"Bukan, Sayang. Kejutannya ada di dalam."
Jawaban Alvino, membuat Sasya kecewa. Gadis kecil itu semula berpikir, jika sang ayah akan menjadikan Arsyila sebagai ibu untuknya. Karena setelah pertemuannya dengan Arsyila kala itu, Sasya sering mengatakan pada sang ayah jika dia menginginkan ibu seperti Arsyila.
Meskipun kecewa, Sasya tak patah arang. Setidaknya, Arsyila bekerja di kantor sang ayah hingga Sasya akan memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan wanita berhati lembut itu dan memiliki banyak kesempatan untuk bermain dengannya.
"Ayah, Sasya boleh 'kan tiap hari main ke kantor Ayah?" pinta Sasya ketika sang pengasuh menjemputnya.
Alvino yang tak pernah dapat menolak keinginan gadis kecil itu mengangguk, mengiyakan. Sejak saat itu, Sasya hampir setiap hari main ke kantor ayahnya. Satu tujuan Sasya yaitu ingin mendekatkan sang ayah dengan wanita yang menurutnya cocok menjadi ibu.
"Nak, jangan gangguin Tante Syila terus! Kerjaan Tante Syila banyak!"
Sore itu, Alvino yang baru pulang dari bepergian bersama Daniel mengingatkan sang putri ketika laki-laki berwajah tegas tersebut baru keluar dari lift, dan melihat Sasya tengah asyik bercanda bersama Arsyila.
"Enggak ganggu sama sekali, kok, Pak. Kebetulan, pekerjaan untuk hari ini sudah selesai," jawab Arsyila.
Tentu saja Sasya sangat bahagia karena mendapatkan pembelaan dari Arsyila. "Tuh, Ayah denger sendiri 'kan, kalau Tante Syila enggak keganggu."
"Ya, sudah. Ayo, kita harus pulang sekarang!"
"Kita anterin Tante Syila dulu, ya, Ayah."
Ada saja yang dilakukan Sasya untuk mendekatkan sang ayah dengan sekretarisnya itu. Mulai mengajak Arsyila makan bersama di ruangan Alvino hingga merengek meminta pada sang ayah untuk mengantar Arsyila pulang. Padahal, kontrakan Arsyila sangat dekat dengan kantor.
"Tidak perlu, Sayang. Tante jalan kaki saja."
"Yah, Tante. Sasya 'kan pengin main ke tempat Tante."
Meski Arsyila sudah menolak, tetapi Sasya tetap bersikukuh, dan tidak mau menerima penolakan. Dengan terpaksa, Arsyila mengiyakan. Apalagi setelah melihat Alvino dan laki-laki itu mengangguk, mengizinkan.
Lambat laun, hubungan Arsyila dan Alvino semakin dekat. Laki-laki itu tak pelit lagi untuk tersenyum jika bertemu Arsyila. Alvino juga jadi sering membicarakan banyak hal di luar pekerjaan dengan wanita berhijab itu.
Seperti siang ini ketika Sasya kembali mengajak Arsyila untuk makan siang di ruangan sang ayah. Usai makan ketika Sasya sudah terlelap, Alvino menceritakan tentang orang tuanya yang terpaksa berpisah kala dia masih kecil karena hadirnya orang ketiga.
"Karena itulah, saya sangat benci dengan yang namanya perpisahan!" kata Alvino yang terdengar emosional.
"Saya turut prihatin dengan apa yang terjadi sama keluarga Bapak."
"Syila. Apa saya sudah terlihat begitu tua hingga kamu memanggil bapak?"
Arsyila nampak bingung. "Belum, sih, tapi 'kan Bapak atasan saya."
"Ya, saya memang atasan kamu. Tapi tolong, jika di luar jam kerja panggil saya dengan sebutan lain saja. Jangan pak karena kesannya, saya sudah sangat tua."
Arsyila menggaruk keningnya, bingung harus memanggil apa.
"Tidak ada penolakan, Syila. Kamu harus panggil saya mas," putus Alvino secara sepihak karena Arsyila tak kunjung memberi jawaban dan malah terlihat kebingungan.
Arsyila hanya bisa mengangguk meski merasa canggung jika harus memanggil demikian. Lama kelamaan, Arsyila pun terbiasa dengan panggilan yang terkesan intim tersebut. Panggilan yang membuat senyuman di bibir Alvino terbit setiap kali bibir tipis Arsyila mengucapkannya.
Waktu terus berlalu. Sasya masih intens datang ke kantor sang ayah setiap pulang sekolah dan baru akan pulang ke rumah bareng dengan sang ayah. Otomatis, Alvino meminta bantuan Arsyila setiap kali jam makan dan jam tidur siang Sasya telah tiba. Arsyila yang memang menyayangi anak kecil itu tidak keberatan, apalagi Sasya adalah anak yang manis dan penurut.
Kedekatan mereka berdua pun mulai menjadi bahan gunjingan para karyawan, terutama karyawan wanita yang mengincar Alvino. Tak sedikit yang patah hati dan dapat menerima kedekatan sekretaris cantik itu dengan bosnya karena memang Arsyila pantas bersanding dengan Alvino. Namun, tak sedikit pula yang mencibir, dan menganggap Arsyila tak jauh beda dengan sekretaris terdahulu yang pandai merayu. Memanfaatkan kepolosan Sasya hingga Alvino jatuh ke dalam pelukannya.
"Jangan dengerin ocehan mereka, Syil! Mereka ngoceh seperti itu karena mereka enggak berhasil mendapatkan perhatian Pak Vino. Sementara kamu bisa sangat dekat dengan Sasya dan berhasil mendapatkan hati pak bos," kata Merry di suatu siang ketika mereka berdua baru saja selesai makan di kantin.
Merry lalu mendudukkan diri di kursi tunggu, di dekat meja kerja Arsyila karena jam istirahat belum berakhir. Kebetulan, hari ini Sasya tidak mengunjungi sang ayah karena ada lomba mewarnai di sekolahnya, sementara Alvino sedari pagi ada pertemuan dengan salah seorang kolega hingga siang belum kembali ke kantor.
"Siapa, sih, Mbak, yang udah dapetin hati Pak Vino? Di antara kami tidak ada apa-apa, kok. Aku dekat dengan Sasya karena aku memang tulus menyayanginya. Dia itu anak yang lucu. Lagipula untuk saat ini, aku belum berniat untuk membuka hati kembali, Mbak."
"Enggak semua laki-laki itu seperti mantan kamu, Syil! Masih banyak, kok, laki-laki yang baik dan setia. Pak bos mungkin salah satunya karena sejauh yang aku tahu, Pak Vino enggak pernah, tuh, bertingkah macam-macam. Bahkan dia enggak suka, loh, sama jenis-jenis wanita yang tebar pesona." Merry yang sudah mengetahui tentang masa lalu Arsyila mencoba menasehati.
Arsyila bercerita dengan Merry karena wanita itu baik padanya. Selain itu, awalnya Merry mencurigai Arsyila yang terlihat cukup dekat dengan Daniel. Arsyila lalu menceritakan kedekatannya dengan Daniel, lantaran istri Daniel adalah sahabatnya. Arsyila juga menceritakan tentang pernikahannya yang kandas karena pihak ketiga.
"Mbak Merry benar. Pak Vino memang laki-laki yang baik dan bertanggungjawab."
"Udah, enggak usah banyak pertimbangan! Gas aja! Lagian, status kamu juga udah jelas, 'kan? Surat cerai udah di tangan, tunggu apa lagi?" celetuk Merry yang berhasil menyeret Arsyila dari lamunan. Wanita berambut sebahu itu terus mengompori Arsyila agar mau menerima Alvino.
Pradana memang bergerak cepat mengurus perceraian mereka berdua. Arsyila yang tak ingin kembali pada sang mantan, juga tak pernah datang ke pengadilan agar semua segera diputuskan. Dan dua bulan yang lalu, surat cerai dari pengadilan diterima Arsyila melalui alamat Rania yang dia berikan pada sang mantan karena Arsyila tidak mau Pradana mengetahui keberadaannya.
"Ngobrolin apa, nih? Seru banget kayaknya," tanya Alvino yang baru saja tiba.
"Enggak ada, kok, Pak."
"Ngobrolin tentang Pak Bos, lah."
Dua jawaban berbeda dari kedua wanita di hadapan, membuat Alvino mengernyit.
"Em ... maaf, Pak. Barusan Pak Tama memberitahukan jika besok Anda disuruh untuk mewakili beliau." Arsyila buru-buru mengalihkan pembicaraan, sebelum Merry membuka mulutnya yang cukup ember itu. Arsyila berbicara dengan formal pada Alvino karena ada Merry di antara mereka berdua meski Merry adalah orang terdekat Alvino di kantor, selain Daniel.
Sahabat baik Alvino sewaktu kuliah itu pun cemberut karena Arsyila sengaja tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Wanita berkulit hitam manis itu beranjak untuk kembali ke ruangannya seraya memberikan isyarat bahwa dia akan membantu menyatukan Arsyila dengan Alvino. Arsyila menggeleng dengan bibir mengerucut, menolak ide Merry.
"Kenapa, Syila?" tanya Alvino sembari melihat ke arah Merry yang sudah membuka pintu ruangannya.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Pak?"
"Eh, maaf, Mas. Tidak ada apa-apa, kok."
Alvino mengedikan bahu lalu masuk ke ruangannya, setelah memberi perintah jika besok Arsyila harus menemani datang ke acara lelang.
Keesokan harinya, Arsyila sudah bersiap di depan rumah petakan karena Alvino berjanji akan menjemputnya. Awalnya, Arsyila menolak dan mengatakan sebaiknya mereka berangkat bersama dari kantor, tetapi keputusan Alvino tidak dapat dibantah. Arsyila pun hanya bisa menurut dengan keputusan bosnya yang keras kepala itu.
"Aku belum sarapan. Apa kamu memiliki sesuatu yang bisa dimakan?" Alvino langsung mendudukkan diri di samping Arsyila, tanpa menunggu dipersilakan.
"Maaf, Mas. Aku tadi beli nasi uduk. Jadi, enggak punya stok makanan. Kalau roti ada. Apa, mas mau aku buatkan sandwich selai kacang?" Karena merasa sudah dekat, Arsyila tak canggung lagi menyebut dirinya aku, bukan lagi saya yang terkesan formal.
"Boleh. Sama teh hangat, ya. Gulanya dikit aja."
"Kalau dikit, enggak manis, dong, Mas."
"Enggak apa-apa. Nanti minumnya sambil lihatin kamu, biar tehnya terasa manis."
Pipi Arsyila bersemu merah, mendengar rayuan maut Alvino. Buru-buru, wanita berhijab itu masuk untuk membuatkan sandwich dan teh hangat. Sementara Alvino senyum-senyum sendiri sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, setelah mengatakan demikian.
"Kok, bisa, ya, aku merayu wanita seperti tadi?" Laki-laki itu pun geleng-geleng kepala sendiri.
Selama ini, dia sangat dingin pada wanita dan sangat pemilih. Alvino harus selektif karena dia bukan hanya mencari istri, tetapi sekaligus ibu untuk Sasya. Melihat kedekatan Arsyila dengan Sasya, membuat hati Alvino menghangat, dan mulai terbuka untuk sekretarisnya itu.
Setelah makan sandwich sambil mengobrol santai, mereka berdua segera berangkat ke tempat tujuan. Alvino melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena mereka masih memiliki waktu yang cukup longgar sebelum acara lelang dimulai. Setelah menempuh perjalanan setengah jam lebih, mereka pun tiba di sebuah gedung bertingkat di kawasan pusat kota.
Penuh percaya diri, Alvino melangkah yang diiringi oleh Arsyila. Kedatangan mereka berdua cukup menyita perhatian karena selama ini, Alvino tidak pernah datang ke acara besar dengan seorang wanita. Tetapi kali ini, laki-laki itu datang bersama seorang wanita cantik, dan Alvino juga selalu tersenyum pada Arsyila.
Mereka berdua lalu duduk di tempat yang telah disediakan. Tak berapa lama acara lelang dimulai dan Alvino nampak sangat serius mengikuti acara tersebut. Sementara di bangku lain, seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun terus menatap lekat ke arah Arsyila.
"Lang, lihatlah wanita muda itu. Wajahnya sangat familiar. Dia seperti ...."
bersambung ...