Tak ingin membuang waktu, Arsyila segera membersihkan baju Sasya. Selama berada di dalam toilet, Arsyila mengajak gadis kecil itu bercanda. Mereka berdua seperti sudah lama saling mengenal. Arsyila yang lembut dan penuh kasih, membuat Sasya merasa nyaman dan menyukai sosok Arsyila.
Setelah baju Sasya bersih, Arsyila hendak mengantarkan bocah itu pada ayahnya. Sebenarnya Sasya menolak karena merasa belum puas bermain dengan Arsyila. Namun dengan berat hati Arsyila harus mengatakan jika dia masih ada urusan.
Ketika berjalan keluar dari toilet, Sasya meminta Arsyila untuk menjadi sahabatnya karena merasa sudah cocok. Tentu saja Arsyila merasa lucu. Bagaimana mungkin anak sekecil Sasya ingin bersahabat dengan wanita dewasa seperti dirinya?
"Ayah Sasya selalu sibuk, Tan, karena di kantor banyak pekerjaan. Sementara Bunda ...." Sasya menjeda perkataanya, kemudian menggeleng lemah.
"Bunda kenapa, Sayang?"
"Bundanya Sasya udah enggak ada."
Jawaban Sasya membuat langkah Arsyila terasa lemas dan seketika terhenti. Wanita cantik itu pun teringat akan dirinya sendiri yang kini sudah tidak memiliki siapa-siapa, setelah sang ibu meninggal dunia. Bahkan, laki-laki yang selama tiga tahun ini menjadi sandaran hidup, telah tega menjatuhkan talak kepadanya. Kedua netra Arsyila yang sudah tak lagi tertutup kaca mata hitam, kini kembali berkaca-kaca.
"Baiklah, tante mau menjadi sahabat Sasya."
"Hore! Terima kasih, Tante. Tante Syila benar-benar baik, deh!" Bocah kecil itu pun melonjak kegirangan lalu segera menghambur memeluk Arsyila.
"Ayo, Nak! Ayah sudah ketinggalan rapat terlalu lama."
Suara Alvino, mengurai pelukan Sasya.
"Maafkan saya, Pak." Arsyila kembali meminta maaf sembari menangkup kedua telapak tangan di depan d**a, mendengar perkataan laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, Tante. Meskipun terlambat, bos ayah tidak mungkin marah karena bosnya sangat menyayangi ayah." Sasya menyahut mendahului sang ayah, sementara Alvino hanya tersenyum menatap sang putri. Alvino kemudian menatap Arsyila dengan setelan awal--ekspresi dingin dan tanpa senyuman.
"Oke, Sayang. Kita berpisah di sini, ya." Arsyila yang memang ingin segera pulang, menyudahi, dan berpamitan pada Sasya karena tak nyaman dengan tatapan Alvino.
Sepanjang perjalanan melintasi lobi, Arsyila sempat berpikir, siapa laki-laki dewasa berwajah dingin yang bersama Sasya? Seingatnya, petinggi di perusahaan tempat dia bekerja setahun lalu itu tidak ada yang bernama Alvino, ataupun Pak Tama.
"Bukan urusanku juga, sih, siapa mereka, dan apa keperluannya datang ke sini," gumam Arsyila seraya mengedikan bahu.
Arsyila lalu memilih menunggu taksi yang akan membawanya pulang, agak jauh dari tempat di mana kenyataan pahit barusan dia dapatkan. Setelah menunggu beberapa saat, sebuah taksi melintas, dan berhenti tepat di depan Arsyila karena wanita itu melambaikan tangan. Arsyila pun buru-buru masuk lalu mengatakan tujuannya pada sang sopir.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, air mata wanita cantik itu kembali menyeruak, dan berebut untuk keluar. Kali ini, Arsyila membiarkan saja air matanya berjatuhan. Berharap, air mata yang keluar dapat membasuh luka di hatinya yang menganga. Hingga mobil itu berhenti di depan rumahnya, Arsyila masih berderai air mata.
Arsyila berjalan dengan cepat masuk ke rumah. Kamar utama yang selama tiga tahun ini menjadi tempat favoritnya dengan Pradana, menjadi tujuan langkah Arsyila. Setibanya di kamar yang cukup luas tersebut, Arsyila segera membuka lemari penyimpanan lalu mengeluarkan sebuah koper besar.
Sedikit tergesa, Arsyila memasukkan semua pakaian miliknya yang dia beli dengan uangnya sendiri. Sementara pakaian yang dibelikan Pradana, sama sekali tak disentuhnya, dan dia tinggalkan begitu saja di dalam lemari. Setelah memastikan semua barangnya masuk, Arsyila menutup koper sembari menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan kasar. Seolah, wanita cantik itu ingin menghempas beban berat yang mengimpit dadanya.
Sebelum masuk ke dalam taksi, Arsyila menatap sendu rumah impian yang sudah dia tinggali bersama Pradana, sejak awal mereka menikah. Bulir bening kembali mengalir, membasahi pipi putih Arsyila.
"Aku harus pergi jauh dari kota ini karena aku enggak akan sanggup melihat mereka berdua bahagia."
Arsyila mengusap air matanya dengan kasar lalu segera masuk ke mobil. Dia sandarkan punggung pada sandaran kursi lalu memejamkan mata. Berharap, dia bisa tidur dengan nyenyak, dan ketika terbangun semuanya akan kembali baik-baik saja.
Suara nyaring klakson dari mobil lain, memaksa Arsyila membuka matanya. Seorang wanita turun dari mobil yang baru saja diparkirkan tepat di depan taksi yang ditumpangi Arsyila lalu menggedor pintu di sebelah kanan sopir.
"Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya akan menemuinya."
Arsyila buru-buru turun. Belum sempat Arsyila menutup kembali pintu mobil, cecaran pertanyaan sudah dia dapatkan.
"Apa saja yang kamu bawa, Syila? Kamu tidak mencuri barang-barang milik Mas Dana, 'kan?"
"Aku, mencuri?" Arsyila tersenyum sinis mendengar tuduhan Lena.
Ya, wanita yang baru saja turun dari mobil dan menggedor pintu mobil taksi itu adalah mantan teman baik Arsyila. Teman yang tega menusuknya dari belakang dan kini, seolah berkuasa penuh atas milik Pradana.
Sejujurnya, hati Arsyila merasa sakit mendengar tuduhan Lena yang menganggap dirinya rendah itu. Namun, Arsyila mencoba untuk tetap kuat, dan tenang di hadapan selingkuhan sang mantan. Dia tidak mau terlihat lemah karena itu akan membuat Lena menjadi pongah.
Melihat mamanya Pradana menyusul turun dari mobil, Lena tiba-tiba merangsek hendak menyerang Arsyila. Tentu saja secara reflek Arsyila melawan. Namun, Lena malah berpura-pura jatuh lalu mengaduh.
"Aduh ...."
"Ya ampun, Lena. Kamu kenapa, Sayang? Kenapa bisa jatuh seperti ini?" Mama Mira panik dan langsung menghampiri Lena untuk menolongnya.
"Syila, Ma. Syila yang sudah mendorong Lena. Dia iri karena Lena bisa hamil anaknya Mas Dana, sementara dia tidak bisa."
Lena masih saja berceloteh, mendramatisir keadaan. Mencoba meyakinkan sang calon mama mertua bahwa Arsyila berniat jahat padanya.
Aduan Lena ditanggapi serius oleh Mama Mira. Wanita yang berusia hampir setengah abad itu lalu mendekati Arsyila. Dalam hitungan detik, tangan Mama Mira telah melayang, dan menyisakan tanda merah di pipi putih Arsyila.
Arsyila yang tak pernah menyangka Mama Mira akan bertindak sejauh itu, hanya dapat termangu. Dia raba pipinya yang terasa panas dengan netra berkaca-kaca. Luka di hatinya yang menganga, kini seakan ditaburi garam oleh sang mantan mama mertua.
Tanpa kata, Arsyila segera masuk ke mobil lalu memerintahkan sopir taksi itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Mobil taksi itu pun melaju, membelah jalanan yang basah karena hujan tiba-tiba turun dengan deras, sederas air mata Arsyila. Wanita cantik itu kembali menangis dan menumpahkan semua kesedihan hatinya.
Bingung hendak pergi ke mana karena hari telah senja dan hujan turun dengan sangat deras, Arsyila lalu menyebutkan nama sebuah kafe dan minta diantar ke sana. Arsyila kemudian menghubungi salah seorang sahabat untuk menemuinya di kafe tersebut.
"Bisa, enggak, Ran?" tanya Asryila penuh harap.
"Bisa, dong, Cinta. Apa, sih, yang enggak buat shohibku ini?"
Arsyila beruntung karena masih memiliki sahabat baik yang selalu punya waktu untuknya, kapan pun itu.
Tak berapa lama, taksi berhenti tepat di depan sebuah kafe bernuansa cozy. Arsyila bergegas turun, setelah membayar ongkos taksinya. Wanita itu lalu melangkah pelan sembari menyeret koper, memasuki kafe.
Kebetulan, suasana di kafe tersebut tidak terlalu ramai, dan Arsyila dapat memilih tempat duduk yang dia suka. Sudut bagian belakang adalah tempat favoritnya bersama Rania dan Arsyila kemudian mendudukkan diri di sana. Bersebelahan dengan seorang laki-laki yang segera mengenakan kaca mata hitam dan masker, begitu melihat kedatangan Arsyila.
Sambil menunggu sang sahabat, Arsyila kemudian memesan kopi hitam tanpa gula yang sudah pasti rasanya pahit, sama seperti hidupnya saat ini.
"Halo, Cantik. Tumben ngajak ketemuan?" Rania yang baru saja datang lalu memeluk Arsyila.
"Syil, apa yang terjadi? Kenapa bawa-bawa koper segala?" cecar Rania, setelah melihat koper besar di samping tempat duduk Arsyila.
Rania mengamati wajah sang sahabat dan wanita satu anak itu semakin panik setelah melihat mata sembab Arsyila. Tangan Rania pun segera terulur ketika menyadari jika pipi sang sahabat juga memerah, seperti bekas tamparan.
"Apa suamimu yang melakukan semua ini, Syil?" tanya Rania dengan raut wajah geram.
Arsyila menggeleng. "Bukan Mas Dana, tapi mamanya," jawab Arsyila pelan.
"Kenapa?"
Arsyila nampak ragu, tetapi karena sang sahabat terus mendesak, lagi pula dia membutuhkan teman untuk berbagi kesedihan agar rasa sesak di dalam d**a sedikit berkurang, wanita berhijab itu lalu menceritakan semuanya. Satu pun tak ada yang dia lewatkan.
"Kurang ajar, mereka berdua! Bisa-bisanya mereka perlakukan kamu seperti ini, Syil! Aku benar-benar enggak terima! Aku akan beri si Lena itu pelajaran!"
"Tidak perlu, Ran!"
"Tapi, Syil ...."
"Sudahlah. Aku juga cukup sadar diri, Ran. Jika terus bersamaku, Mas Dana pasti tidak akan bahagia. Hidupnya akan tertekan karena keinginan Mama Mira yang menginginkan cucu. Sedangkan aku ... aku tak bisa memberi Mas Dana keturunan."
Arsyila lalu menunduk. Perkataannya barusan terdengar getir. Rania mendekat lalu kembali memeluknya erat.
"Sabar, ya," kata Rania sembari mengusap-usap punggung sang sahabat.
Kepedulian Rania, membuat pertahanan Arsyila runtuh. Wanita cantik itu pun kembali menumpahkan kesedihan di pelukan sahabatnya.
"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Rania, setelah Arsyila kembali tenang.
"Aku akan pergi jauh dari sini."
"Tidak, Syil! Jangan jadi wanita bodoh! Kalau kamu pergi, mereka akan bersorak! Tetap di sini dan tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa hidup lebih baik tanpa Pradana! Buat laki-laki itu menyesal karena telah mengkhianatimu!"
"Tapi, Ran ...."
"Tidak ada tapi-tapian, Syila! Kebetulan, di tempat kerja suamiku ada lowongan yang cocok untukmu. Kamu harus datang ke sana!" Rania tak mau dibantah, membuat Arsyila terpaksa mengangguk.
Laki-laki yang sedari tadi mencuri dengar itu menghela napas panjang, setelah mengetahui kenyataan tentang Arsyila. "Jadi, aku tadi telah salah sangka padanya?"
Laki-laki yang masih mengenakan masker itu lalu menghubungi seseorang dan memberikan perintah.
bersambung ...