padanya. Apalagi setelah wanita berhijab itu memperhatikan wajah laki-laki di hadapan, yang sangat mirip dengan orang yang selama ini dia dan ibunya cari-cari. "Bapak." Tanpa sadar, bibir tipisnya menggumam. "Arsyila Damayanti. Ini benar kamu 'kan, Nak?' Kedua netra laki-laki tua itu seketika berembun, setelah mendengar kata bapak yang diucapkan Arsyila meski terdengar ragu. Seketika, laki-laki yang dipanggil bapak itu memeluk Arsyila dengan penuh kerinduan. Pak Danar pun tak malu mengeluarkan air matanya karena merasa sangat terharu dapat bertemu dengan sang putri bungsu. Sementara laki-laki muda seusia Alvino yang tadi bersamanya, nampak tak sabar menunggu giliran untuk dapat memeluk Arsyila. "Lang, dia Syila, Lang. Dia Adikmu yang selama ini kita cari-cari," kata Pak Danar pada sang putra sembari tersenyum bahagia, setelah melerai pelukannya. Elang Putra Danarhadi, putra sulung Pak Danar--pemilik perusahaan konstruksi besar--yang sudah digadang-gadang akan menggantikan posisi sang ayah itu, lalu memeluk adik kandungnya dengan erat. "Kemana saja Abang dan Bapak selama ini? Syila dan ibu mencari-cari kalian, tapi kami enggak bisa menemukan kalian," tanya Arsyila dengan air mata bercucuran karena keharuan yang menyelimuti hatinya. Siapa, sih, yang tidak bahagia bertemu dengan orang yang selama ini dicari-cari? Namun, Arsyila sekaligus bersedih karena di saat mereka dipertemukan, sang ibu tidak bisa berada di antara mereka karena telah berpulang. Sementara Alvino yang menyaksikan semua, hanya dapat menebak-nebak. Mungkinkah, orang yang selama ini menjadi rival papanya adalah ayah kandung Arsyila? Jika benar, lalu bagaimana kisah mereka nantinya? Alvino memang belum mengungkapkan isi hati terhadap Arsyila, tetapi dia yakin bahwa sekretarisnya itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. "Syila, bagaimana kabar ibumu? Apakah dia bahagia dengan suaminya yang baru?" tanya Pak Danar, setelah Elang melepaskan pelukannya pada sang adik. "Suami baru? Maksud Bapak?" Tentu saja Arsyila bingung dengan pertanyaan sang ayah karena selama ini ibunya memang tidak pernah menikah lagi. "Ibumu pergi dari kampung bersama laki-laki lain, kan, dan kamu dibawa serta?" "Bapak dapat cerita itu dari mana? Itu tidak benar, Pak." Meskipun saat itu dia masih sangat kecil, tetapi Arsyila ingat jika dia dan ibunya hanya pergi berdua saja. Setelah itu, sang ibu terus mencari keberadaan ayah dan kakaknya. Tak pernah hadir dalam kehidupan mereka berdua sosok laki-laki yang biasa dipanggil ayah karena memang ibunya hanya fokus bekerja dan membesarkan Arsyila. "Tapi waktu bapak pulang, nenek kalian mengatakan seperti itu, Nak." Arsyila menggeleng. Wanita berhijab itu lalu menceritakan semuanya. "Karena Bapak tidak pernah berkirim kabar, apalagi uang, makanya ibu nekat pergi ke kota untuk mencari Bapak." Kini, Pak Danar yang menggeleng. "Bapak sering kirim surat buat ibu, Nak. Bapak juga kirim uang tiap bulan lewat nenek, meski jumlahnya tak seberapa. Barulah setelah kehidupan bapak dan abangmu berkecukupan di sini, kami kembali ke kampung untuk menjemput kalian." Pak Danar menghela napas panjang kemudian, lalu mengembuskan dengan kasar. "Mungkinkah karena nenek tidak suka dengan ibu kalian, makanya nenek sengaja berbohong untuk memisahkan ibu dan bapak?" Arsyila dan sang abang saling pandang. "Lalu, di mana ibumu sekarang, Nak? Bapak ingin bertemu." Bukannya menjawab, Arsyila malah menangis setelah menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Dia lalu menceritakan tentang keadaan sang ibu sebelum meninggal. Ibunya ternyata sudah lama mengidap kanker, tetapi demi membiayai kuliah Arsyila sang ibu mengabaikan kesehatannya sendiri, dan tidak mau berobat. Barulah ketika kondisinya benar-benar drop, sang ibu mau bercerita pada Arsyila. Namun, semua sudah terlambat karena jaringan kankernya sudah menyebar ke mana-mana. Pengobatan yang diusahakan Arsyila, tak dapat menyelamatkan nyawa ibunya. Mendengar cerita sang putri, Pak Danar kembali meneteskan air mata. Laki-laki itu lalu meminta pada Arsyila untuk diantar ke makam sang istri. Arsyila lalu pamit pada Alvino serta meminta maaf karena tidak dapat menemani hingga akhir dan pulang bersama dengan bosnya itu. "Kuharap, hubungan kita akan tetap baik-baik saja setelah ini," kata Alvino pelan dan terdengar ambigu, ketika Arsyila berpamitan. "Maksud Mas, apa?" "Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Syila," balas Alvino dengan tatapan dalam. Arsyila meninggalkan Alvino yang masih berada di sana--karena ada beberapa rekan yang harus laki-laki itu temui--dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Barulah setelah Arsyila bersama ayah dan kakaknya, wanita berhijab itu mengetahui jika kedua orang tua mereka ternyata tidak akur. Sang ayah bahkan langsung memintanya untuk resign dari perusahaan Alvino. "Kamu kerja di kantor bapak saja, Syila. Bantu abangmu mengelola perusahaan karena bapak sudah tua dan sudah saatnya pensiun," kata Pak Danar, sepulang mereka dari pemakaman. "Maaf, Pak. Syila tidak bisa berhenti begitu saja. Syila harus menyelesaikan tanggung jawab Syila dulu. Lagi pula, perusahaan Pak Alvino yang mau langsung menerima Syila di saat Syila sangat terpuruk, dan membutuhkan pekerjaan. Teman-teman di sana juga yang telah memberikan dukungan pada Syila hingga Syila bisa tetap kuat, setelah perceraian itu." "Terutama Sasya, juga Mas Vino," lanjutnya dalam hati. "Tapi, Syila ... apa kata Tama nanti, kalau putri bapak malah bekerja di perusahaannya?" Pak Danar tetap menginginkan agar sang putri keluar dari perusahaan Pratama, rivalnya. "Syila pikir-pikir dulu ya, Pak." "Jangan kebanyakan mikir, Nak! Perusahaan bapak, juga perusahaan kalian. Lalu, buat apa kamu bekerja pada perusahaan orang lain jika kamu memiliki perusahaan sendiri?" Sang ayah terus memaksa. Elang akhirnya ikut buka suara. "Biar dululah, Pak. Kasih Dik Syila waktu untuk berpikir." Pak Danar tak lagi bersuara hingga hanya keheningan yang tercipta sepanjang perjalanan menuju ke tempat kontrakan Arsyila. Setibanya di depan gang, Pak Danar mengernyit seraya menatap sang putri menuntut jawab. "Kamu tinggal di tempat seperti ini, Nak? Memangnya, berapa Tama menggaji karyawannya? Apalagi, posisi kamu sekretaris GM?" Arsyila yang hendak turun, mengurungkan niatnya. Wanita cantik itu lalu tersenyum pada sang ayah. "Gajinya besar, kok, Pak. Lebih besar dari perusahaan lain malah. Syila ngontrak di sini 'kan sebelum Syila resmi bekerja di sana. Jadi, karena belum mendapatkan gaji, Syila harus berhemat." "Sekarang, kamu pasti sudah memiliki uang. Tapi, kenapa kamu masih tinggal di tempat seperti ini?" "Di sini Syila sudah telanjur nyaman, Pak. Lingkungannya baik, tempatnya juga bersih meskipun kecil, dan sederhana." Kalau pun mau, Arsyila pasti sudah pindah sejak dua bulan lalu. Karena Alvino sering menawarkan apartemennya yang kebetulan kosong untuk ditempati Arsyila. Namun, wanita itu menolak karena sudah merasa nyaman tinggal di rumah petakan meski sempit tersebut. Lagipula, jaraknya dari tempat kerja tidak terlalu jauh sehingga Arsyila dapat berangkat ke kantor dengan berjalan kaki. Beberapa bulan terakhir--tepatnya setelah Arsyila resmi menyandang status janda--Alvino memang sangat perhatian dengan Arsyila. Alvino juga lebih posesif menjaga Arsyila ketika ada salah seorang kolega yang menunjukkan ketertarikan dengan sekretarisnya itu. Hanya saja, hingga detik ini laki-laki itu belum pernah mengungkapkan perasaannya hingga membuat Arsyila terkadang bertanya-tanya pada diri sendiri, dan ragu untuk mulai membuka hati. "Sekarang juga, kamu pindah ke rumah papa!" "Pa ...." Elang menggeleng, tidak setuju dengan sikap sang papa yang terkesan memaksakan kehendak, tanpa memberikan penawaran terlebih dahulu pada Arsyila. "Kalau pun Syila tetap tinggal di sini, Syila akan sering berkunjung ke rumah Bapak, kok. Jangan khawatir, Pak!" kata Arsyila kemudian lalu mengambil tangan sang ayah untuk berpamitan. Setelah mencium punggung tangan sang ayah dengan takdzim, Arsyila buru-buru turun sebelum sang ayah kembali memerintah. Keesokan harinya, Arsyila menceritakan semua pada Alvino. Alvino yang sudah dapat menduga akan seperti apa, hanya dapat menghela napas panjang. "Lalu, apa keputusanmu, Syila?" Hening, tak ada jawaban dari Arsyila. Hanya helaan napas panjang Arsyila yang terdengar di rungu Alvino. "Kuharap, kamu akan tetap di sini, Syila," lanjut Alvino seraya menatap Arsyila dengan tatapan dalam. "Kenapa aku harus tetap di sini, Mas?" tanya Arsyila yang ingin mengetahui sejauh mana Alvino mempertahankannya. "Tante! Sasya datang ...." Suara manja Sasya yang baru saja keluar dari lift, mengalihkan perhatian mereka berdua. Gadis kecil itu lalu menghambur memeluk Arsyila dan melewati Alvino yang berdiri di depan meja kerja Arsyila, begitu saja. Kedua wanita berbeda generasi itu lalu saling memeluk erat. Seperti dua orang yang baru saja dipertemukan, setelah terpisah sangat lama. Padahal, hampir setiap hari mereka berdua bersama. "Itu alasanku, kenapa aku menginginkanmu untuk tetap tinggal, Syila," gumam Alvino sembari tersenyum dan menatap punggung wanita yang dia sayangi itu penuh arti. Sayangnya, Arsyila dapat mendengar dengan jelas perkataan Alvino, tetapi tak melihat senyuman serta tatapan hangat laki-laki itu padanya. "Jadi, Mas Vino hanya menginginkan aku sebagai pengganti ibu Sasya? Tidak lebih dari itu? Ah, aku terlalu geer memaknai sikapnya yang akhir-akhir ini sangat manis," batin Arsyila sedikit kecewa karena ternyata dia telah terlalu tinggi berharap. Cinta yang baru bersemi di dalam hati setelah cinta lama porak-poranda, kini harus layu sebelum berkembang setelah mendengar ucapan sang atasan. bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN