Bab 3. Kejutan Istimewa

1489 Kata
Keesokan harinya, Arsyila mengikuti saran Rania untuk melamar di perusahaan di mana Daniel bekerja. Setelah sedikit berdandan, Arsyila segera berangkat menuju perkantoran yang tak seberapa jauh dari tempatnya menginap di losmen murah. Kemarin, Arsyila menolak ajakan Rania untuk pulang ke rumah sahabatnya itu karena tak ingin merepotkan, dan memilih menginap di losmen meski tempatnya kumuh untuk berhemat karena dia keluar dari rumah sang mantan, tanpa diberi uang sepeser pun. Arsyila menuju ke kantor dengan menaiki taksi. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk tiba di gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu. Setibanya di sana, Arsyila langsung memasukkan surat lamarannya sesuai saran Daniel. Tak butuh waktu lama dan tak harus melalui prosedur berbelit karena Daniel--yang memiliki posisi cukup penting di sana--ikut andil ketika Arsyila memasukkan berkas lamaran pekerjaan. Arsyila pun berhasil melalui tahap interview, dan dinyatakan diterima untuk mengisi kekosongan kursi sekretaris general manager. Sesuai arahan HRD, Arsyila dapat menjalankan tugasnya sebagai sekretaris mulai besok. Posisi yang sama seperti posisinya dulu ketika masih bekerja di perusahaan lama. Bedanya, dulu dia hanya sekretaris manager, tetapi sekarang naik level menjadi sekretaris general manager, dan perusahaannya pun lebih besar dari perusahaan yang dulu. "Terima kasih banyak, Mas Daniel, atas bantuannya." Sebelum pulang, Arsyila menyempatkan diri untuk menemui Daniel. "Sama-sama, Syil. Jangan sungkan gitu. Kita ini 'kan sudah seperti saudara dan selayaknya saudara, kita harus saling bantu, bukan?" Arsyila tersenyum, mendengar perkataan ayah satu anak itu yang terdengar menyejukkan. Setelah berbasa-basi sebentar, Arsyila kemudian pamit untuk kembali ke losmen. Sebab, dia harus segera pindah dari sana, dan mencari kontrakan karena tak mungkin selamanya dia tinggal di penginapan. Bergegas Arsyila kembali ke losmen kumuh, tempat semalam dia menginap. Setelah membereskan barang-barang yang hanya dia keluarkan seperlunya saja, Arsyila segera check out dari sana. Karena sudah mendapatkan beberapa gambaran rumah petakan di dekat tempatnya bekerja dari satpam yang tadi sempat dia tanyai, Arsyila pun segera menuju ke sana. Di rumah petakan pertama yang dia datangi, Arsyila merasa kurang sreg karena di sana bercampur antara laki-laki dan perempuan. Arsyila kemudian menuju ke rumah petakan kedua, di sana ternyata khusus untuk pasangan suami-istri. Barulah di rumah petakan ketiga, Arsyila merasa cocok karena khusus untuk perempuan meski luas kamarnya tak seluas di rumah petakan pertama. Kamar berukuran tiga kali empat meter persegi dengan kamar mandi dan dapur di dalam, cukuplah bagi Arsyila untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian lelah bekerja. Begitulah yang Arsyila pikirkan saat ini. Bukan kelengkapan fasilitas atau pun kemewahan, tetapi yang terpenting kenyamanan, dan keamanan tentunya. Setelah berbenah dan memastikan kamarnya rapi, Arsyila memutuskan untuk berziarah ke makam sang ibu. Karena hari menjelang sore, Arsyila pun tak ingin membuang waktu. Wanita berhijab itu segera menuju ke jalan raya untuk mencari taksi yang akan membawanya ke tempat peristirahatan terakhir sang ibu. Hari berikutnya, Arsyila nampak sudah bersiap, padahal waktu baru menunjukkan pukul tujuh tepat. Masih ada waktu setengah jam dari jam masuk kerja. Sementara untuk pergi ke kantor, Arsyila hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit saja. Bosan menunggu di kontrakan, Arsyila memutuskan untuk berangkat. Dia berjalan dengan sangat santai agar tidak terlalu berkeringat ketika tiba di kantor. Kurang dari lima belas menit, Arsyila sudah tiba di lobi lalu menyempatkan diri menyapa, dan berkenalan dengan karyawan lain yang sudah tiba terlebih dahulu. Arsyila lalu segera menuju ke lantai, di mana meja kerjanya berada. Dia tidak mengalami kesulitan meski ini hari pertama karena kemarin pihak HRD telah menjelaskan semuanya. Selain itu, Arsyila juga sudah terbiasa dengan lingkungan tempat kerja seperti ini. Arsyila mulai menyibukkan diri, mempelajari apa saja yang kemarin sudah ditunjukkan Daniel. Ketika tengah fokus dengan layar datar di hadapan, Arsyila dikejutkan dengan suara yang sangat familiar di rungunya. "Merry. Suruh Daniel ke ruangan saya sekarang untuk menggantikan tugas sekretaris sampai posisi itu terisi!" "Maaf, Pak Vino. Posisi sekretaris sudah terisi mulai hari ini dan dia sudah stay di meja kerjanya," jawab salah seorang karyawan kepercayaan Alvino, sembari menunjuk ke meja sekretaris. Alvino yang tadinya memberikan perintah sembari menatap layar ponsel, seketika melihat ke arah yang ditunjuk Merry. Betapa terkejut laki-laki itu, mendapati Arsyila berdiri di belakang meja kerjanya. Keterkejutan yang sama, juga ditujukkan oleh Arsyila. "Dia, bosku?" batin Arsyila. "Oh, jadi dia menempati posisi sekretaris?" "Maaf, Pak. Apa Pak Vino belum mendapatkan pemberitahuan dari Pak Rully? Kemarin, beliau sendiri yang meng-interview Mbak Syila." Alvino menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sambil mengingat-ingat. "Sudahlah. Mungkin, saya yang lupa. Baiklah, Mer. Kembali ke ruanganmu! Laki-laki berbadan tegap itu lalu segera masuk ke ruangannya, sembari menjawab sapaan selamat pagi dari Arsyila dengan anggukan kecil. Tak ada balasan senyuman meski Arsyila tersenyum ramah padanya. Arsyila pun hanya dapat menghela napas panjang lalu kembali mendudukkan diri. Arsyila kembali menekuri pekerjaannya. Selama setahun vakum dari jabatan sekretaris, membuat Arsyila dituntut untuk banyak belajar. Wanita cantik itu pun dengan tekun mempelajari semua, sambil mengerjakan beberapa tugas yang mulai berdatangan. Tanpa terasa, hampir setengah harian Arsyila duduk di belakang meja kerjanya. Saking asyiknya mempelajari dan mengerjakan semua, wanita cantik itu sampai lupa tidak menyentuh minuman yang disajikan OB. Barulah ketika Merry--yang ruangannya berada di lantai yang sama dengan ruangan sang atasan--mengingatkan jika waktu istirahat tiba, Arsyila kemudian menyudahi aktifitas pada layar datar di hadapan. "Mau ke kantin bareng, enggak, Syil?" tawar Merry dengan ramah. "Enggak, Mbak. Mbak Merry silakan duluan saja. Saya mau sholat dhuhur dulu," tolak Arsyila dengan halus. "Oke." Merry bergegas menuju lift, meninggalkan Arsyila yang tengah berbenah. Setelah memastikan semua rapi, Arsyila segera mengambil mukena dari dalam laci lalu beranjak. Baru saja Arsyila hendak melangkah, pintu ruangan Alvino dibuka dari dalam. Laki-laki yang memiliki tatapan tajam setajam elang itu berdiri di ambang pintu lalu tersenyum pada Arsyila meski hanya senyuman tipis saja. Tetapi bagi Daniel yang baru saja membuka pintu ruangannya dan menyaksikan senyum langka Alvino untuk seorang wanita, itu sungguh keajaiban dunia. "Semoga kamu betah dan tidak bertingkah seperti sekretaris terdahulu yang akhirnya saya pecat," kata Alvino pelan. Meski memasang wajah datar, tetapi sikap Alvino tak seketus seperti ketika pertama kali mereka bertemu. Laki-laki itu lalu segera melangkah menuju lift. Menyisakan Arsyila yang masih kebingungan dengan perkataan Alvino barusan. "Mas. Mas Daniel denger 'kan, apa yang dikatakan pak bos? Maksudnya apa, ya, Mas?" cecar Arsyila ketika melihat Daniel menghampirinya. "Oh, itu. Sepertinya, Pak Vino menyukaimu, Syil." Bukannya menjawab, Daniel malah menggoda sahabat istrinya. Tentu saja Arsyila cemberut. "Enggak lucu, ah!" Daniel pun tertawa. "Yuk, aku akan cerita sambil kita jalan." Daniel kemudian menceritakan jika sekretaris Alvino tidak ada yang mampu bertahan lama, paling banter hanya sekitar enam bulan saja. Kebanyakan dari mereka, dipecat karena berusaha menggoda Alvino. Kalau pun ada yang tidak dipecat, mereka mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikap dingin, dan arogan sang atasan. Hari-hari berikutnya dilalui Arsyila dengan enjoy karena Alvino bersikap profesional. Laki-laki itu bersikap sewajarnya antara atasan dan bawahan. Tidak arogan, tetapi tidak juga membuka diri untuk dekat dengan Arsyila. Alvino bersikap demikian, setelah dia mendengar sendiri kisah tentang Arsyila sewaktu di kafe. Ya, laki-laki yang mencuri dengar pembicaraan Arsyila dengan Rania beberapa waktu lalu adalah Alvino. Dia berada di sana untuk bertemu dengan pasangan kencan butanya karena paksaan sang papa. Usia Alvino yang sudah matang, sementara laki-laki itu masih betah merawat Sasya seorang diri, membuat sang papa berinsiatif untuk mencarikan jodoh buat sang putra. Biasanya, Alvino akan menolak, tetapi entah mengapa sore itu dia mau memenuhi keinginan sang papa. Arsyila sendiri merasa nyaman diperlakukan seperti itu. Profesionalitas, itulah yang diperlukan Arsyila karena memang dia bekerja murni untuk mencari uang, bukan untuk mencari perhatian seperti yang sering dituduhkan padanya--melalui selentingan dari beberapa orang karyawan yang sempat dia dengar, kala sedang makan siang di kantin. "Palingan, wanita itu enggak jauh beda dengan sekretaris Pak Vino yang sudah-sudah!" kata salah seorang karyawan wanita, sembari menunjuk Arsyila dengan dagunya. "Bener, itu. Dia berjilbab pasti hanya sebagai kedok agar tidak dikira w*************a," timpal yang lain, sambil melirik sinis Arsyila. "Padahal yang sebenarnya, dia sama saja seperti sekretaris terdahulu yang pandai merayu." Keempat karyawan wanita yang sedang membicarakan Arsyila itu lalu tertawa senang. Seolah, membicarakan orang lain itu adalah hiburan segar bagi mereka. Sementara Arsyila yang sedang makan bersama Merry, hanya bisa mengedikan bahu. Mencoba untuk tetap cuek dengan pembicaraan yang terasa panas di kuping itu. "Abaikan aja, Syil. Mereka itu hanya iri." "Iya, Mbak. Saya juga enggak terpengaruh, kok, dengan pembicaraan mereka," jawab Arsyila, setelah menghabiskan makanan terakhir di piringnya. "Bagus. Kuharap, kamu betah bekerja di sini, Syil, karena yang aku lihat kamu berbeda. Pak bos sepertinya juga nyaman dengan keberadaan kamu," kata Merry. "Maksud Mbak?" Merry tersenyum. "Nanti kamu juga bakalan tahu sendiri, Syil. Yuk, ah, kita balik ke ruangan!" Suara tawa riang seorang bocah yang baru saja keluar dari lift, berhasil mengalihkan pandangan Arsyila dari layar laptop di hadapan, juga dari lamunan. Rupanya, sedari tadi Arsyila melamun. Arsyila lalu tersenyum pada Sasya yang baru pulang sekolah dijemput oleh sang ayah. "Tante Syila?" Melihat ada Arsyila di sana, Sasya segera berlari lalu menghambur memeluk wanita berhijab itu. Bocah kecil itu sangat senang, melihat keberadaan Arsyila di kantor ayahnya. "Apa ini, yang Ayah maksud sebagai kejutan istimewa untuk Sasya?" bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN